NovelToon NovelToon
Aku Tak Terima Dicurangi

Aku Tak Terima Dicurangi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:239.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.

Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.

Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.

Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.

Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan bi Mirma : 10

“Kalian anggap apa aku ini, hah?!” Helyara menggebrak meja, protesnya tak didengar lantas apa harus dia tetap memaksakan diri menghormati?

Wanita dalam keadaan marah itu bersandar pada tepian meja, memandang satu persatu para orang terkejut karena baru pertama kali menyaksikan wanita lemah lembut menunjukkan emosinya.

“Kalian memutuskan liburan tanpa bertanya dulu ke aku, seenaknya saja mau pakai fasilitas melebihi batas. Jelas aku juga butuh kendaraan kalau sewaktu-waktu ada urusan mendadak —”

Ganira memotong kalimat menantunya. Keterkejutan berubah kemarahan, menganggap Helyara lancang. “Kamu itu jangan sok sibuk. Hari-hari juga dirumah, cuma gambar, kok ya heboh banget pas denger kami mau liburan.”

“Percuma ngajak kamu, kalau ujung-ujungnya bakalan tantrum kayak orang kesetanan sewaktu-waktu denger sirine ambulans,” bukan lagi menyindir terapi menghina dengan mimik wajah merendahkan.

Jemari Helya mengepal kuat, tangan kiri meremas busa sandaran kursi. Suara napasnya seperti isak tangis, netra terasa panas.

Alan maju, langsung memeluk bertujuan menenangkan. “Kalau gak lagi ada tamu, Mas juga gak mau pergi jalan-jalan. Mending nemenin kamu di rumah.”

Usapan sayang itu tak lagi menyentuh hatinya, terasa hambar, terdengar pasaran. Helya menggigit bibir. Kedua tangan melemas di sisi badan, enggan membalas pelukan pria yang dia anggap rumah, tempat paling aman serta nyaman.

“Buruan berangkat! Keburu siang sampai sana!” Zanaya bergaya bak nyonya rumah. Tanpa permisi menyambar kunci mobil tergantung di atas almari sepatu. “Alan. Ambil STNK-nya!”

Satu persatu para orang baru saja menyerang pemilik sah hunian besar, beranjak dari sana.

Alan masih memeluk, perlahan-lahan melepaskan dekapan.

Ia kecup penuh perasaan kening istrinya, lalu membisikkan kata-kata penenang. “Kamu kalau butuh apa-apa, tinggal pesan lewat aplikasi kan bisa? Mengalah sebentar ya, Sayang?”

“Mama sama Papa gak tiap hari loh tinggal sama kita. Apa salahnya bersabar, diam, jangan meladeni omongan pedas mereka.” Jari jempol dan telunjuk mencubit pelan pipi sang istri.

“Mas sayang sama kamu. Sayang banget. Keadaan yang buat kita terkadang sering salah paham, tolong pengertiannya, Helya. Mas anak laki-laki satu-satunya di keluarga, dan diharuskan bisa memberikan anak agar bisa meneruskan garis keturunan. Kamu paham kan?”

Helya masih bungkam, rahangnya terasa pegal, sakit dikarenakan menahan gigi saling beradu.

Sorot mata biasanya lembut, penuh kasih, selalu belajar memahami, kini terdapat semburat merah kebencian mulai bercokol. Pemberontakan dari jiwa selalu diremehkan, direndahkan karena dia mandul.

“Mas berangkat dulu, Sayang.” Ia kecup singkat bibir Helya, lalu berbalik dan melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam kamar untuk mengambil STNK di dompet istrinya.

Jeritan kesenangan Kartika bak anak panah menghujam jantung wanita bergeming menahan sesak di dada.

“Nyonya, maaf.” Siska menghampiri sang majikan, menunduk dalam, merasa tidak enak hati, tapi tak berdaya menolak.

“Pergilah!” ucapnya bergetar dengan badan mulai gemetaran.

Ya, lagi dan lagi dia ditinggal sendirian di hunian besar ini. Sudah sering keluarga suaminya pergi berlibur tanpanya.

Helya mendengar suara pintu depan ditutup, lalu pagar bergeser dan kembali tertutup.

Ia masih berdiri, kesulitan meluapkan emosi, dan merasa kali ini jauh lebih lelah, menguras energi.

Pertahanan Helyara runtuh, kedua tangannya menyapu benda di atas meja.

Pyarr!

Masih belum puas memecahkan mangkuk keramik sampai nasi goreng berhamburan di atas lantai. Helya mendorong kursi hingga terjungkal.

Akhhh!

“Kurang apa aku? Semua telah kuberi — cinta, kesetiaan, bahkan hartaku pun kubagi agar bisa kau nikmati supaya tak merasa rendah diri. Dan engkau setara bersanding disampingku, tapi apa balasannya?!” Helya menangis sejadi-jadinya.

“Ini menyakitkan, teramat keterlaluan kamu Mas! Aku diam, belajar menjadi istri idaman, menelan semua kekecewaan, membungkam mulut agar tak mengajukan protes, namun mengapa masih saja terasa kurang. Kenapa?!” Ia menjambak rambut, menjerit bak orang kesurupan.

Helya terduduk di atas lantai, diantara hamburan nasi goreng dan pecahan kaca. Dipukulinya lantai sampai kepalan tangan terasa pedih.

Wajah berkulit sawo matang itu memerah, bermandikan air mata.

Ia luapkan ketidakpuasan dalam bentuk tangisan menyayat hati, mengoyak jiwa.

Helyara terus menangis kencang sampai detik berganti belasan menit.

Sebuah bisikan berputar di kepalanya, suara bibi seakan berseru lagi dengan nada setengah memohon.

Apabila rumah sepi, semua orang pergi, dan Nyonya tinggal seorang diri. Saya mohon, geledah lah kamar pembantu.

‘Apa maksudnya? Kenapa aku harus memeriksa kamar bibi?’ batinnya bertanya, lambat laun setelah puas menangis pikiran mulai jernih lagi.

Menggunakan ujung daster, Helya mengelap air mata sekaligus ingus.

Perlu berpegangan pada kaki kursi supaya bisa berdiri, wanita mulai merasa baikan, melangkah ke belakang rumah.

Kamar pembantu terpisah dari bangunan rumah, berada di samping kiri bersebelahan dengan ruang cuci baju dan jemuran terbuka.

Helyara tidak langsung menuju kamar, melainkan menuruni tangga teras belakang, terus berjalan di tepian kolam renang, dan berhenti di samping gazebo beratap genteng.

Kunci kamar Bibi kubur di samping pot bunga Mawar kuning.

Kala kesulitan berjongkok, ia duduk di atas tumbuhan rumput Jepang. Helya mengambil sekop mini disandarkan pada pot semen.

Kemudian mengorek pinggiran wadah bunga kesukaannya.

Dug!

Ujung sekop menusuk sesuatu berbunyi nyaring, beriringan dengan itu degup jantung Helyara mendadak kencang.

“Ada apa ini?” perasaannya setengah penasaran selebihnya mulai cemas. Digali lebih dalam lagi tanah sampai terlihat kaleng bulat kecil bekas wadah wafer.

Kaleng pun diambil, lalu tutupnya pelan-pelan di buka, dan isinya dijatuhkan ke rumput.

Sebuah kunci berwarna putih, dan secarik kertas terbungkus plastik transparan.

“Nomor ponsel siapa?” tanyanya pada diri sendiri, merasa asing kala melihat barisan angka.

Tidak lagi sabaran, ia tinggalkan saja bekas galian, lalu berjalan tanpa memakai alas kaki menuju kamar diperuntukkan bagi asisten rumah tangga.

Bunyi kunci diputar seperti suara menyeramkan terdengar di gendang telinga wanita yang baru pertama ini melakukan hal menurutnya tidak terpuji.

Helyara tidak pernah memeriksa kamar pekerjanya, merasa hal itu tak pantas, dan melanggar privasi.

Pintu sudah terbuka separuh, pertama kali yang dilihat — dua buah spring bed ukuran sedang, lemari pakaian terpisah, meja rias.

“Gak ada yang mencurigakan, terus apa yang mau digeledah?” Kakinya mundur lagi, hati dan logika bertentangan.

“Gak mungkin Bibi asal ngomong, pasti ada sesuatu.” Helya masuk, membiarkan pintu tetap terbuka separuh. Mulai memeriksa kamar cukup luas, rapi, dan ada kamar mandi di dalamnya.

“Kok ada kulkas dua pintu?” di samping lemari paling ujung, jika dari luar tidak akan kelihatan, ternyata ada benda tidak seharusnya di sana.

Ujung jarinya masuk ke bagian handle. Ditariknya pintu kulkas bagian bawah — “Hah?!”

Tubuh Helyara terhuyung kala berhasil menarik sesuatu. Ia perhatikan saksama, sampai satu fakta mengguncang jiwanya.

Praduga tidak lagi bisa dikendalikan, seperti ratusan anak panah terlepas dari busur, menargetkan jantung wanita yang membekap mulut.

.

.

Bersambung.

1
Fri5
wkwkwkwkwkwk kebayang JD percobaan samsak dulu 🤪🤣🤣🤣🤣
Ma Em
Ayo Helyara cepat bertindak buat Alandi dan gundiknya menyesal juga keluarganya yg benalu usir saja , bagus Helyara siksa saja terus si Alandi .
Nur Wakidah
jodohnya Helya selanjutnya Sakta apa Yudis 🤭🤭🤭
FiaNasa
padahal aq juga berharap otongnya Alan yg Kena injak biar Siska gak bisa ngerasain dulu 🤣🤣🤣
FiaNasa
pesanku helya klau mau tidur tolong kunci kamarmu ya takut saat kau tidur dicekoki sesuatu atau disuntik obat oleh mereka..waspadalah
lyani
yallah sengaja banget si kamu hel😂
lyani
jangan dilepas Hely....kenain diitunya biar nggak bs bangun sekalian 😅
yuyun Rahayu
Ayoo Hel,semnggt untk sembuhh dan hancurkan keluarga parasit ituuu
🌷💚SITI.R💚🌷
knp ga di onjek tu..boar ga bosa berkicau lg
🌷💚SITI.R💚🌷
arus listriky kurang kuat yara, jd sialan ga kejang² de
🌷💚SITI.R💚🌷
drakula atau vamvir nih yg dekap yara..klu sialan kan pasyiy pura² dia
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
nahh mulai ketahuan kan
nahh kan mau bilang apa coba
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wehhh jd pas covid itu ya tp di lampung sini aman kok
lyani
buat spt masira sekeluarga
mie_moet
sumpah aku pgn berbicara kasar buat siskmpling🤬 dan sialan🤬 ganiron🤬sapto🤬 esmosi tingkat pentit imi🤬🤬
Sumìni Manju Maja
jambaknya aku wakilin y helya
sherly
pesankan kamar VVIP ya Siska, sebab itu nanti ditempati oleh salah satu dr kalian...dasar org gila dah dikasi pendidikan tinggi malah ilmunya dipakai buat nyakitin org... bisa kena pasal pidana nih Siska
Marlina Prasasty
🫣🫣🫣🤭🤭🤭
sherly
puas banget dah si helya balas si mokondo... hahahah good job
Teh Qurrotha
si Ganira. harus di kasih karma yang paling menderita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!