Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Diri vs Realita
Mobil Rolls-Royce milik Devan akhirnya berhenti di depan lobi rumah sakit pusat kota. Anya keluar dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkah kakinya bergegas, setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit yang berbau menyengat antiseptik. Di belakangnya, Devan tidak mengikuti, namun pria itu tetap berada di dalam mobilnya, menunggu dengan sabar layaknya predator yang tahu mangsanya tak punya jalan lari.
Begitu sampai di depan ruang administrasi, Anya disambut oleh wajah kaku seorang petugas keuangan.
"Nona Anya, kami sudah memberikan kelonggaran waktu," ujar petugas itu sambil menyodorkan selembar rincian biaya berwarna merah. "Jika dalam waktu satu jam ke depan tidak ada konfirmasi pembayaran sebesar tiga puluh juta rupiah, sistem kami secara otomatis akan menghentikan subsidi obat khusus untuk Ibu Anda. Berkas penunggakan ini juga akan langsung dialihkan ke tim hukum."
"Tolong, Pak... beri saya waktu sampai besok pagi. Saya baru saja mendapat pekerjaan baru," mohon Anya, suaranya bergetar dengan kedua tangan yang saling meremas panik.
"Maaf, Nona. Ini sudah peraturan mutlak dari manajemen pusat," jawab petugas itu tanpa emosi.
Anya melangkah mundur dengan tubuh lemas. Ia berjalan menuju ruang rawat ibunya. Dari balik kaca kecil di pintu, ia melihat ibunya yang tampak begitu kurus dan pucat, terbaring lemah dengan berbagai selang medis yang menempel di tubuhnya. Ibunya adalah satu-satunya alasan Anya untuk tetap bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Jika fasilitas medis itu dicabut, Anya tahu ia akan kehilangan ibunya selamanya.
Anya menyandarkan punggungnya di dinding lorong yang dingin. Ia merosot duduk di lantai, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.
Harga diri.
Kata-kata Devan kembali terngiang di kepalanya, mengejeknya dengan begitu kejam. Harga dirimu yang setinggi langit itu tidak akan bisa membeli obat untuk ibumu malam ini, Anya.
Anya menatap telapak tangannya sendiri yang kosong. Logikanya yang selama ini kokoh kini runtuh berkeping-keping diinjak oleh realita. Berpegang teguh pada idealisme dan harga diri di tengah kemiskinan ternyata adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa ia jangkau. Ia tidak bisa egois. Demi nyawa ibunya, Anya tahu ia harus bersedia menukar apa saja bahkan status pernikahannya sekalipun.
Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Anya bangkit berdiri. Ia menghapus air matanya dengan kasar, menegakkan kembali bahunya yang sempat layu. Keputusannya sudah bulat.
Anya berjalan keluar dari gedung rumah sakit, menembus rintik gerimis yang kembali turun, menuju mobil hitam mewah yang masih terparkir setia di bawah lampu jalan.
Anya membuka pintu belakang mobil dan langsung masuk ke dalam.
Devan masih duduk di posisi yang sama, sedang memeriksa beberapa dokumen di gawainya. Pria itu menoleh lambat, menatap Anya yang kini memiliki sorot mata yang berbeda tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak, yang tersisa hanyalah kepasrahan yang teramat dingin.
Anya meraih map kulit hitam yang tergeletak di antara mereka, membukanya, lalu menatap Devan lurus-lurus.
"Saya akan menerima tawaran Anda, Pak Devan," ucap Anya, suaranya terdengar datar namun bergetar di ujung kalimat. "Saya akan menjadi istri kontrak Anda selama satu tahun."
Devan menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat, sebuah senyuman penuh kemenangan karena skenarionya berjalan persis seperti yang ia kalkulasikan. "Pilihan yang sangat bijaksana, Nona Anya."
"Tapi saya punya syarat tambahan," potong Anya cepat, menatap Devan dengan sisa-sisa keberaniannya.
Devan menutup gawainya, lalu bersedekap dada.
"Katakan."