NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Sumpah Seorang Prajurit

"Mundur dari istri saya."

Suara Arya tidak keras. Namun dua lelaki di depan Keisha langsung berhenti bergerak.

Air hujan mengalir dari rambut Arya ke rahangnya. Kemeja gelapnya menempel pada tubuh, dan bahu kirinya sedikit lebih rendah karena luka yang belum pulih. Meski demikian, ia berdiri kokoh, menutup seluruh tubuh Keisha dari pandangan mereka.

Lelaki yang membawa map biru berdeham. "Kami cuma minta tanda tangan, Pak. Urusan keluarga."

"Memblokir jalan seorang perempuan di tengah malam bukan cara meminta tanda tangan."

"Pak Herman yang menyuruh kami."

Keisha menahan napas. Pengakuan itu meluncur begitu mudah, seolah nama Herman cukup untuk membenarkan segalanya.

Arya mengangkat ponselnya. Lampu kecil di kamera menyala. "Ulangi. Siapa yang menyuruh kalian?"

Wajah lelaki itu berubah. Temannya bergerak hendak merebut ponsel, tetapi Arya menangkap pergelangan tangannya dengan tangan kanan. Satu putaran pendek membuat tubuh lelaki itu membungkuk. Arya mendorongnya ke kap mobil tanpa pukulan berlebihan, hanya cukup keras untuk menghentikan serangan.

"Jangan sentuh saya," desis lelaki itu.

"Kamu baru mencoba merampas barang bukti."

Lelaki pertama maju. Keisha melihat bahu kiri Arya menegang dan segera menarik bagian belakang kemejanya.

"Mas Arya, lukamu."

Arya tidak menoleh. "Tetap di belakangku."

Nada itu bukan permintaan. Keisha menurut karena untuk pertama kalinya ia memahami mengapa orang-orang di RS Kartika berdiri lebih tegak saat Arya lewat.

Peluit terdengar dari arah gerbang. Dua petugas keamanan rumah sakit berlari mendekat, disusul sorot senter dari pos.

Lelaki yang membawa map menarik temannya. "Ayo pergi."

Arya melepaskan pergelangan tangan yang ditahannya, tetapi tidak bergeser dari depan Keisha. "Kamera mobil saya merekam wajah dan pelat kalian. Rumah sakit juga punya CCTV. Kalau ada satu layanan Anindita yang diganggu setelah malam ini, rekaman dan pengakuan kalian masuk laporan polisi."

Keduanya masuk ke mobil. Ban memercikkan air saat kendaraan itu melaju, tetapi salah satu petugas keamanan telah memotret pelatnya.

"Bu Keisha baik-baik saja?" tanya petugas itu.

Keisha ingin menjawab iya. Giginya justru beradu karena dingin.

Arya membungkuk mengambil ponselnya dari genangan. Layarnya mati. Ia menyerahkannya kepada petugas untuk dimasukkan ke kantong barang, lalu memberikan rekaman awal dan nomor kontaknya.

"Tolong simpan salinan CCTV sebelum tertimpa rekaman baru," katanya. "Besok kami buat laporan resmi."

Setelah petugas membawa map biru yang ditinggalkan para lelaki sebagai barang temuan, Arya baru berbalik.

Keisha berdiri di bawah hujan dengan rambut menempel di pipi. Seluruh keberanian yang tadi menahannya di depan Herman seolah hanyut bersama air di trotoar.

"Kei."

Arya mengangkat tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh wajahnya. "Boleh aku memegangmu?"

Keisha tidak sanggup menjawab. Ia maju sendiri dan mencengkeram bagian depan kemeja Arya.

Lengan kanan lelaki itu langsung melingkari tubuhnya. Tidak keras, tidak menekan, tetapi cukup rapat untuk menahan gemetar yang semakin menjadi. Keisha menempelkan dahi pada dadanya. Di balik kain basah, jantung Arya berdetak cepat, jauh dari ketenangan yang ia tunjukkan kepada para pengepung tadi.

"Kamu datang," bisik Keisha.

"Kamu menelepon."

"Sambungannya putus."

"Aku mendengar lokasi dan suaramu. Itu cukup."

Arya melepas jaketnya dengan satu tangan dan menyelubungkannya ke bahu Keisha. Gerakan itu menarik lukanya. Napasnya tertahan sesaat.

Keisha langsung mundur. "Perbanmu."

Noda merah tipis mulai merembes di bawah kemeja dekat bahu kiri.

"Ya Allah, jahitanmu bisa terbuka. Kenapa kamu nekat turun sendiri? Kenapa tidak menunggu keamanan?"

"Karena mereka menghalangi jalanmu."

"Kamu baru saja terluka."

"Dan kamu ketakutan."

"Aku bisa mengurus diriku sendiri."

"Aku tahu." Arya menatapnya tanpa berkedip. "Tapi mampu berdiri sendiri tidak berarti kamu harus selalu sendirian."

Kalimat itu mematahkan sesuatu di dalam Keisha.

Ia mendorong dada Arya dengan kedua tangan. Dorongannya lemah, tetapi semua amarahnya tumpah bersama gerakan itu.

"Kamu bilang begitu sekarang. Besok bagaimana? Tahun depan bagaimana?"

Arya mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Aku tahu soal Vanya."

Hujan menghantam atap kecil dekat gerbang seperti ribuan jari. Arya menuntun Keisha ke bawahnya tanpa memaksa, lalu berdiri menghadapnya.

"Dari siapa?"

"Akun anonim. Tiga akun berbeda." Suara Keisha retak. "Katanya aku cuma perempuan yang kamu pakai untuk menolak orang yang sebenarnya kamu inginkan. Katanya kamu pernah menjadi milik dia."

Rahang Arya mengeras. "Nomornya masih ada?"

"Ponselku mati. Itu bukan inti masalahnya."

"Itu penting untuk bukti."

"Aku bukan sedang membuat laporan, Mas!"

Teriakannya pecah di tengah hujan. Arya terdiam.

Keisha menutup mulut, tetapi tangis yang ditahannya selama berhari-hari sudah terlepas. Ia teringat Pak Sugiarto, surat utang, tubuh Anindita yang dijadikan sandera, pesan satu tahun dari Bu Sukma, dan cara semua orang di sekitar Arya tampak tahu lebih banyak daripada dirinya.

"Aku lelah menjadi orang terakhir yang tahu," katanya. "Tentang pekerjaanmu, Meriam, Vanya, semua. Aku ini apa? Cuma alat kontrak untukmu, kan? Kamu membayar perawatan Mama, aku menjadi perisai dari keluargamu. Kalau urusanmu selesai, aku pergi. Sesederhana itu."

"Tidak."

"Itu yang tertulis di perjanjian."

"Perjanjian itu tidak pernah menyebutmu alat."

"Tapi memang itu fungsiku."

Arya mendekat satu langkah. Keisha mundur sampai punggungnya menyentuh tiang di bawah atap.

"Vanya adalah masa lalu," kata Arya. "Hubungan kami berakhir jauh sebelum aku bertemu denganmu. Aku menolak kembali bukan karena membutuhkan pengganti, tetapi karena aku tidak mempercayainya lagi. Tidak ada hubungan yang masih berjalan. Tidak ada janji yang tersisa."

"Lalu kenapa dia merasa berhak?"

"Itu pertanyaan untuknya, bukan bukti bahwa aku memberinya hak."

Keisha memalingkan wajah. Air mata dan hujan sama-sama asin di bibirnya.

"Kamu memilihku karena kebetulan aku butuh uang."

"Awalnya aku memilihmu karena kamu satu-satunya perempuan yang berani membantahku saat terdesak." Suara Arya turun, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Lalu aku melihatmu menolak dijual untuk utang. Aku melihatmu melindungi ibumu ketika semua orang menyuruhmu menyerah. Aku setuju menikah karena kita sama-sama membutuhkan perlindungan. Itu benar."

Keisha tertawa pendek dan pahit. "Jadi memang transaksi."

"Awalnya."

Satu kata itu membuat Keisha kembali menatapnya.

Arya meraih leher kemejanya dan mengeluarkan kalung identitas yang selama ini tersembunyi. Pelat logam kecil itu dingin dan basah. Ia melepaskannya perlahan, lalu meletakkannya di telapak Keisha.

"Ini identitas yang kubawa saat bertugas," katanya. "Bukan benda romantis. Bukan hadiah. Ini pengingat tentang siapa aku ketika keputusan sulit harus dibuat."

Jari Keisha menutup pada logam tersebut.

Arya menangkup tangannya dengan telapak kanan.

"Demi kehormatan seorang prajurit, kamu bukan alat. Selama kamu menjadi istriku, aku yang menjaga kamu. Bukan karena pembayaran, bukan karena keluargaku, dan bukan untuk melawan Vanya. Karena kamu adalah Keisha."

Napas Keisha tersangkut.

"Jangan bersumpah kalau satu tahun lagi kita tetap berpisah."

"Aku tidak bisa menjanjikan keputusanmu satu tahun lagi." Tatapan Arya tidak goyah. "Aku juga tidak akan menahanmu dengan kontrak. Tapi selama kamu memilih berada di sisiku, aku tidak akan memperlakukanmu sebagai sementara."

"Kalau aku merepotkanmu?"

"Kamu sudah merepotkanku sejak salah meminta pasien membuka celana."

Tangis Keisha pecah bersama tawa yang tidak sengaja keluar. Arya mengusap air di pipinya dengan ibu jari. Gerakannya lambat, memberi waktu bagi Keisha untuk menghindar.

Ia tidak menghindar.

"Bahumu berdarah," bisiknya.

"Aku tahu."

"Aku harus memeriksanya."

"Sebentar lagi."

Tatapan Arya turun ke bibirnya. Panas yang sama seperti malam saat mengganti perban kembali menyala, tetapi kali ini tidak ada kontrak di atas meja dan tidak ada alasan medis untuk menyamarkan kedekatan mereka.

"Keisha," ucap Arya, suaranya serak. "Boleh aku menciummu?"

Hujan memenuhi ruang hening di antara mereka.

Keisha dapat berkata tidak. Ia dapat mengembalikan pelat logam itu, masuk ke rumah sakit, dan berpura-pura jantungnya tidak sedang menghantam dada.

Sebaliknya, ia menggenggam kalung identitas Arya dan mengangguk.

"Boleh."

Arya membungkuk perlahan. Bibirnya menyentuh bibir Keisha dengan kehati-hatian yang hampir menyakitkan. Hangat, meski seluruh tubuh mereka basah dan dingin.

Keisha membeku pada detik pertama.

Arya berhenti, bibirnya masih sangat dekat. "Kei?"

Sebagai jawaban, Keisha menarik kemejanya dan kembali menempelkan bibir mereka.

Kehati-hatian Arya runtuh sedikit.

Tangan kanannya berpindah ke belakang leher Keisha, menahan tanpa memaksa. Ciumannya menjadi lebih dalam, lambat tetapi tegas, seolah ia memberi Keisha ruang untuk menarik napas sekaligus mengajaknya kembali. Keisha mencengkeram kain basah di dadanya. Rasa hujan, napas hangat, dan aroma samar obat pada kulit Arya bercampur sampai ia tidak lagi mampu memikirkan pasal mana pun.

Bibir Arya menyapu bibir bawahnya sekali lagi. Ketika Keisha membukanya karena menarik napas, sentuhan itu berubah lebih intim. Panas menjalar dari mulut ke tengkuk, lalu turun ke seluruh tubuhnya. Lutut Keisha melemah. Arya segera menopang pinggangnya dengan tangan kanan, sementara lengan kiri tetap dijaga dekat tubuh agar tidak menarik luka.

Tidak ada bagian dari ciuman itu yang terasa seperti transaksi.

Keisha mendengar suara langkah petugas di kejauhan dan akhirnya sadar mereka masih berada di dekat gerbang rumah sakit. Ia memutus ciuman, terengah, lalu menutup bibirnya dengan punggung tangan.

Arya juga bernapas berat. Mata gelapnya tidak berpaling dari wajah Keisha.

"Ini..." Keisha menelan ludah. Telinganya terasa terbakar. "Ini tidak masuk kontrak."

Ia berbalik hendak lari ke bawah atap yang lebih lebar. Arya menangkap pergelangan tangannya dengan pegangan longgar, cukup untuk meminta berhenti, bukan menahan paksa.

Keisha berhenti tanpa menarik tangannya.

"Kalau aku mau mengubah kontraknya," kata Arya rendah, "bagaimana?"

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!