NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Tanpa Kontrak

Hari ke-33.

Nggak ada lagi kata "kontrak" di meja makan.

Nggak ada pengacara yang standby bawa map dokumen.

Cuma ada Nyonya Alina yang masakin bubur ayam, dan dua orang yang duduk bersebelahan kayak pasangan beneran.

Evelyn bangun lebih santai pagi itu.

Nggak ada alarm "jaga jarak 1 meter".

Nggak ada aturan "jangan ganggu setelah jam 10".

Dia turun ke dapur, masih pakai kaos kebesaran Matthias yang dia pinjam semalam.

Matthias udah ada di sana, nyeduh kopi.

Dia nggak kaget lihat Evelyn. Cuma geser cangkir ke sisi lain meja.

"Duduk," katanya pelan.

Evelyn duduk.

Nggak ada canggung. Nggak ada pura-pura.

Nyonya Alina keluar dari dapur bawa piring bubur.

Begitu lihat mereka duduk bareng, matanya langsung berkaca-kaca.

"Akhirnya... Mama nggak perlu pura-pura buta lagi."

Evelyn ketawa kecil.

"Bu, tolong jangan nangis pas masak. Nanti asinnya kebanyakan."

Matthias menoleh.

"Kamu nggak perlu masak buat kita lagi, Ma. Kita bisa pesen katering."

Nyonya Alina langsung mukul lengan anaknya pelan.

"Masakan ibu itu obat, tau nggak! Kalian berdua makan banyak ya!"

Evelyn makan bubur itu pelan-pelan.

Hangatnya beda.

Dulu dia makan karena kasihan sama Nyonya Alina.

Sekarang dia makan karena... rasanya kayak pulang.

---

Jam 9 pagi, Evelyn masuk ke ruang kerja Matthias.

Dia nggak dipanggil. Nggak ada undangan.

Dia cuma... masuk.

Matthias lagi rapat Zoom. Dia ngeliat Evelyn masuk, tapi nggak ngusir.

Malah geser laptop biar Evelyn bisa duduk di sampingnya.

Rapat selesai 20 menit kemudian.

"Kenapa masuk tanpa ketok?" tanya Matthias sambil nutup laptop.

"Karena ini rumah gue juga," jawab Evelyn santai.

Matthias senyum tipis.

"Benar. Rumah kita."

Kata _kita_ itu bikin Evelyn diem 3 detik.

Dia nggak biasa denger itu dari Matthias.

"Lo nggak kerja hari ini?" tanya Evelyn.

"Kerja. Tapi nggak di kantor."

Matthias berdiri, ambil jasnya.

"Ikut aku."

"Ke mana?"

"Tempat yang kemarin hampir bikin aku mati."

Evelyn ngernyit.

"Proyek Jakarta Barat? Lo serius? Dokter bilang istirahat!"

"Justru karena itu. Aku mau kamu lihat kenapa aku ngot di sana."

---

Proyek Jakarta Barat siang itu panas dan berdebu.

Tapi begitu Evelyn turun dari mobil, 20 pekerja langsung berhenti kerja.

Mereka tunduk hormat ke Matthias.

Dan ngeliat Evelyn kayak dia bagian dari mereka.

"Ini Nyonya Evelyn," kata Matthias ke mandor.

Mandornya langsung senyum lebar.

"Oh, istri Pak Matthias! Makasih ya Bu, kemarin Pak Matthias nyelametin tiga orang."

Evelyn kaget.

Dia nggak tahu ceritanya sebegitu besar.

Matthias ngajak Evelyn keliling.

Nunjukin struktur crane, sistem safety, tempat dia ketiban besi.

Dia ngomong panjang, teknis, tapi matanya nyala.

Evelyn ngeliatnya... kagum.

Ini Matthias yang dia nggak pernah lihat di mansion.

Nggak dingin. Nggak datar.

Cuma laki-laki yang peduli sama orang-orangnya.

"Kenapa lo nggak pernah cerita kayak gini di rumah?" tanya Evelyn pas mereka duduk di tenda istirahat.

"Karena aku nggak mau kamu lihat aku sebagai CEO. Aku mau kamu lihat aku sebagai... aku."

Evelyn diem.

Lalu dia ngambil air mineral, buka, kasih ke Matthias.

"Minum. Nanti pusing."

Matthias nerima.

Tangannya nyentuh tangan Evelyn sebentar.

Nggak ada yang ngomong.

Tapi cukup.

---

Malamnya, mereka pulang telat.

Nyonya Alina udah tidur.

Mansion sepi.

Di ruang tamu, Evelyn duduk di sofa.

Matthias duduk di sebelahnya.

Nggak ada jarak. Nggak ada aturan.

"Gue capek," kata Evelyn pelan.

"Tidur sini aja," jawab Matthias.

Dia narik selimut, nutupin kaki Evelyn.

Evelyn nggak nolak.

Dia sandarin kepala ke bahu Matthias.

"Matthias..."

"Hmm?"

"Gue takut."

"Takut apa?"

"Takut kalau besok gue bangun, semua ini cuma mimpi. Takut lo berubah lagi jadi dingin."

Matthias menoleh.

Dia angkat dagu Evelyn pelan.

"Aku nggak akan berubah. Aku janji."

Evelyn menatap matanya.

Jujur.

Nggak ada bohong.

Dia peluk Matthias.

Erat.

"Jangan janji kalau nggak bisa nepatin."

"Aku bisa."

Malam itu mereka tidur di sofa.

Nggak ke kamar.

Nggak butuh kamar.

Karena rasanya... di mana pun mereka berdua, itu udah jadi rumah.

---

Pagi hari ke-34 datang.

Nggak ada notifikasi dari pengacara.

Nggak ada berita gosip.

Cuma ada sarapan, tawa kecil Nyonya Alina, dan tangan Matthias yang genggam tangan Evelyn di bawah meja.

Evelyn menatap Matthias.

"Jadi, sekarang apa?"

Matthias senyum.

"Sekarang... kita hidup."

Nggak ada drama.

Nggak ada kontrak.

Cuma ada mereka berdua, mulai dari nol.

Beneran.

---

*[Bersambung –

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!