Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNANGAN PALSU - Chapter 17
Happy Reading Guys!
Sophia memundurkan kursinya.
"Aku sudah mendapat teguran dari atasan," ujarnya pelan pada Arkan. "Aku tidak bisa mengambil cuti lagi."
Ia melirik jam di dinding.
"Sudah malam. Sebaiknya aku pulang."
Arkan langsung berdiri. Sintia ikut bangkit dari kursinya.
"Kenapa tidak makan dulu?" tanya Sintia. "Kau bisa beristirahat di sini. Besok pagi kita berangkat bersama."
Sophia menggeleng.
"Itu akan sangat merepotkan."
"Kalau begitu aku yang mengantarmu pulang," kata Arkan tanpa ragu.
Namun sebelum Sophia sempat menjawab, Sintia tiba-tiba memegang lengan Arkan dan menekan pelipisnya sendiri.
Wajah wanita itu terlihat pucat.
Tak lama kemudian terdengar suara mual beberapa kali.
Arkan segera berbalik. Tangannya mengusap punggung Sintia dengan sabar sambil membantunya berdiri lebih tegak.
Sophia terdiam.
Pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak.
Apa pun penjelasan Arkan selama ini, saat melihat mereka berdiri berdampingan seperti itu, mereka tampak seperti keluarga yang utuh.
Sedangkan dirinya ....
Tidak memiliki tempat di sana.
Sophia menggigit bibir bawahnya sebelum berbalik.
Ia melangkah keluar tanpa berkata apa-apa lagi.
"Sophia!"
Suara Arkan terdengar dari belakang.
Namun wanita itu tidak berhenti.
Ia terus berjalan meninggalkan rumah tersebut tanpa menoleh sedikit pun.
Sesampainya di luar, Sophia berjalan cukup jauh sebelum memesan Taxi online.
Beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti di depannya.
Di saat yang bersamaan, mobil Arkan melintas di jalan yang sama.
Pria itu masih berkeliling mencarinya tanpa menyadari bahwa Sophia sedang berada di dalam mobil yang berpapasan dengannya.
[Kau sudah sampai rumah? Aku tadi menyusulmu, tapi kau sudah menghilang entah ke mana.]
[Sophia, kau marah?]
[Kalau kau tidak ingin berlibur, aku akan menemanimu. Aku juga bisa mengantarmu setiap hari. Atau ada tempat yang ingin kau datangi?]
Sophia mengembuskan napas panjang sambil menatap layar ponselnya.
Pesan dari Arkan memenuhi layar.
Namun sampai sekarang, tak satu pun ia balas.
Sepulang dari rumah itu, Sophia langsung mengurung diri di kamar. Ia menangis sampai tertidur.
Belakangan ini kepalanya memang sering sakit.
Apalagi setelah melihat Sintia bersama Arkan, rasa pusing itu terasa semakin menjadi-jadi.
Tatapannya beralih ke cermin.
Wajahnya terlihat berantakan.
Matanya sembap.
Kenapa kemarin ia harus menerima lelaki itu? Namun di saat yang sama, ia juga tidak bisa memungkiri rasa nyaman yang selalu diberikan Arkan.
Dia selalu hadir saat ia membutuhkan.
Selalu melindunginya.
Selalu memperhatikannya.
Tapi di rumahnya ....
Ada seorang wanita yang sedang hamil.
Sophia memejamkan mata.
Selama ini ia selalu meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa Arkan memiliki alasan, ia bisa menerimanya.
Namun semakin lama, keyakinan itu semakin sulit dipertahankan.
Bagaimanapun juga, orang lain tidak akan mengetahui alasan tersebut.
Mereka hanya akan melihat seorang wanita memalukan yang tetap bertahan meski tahu lelaki yang dicintainya telah memiliki istri.
Bukankah itu sama saja?
Sophia menundukkan kepala.
Apa pun alasannya, posisinya tetap salah.
Ia mengusap wajahnya kasar lalu bangkit dari ranjang.
Tidak ada gunanya terus memikirkan hal yang sama.
Sophia masuk ke kamar mandi, bersiap, lalu mengenakan seragam kerjanya.
Sebelum berangkat, ia berdiri sejenak di depan cermin.
Sebuah senyum tipis terangkat di bibirnya.
Hari ini akan baik-baik saja.
Setidaknya, ia berharap demikian.
"Hati-hati, Pak! Lantainya licin!"
Damian yang sedang berjalan nyaris terpeleset.
Jack yang berada di belakangnya langsung menegang.
"Kau! Bagaimana bisa baru mengepel sekarang?" bentaknya pada petugas kebersihan.
Pria itu langsung menundukkan kepala.
"Maaf, Pak. Ini masih sangat pagi."
Jack hendak melanjutkan omelannya, tetapi saat melihat jam di tangannya, ia mendadak terdiam.
Pukul lima lewat tiga puluh menit.
Benar. Memang masih sangat pagi.
Damian yang melihat itu menepuk pundaknya santai.
"Jangan terlalu dipikirkan."
Jack mengernyit.
Yang lebih mengejutkan, Damian tersenyum pada petugas kebersihan itu.
"Kau sudah bekerja keras."
Petugas kebersihan itu langsung membalas dengan senyum canggung.
Jack hanya bisa menatap atasannya seperti melihat makhluk aneh.
Apa matahari terbit dari barat hari ini?
Atau ada jin yang merasuki Damian?
Sesaat Jack berpikir, mungkin perubahan sikap Atasannya itu hanya sementara. Tetapi setelah jam istirahat, Damian masih mempertahankan sikapnya. Ia membalas sapaan setiap orang dengan begitu ramah.
Setiap karyawan yang berpapasan dengannya dibuat terkejut.
Ada yang hampir menjatuhkan map.
Ada yang tersandung langkah sendiri.
Bahkan ada yang sampai kikuk ketika Damian menyapa mereka lebih dulu.
Suasana kantor hari itu terasa ganjil.
Sementara orang yang menjadi sumber keganjilan itu kini duduk santai di kursinya.
Laptop di depannya bahkan belum menyala.
Namun sesekali sudut bibir Damian terangkat seolah sedang memikirkan sesuatu yang menyenangkan.
Jack akhirnya tidak tahan lagi.
"Kenapa Anda terlihat sangat bahagia?"
Damian mengangkat sebelah alis.
"Aku memang selalu bahagia."
Sudut bibir Jack berkedut.
Damian melanjutkan dengan santai.
"Hidupmu itu terlalu suram, jangan terlalu mempermasalahkan hal sepele. Lebih baik kau bereskan kerjaanmu, atau kau bisa membuat kopi agar pikiranmu lebih tenang."
Jack hampir tersedak mendengarnya.
Kemarin siapa yang membuat satu kantor panik karena suasana hatinya buruk?
Bahkan pagi ini Damian berangkat terlalu awal tanpa memberitahunya.
Kalau bukan karena salah satu pelayan rumahnya menelepon, Jack bahkan tidak akan tahu atasannya sudah berada di kantor.
Namun saat ia mengeluhkan hal itu, Damian hanya menjawab santai,
"Kalau masih mengantuk, tidur lagi saja. Aku tahu akhir-akhir ini kau bekerja keras."
Awalnya Jack mengira dirinya sedang disindir.
Namun melihat wajah Damian yang benar-benar tenang, ia akhirnya menyerah.
Suasana hati atasannya memang sedang sangat baik.
Sangat baik sampai terasa mencurigakan.
Apa sebenarnya yang membuat pria itu sebahagia ini?
Jack ingin bertanya lagi.
Sayangnya, ia masih terlalu menyayangi nyawanya sendiri untuk ikut campur lebih jauh.
B e r s a m b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Makasih 。◕‿◕。