Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 28
Setelah melarikan diri dari ruang VIP dengan perasaan campur aduk antara amarah dan rasa malu yang membakar, Clarissa tidak langsung meninggalkan gedung Dirgantara Group. Dia berlari menuju lantai paling atas, tempat singgasana Mahesa berada.
Clarissa mengabaikan teriakan sekretaris Mahesa yang mencoba menahannya. Dengan kasar, dia menepis tangan sekretaris itu dan mendobrak pintu kayu jati yang kokoh di ruang kerja Mahesa.
BRAAAAAKKKK
Clarissa masuk dengan mata sembap, napas yang memburu, dan rambut yang sedikit berantakan. Tanpa basa-basi, dia langsung menghambur ke arah Mahesa yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Mas! Lihat apa yang dilakukan wanita gila itu padaku!" seru Clarissa, menunjuk pipinya yang masih memerah bekas tamparan.
"Dia menamparku! Dia mempermalukanku di depan semua orang! Kamu harus memberinya pelajaran sekarang juga, Mas!"
Mahesa, yang sedari tadi sedang memijat pelipisnya karena pening, segera bangkit dari duduknya. Melihat Clarissa yang sudah di ambang kehancuran emosional, naluri Mahesa sebagai pria yang selama ini "terikat" pada wanita itu muncul. Dia tidak ingin keributan ini semakin liar, terutama menjelang Gala Dinner yang sangat krusial bagi citra perusahaannya.
Dengan langkah cepat, Mahesa menghampiri Clarissa. Dia memegang kedua bahu wanita itu, sedikit mengguncangnya agar Clarissa berhenti meracau.
"Clarissa, tenanglah," suara Mahesa rendah dan menenangkan, meski matanya menatap pintu dengan waspada.
"Tenang?! Bagaimana aku bisa tenang, Mas?! Dia menghinaku! Dia bilang aku wanita rendahan! Kamu harus pecat dia! Masukkan dia ke penjara atau apa pun itu, aku tidak peduli!" Clarissa terisak, meluapkan segala amarahnya di dada Mahesa.
Mahesa menghela napas panjang kemudian kembali memijat pelipis dan pangkal hidungnya.
"Aku tahu kamu marah," ujar Mahesa lembut, mencoba meredam api yang membakar wanita itu.
"Tapi kamu tahu posisinya saat ini. Dia adalah istriku, setidaknya di depan hukum dan publik sampai acara besok selesai. Jika aku bertindak gegabah sekarang, semua rencanaku akan berantakan."
Clarissa menatap Mahesa dengan mata penuh tanya.
"Jadi kamu membela dia? Kamu lebih memilih dia daripada aku?"
Mahesa meraih tangan Clarissa, menggenggamnya erat.
"Bukan begitu. Aku hanya menjaga agar semua tetap pada tempatnya. Inara hanyalah alat untuk memuluskan rencanaku. Kamu adalah orang yang selama ini ada di hatiku, Clarissa. Jangan biarkan emosimu membuatmu kalah langkah."
"Sabar sedikit lagi. Besok malam, setelah acara selesai, aku akan selesaikan semuanya. Aku akan menyingkirkannya dari hidup kita. Kamu hanya perlu menahan dirimu sampai besok. Bisa, sayang?"
Clarissa terdiam, menatap Mahesa dengan bimbang. Amarahnya perlahan mereda, digantikan oleh ketergantungan yang selama ini selalu ia rasakan pada pria itu. Dia mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Mahesa.
"Janji? Kamu tidak akan membiarkan dia menjadi Nyonya Dirgantara lebih lama lagi, kan? Dan posisi itu akan kembali padaku!" tanya Clarissa lirih.
Mahesa mengusap rambut Clarissa, namun tatapan matanya kosong, menatap ke arah dinding.
"Tentu saja tidak. Besok malam, semuanya akan berakhir."
Ada rasa kosong dan hampa di sudut hatinya saat menyadari kebersamaannya dengan Inara akan segera berakhir. Ada rasa tak rela di sudut hatinya saat akan melepas Inara. Apalagi dia juga tak mengerti dengan perasaannya saat ini kepada Inara. Dia bahkan sangat takut kalau Inara pada akhirnya akan menjadi milik orang lain. Tapi dia juga bingung dengan hatinya, apalagi Inara kini sudah mulai membuatnya gila. Ciu-man dengan Inara membuatnya merasa sangat berbeda di banding dengan Clarissa.
Clarissa tidak puas hanya dengan kata-kata manis. Dia merasa perlu menandai kembali miliknya, membuktikan kepada dunia dan terutama kepada dirinya sendiri bahwa Mahesa masih berada dalam kendalinya.
Dengan gerakan mendadak yang agresif, Clarissa mencengkeram kerah jas Mahesa, menarik pria itu mendekat hingga napas mereka beradu. Tanpa memberi kesempatan bagi Mahesa untuk bereaksi, Clarissa menekan bibirnya ke bibir pria itu, memberikan ciuman yang menuntut, panas, dan sarat akan keputusasaan seorang wanita yang merasa posisinya terancam.
Di dalam ruangan yang mendadak terasa menyesakkan itu, Mahesa terpaku. Untuk sepersekian detik, dia membiarkan itu terjadi, bukan karena gairah yang membara, melainkan karena keterkejutan atas keberanian Clarissa yang nekat.
Ciuman yang rasanya berbeda. Kali ini rasanya dingin berbeda dengan sebelumnya selalu membuat dia lebih bergairah. Namun kali ini rasanya hambar. Dia justu malah menginginkan bibir Inara yang selalu membuatnya candu dan ingin terus merasakannya. Namun, belum sempat Mahesa memutuskan untuk membalas atau mendorong tubuh wanita itu, matanya menangkap siluet seseorang di celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Inara.
Istrinya berdiri diam di sana, menatap pemandangan itu dengan wajah yang datar, nyaris tanpa ekspresi. Tidak ada rasa cemburu, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah tatapan dingin seorang pengamat yang baru saja mendapatkan konfirmasi terakhir atas apa yang selama ini dia duga.
Mahesa merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya. Sesuatu yang seharusnya menjadi "penenang" bagi Clarissa justru terasa seperti racun di hadapan Inara. Dengan kasar, Mahesa melepaskan tautan bibir mereka dan mendorong tubuh Clarissa menjauh.
"Cukup, Clarissa," suara Mahesa terdengar parau, namun kali ini bukan karena hasrat, melainkan karena amarah yang tertahan.
"Mas?" Clarissa terengah, matanya berbinar kemenangan karena mengira dia telah berhasil, padahal dia tidak menyadari siapa yang baru saja menyaksikan adegan itu.
Mahesa tidak lagi menatap Clarissa. Pandangannya terpaku pada pintu yang sedikit terbuka itu. Dia tahu Inara melihat semuanya, dan anehnya, justru kenyataan itulah yang membuat jantung Mahesa berdegup kencang. Bukan karena cemas akan Clarissa, melainkan karena dia takut Inara akan menggunakan momen ini sebagai alasan terakhir untuk membuangnya.
"Keluar," perintah Mahesa dengan suara dingin yang mutlak.
"Tapi, Mas!"
"KELUAR!" bentak Mahesa hingga membuat Clarissa tersentak mundur, wajahnya memucat karena perubahan sikap Mahesa yang sangat drastis.
Inara, yang sedari tadi berdiri di sudut koridor, telah menyaksikan segalanya. Dia menatap Pak Dirgantara dengan isyarat mata yang meminta pria itu untuk tetap tenang.
"Papa," bisik Inara pelan, suaranya tetap terkendali meski batinnya bergejolak. Dia kaget melihat ayah mertuanya ternyata juga ada di sana melihat semuanya.
Pak Raharjo Dirgantara menoleh, napasnya masih memburu.
"Inara? Kamu lihat ini? Anak tidak tahu malu itu! Dia mempermalukan keluarga Dirgantara tepat sebelum hari pelantikan!"
"Sabar, Pa," potong Inara dengan nada yang sangat tenang, sebuah ketenangan yang justru membuat Papa Raharjo Dirgantara tertegun. Namun dia paham dan mengangguk mengajak Inara masuk ke dalam ruangannya.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭