NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

POV ADRIAN

Aku melangkah masuk ke dalam kantin lantai tiga hanya untuk membeli sebotol air mineral. Keramaian dan bau asap makanan sebenarnya bukan tempat favoritku, tapi rasa penat setelah rapat berturut-turut membuatku butuh sedikit udara di luar lantai eksekutif.

Namun, baru saja aku melewati pojok kantin, suara yang sangat familier menangkap pendengaranku. Suaranya lantang, menggebu-gebu, dan topiknya... entah kenapa terdengar sangat spesifik.

“Kan emang bener dia itu keras kepala! Masa gak mau dengerin penjelasan orang lain dulu, terus langsung main paksa orang ikut rapat yang jelas-jelas di luar jobdesk-nya? Gara-gara kelakuan dia yang egois itu, orang jadi kena imbasnya sampai dipecat di hari pertama kerja coba! Nyebelin banget kan cowok kayak gitu?!”

Aku menghentikan langkah. Sudut bibirku hampir saja berkedut.

Aruna Prameswari. Staf administrasi junior yang kemarin menangis sesenggukan di lift, sekarang sedang duduk dengan semangkuk siomay, mengulitiku habis-habisan di depan karyawan lain. Berani sekali dia.

Aku sengaja berjalan mendekat, berdiri tepat di balik punggungnya. Aura ketakutan langsung menyebar dari teman wanitanya yang mendadak pucat pasi, tapi gadis kuncir kuda di depannya ini masih saja mengoceh tanpa dosa.

“Jadi... menurut kamu saya menyebalkan, keras kepala, egois, dan membuat orang dipecat di hari pertama kerja, Aruna Prameswari?” tanyaku dengan nada serendah mungkin.

Gadis itu menegang. Saat dia membalikkan badannya dengan sangat pelan, aku sudah bersiap melihatnya menangis atau memohon ampun seperti karyawan lain yang ketahuan bergosip. Tapi dugaan konyolku meleset total.

Dengan wajah yang dibuat seolah-olah tanpa dosa, dia malah menyodorkan garpu berisi sepotong siomay ke arah wajahku. “Eh... Pak Adrian? Makan, Pak. Bapak belum makan siang kan? Mau siomaynya, Pak?”

Aku mengerutkan dahi. Di saat seisi kantin mendadak sunyi dan menahan napas menonton kami, dia justru dengan santainya menawariku jajanan kantin seharga lima ribu rupiah setelah mencoreng namaku. Keberaniannya atau mungkin kebodohannya benar-benar di luar akal sehatku.

Ketika aku menantangnya balik dan dia dengan panik menawarkan diri untuk mengantarkan porsi baru ke ruanganku, aku sengaja mengiyakannya. Aku hanya ingin tahu, sejauh mana gadis ini akan bertingkah di depanku.

Beberapa menit kemudian, dugaanku benar. Suara teriakan cemprengnya bergema bahkan sampai menembus pintu kedap suara ruang kerjaku.

“PAK ADRIAN!!! INI SIOMAYNYA SAYA BAWA, TAPI GAK BOLEH MASUK SAMA SEKRETARIS BAPAK! SAYA DITUDUH MAU NYEKOKIN BAPAK PAKE OBAT PELET NGEHEK INI, PAK!!!”

Aku menghembus napas pendek, menahan tawa yang hampir lolos. Astaga, dia benar-benar berteriak soal obat pelet di lantai eksekutif.

Aku membuka pintu dan menyuruhnya masuk, membiarkan Ariana mematung dengan wajah bodohnya di luar. Namun, begitu melangkah ke dalam ruanganku, sifat aslinya kembali keluar. Matanya berbinar-binar menatap deretan buku dan dekorasi ruangan, persis seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak ke taman hiburan. Mulutnya bahkan sedikit terbuka.

Lucu. Tapi aku tidak boleh kehilangan kendali sebagai atasannya.

“Kamu... sedang mencari apa di ruangan saya? Jangan-jangan, apa yang dibilang sekretaris saya di luar tadi ada benarnya? Kamu punya niat lain masuk ke sini?” tanyaku, sengaja memancingnya lagi.

Aku mengira dia akan gugup dan salah tingkah. Namun yang terjadi selanjutnya membuatku benar-benar terpaku di kursi kebesaranku.

Gadis itu berjalan menghentak, menaruh plastik siomay di atas mejaku dengan kasar, lalu merobek bungkusnya. Dengan mata melotot marah, dia menusuk satu siomay besar dan memasukkannya ke dalam mulut sendiri. Dia mengunyahnya dengan brutal tepat di depan wajahku.

“Tuh, lihat sendiri kan, Pak?! Gak ada pelet, gak ada racun... Saya ke sini Cuma mau nepatin janji... Capek tahu gak, Pak!”

Dia mengomeliku. Seorang staf junior, baru saja mengomeli CEO Utamanya di dalam ruangan pribadinya sendiri.

Belum sempat aku mencerna kelakuannya yang sangat tidak sopan namun luar biasa menghibur itu, dia sudah berbalik, menghentakkan kaki dengan kesal, dan membanting pintu dari luar.

Aku menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu beralih menatap kotak siomay yang masih terbuka di atas meja. Aroma bumbu kacang murahan kini memenuhi ruangan berparfum cendana milikku.

Perlahan, senyuman yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah juga. Aku bersandar di kursi, meraih garpu plastik yang dia tinggalkan, lalu menatap potongan siomay di dalam kotak.

“Aruna, Aruna...” gumamku lirih, menggelengkan kepala. “Kamu benar-benar mahluk paling berani yang pernah masuk ke kantor ini.”

Aku mengambil garpu plastik itu, menusuk satu potongan siomay yang tadi ditunjuk Aruna, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Kunyahan pertama membuatku sedikit tertegun. Rasanya ternyata tidak buruk. Malah, saus kacangnya jauh lebih gurih daripada makanan katering sehat berharga ratusan ribu yang biasa dipesankan sekretarisku.

Cklek.

Pintu ruanganku tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pelakunya. Di kantor ini, hanya ada satu orang kurang ajar yang berani masuk ke sarang singa tanpa permisi.

“Yo, Adrian! Sibuk gak—“

Kalimat Gavin, Sahabatku sekaligus manajer operasional di perusahaan ini, langsung terputus di udara. Langkah kakinya mendadak mampet di tengah karpet. Matanya melotot selebar jengkol, menatapku yang sedang memegang garpu plastik murahan, lalu beralih menatap kotak mika di atas meja.

“Demi apa...” Gavin melangkah maju dengan dramatis, mencondongkan badannya ke mejaku. “Seorang Adrian Wiratama, CEO yang alergi makanan berminyak, sekarang lagi makan... siomay kantin? Pakai garpu plastik?!”

Aku mendengus, meletakkan garpu tanpa minat untuk menjelaskan. “Ngapain lo ke sini?”

“Gak, gue Cuma mau mantau investasi gue aja,” Gavin terkekeh, lalu duduk di sofa depan mejaku dengan santai. “Gimana asisten baru yang gue cariin buat lo? Si Ariana. Oke kan? Kerjaannya rapi, kan?”

Mendengar nama Ariana, selera makanku langsung hilang. Aku bersandar ke kursi, menatap Gavin dengan pandangan datar. “Ganti dia.”

Gavin langsung terlonjak kaget dari sofanya. “Hah? Kenapa lagi? Ini udah asisten kesekian yang lo tolak, Yan! Apa salahnya si Ariana? Dia kan lulusan luar negeri, sesuai standar tinggi lo.”

“Hari pertama kerja, dia sudah telat tiga puluh menit,” potongku dingin, menatap Gavin tajam. “Alasannya klise. Ban mobil bocor.”

“Ya ampun, Yan, kalau ban mobil bocor itu kan musibah, bukan disengaja,” Gavin mencoba membela.

“Gak ada urusan sama musibah, Vin. Kalau niat kerja, ban bocor ya tinggal ditinggal, naik ojek online. Bukan malah telat setengah jam,” ujarku tidak mau kalah. “Bukan Cuma itu. Dia terlalu banyak tanya untuk hal-hal sepele yang seharusnya sudah dia pelajari. Manja. Kerja gak fokus, malah centil sibuk benerin penampilan tiap kali saya lewat. Dan yang paling parah, dia emosional. Baru saja dia bentak-bentak staf lain di depan ruangan saya. Tidak profesional.”

Gavin menghela napas panjang, memijat pelipisnya mendengar penilaian sengitku.

“Yan, wajar kali dia banyak tanya, kan namanya juga masih baru, butuh adaptasi. Terus soal manja... ya lo harus maklum. Ariana itu datang dari keluarga berada. Bapaknya itu kolega bisnis om lo juga. Dari kecil dia emang hidup serba ada, makanya pembawaannya begitu. Lo-nya aja yang standarnya terlalu robot!” Gavin geleng-geleng kepala.

Gavin kemudian memajukan badannya, menatapku dengan wajah memohon. “Aduh, Yan, tolonglah. Kali ini aja. Kasihan om lo kalau tahu anaknya kolega bisnisnya langsung lo pecat di hari keduanya. Kasih dia kesempatan lagi, ya? Tolong pantau dulu.”

Aku diam beberapa saat, menimbang posisi omku yang membawa Ariana ke perusahaan ini. Setelah menghembuskan napas berat, aku akhirnya mengalah.

“Satu bulan,” putusku tegas. “Gue kasih dia waktu satu bulan masa percobaan. Kalau dalam sebulan kinerjanya tidak ada kemajuan dan masih manja, saya tidak peduli dia anak siapa, dia harus angkat kaki dari lantai ini.”

Gavin langsung bernapas lega. “Nah, gitu dong! Satu bulan udah cukup adil. Thanks, Yan!”

Gavin kemudian berdiri, tapi pandangannya mendadak tertambat lagi pada kotak mika di atas meja. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh sinis sebelum berjalan keluar ruangan.

Aku tidak memperdulikan ejekan Gavin. Begitu pintu tertutup rapat, aku kembali menatap kotak siomay di depanku. Bayangan wajah cemberut Aruna yang sedang mengunyah siomay dengan brutal sambil mengomeliku tadi kembali melintas.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!