NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebenaran yg terkoyak

Di bawah ancaman ujung pedang Yuse yang sedingin es, wajah Mila yang licik kini basah oleh keringat dingin. Butiran-butiran itu mengalir turun membasahi pelipisnya, bercampur dengan riasan tebal yang perlahan luntur. Tatapan tajam Brisa terasa menusuk tulang, sementara panas yang memancar dari aura Phoenix di tangan Cindy membuat udara di sekitar bergoyang dan bergetar.

Mila sadar sepenuhnya: ia sudah terjebak rapat. Tidak ada celah, tidak ada jalan untuk meloloskan diri. Gang sempit itu kini telah berubah menjadi sangkar maut baginya sendiri.

"Ba-baiklah! Aku akan bicara!" serunya dengan suara gemetar, lalu segera mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sebagai tanda menyerah. Jarinya bergetar hebat, hingga buku replika yang baru saja ia rampas terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah dengan bunyi pelan.

"Markas rahasia Padepokan Lintis Bumi tidak ada di dalam kota ini. Mereka terlalu cerdik untuk bersembunyi di tempat yang ramai dan mudah dicari," ujarnya terengah-engah, seolah setiap kata yang keluar membawa ia semakin dekat ke pintu kematian. "Mereka bersembunyi di dalam Goa Tengkorak, yang terletak di Lembah Hitam—tepat di balik bukit utara kota ini. Tempat itu sangat angker, tak satu pun warga yang berani mendekat. Ketua kami, Drugsana, sedang memulihkan kekuatan di sana bersama pria ber—"

Crat!

Belum sempat Mila menyelesaikan kalimatnya, sebuah desingan halus memecah keheningan malam. Suaranya nyaris tak terdengar, tertutup oleh napas Mila yang terengah-engah.

Sebuah jarum hitam kecil melesat secepat kilat dari kejauhan. Gerakannya senyap, mematikan, dan tak kenal ampun. Dengan ketepatan yang mengerikan, jarum itu menembus tepat di tengah lehernya.

"Ugh..."

Matanya terbelalak lebar. Waktu seolah berhenti seketika. Urat-urat hitam menjalar dengan cepat dari bekas tusukan ke seluruh wajah dan tubuhnya. Kulitnya perlahan menghitam, bibirnya membiru pucat. Racun di dalam jarum itu jauh lebih mematikan daripada racun buatannya sendiri—racun pemakan darah, senjata rahasia yang hanya dipakai oleh pembunuh bayaran tingkat tinggi.

Hanya dalam hitungan detik, tubuh Mila menjadi kaku tak bernyawa. Lututnya lemas, lalu ia tumbang ke tanah dengan mata tetap terbuka, menatap langit gelap dengan ekspresi terkejut yang abadi.

"Ada pembunuh tersembunyi!" seru Yuse dengan sigap. Instingnya bekerja lebih cepat daripada pikirannya sendiri.

Tanpa menunggu lama, ia langsung melompat ke depan, menarik Cindy ke balik punggungnya dan mengangkat pedang tinggi-tinggi untuk melindungi. Di saat yang sama, Brisa menghentakkan kakinya ke tanah dengan kuat. Angin dingin berputar keluar dari telapak kakinya, membentuk pusaran pelindung yang menyelimuti mereka bertiga. Debu dan kerikil terangkat berputar kencang, menciptakan dinding pertahanan yang transparan namun kokoh.

Mata tajam Yuse dan Brisa segera menyapu setiap sudut sekitar, memeriksa atap-atap bangunan tua dan celah-celah gelap di sepanjang gang. Bau darah dan racun masih tercium menyengat di udara, namun tidak ada jejak, tidak ada suara langkah, dan tidak ada bayangan yang mencurigakan.

Suasana malam itu mendadak kembali sunyi senyap—terlalu sunyi. Seolah seluruh makhluk hidup di sekitar menahan napas. Sang pembunuh benar-benar profesional: setelah berhasil membungkam Mila agar rahasia mereka tidak terbongkar lebih jauh, ia lenyap begitu saja ke dalam kegelapan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Bahkan angin pun seolah takut untuk bersiul.

Brisa perlahan menurunkan pertahanan anginnya. Ia melangkah mendekati jasad Mila dengan hati-hati, matanya tak berkedip sedikit pun. Dengan ujung belatinya, ia menyentil jarum hitam yang masih tertancap di leher wanita itu. Jarum itu berkilau samar, berukuran kecil, namun bagian ujungnya bergerigi halus—dirancang khusus agar racun menyebar lebih cepat ke seluruh pembuluh darah.

"Racun pemakan darah," gumam Brisa pelan, nadanya sedingin es. "Ini ciri khas senjata pembunuh bayaran aliran hitam tingkat tinggi. Mereka hanya menggunakannya untuk membungkam orang yang dianggap terlalu banyak bicara."

Ia mengangkat wajah dan menatap Yuse. "Orang yang melempar ini pasti utusan langsung dari pria bertopeng itu. Mereka tidak mau kita tahu lebih banyak tentang Drugsana."

Cindy masih berdiri di belakang Yuse, tubuhnya sedikit gemetar. Ia mencengkeram erat ujung baju temannya, wajahnya pucat pasi menatap mayat yang tergeletak di depannya. Bau darah dan racun membuat perutnya terasa mual. Ini pertama kalinya ia melihat kematian terjadi begitu dekat dan begitu cepat di depan matanya.

"Yuse..." suaranya bergetar pelan. "Mila tadi sempat menyebutkan Goa Tengkorak di Lembah Hitam sebelum dia dibunuh. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita kejar pembunuhnya, atau... langsung menuju ke sana?"

Yuse tidak langsung menjawab. Ia menyarungkan kembali pedangnya dengan gerakan perlahan, matanya tetap terpaku ke arah bukit utara yang tersembunyi di balik kabut tebal. Bukit itu tampak seperti bayangan raksasa yang menelan seluruh cahaya bulan.

"Mereka rela membunuh sekutunya sendiri demi menjaga rahasia ini," ujarnya pelan namun berat. "Itu artinya, informasi yang kita dapatkan seratus persen benar. Kalau mereka tidak takut rahasia mereka terbongkar, mereka tidak akan bertindak secepat dan sekejam ini."

Tangannya mengepal erat hingga kuku hampir menembus kulit telapak tangannya. "Kita tidak boleh membuang waktu sebelum mereka memindahkan markas atau bersiap menyambut kedatangan kita. Kalau Drugsana berhasil kabur, mungkin kita tidak akan pernah menemukan jejak pria bertopeng itu selamanya."

Brisa mengangguk setuju. "Goa Tengkorak... nama yang sangat pas dengan reputasi mereka. Tempat yang penuh tulang belulang dan kutukan darah. Aku sudah lama menunggu hari ini untuk menginjakkan kaki di sana."

Cindy menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang kencang. Genggamannya di lengan Yuse perlahan berubah dari rasa takut menjadi tekad yang membara.

"Kalau begitu... kita berangkat sekarang? Malam ini juga?"

Yuse menoleh dan menatap kedua temannya bergantian. Wajah Cindy masih pucat namun matanya penuh keyakinan. Wajah Brisa tetap dingin namun menyala oleh api dendam yang tak pernah padam. Ia tahu, tidak ada jalan kembali setelah langkah ini.

"Malam ini," jawabnya tegas. "Kita bergerak sekarang, sebelum fajar menyingsing. Kita tidak tahu berapa banyak penjaga yang menunggu di sana, tapi satu hal yang pasti: mereka tidak akan menyangka kita datang secepat ini."

Sudut bibir Brisa terangkat membentuk seringai tipis. "Bagus. Aku benci menunggu."

Cindy mengangguk mantap, meski kakinya masih sedikit gemetar. "Aku siap."

Meskipun penyelidikan mereka terputus secara tiba-tiba, kini mereka sudah memegang kunci lokasi musuh. Goa Tengkorak di Lembah Hitam, di balik bukit utara. Nama itu terasa seperti kutukan yang menggantung berat di udara malam.

Malam itu juga, di bawah bayang-bayang ancaman pembunuh yang masih bersembunyi di kegelapan, ketiganya segera bergerak meninggalkan gang sempit itu. Mereka tidak kembali ke tempat menginap, tidak ada waktu untuk mengemasi barang. Setiap detik yang berlalu menentukan antara hidup dan mati.

Langkah mereka menuju gerbang utara terasa lebih berat dari sebelumnya. Di balik bukit yang gelap itu, di dalam perut bumi yang sunyi, menunggu semua jawaban yang mereka cari—dan mungkin, akhir dari seluruh perjalanan mereka.

Yuse berjalan paling depan dengan pedang yang setengah terhunus. Brisa berada di sampingnya, hawa dingin yang ia pancarkan membuat rumput di pinggir jalan menjadi layu dan kering seketika. Cindy berjalan di belakang, tangannya terus menggenggam erat liontin peninggalan ibunya—satu-satunya jimat yang selalu ia bawa dan andalkan.

Di kejauhan, terdengar lolongan serigala panjang dan serak dari arah Lembah Hitam, seolah menyambut kedatangan mereka.

Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!