NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Beli Semua

Ibu jari Sebastian akhirnya turun.

Ponsel Vivi bergetar di saku piyama.

Sekali.

Dua kali.

Lalu terus bergetar sampai ia buru-buru mengeluarkannya.

Notifikasi pertama berasal dari bank.

Dana masuk: Rp1.000.000.000.

Vivi menghitung jumlah nolnya. Enam. Lalu menghitung lagi karena otaknya menolak menerima angka di layar.

Satu miliar rupiah.

Catatan transfer hanya berisi dua kata.

Beli semua.

Pesan WA masuk sesudahnya.

Kalau mau ke pantai, aku ikut.

Vivi mengangkat wajah perlahan. Sebastian sudah meletakkan ponselnya di meja dan memandang ke arah lain, seolah vas bunga di ujung ruangan mendadak sangat menarik.

Ujung telinganya merah.

“Sebas.”

“Ya.”

“Apa ini?”

“Uang.”

“Aku tahu ini uang.” Vivi memutar layar ke arahnya. “Kenapa satu miliar?”

“Untuk membeli pakaian.”

“Pakaian renangku tidak terbuat dari emas.”

“Kamu mengirim tiga pilihan.”

“Jadi?”

Sebastian akhirnya menatapnya. “Beli semua.”

Dua kata itu diucapkan dengan wajah serius, seperti keputusan bisnis yang sudah melewati rapat dewan.

Vivi tak tahu harus tertawa atau pingsan.

“Aku sudah membeli semuanya.”

“Kalau begitu, beli yang lain.”

“Berapa banyak pakaian renang yang menurutmu dibutuhkan satu orang?”

“Sebanyak yang kamu mau.”

“Aku tidak mungkin menghabiskan satu miliar untuk pakaian.”

“Beli butiknya.”

Vivi benar-benar kehilangan suara.

Sebastian mengambil gelas air, tetapi tangannya berhenti sebelum bibir. Ia tampak menyadari jawaban terakhir terlalu jujur, lalu meletakkan gelas kembali.

“Atau gunakan untuk hal lain,” tambahnya dingin. “Tidak penting.”

“Satu miliar penting.”

“Tidak bagiku.”

“Bagiku penting.”

Ponsel Vivi berdering. Nomor bank muncul di layar. Ia menatap Sebastian sebelum mengangkat.

“Selamat malam, Bu Vivian,” suara petugas hubungan nasabah terdengar formal. “Kami menghubungi untuk memverifikasi dana masuk bernilai besar dari rekening Pak Sebastian Gunawan. Apakah Ibu mengenali transaksi tersebut?”

Vivi memandang pria di seberangnya. “Ya, saya mengenal pengirimnya.”

“Apakah dana ini merupakan transfer sukarela dalam hubungan perkawinan dan bukan transaksi bisnis?”

“Benar.”

“Baik. Dana sudah efektif dan tidak memiliki kewajiban pengembalian. Konfirmasi tertulis juga tersedia di aplikasi. Terima kasih, Bu Vivian.”

Sambungan berakhir.

Tak ada celah untuk menganggap ini salah kirim. Sebastian telah memasukkan keterangan transfer perkawinan dengan benar, memastikan uang itu sah menjadi milik Vivi.

“Kamu sudah menyiapkan semuanya?” tanyanya.

“Aku tidak suka transaksi gagal.”

“Aku bisa mengembalikannya.”

Tatapan Sebastian langsung mengeras. “Jangan.”

“Terlalu banyak.”

“Tidak.”

“Sebas, aku hanya bertanya kamu suka yang mana. Aku tidak meminta uang.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Pertanyaan itu membuat udara di antara mereka berhenti.

Sebastian membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar. Untuk sesaat, Vivi melihat pria yang memimpin Gunawan Group kehilangan semua kata di meja makan rumahnya sendiri.

“Karena...” Ia berhenti.

Vivi menunggu.

“Karena kamu ingin membelinya.”

Alasan buruk itu hampir menyaingi sinetron jelek yang dipakai Vivi untuk menelan kata cerai.

“Kamu bisa bilang pilih warna biru,” katanya.

Sebastian menegang. “Kenapa biru?”

“Itu hanya contoh.”

“Kamu lebih suka biru?”

“Aku bertanya kesukaanmu.”

“Semua.”

Jawabannya keluar terlalu cepat.

Vivi menatapnya. “Kamu melihat semuanya?”

“Ya.”

“Berapa kali?”

Sebastian diam.

“Sebas?”

“Tidak relevan.”

Warna merah menyebar dari telinga ke lehernya. Dinding dingin yang selama hampir setahun membuat Vivi merasa tak diinginkan sedang runtuh tepat di depan matanya, bukan lewat pengakuan, melainkan melalui diam yang terlalu panjang dan satu transfer tak masuk akal.

Ponselnya kembali menyala. Pesan kedua masih berada di bawah notifikasi bank.

Kalau mau ke pantai, aku ikut.

Vivi membaca kalimat itu lagi.

“Kamu mau pergi denganku?”

“Kalau kamu mau.”

“Kamu benci liburan.”

“Aku tidak benci.”

“Tahun lalu kamu membatalkan acara perusahaan di Bali karena katanya membuang waktu.”

“Itu acara perusahaan.”

“Apa bedanya?”

Tatapan Sebastian jatuh kepadanya. “Kamu ada di perjalanan ini.”

Jantung Vivi berhenti satu ketukan.

“Kalau aku memakai yang hijau di pantai umum?” tanyanya, terdorong untuk melihat sejauh mana retakan itu terbuka.

Sebastian menjawab tanpa berpikir. “Tidak.”

Alis Vivi naik.

Pria itu menyadari kesalahannya. “Maksudku, tempat umum tidak aman.”

“Karena pakaian renangku?”

“Karena terlalu banyak orang.”

“Tubuh itu milikku. Aku yang memilih pakaian.”

Rahang Sebastian mengeras. Keinginan untuk melarang terlihat jelas di wajahnya, tetapi beberapa detik kemudian ia mengangguk.

“Benar.”

Vivi tak menyangka ia akan menyerah secepat itu. “Jadi aku boleh memakai yang hijau?”

“Boleh.”

“Di pantai?”

“Boleh.”

“Di depan orang lain?”

Sebastian diam lebih lama. “Aku bisa menyewa seluruh pantai.”

Vivi menatapnya, lalu tawa kecil lolos sebelum sempat ditahan. “Itu bukan jawaban normal.”

“Aku tidak mengatakan dilarang.”

“Kamu hanya mau mengusir semua orang.”

“Hasilnya berbeda.”

“Hasilnya sama.”

“Tidak untukmu. Kamu tetap bebas memakai apa pun.”

Logika itu sangat khas Sebastian: alih-alih mengendalikan pilihan Vivi, ia akan mencoba mengendalikan seluruh dunia di sekelilingnya.

Manis, jika dilihat dari satu sisi.

Mengerikan, jika ia ingat betapa mudah pria ini benar-benar bisa melakukannya.

“Kalau kita pergi,” kata Vivi, “aku yang menentukan pakaian, jadwal, dan kapan ingin pulang.”

“Baik.”

“Pengawal tidak boleh mengikuti sampai ke kamar.”

“Mereka menjaga dari luar.”

“Joce boleh ikut kalau aku mengajaknya.”

Sebastian berhenti. Otot di rahangnya bergerak satu kali.

“Boleh,” jawabnya akhirnya.

Tiga batas. Tiga persetujuan. Ia tidak tersenyum, tetapi ia menerima semuanya hanya demi sebuah perjalanan yang bahkan belum direncanakan.

Dalam kehidupan pertama, Sebastian tidak pernah mengucapkan kalimat seperti itu. Ia tidak pernah mengirim uang tanpa diminta. Tidak pernah menawarkan waktu. Tidak pernah duduk dengan telinga merah sambil mempertahankan transfer satu miliar untuk tiga pakaian renang.

Semua seharusnya berjalan sama sampai berbulan-bulan kemudian.

Celine seharusnya masih mengganggu.

Makan malam seharusnya sunyi.

Sebastian seharusnya tetap menjadi dinding es yang tidak bisa disentuh kecuali saat penyakit Vivi kambuh.

Namun, Celine sudah pergi. Dinding itu retak. Dan sebuah masa depan baru baru saja masuk ke rekening banknya.

Déjà vu yang selama ini menjadi pegangan mendadak tak berguna.

Adegan ini tidak pernah terjadi.

“Vivi?”

Ia tersadar telah menatap layar terlalu lama.

Sebastian menggeser kursinya sedikit mendekat. “Ada yang salah?”

“Tidak.”

“Kamu pucat.”

Tangannya terangkat menuju wajah Vivi.

Bayangan lain menabrak kegembiraan yang baru tumbuh.

Tangan yang sama menutup pintu besi dalam kehidupan pertama. Suara yang sama berkata bahwa Vivi tidak boleh pergi. Tatapan yang sama menjadi gelap ketika ia meminta cerai.

Jika Sebastian berubah lebih cepat, apakah rasa ingin memilikinya juga tumbuh lebih cepat?

Vivi mundur sebelum ujung jarinya menyentuh pipi.

Tangan Sebastian berhenti di udara.

Ekspresi kecil yang melewati wajahnya hanya berlangsung sesaat, tetapi Vivi melihatnya. Bukan marah. Sesuatu yang lebih mirip terluka, cepat ditutup dengan dingin.

“Aku cuma lelah,” kata Vivi. “Aku mau ke kamar.”

Sebastian menurunkan tangan. “Aku antar.”

“Tidak perlu.”

Ia berdiri terlalu cepat. Kursinya bergeser dan menggores lantai. Sebastian ikut bangkit, tetapi tidak mencoba menahan.

“Uangnya jangan dikembalikan,” katanya.

Vivi menggenggam ponsel. “Kenapa kamu keras kepala?”

“Karena itu untukmu.”

“Aku belum tentu membutuhkannya.”

“Simpan.”

“Kalau aku tidak mau membeli apa pun?”

“Simpan sampai kamu mau.”

“Kalau tidak pernah?”

Sebastian menatapnya lurus. “Tetap milikmu.”

Jawaban itu tak terdengar seperti pembelian pakaian lagi. Terlalu pasti. Terlalu menyerupai janji yang belum berani diberi nama.

Vivi berjalan menuju tangga. Ia bisa merasakan tatapan Sebastian mengikuti punggungnya, tetapi pria itu menepati batas dan tidak mengejar.

Di lantai dua, Vivi masuk ke kamar dan menutup pintu. Ia tidak menguncinya. Jemarinya terlalu gemetar untuk memutar kunci, dan sebagian dirinya ingin tahu apakah Sebastian akan menghormati pintu yang tertutup tanpa dipaksa.

Tak ada langkah kaki mendekat.

Hanya sunyi.

Vivi mengambil boneka beruang dari ranjang, memeluknya ke dada, lalu perlahan meluncur duduk di belakang pintu.

Ponselnya masih memperlihatkan angka satu miliar dan dua kata yang sangat sederhana.

Beli semua.

Air mata tipis memenuhi matanya, bukan karena sedih. Bukan pula sepenuhnya karena bahagia. Rasanya seperti berdiri di jalur baru tanpa peta, sementara jalur lama masih berakhir pada kematian.

Ia berhasil mengubah sesuatu.

Untuk pertama kalinya, masa depan tidak menyalin kehidupan pertama.

Itu berarti ia mungkin bisa menyelamatkan PT Winata. Ia mungkin bisa melindungi Papa dan Mama. Mungkin ia bahkan bisa mengubah akhir pernikahan ini.

Namun, perubahan juga berarti pengetahuannya tidak lagi sempurna. Setiap langkah aktifnya menciptakan Sebastian yang tak pernah ia kenal.

***

Sebastian tetap berdiri di kaki tangga setelah pintu Vivi tertutup.

Ia tidak memahami mengapa perempuan itu tiba-tiba pucat. Mungkin jumlah uangnya kurang tepat. Mungkin tawaran ke pantai terlalu mendadak. Mungkin ia seharusnya memilih satu warna seperti manusia normal.

Tetapi Vivi tidak mengembalikan uangnya.

Ia juga tidak menghapus foto.

Hari ini, ia yang lebih dulu mengetuk dinding di antara mereka.

Sebastian bisa menunggu pintu itu terbuka lagi. Ia bisa berpura-pura sabar, selama apa yang ada di balik pintu tetap berada dalam jangkauannya.

Sebuah pikiran gelap bergerak tenang di dasar kepalanya.

Vivi mulai mendekat.

Kalau begitu, ia tidak akan membiarkannya mundur terlalu jauh.

***

Di balik pintu, Vivi menekan wajah ke kepala boneka beruang.

“Kali ini berbeda,” bisiknya.

Kegembiraan dan rasa takut berdetak dalam irama yang sama.

Kalau Sebastian berubah lebih cepat, apakah Vivi juga akan berada dalam bahaya lebih cepat?

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!