Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesehatan Mental
Ada sikap yang berubah sejak pertengkaran terakhir, Ethan belakangan jarang di rumah karena terjadi masalah dengan rekan bisnisnya. Urusan pekerjaan sangat jarang di ceritakan ke istrinya, namun Clarissa bisa menebak dari air muka Ethan yang terlihat lelah dan sesekali menelpon untuk menindaklanjuti kerjasama yang sudah di bangun.
Jarak mereka terasa renggang selama dua Minggu ini namun Clarissa masih memaklumi dan menunggu sampai mereka punya waktu berdua untuk makan bersama atau menonton film bersama.
Clarissa tetap menjalani perannya sebagai istri dan melakukan kegiatan yang sudah menjadi kebiasaannya. Semenjak ikut pilates dia memiliki beberapa teman dan memperoleh pengalaman baru termasuk informasi baru.
Rasa lelah yang masih terasa setelah olahraga membuat mereka duduk dan menikmati air mineral yang siap menenangkan tenggorokannya.
Salah seorang dari mereka bercerita ingin menghadiri acara seminar yang akan diadakan disebuah hotel terkenal disana. Acar seminar tentang pengembangan diri dan kesehatan mental. Clarissa yang sejak awal tidak tertarik namun setelah mendengar temannya yang menceritakan pemateri yang terkenal dengan nada yang sangat antusias membuat Clarissa terpancing.
Clarissa akhirnya mengulik tentang acara itu dan berniat ikut, dengan harapan akan bertemu hal baru. Mereka menjadi antusias dan akan bertemu disana lengkap dengan kartu peserta yang baru saja mereka peroleh setelah mendaftar secara daring.
...****************...
Waktu yang ditunggu telah tiba, Clarissa sudah berpenampilan rapi dan siap meninggalkan rumah dengan kondisi yang rapi. Tak lupa sudah menyediakan makanan di meja makan, meski tidak tahu kapan Ethan akan kembali tapi sudah menjadi kebiasaannya untuk tidak membiarkan meja makan dalam keadaan kosong. Ilmu ini diperolehnya dari Mamanya.
Sebelum berangkat, Clarissa sudah meminta izin suaminya untuk mengikuti seminar bersama temannya. Ethan mengiyakan dan tidak membatasi Clarissa.
Mobil yang dikendarai membelah jalanan yang sedang lenggang, Clarissa tiba di hotel yang cukup terkenal dikota itu bertepatan dengan temannya yang baru saja akan memasuki lift.
Mereka sedikit menjerit dan berjabat tangan menunjukkan antusias dan semangat di pagi hari. Mengikuti acara dari awal dan duduk bersebelahan. Sedikit banyak Clarissa mendapatkan ilmu dan pengalaman baru hingga timbul beberapa pertanyaan dihatinya tentang dirinya sendiri.
Apakah selama ini sudah cukup mencintai diri sendiri, apakah dirinya benar dikatakan sehat dan kuat seperti tampilan luar.
Diacara penghujung menunjukkan waktu tepat siang hari, mereka menikmati makan siang dengan teman baru sebelum akhirnya akan berpisah dan kembali pulang.
Clarissa berjalan santai dengan temannya menuju keluar ruangan, semua orang juga berpencar meninggalkan ruangan itu. Clarissa menawarkan tumpangan namun ternyata temannya sudah dijemput.
Mereka berpisah di lobi hotel, dengan lambaian tangan dan senyum manis penghantar perpisahan keduanya.
Clarissa melangkah menuju parkiran dan segera memasuki mobilnya, deru suara mobil siap untuk berpacu hingga pandangannya mengehentikan niatnya.
Beberapa meter dari mobilnya, baru saja terparkir mobil yang tak asing. Diam dan mengamati untuk meyakinkan isi pikirannya yang tak keliru.
Keluar sesosok yang sangat dikenalnya yang beberapa jam yang lalu di teleponnya sekedar menanyakan sudah makan siang dan mengingatkan untuk menjaga kesehatan.
Clarissa ingin segera menghampiri dan memberi kejutan, namun jemarinya tertahan membuka pintu mobil tatkala melihat sosok lain yang juga keluar dari mobil itu. Mereka berjalan sejajar dan tangan angun yang tampak menyentuh lengan kekar itu membuat nafas Clarissa tercekat.
Mereka berjalan dan sesekali terlihat mesra sampai memasuki hotel. Darah Clarissa mengalir cepat namun membuatnya sulit mencerna apa yang baru saja dilihatnya.
Dengan langkah ragu dan tubuh yang bergetar dia kembali keluar dari mobil dan mengikuti bayangan suaminya. Sesekali meniru ilmu yang baru saja diperolehnya tantang ketenangan jiwa.
"Tenang Clarissa jangan langsung cemburu, mereka hanya rekan kerja" Ucapnya dalam hati mencoba menenangkan pikiran yang semakin semrawut.