NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Suasana kediaman keluarga di pagi itu terasa begitu menindas. Setelah konfrontasi panas antara Kenzo dan Fred semalam, udara di setiap sudut rumah megah itu seolah dipenuhi ketegangan yang siap meledak.

Di dalam kamar tidur sayap timur yang temaram, Ibu Clara duduk di tepi pembaringan. Wajah wanita setengah baya itu tampak sembab dan penuh kecemasan. Ia menggenggam kedua tangan Clara erat-erat, menatap putri kandungnya dengan pandangan memohon yang amat dalam.

"Clara, Ibu mohon padamu,"

bisik Ibunya dengan suara bergetar menahan tangis.

"Hanya kau satu-satunya orang di dunia ini yang didengar oleh Kenzo. Bujuk dia untuk mau pergi ke London dan melepaskanmu."

Clara menatap ibunya dengan dada yang sesak. "Ibu... Kenzo tidak akan mendengarkanku."

"Dia akan mendengarmu, Clara! Kau tahu betul seberapa gila dia padamu!"

Ibu Clara menyapu air mata yang menetes di pipinya.

"Jika Kenzo terus menentang ayahnya, keluarga ini akan hancur. Bisnis ayah tirimu akan runtuh, dan Kenzo akan kehilangan segalanya, reputasi, posisi, dan masa depannya. Apa kau tega melihat pria yang mempertaruhkan nyawanya untukmu di Karibia hancur hanya karena hubungan terlarang ini?"

Kata-kata sang ibu menghantam ulu hati Clara bagai pukulan telak. Bayangan luka tembak di bahu Kenzo, darah yang tercurah di Karibia, serta bagaimana pria itu pasang badan melindunginya kembali berputar di benak Clara.

"Ini demi kebaikan keluarga kita, Clara dan demi kebaikan Kenzo sendiri,"

tambah sang ibu memohon.

"Biarkan dia pergi ke London. Kembalikan kehidupan kalian berdua ke jalur yang benar."

Clara memejamkan matanya rapat-rapat, merasai kepedihan luar biasa yang perlahan merayapi jiwanya. Dengan napas yang berat, ia akhirnya mengangguk pelan.

"Akan kubujuk dia, Bu"

Sore harinya, Clara melangkah ke ruang kerja Kenzo. Pria itu berdiri di depan jendela raksasa, menatap taman belakang dengan rahang mengeras tajam dan rokok yang mengepul di jemarinya.

Saat mendengar langkah kaki Clara, Kenzo langsung membalikkan badan. Aura dominan dan dingin yang biasanya menyelimuti pria itu mendadak luluh saat menatap mata Clara yang sembab.

"Kenzo..."

panggil Clara pelan. Ia mendekat, memberanikan diri menggenggam tangan pria itu.

"Pergilah ke London."

Kenzo tersentak kecil, matanya menyipit tajam. "Apa yang kau katakan?"

"Pergilah,"

ulang Clara dengan suara bergetar, namun penuh penekanan.

"Jangan hancurkan masa depanmu hanya karena menentang Ayah. Jangan biarkan keluarga ini hancur karena kita."

"Aku tidak peduli pada perusahaan atau Ayah, Clara! Aku hanya peduli padamu!"

bentak Kenzo rendah, cengkeraman tangannya pada jemari Clara mengerat.

"Aku lebih baik kehilangan semuanya daripada harus melangkah keluar dari hidupmu!"

"Tapi aku peduli, Kenzo!"

jerit Clara pelan, air matanya akhirnya menetes. "Jika kau menyayangiku... jika kau benar-benar ingin melindungiku, turuti permintaanku kali ini saja. Pergi ke London. Berpisahlah denganku."

Kenzo mematung. Pria yang tak pernah tunduk pada ancaman siapa pun bahkan pada ancaman ayah kandungnya sendiri kini tampak hancur di depan mata Clara. Tatapan matanya yang biasa gelap dan penuh penekanan berubah menjadi kilatan rasa sakit yang teramat sangat.

Pria itu menatap dalam-dalam ke dalam manik mata Clara, mencari sedikit saja keraguan, namun yang ia temukan hanyalah kepasrahan dan permohonan yang tulus dari gadis itu.

Setelah keheningan panjang yang menyiksa, Kenzo menghembuskan napas parau. Ia menundukkan kepalanya, menyandarkan dahinya di bahu Clara.

"Hanya karena kau yang memintanya, Clara..." bisik Kenzo dengan suara pecah yang tak pernah terdengar sebelumnya.

"Hanya karena ini kemauanmu."

Malam itu menjadi malam terakhir mereka sebelum kepergian Kenzo. Kenzo menyiapkan makan malam romantis berdua di ruang makan pribadi vila kecil milik mereka di lantai atas penthouse utama. Meja kayu panjang dihiasi lilin-lilin kecil dan anggur merah terbaik.

Tidak ada pembicaraan tentang London, tidak ada bahasa tentang kepindahan atau kemarahan sang Ayah. Di bawah pendaran cahaya lilin yang temaram, mereka saling menatap, menyesap setiap detik kebersamaan seolah esok takkan pernah datang.

"Malam ini... kau milikku sepenuhnya, Clara," gumam Kenzo seraya menggenggam jemari Clara di atas meja.

Usai makan malam, Kenzo menggendong tubuh Clara dan membawanya ke dalam pembaringan. Di atas kasur luas bernuansa gelap, ketegangan emosional dan rasa takut akan perpisahan melebur menjadi gelombang intimasi yang teramat pekat. Sentuhan jemari Kenzo di sepanjang kulit Clara terasa begitu hangat, lembut.

Setiap kecupan, desah napas yang tertahan, dan tautan intim yang terjalin di antara mereka malam itu terasa bagai bisikan salam perpisahan yang manis sekaligus menyayat hati. Clara membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam pelukan Kenzo, memasrahkan tubuh dan jiwanya pada sang pria untuk yang terakhir kalinya.

Keesokan paginya, pendaran sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari kamar tidur yang sunyi. Clara terbangun perlahan. Matanya terasa berat dan tubuhnya masih merasakan sisa-sisa kehangatan dari malam sebelumnya. Secara refleks, tangannya terulur ke sisi kasur di sampingnya, mencari sosok tinggi tegap yang biasanya mendekapnya erat.

Namun, sisi kasur itu sudah dingin dan kosong.

Clara terduduk seketika. Seprai di sampingnya tampak rapi, dan pakaian Kenzo tak lagi ada di dalam lemari. Di atas meja nakas, terletak sebuah amplop hitam elegan berdampingan dengan kotak beludru kecil berisi gelang perak baru.

Dengan tangan gemetar, Clara membuka surat dari Kenzo.

Aku pergi karena kamu yang memintanya. Tapi ingat satu hal, London hanyalah jeda, bukan akhir. Tidak ada samudra atau keputusan Ayah yang bisa memutuskan ikatan kita. Jaga dirimu baik-baik sampai aku kembali mengambil apa yang menjadi milikku.

Clara memeluk surat itu di dadanya. Ia menatap ke luar jendela, menatap langit pagi Mexico yang membiru. Di tengah kebebasan yang kini mendadak ia dapatkan kembali, sebuah perasaan hampa yang teramat sangat dan menyakitkan justru merayapi dadanya. Ada bagian dari jiwanya yang telah terenggut dan terbawa pergi bersama penerbangan Kenzo menuju benua lain.

Clara meremas surat itu di dadanya hingga membal. Air matanya menetes satu per satu, membasahi kertas tebal bernuansa gelap itu, meninggalkan jejak kepedihan yang teramat sangat. Rasa bebas yang selama ini ia impikan dan perjuangkan kini terasa membeku, berubah menjadi lubang kehampaan raksasa di dalam dadanya. Pria yang selama ini menjadi sumber ketakutan terbesar sekaligus perisai paling kokoh dalam hidupnya telah benar-benar melangkah pergi menyeberangi samudra.

Ia melangkah perlahan ke arah dinding kaca kamar, menatap langit Mexico yang kian terang oleh pendaran matahari pagi. Dari kejauhan, tampak sebuah pesawat komersial membelah awan, meninggalkan jejak garis putih yang perlahan menghilang di ufuk barat. Clara menghembuskan napas dalam, merasa seperti ada sesuatu yang menghilang dari dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!