NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: DINGIN

Malam yang panjang itu beralih rupa menjadi fajar yang mencekam di koridor Rumah Sakit Umum Daerah. Bau karbol yang menyengat dan deru halus mesin pendingin ruangan menjadi latar belakang dari rasa lelah yang teramat sangat. Tante Yuni, ibunda Kenan, akhirnya dilarikan ke ruang instalasi gawat darurat setelah kondisinya mendadak drop pasca-kejadian traumatis di rumahnya. Bukan hanya luka fisik akibat amukan suaminya, melainkan tekanan batin yang luar biasa karena seluruh uang tabungan yang selama ini dikumpulkan dengan susah payah untuk biaya kemoterapi kankernya, telah dibawa kabur semua oleh sang suami sebelum pemuda-pemuda itu sempat menghentikannya.

Di tengah keputusasaan Kenan yang terduduk lemas di lantai selasar rumah sakit sembari meremas rambutnya sendiri, Pak Dadang dan Bunda Baren datang bagaikan malaikat pelindung. Tanpa banyak bicara, setelah mendengar bahwa uang pengobatan Tante Yuni habis tak bersisa, Pak Dadang langsung maju ke bagian administrasi. Seluruh biaya penanganan darurat hingga jaminan perawatan intensif malam itu resmi ditanggung sepenuhnya oleh keluarga Aldi.

Saat dokter keluar dan mengabarkan bahwa Tante Ambar hanya mengalami syok berat serta kelelahan fisik, sementara perkembangan penyakit kankernya dinyatakan masih aman dan tidak mengalami komplikasi fatal, pertahanan Kenan runtuh total. Pemuda yang biasanya selalu tegar itu langsung bersimpuh, menangis sejadi-jadinya di pelukan Bunda Baren. Bunda Baren mengusap punggung Kenan dengan penuh kasih sayang seorang ibu, sementara Sendy duduk diam di sebelahnya, merangkul pundak sahabatnya itu untuk memberikan kekuatan.

Di tempat lain, atmosfer yang tercipta justru terasa jauh lebih beku.

Kantor Kepolisian Sektor Kecamatan malam itu tampak lengang. Hanya ada beberapa petugas piket yang berjaga di balik meja tripleks tinggi. Di salah satu sudut ruang tunggu yang diterangi lampu putih yang berkedip pelan, Aldi duduk dengan posisi tegak. Kedua buku jari tangan kanannya tampak memar dan sedikit membiru, sisa dari hantaman keras yang ia layangkan pada ayah Kenan beberapa jam lalu.

Di sebelah kirinya, duduk Jasmine. Sebagai Ketua RT 04 yang bertanggung jawab atas warganya, Jasmine wajib ikut mendampingi proses pelaporan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan penganiayaan ini ke pihak kepolisian. Nadeo kecil sudah dititipkan dengan aman di rumah salah satu warga yang tepercaya sejak tengah malam tadi.

Selama hampir tiga jam mengurus berkas laporan, mulai dari penyerahan bukti visum awal hingga penandatanganan berita acara pemeriksaan selaku saksi mata, Aldi benar-benar menunjukkan sikap yang luar biasa kaku dari biasanya. Ia hanya berbicara seperlunya saja dengan Jasmine. Setiap kali Jasmine bertanya tentang kronologi atau kelengkapan berkas, Aldi hanya menjawab dengan kalimat-kalimat pendek yang sangat formal.

"Ini berkas dari rumah sakit perlu dicopy lagi gak, Mas?" tanya Jasmine pelan, memecah keheningan di antara mereka.

"Gak usah. Sudah cukup," jawab Aldi datar, pandangan matanya tetap lurus menatap pintu ruang penyidik tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita di sampingnya.

Sikap dingin yang dipaksakan itu membuat dada Jasmine terasa kian sesak. Kejadian di rumah Kenan tadi, di mana Aldi membentaknya dengan suara menggelegar, terus berputar di kepalanya. Namun, Jasmine tahu, kemarahan Aldi saat membentaknya bukan sekadar karena emosi melihat kelakuan ayah Kenan, melainkan ada jarak tak kasat mata yang sengaja diciptakan pemuda itu sejak rapat gabungan di balai desa.

Ketika petugas polisi akhirnya pamit ke belakang untuk memproses lembar terakhir laporan, ruang tunggu itu mendadak sunyi total. Jarak duduk mereka yang hanya terpisah oleh satu jengkal terasa seperti benteng pemisah yang tingginya berometer-meter.

Jasmine menatap jemari tangannya yang saling bertautan di atas pangkuan. Keheningan ini menyiksanya. Kehilangan sosok Aldi yang hangat, jenaka, dan penuh perhatian selama dua hari terakhir ini membuat Jasmine sadar bahwa kehadiran pemuda itu ternyata telah mengambil porsi yang cukup besar dalam ketenangannya sehari-hari.

Sambil menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian yang tersisa, Jasmine akhirnya menoleh. Ia menatap sisi samping wajah tegap Aldi yang tampak mengeras di bawah temaram lampu kantor polisi.

"Mas Aldi..." panggil Jasmine, suaranya terdengar sangat lirih, hampir tenggelam oleh suara ketikan mesin tik dari ruangan sebelah.

Aldi tidak menyahut, namun gerakan bahunya yang sedikit menegang menandakan bahwa ia mendengar panggilan itu.

"Mas Aldi... jauhin saya?" tanya Jasmine langsung pada intinya. Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya, membawa serta seluruh rasa penasaran dan kecemasan yang berkecamuk di dalam dadanya sejak kemarin malam. Jasmine menatap mata Aldi, berharap bisa menemukan kembali binar hangat yang biasanya selalu ada di sana khusus untuk dirinya.

Mendengar pertanyaan frontal itu, Aldi terdiam selama beberapa detik. Ia menarik napas panjang melalui hidung, menahan rasa bergejolak di dalam dadanya. Bayangan cerita Kenan dan Sendy tentang sosok pria bernama Afrizal yang berjalan berdekatan dengan Jasmine di pasar kuliner sore itu kembali terlintas, menggores ego mudanya.

Aldi perlahan memalingkan wajahnya, menatap Jasmine dengan sorot mata yang sangat tenang, namun benar-benar kosong dari emosi.

"Gak ada yang jauhin Bu Jasmine kok," ujar Aldi pendek. Suaranya terdengar sangat lempeng, tanpa nada kemarahan, namun justru ketidaksisihan itulah yang terasa paling menyakitkan bagi Jasmine. "Saya cuma lagi fokus bantu Kenan. Urusan keluarga dia lagi berat."

Setelah mengucapkan kalimat singkat itu, Aldi kembali membuang pandangannya ke depan, mengakhiri konversasi singkat mereka secara sepihak.

Hening.

Suasana di ruang tunggu kantor polisi itu seketika kembali senyap total. Jawaban Aldi yang membawa embel-embel "Bu Jasmine" dan kata "Saya"—bukan lagi panggilan "Bu RT" yang akrab atau sebutan "Mas Aldi" yang hangat—menjadi penegas paling nyata bahwa ada sebuah garis batas baru yang telah digariskan oleh pemuda itu.

Jasmine hanya bisa menunduk dalam-dalam, menyembunyikan sepasang matanya yang mendadak terasa panas dan berkaca-kaca. Di bawah langit yang mulai membiru di luar jendela kantor polisi, Jasmine akhirnya menyadari satu hal; ketika seorang pria setulus Aldi memutuskan untuk menarik diri dan memasang jarak, maka kata-kata penolakan bahkan tidak lagi diperlukan untuk menciptakan sebuah jarak yang teramat jauh.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!