transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.
#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
badai reda tapi belum teduh
Satu badai telah terlewati. Perahu kecil Vivian mulai berlayar dengan aman.
Biarpun langit masih gelap, mendung belum benar-benar pergi, tapi setidaknya gelombang air laut gak lagi setinggi kemarin. Napasnya udah gak sesak-sesak amat.
Keluarga Wijaya mulai menata ulang hati. Pelan-pelan. Kaget, malu, lega, campur aduk.
Hasil lab kesuburan Eric menyebutkan: pria itu jantan dan subur. Sperm count normal. Motilitas bagus. Morfologi aman. Intinya: mesinnya jalan.
Akhirnya mereka sadar. Sadar banget. Rumor Eric mandul selama 2 tahun ini... cuman akal-akalan Vivian untuk minta cerai. Kalimat yang Vivian teriakin di kantor, di arisan, di depan rekan bisnis... semuanya bohong.
Dengan kata lain, kalau Vivian tak pernah disentuh Doni—dan rekaman Silvi udah buktiin itu—besar kemungkinan bayi yang ada di kandungan-nya itu punya Eric. Anak Wijaya. Cucu Wijaya. Hasil malam-malam ganjil yang dia sendiri hina.
Sekarang semua orang sudah kumpul kembali di ruangan rawat inap. Bau alkohol masih kecium, suara bip monitor masih ada, tapi atmosfernya beda. Lebih hangat. Lebih canggung.
Chindy dan Cika masih berebut kertas hasil lab Eric. Dua kepala nonjok di satu lembar HVS. Masih tak percaya dengan apa yang dokter katakan beberapa waktu lalu.
"99%? Ini beneran gak sih? Jangan-jangan lab-nya disuap Silvi!" Chindy nyinyir, tapi suaranya udah gak setinggi tadi. Ada ragu di situ.
"Udah deh, Cin. Dokternya aja bilang normal. Lu mau tes DNA sekalian?" Cika ngejek, tapi matanya berkaca-kaca. Lega.
"Jadi... apa kita tidak jadi cerai?" tanya Vivian. Suaranya pelan. Dia pasang lagak sok imut, kepala miring dikit, mata dibulat-bulatin. Jurus andalan kalau mau minta sesuatu.
Dia duduk di ranjang, selimut nutup sampe perut. Selang infus masih nancep di punggung tangan. Wajahnya pucet, tapi ada rona merah tipis gara-gara deg-degan.
"Sudah ada anak, untuk apa cerai," sahut Bu Ratna yang duduk di tepi ranjang. Tangannya ngelus punggung tangan Vivian lembut. Hangat. Aura bahagia terpancar nyata dari wajahnya. Wajah yang 2 tahun murung, 2 tahun penuh amarah, 2 tahun tidur sambil nangis karena kelakuan menantu... perlahan mulai berubah. Ada senyum. Kecil, tapi tulus.
"Anak itu... cucu Ibu," bisiknya lagi. Kayak gak percaya.
Mata Vivian tak lepas dari laki-laki yang menjabat sebagai suaminya. Berdiri di pojok, bersandar ke dinding. Tinggi, tegap, jasnya masih rapi meskipun udah jam 9 malam. Penuh harap, penuh tanda tanya. _Ngomong dong. Bela aku dong. Ngaku dong._
Sementara Eric, masih bersikap dingin. Wajahnya datar kayak patung es. Tapi... sesekali dia mencuri pandang dengan ekor matanya. Ke arah gadis pucat yang duduk di atas ranjang rumah sakit itu. Cepet. Sekilas. Tapi ketangkep Vivian.
Wanita yang 2 tahun mencuci otaknya dengan sebutan pria mandul. Wanita yang tiap berantem teriak, "Kamu tuh gak bakal bisa punya anak! Nikah sama kamu cuman buang waktu!" Wanita yang bikin harga dirinya jatuh ke titik paling dasar.
Sebelumnya bukan Eric tak kepikiran untuk cek kesuburan-nya. Dia kepikiran. Tiap malam. Tiap liat bayi tetangga. Tiap ke acara kondangan.
Dia cuman terlalu takut. Takut kalau hasilnya persis seperti yang Vivian katakan. Takut kalau dia beneran cacat. Takut kalau dia ngecewain Papa di surga yang nitipin Vivian ke dia. Jadi dia diemin. Dia kubur rasa penasaran itu dalem-dalem. Biarin aja orang bilang dia mandul. Daripada tau kenyataan yang lebih nyakitin.
Tapi sekarang dia paham kondisinya. Dia tidak mandul. Dia normal. Dia... bisa punya anak.
Dan mengingat apa yang sering Vivian dan Eric lakukan di malam ganjil... tanggal 1, tanggal 3, tanggal 17... Menguji keperkasaan pria berusia 28 tahun dan ternyata berhasil. Gak cuma sekali. Berkali-kali.
Vivian hamil sekarang, dan itu anaknya. Hasil malam-malam ganjil yang dulu dia anggap penghinaan, jebakan, khilaf-nya Vivian mabuk. Ternyata... benih.
Eric nelen ludah. Tenggorokannya kering.
"Kita akan cerai," ucap Eric akhirnya. Datar. Dingin. Tanpa intonasi. "Tapi waktunya akan tertunda. 9 bulan. Aku beri kamu waktu sampai kamu melahirkan."
Satu ruangan kaget. Bu Ratna nengok. Chindy berhenti rebut kertas. Cika melongo.
Mendengar itu mata Vivian berbinar. Kayak lampu 100 watt dinyalain. Gak ada sedih. Gak ada kecewa. Ada... senang?
Tanpa pikir panjang, langsung bangkit dari kasur. "Yeay!" Melompat ke arah Eric kegirangan. Lupa dia masih sakit. Lupa dia pusing.
Spontan Eric bergerak. Refleks. Tangannya langsung menangkap badan Vivian yang nyaris jatuh. Pelukannya erat. Satu tangan di punggung, satu tangan di pinggang. Badan Vivian ringan banget di tangannya.
Sebelah tangan Vivian terlipat ke belakang karena masih tersambung infusan. Selangnya ketarik. "Aduh."
"Terima kasih, Suamiku! Aku janji akan berubah!" serunya antusias. Mukanya nempel di dada Eric. Dia bisa denger detak jantung Eric. Kenceng. Gak beraturan. Sama kayak punya dia.
Bu Ratna yang tak jauh dari sana terlonjak kaget. "Vivian! Turun! Kamu belum pulih!" serunya panik. Dia mau narik, tapi takut.
Sementara Eric terpaku. Diam. Kaku. Hidungnya kecium aroma shampoo dari rambut Vivian. Badannya anget. Kecil. Rapuh.
Dia natap wajah cantik yang pucat itu dari deket. Dekat banget. Senyuman-nya tulus. Matanya berbinar. Ini baru pertama kalinya Vivian bersikap manis padanya. Tanpa teriak. Tanpa ngelempar barang. Tanpa ngatain dia mandul.
Dan sialnya... jantungnya jadi gak karuan.
"Eh, mentang-mentang hamil, kamu pikir bisa seenaknya menempel pada Kakakku?" Chindy dari belakang mengomel. Mukanya asem. Dia nyerbu, dengan paksa melepaskan pegangan Eric dari pinggang Vivian. Narik Vivian balik ke kasur. "Turun! Berat tau!"
Mendengar itu Eric mundur. Satu langkah. Dua langkah. Kayak kesetrum. Dia buru-buru mengatur wajahnya ke setelan semula. Datar. Dingin. Kulkas dua pintu. Menyembunyikan semburat merah yang udah terlanjur naik ke seluruh wajahnya sampai ke telinga.
Dia masukin tangan ke saku celana. Ngumpet. Biar gak ketahuan tangannya gemeter.
Sementara Vivian, kembali duduk di kasur. Dipegangin Bu Ratna sama Cika. Bibirnya mengerucut, tak suka. Mata-nya ngelirik Chindy tajam.
_Awas saja, Chindy,_ batin Vivian sambil senyum tipis. _Akan aku buat kamu kerepotan karena keponakanmu sendiri._
Dia ngelus perutnya pelan. _Tenang ya, Nak. Mama udah dapet 9 bulan. Cukup buat bikin Papa kamu luluh. Cukup buat bikin keluarga ini utuh. Cukup buat kita pulang._
Badai udah lewat. Tapi langit belum cerah. Eric masih mau cerai. Tapi... setidaknya dia ngasih waktu. 9 bulan. 9 bulan buat Vivian buktiin kalau dia udah berubah. 9 bulan buat Eric ngakuin malam ganjil itu bukan khilaf.
Dan Vivian? Dia terima tantangannya.
lebih baik milih yg bernapas, sefrekuensi, dan bisa langsung di ajak ngobrol and melukis bareng-bareng 😁👍
daripada terus memandangi lukisan wanita benda mati aja, yg juga udah punya laki and lagi hamil anak orang pula 😜
buat bisa menghempas kan para hama wereng yg menggatal 😡😡💪
semoga gak goyah jika ada godaan yg bakal ganggu hubungan mereka lagi 👍👍