Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian di balik beludru hitam
Malam di mansion De Luca terasa lebih mencekam daripada biasanya. Gemericik air mancur di pelataran terdengar seperti detak jantung yang memacu adrenalin. Di dalam ruang makan yang luas, hanya ada Leonardo dan Olivia. Donna Isabella telah undur diri ke kamarnya, sengaja memberikan ruang bagi putranya—sebuah taktik yang Leonardo pahami sebagai restu sekaligus tekanan.
Leonardo duduk di ujung meja jati panjang, menatap Olivia yang tampak tenggelam dalam kemewahan kursi beludru di hadapannya. Gadis Inggris itu tidak menyentuh steak wagyu-nya. Ia hanya memutar-mutar gelas kristal berisi air mineral dengan jemari yang sedikit gemetar.
"Makanlah, Olivia. Kau tidak bisa melawan dunia dengan perut kosong," suara Leonardo memecah keheningan, berat dan berwibawa.
"Duniaku tidak sedang berperang, Tuan De Luca. Hanya duniaku yang mendadak terasa sempit sejak masuk ke rumah ini," balas Olivia lugas. Ia mendongak, mata birunya menatap tajam, menantang dominasi pria di depannya.
Leonardo meletakkan pisaunya. Ada gairah yang terus berdenyut di bawah permukaan kulitnya—sebuah fenomena biologis yang masih membuatnya fana sekaligus takjub. Namun, ia bukan pria bodoh. Ia telah memacari lusinan model dan sosialita yang hanya butuh lambaian cek untuk menyerahkan tubuh mereka. Olivia berbeda. Gadis ini memiliki harga diri yang keras, setajam duri mawar yang ia potong setiap hari.
Sebagai pria Spanyol yang dibesarkan dengan nilai-nama keluarga yang kolot, Leonardo tahu bahwa untuk mendapatkan wanita seperti Olivia, ia tidak bisa sekadar membelinya. Gadis Inggris menjunjung tinggi komitmen dan martabat. Jika ia hanya memaksa Olivia ke tempat tidur, ia mungkin akan mendapatkan kepuasan fisik, tapi ia akan kehilangan "kunci" yang membuat jiwanya kembali hidup.
"Ayahmu," Leonardo memulai, mengubah arah pembicaraan. "Dokter spesialis jantung terbaik di Madrid adalah teman pribadiku. Besok pagi, sebuah jet medis akan terbang ke London untuk menjemput orang tuamu. Mereka akan tinggal di villa pribadi milik keluargaku di Marbella. Udara laut akan baik untuk pemulihannya."
Olivia terperangah. Sendok di tangannya berdenting jatuh ke piring. "Apa? Anda tidak bisa melakukan itu tanpa izin saya!"
"Aku baru saja melakukannya," sahut Leonardo tanpa emosi. "Biaya rumah sakit di London sangat mahal, Olivia. Aku tahu tabunganmu hampir habis. Aku menawarkan solusi permanen."
"Dan apa harganya?" suara Olivia bergetar. "Apa yang Anda inginkan sebagai imbalan? Tubuh saya?"
Leonardo bangkit dari kursinya. Langkah kakinya yang berat bergema saat ia berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di belakang Olivia. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi Olivia, mengurung gadis itu dalam aroma tembakau dan kayu cendana.
"Jika aku hanya menginginkan tubuh, aku punya ribuan wanita yang mengantre di luar gerbang itu," bisik Leonardo tepat di telinga Olivia. Napas panasnya membuat bulu kuduk Olivia meremang. "Aku menginginkan sesuatu yang lebih berharga. Aku menginginkan kehadiranmu di sini. Secara resmi."
Leonardo meraih tangan Olivia, membalikkan telapak tangan gadis itu dan mengecup pergelangan tangannya—tempat di mana denyut nadi Olivia berpacu liar.
"Aku butuh seorang tunangan. Reputasiku sebagai pemimpin De Luca membutuhkan stabilitas keluarga. Dan kau... kau adalah satu-satunya wanita yang membuatku merasa menjadi pria utuh kembali."
Olivia menoleh, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Ini gila. Kita bahkan tidak saling kenal. Anda ingin komitmen dari orang asing?"
"Di duniaku, komitmen dimulai dengan kesepakatan," Leonardo menatap mata biru itu dengan intensitas yang mematikan. "Tinggallah di sini. Jadilah tunanganku di depan publik. Aku akan menjamin kesehatan ayahmu dan keamanan ibumu seumur hidup mereka. Tidak ada sentuhan yang tidak kau inginkan, sampai kau sendiri yang memintanya."
Olivia terdiam. Tawaran itu adalah penyelamat sekaligus jerat leher. Ia memikirkan ayahnya yang terbaring lemah di London, dan ibunya yang kelelahan. Pria ini menawarkan segalanya di atas nampan perak, namun ia meminta kebebasan Olivia sebagai gantinya.
"Kenapa saya?" tanya Olivia lirih.
Leonardo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik tangan Olivia dan meletakkannya tepat di dadanya yang bidang. Di balik kemeja sutra mahal itu, Olivia bisa merasakan detak jantung Leonardo yang kuat dan tidak beraturan.
"Karena hanya kau yang bisa membuat jantung ini berdetak untuk alasan yang benar," ucap Leonardo parau. "Jadilah milikku, Olivia. Bukan sebagai pacar yang bisa kubuang, tapi sebagai wanita yang memegang kunci rumah ini."
Olivia melihat kejujuran yang menakutkan di mata pria Spanyol itu. Ia tahu, di balik kemewahan ini, ada kesepian yang dalam dan obsesi yang berbahaya. Namun, demi ayahnya, ia tidak punya pilihan lain.
"Hanya jika orang tua saya aman," bisik Olivia akhirnya.
Leonardo tersenyum tipis—sebuah senyuman kemenangan yang dingin. "Mereka akan lebih aman daripada tinggal di istana Buckingham, mi amor."
Malam itu, kontrak tak tertulis telah ditandatangani. Olivia masuk ke kamar tamu mewah dengan perasaan bahwa ia baru saja menjual jiwanya pada iblis yang paling tampan di Madrid. Sementara itu, di ruang kerjanya, Leonardo menenggak wiskinya dengan perasaan puas. Ia akan memberikan komitmen, ia akan memberikan perlindungan, karena ia tahu bahwa mawar Inggris ini adalah satu-satunya obat bagi kutukan panjang yang menyiksanya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...