NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

akal bulus Dikta

Dikta menatap wajah pucat dan basah oleh air mata itu dengan senyum tipis yang tak sepenuhnya tulus.

Di balik tatapan lemahnya, terselip sebuah tipu daya dan rencana licik yang tak tertangkap oleh mata Sera yang sedang gelisah. Perlahan ia mengerang pelan, memejamkan mata seakan menahan rasa sakit yang luar biasa.

“Kepalaku terasa begitu berat… seakan nyeri ini takkan pernah hilang,” ucapnya dengan suara lemah dan bergetar. Tangannya yang terbalut perban meremas pelan ujung baju Sera. “Dokter bilang aku butuh perawatan yang sangat teliti. Jika ada yang salah sedikit saja… mungkin aku tak bisa kembali seperti sedia kala.”

Sera menatapnya dengan mata terbelalak penuh ketakutan.

Rasa bersalah semakin menyesak dadanya, seakan menjeratnya erat. “Jangan bicara begitu, Dikta. Ini semua murni kesalahanku. Aku yang menabrakmu. Apa pun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab.”

Dikta membuka matanya perlahan, menatap dalam ke arah manik mata perempuan itu. “Kalau begitu… tetaplah di sisiku. Rawatlah aku hingga sembuh sepenuhnya. Jangan biarkan orang lain melakukannya untukmu. Hanya kau yang boleh melakukannya. Hanya di dekatmu aku merasa lebih tenang dan terlindungi.”

Hening sejenak menyelimuti ruangan.

Sera menelan ludah, melihat wajah lemah yang memohon itu membuat hatinya tak kuasa menolak. Bagaimana mungkin ia berpaling, padahal dialah penyebab segala ini?

“Baiklah,” jawab Sera lirih dengan kepala tertunduk lemah. “Aku janji. Aku akan merawatmu sampai kau benar-benar pulih dan sehat kembali. Tak akan aku tinggalkanmu.”

Senyum tipis yang lebih lebar pun terukir di bibir Dikta.

Tepat apa yang ia harapkan.

Ia kembali menatap Sera dengan pandangan yang terlihat rapuh namun penuh arti. “Ingatlah janjimu itu, Sera. Jangan sampai kau menyesal atau pergi lebih dulu saat aku masih sangat membutuhkanmu.”

Sera mengangguk mantap, sama sekali tak menyadari bahwa rasa sakit yang ditunjukkan Dikta jauh lebih ringan dari yang dikatakannya.

Bahwa laki-laki itu dengan cerdik memanfaatkan rasa bersalah dan ketakutannya agar ia tetap berada di sini, di sisinya, tanpa peluang untuk pergi menjauh lagi.

Malam itu, di bawah janji yang terucap tulus dari hati, Dikta tersenyum puas dalam diam, karena kini, Sera telah terperangkap dalam rencananya, dan takkan mudah baginya untuk melepaskan diri.

...****************...

Suasana ruangan berbau obat itu sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding dan desah napas pelan Dikta yang sedang berbaring.

Sera berdiri di sisi ranjang setelah tadi dia baru saja membantu Dikta dari kamar mandi karena laki-laki itu mau buang ari kecil katanya.

Baru saja ia hendak menarik tangannya dari sisi tubuh Dikta, cahaya samar dari ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur menarik perhatian keduanya.

Layar menyala terang, jelas terbaca nama yang tertera di sana: Arga.

Waktu seakan berhenti sejenak.

Sera tertegun, jari yang hendak meraih ponsel tiba-tiba kaku di udara.

Ia tahu Dikta juga melihatnya, bisa dirasakannya dari tatapan mata laki-laki itu yang tiba-tiba berubah redup, meski tak ada satu kata pun yang terucap.

Kehangatan yang tadi terasa di udara perlahan memudar, berganti dengan keheningan yang begitu berat dan canggung.

Sera menelan ludah dengan susah payah.

Ia ingin segera membalikkan ponsel itu, atau menyembunyikannya di balik telapak tangannya, namun gerakannya seakan terkunci.

Di satu sisi, ia tak ingin Dikta salah paham, terutama saat laki-laki itu sedang lemah dan bergantung padanya. Di sisi lain, menyembunyikannya sekarang justru terasa seperti sebuah kebohongan.

Dikta mengalihkan pandangan perlahan, mencoba membaringkan tubuhnya di ranjang dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Angkat saja," suaranya terdengar datar, namun Sera bisa mendengar nada getir yang terselip di sana. "Mungkin saja kekasih mu khawatir"

Kalimat itu seperti jarum yang menusuk pelan dadanya.

Sera menggeleng lemah, akhirnya membalikkan ponsel hingga layarnya tertutup. "Nanti aja", jawabnya pelan.

Dikta tak menimpali lagi.

Ia hanya memejamkan mata, menyisakan Sera yang berdiri diam di sana, dengan perasaan bimbang yang semakin kusut, antara rasa bersalah yang menyelimuti, dan kenangan lama yang kembali menggerogoti hati.

...****************...

Setelah memastikan Dikta telah tertidur, barulah Sera melangkah keluar dan mengulang panggilan kepada Arga.

Akibat kecelakaan ini, dirinya lupa mengabari laki-laki itu yang pasti sedang gelisah saat ini.

" Hallo Arga..." ucap Sera begitu panggilannya diangkat pada deringan kedua.

"Sera.... Kau baik-baik saja? Kenapa tak mengabariku jika kau masih berada di Jakarta?" suara cemas Arga langsung membuat Sera tak enak hati.

Sera menggigit bibir bawahnya.

"Maafkan aku Arga... Aku lupa memberitahu mu karena banyak yang harus aku urus... Dan juga, untuk beberapa hari kedepan, aku mungkin akan berada di Jakarta untuk urusan seminar lanjutan.. Ya... Begitu..." Sera meringis karena ini pertama kali dalam hidupnya, dirinya berbohong.

"Apa ada masalah yang serius? Apa perlu aku menyusulmu kesana?" nada itu berubah jadi khawatir.

"Tidak... tidak... Tidak ada masalah serius... Aku hanya akan menghadiri undangan pada beberapa seminar lainnya... Ya, itung-itung untuk melengkapi tesisku... Kau tidak perlu kesini dan meninggalkan pekerjaan mu.... Semoga semuanya lancar dan kita bisa sama-sama lagi..."

"Baiklah kalau begitu... Aku pun juga sama... Mungkin, aku juga akan tinggal sedikit lebih lama disini, mengingat banyak yang perlu dibenahi disini..."

"Hmmm.... Jaga kesehatan mu dan jangan telat makan..." ucap Sera yang bersyukur dalam hati karena Arga tidak curiga padanya.

"Ya... Kau juga sama... Jangan tidur terlalu larut... Aku mencintaimu Sera...." ucap Arga menutup panggilan mereka tanpa balasan kata cinta dari Sera.

Sera menakan sisi ponselnya dengan rasa perih di hatinya.

Matanya melirik pada pintu ruang rawat inap Dikta.

"Maafkan aku Arga... Semoga kau tidak kecewa padaku...." gumam Sera sendu.

Bersambung....

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!