NovelToon NovelToon
Dari Benci Menjadi Bucin

Dari Benci Menjadi Bucin

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30. Rasa Benci yang Mulai Pudar

Dulu, di awal pertemuan mereka, rasa benci itu terasa begitu pekat dan nyata. Menumpuk tebal bagai dinding batu yang kokoh, berdiri tegak memisahkan dua hati yang senantiasa saling bersitegang. Setiap kali bertemu, tak ada yang lain selain ketegangan dan pertikaian. Setiap ucapan terasa tajam menusuk, setiap tatapan mata penuh penolakan. Anisa menganggap Kenzo kaku, sombong, dan tak pernah mau mengerti perasaan orang lain. Sebaliknya, Kenzo menganggap Anisa pembangkang, keras kepala, dan selalu menentang aturan. Begitu kuat rasa itu bersemayam, hingga mereka yakin tak akan pernah bisa berdiri berdampingan dengan tenang.

Namun waktu perlahan berlalu, membawa perubahan yang tak disadari. Rasa benci yang dulu begitu membara itu, perlahan-lahan kehilangan kekuatannya. Seperti kabut tebal yang perlahan terurai terkena hangat matahari, dinding pemisah yang kokoh itu pun mulai retak, lalu perlahan runtuh tak bersisa.

Anisa menyadarinya lebih dulu. Ia menyadari bahwa rasa benci yang dulu sering ia ucapkan dalam hati kini terdengar semakin samar dan tak lagi teguh. Dulu, setiap kali melihat wajah Kenzo, hatinya akan mendidih karena kesal. Namun kini? Saat matanya tertuju pada sosok itu, yang muncul bukan lagi rasa ingin menentang atau membantah. Melainkan rasa tenang yang halus, rasa aman yang perlahan tumbuh, dan keinginan lembut untuk terus memperhatikannya. Ia menyadari bahwa ketegasan yang dulu dianggapnya kejam ternyata adalah bentuk tanggung jawab. Kedinginan yang dulu dianggapnya kesombongan ternyata adalah cara menyembunyikan kelembutan hati yang tak ingin diketahui siapa pun. Semakin ia mengenalnya, semakin ia merasa malu pernah membencinya sedalam itu. Rasa benci itu perlahan lenyap, berganti dengan rasa hormat yang perlahan berubah menjadi kekaguman yang tak sanggup dibendung.

Begitu pun dengan Kenzo. Ia yang dulu selalu menilai Anisa dengan pandangan yang penuh ketidaksukaan, kini menyadari betapa kelirunya penilaian itu. Ia melihat keberanian yang dulu dianggapnya pembangkangan ternyata adalah kebenaran hati yang tak takut pada siapa pun. Keras kepala yang dulu dianggapnya kekurangan ternyata adalah keteguhan pendirian yang patut dihargai. Di balik setiap pertikaian mereka dulu, ternyata tersembunyi hati yang begitu lembut, begitu tulus, dan begitu menyayangi sesama. Semakin hari semakin tak tersisa rasa benci itu di dadanya. Yang tersisa hanyalah penyesalan pernah bersikap demikian kasar padanya, dan keinginan kuat untuk menebusnya dengan kebaikan yang tulus.

Suatu hari, saat mereka sedang duduk berdampingan dalam keheningan yang damai, Anisa menatap wajah Kenzo yang tampak tenang memandang ke luar jendela. Teringat kembali hari-hari di awal pertemuan mereka, hati Anisa pun terasa haru bercampur tak percaya. Dulu ia tak pernah membayangkan bisa duduk sedekat ini dengan Kenzo tanpa bertengkar. Dulu ia tak pernah menyangka bahwa sosok yang paling dibencinya kelak akan menjadi sosok yang paling dicintainya di dunia.

"Kenzo..." suara Anisa terdengar pelan memecah keheningan. "Kau tahu... dulu aku membencimu begitu dalam. Menganggapmu orang yang paling menyebalkan di dunia."

Kenzo menoleh perlahan, menatap Anisa dengan senyum tipis yang penuh pengertian. "Aku pun begitu. Dulu aku menganggapmu gadis yang paling sulit diatur dan selalu menentangku."

Anisa tersenyum samar menatapnya lekat-lekat, namun matanya kini tak lagi menyimpan kemarahan atau penolakan seperti dulu. Yang tampak justru kelembutan yang begitu dalam. "Namun lihatlah sekarang... rasa benci itu entah ke mana perginya. Tinggal sedikit demi sedikit, hingga akhirnya tak tersisa sama sekali."

Kenzo menatapnya lembut, lalu perlahan mengangguk pelan. "Karena ternyata benci itu tak pernah sekuat yang kita kira. Ia hanya tumbuh karena ketidaktahuan dan ketidakmauan kita untuk saling mengenal. Begitu kita mulai saling melihat apa yang tersembunyi di balik luarnya... benci itu tak punya tempat lagi untuk berdiri."

"Ya..." Anisa mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca namun tersenyum bahagia. "Benci itu pudar digantikan rasa hormat. Lalu rasa hormat perlahan tumbuh menjadi rasa sayang. Dan kini... tak ada lagi sisa benci yang tersisa. Yang ada hanyalah perasaan yang jauh lebih indah dan berharga."

Mata mereka saling bertemu dalam pandangan yang damai dan penuh pengertian. Dinding pemisah yang dulu tebal kini telah lenyap tak berbekas. Rasa benci yang dulu membara kini telah menjadi abu yang terbang terbawa angin. Yang tersisa di tempatnya tumbuhlah benih-benih kasih yang perlahan tumbuh subur dan indah. Mereka pun akhirnya paham: rasa benci itu tak akan pernah bertahan lama jika kedua hati bersedia saling membuka dan saling mengenal. Bahwa di balik pertentangan yang tajam sekalipun, jika ada kesabaran dan keinginan untuk saling memahami... pada akhirnya yang akan menang bukanlah permusuhan, melainkan kasih sayang yang tumbuh indah dari sisa-sisa benci yang perlahan pudar.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!