NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Tiga Puluh Detik yang Menentukan

Udara di dalam VIP Powder Room itu terasa membeku, meski pendingin ruangan berembus pelan. Jantung Alika berdegup sangat kencang hingga ia takut Rasti bisa mendengarnya.

Melalui pantulan cermin, Alika melihat Raditya melangkah tanpa suara, menyelinap dari area bilik toilet menuju titik buta (blind spot) di balik pilar dekoratif dekat area wastafel. Dokter muda itu mengenakan setelan jas tamu, wajahnya tegang, dan matanya memancarkan urgensi yang absolut.

"Rasti," suara Alika memecah keheningan, nada suaranya sengaja dibuat panik dan menuntut. "Tinggalkan resletingnya, sepertinya tidak apa-apa. Tapi lihat ujung gaunku ini! Cepat ke wastafel paling ujung sana, basahi tisu dengan air hangat dan sedikit sabun cair. Noda anggur ini akan mengering kalau kau lambat!"

Rasti yang terbiasa patuh pada perintah berbau kesempurnaan fisik, langsung melepaskan gaun Alika. "Baik, Nyonya."

Wanita berseragam hitam itu berjalan menuju wastafel di sudut ruangan, membelakangi Alika. Ia menghidupkan keran air hangat, menciptakan suara gemericik air yang menutupi suara langkah kaki.

Itulah sinyalnya.

Dalam hitungan detik, Raditya melompat keluar dari persembunyiannya dan berdiri tepat di hadapan Alika. Tidak ada waktu untuk bertukar sapa. Raditya meraih lengan kiri Alika dengan gerakan cepat namun sangat terukur. Saat kulit mereka bersentuhan, Raditya menelan ludah; lengan Alika terasa sangat dingin, dan persendian di pergelangan tangannya bengkak menyedihkan.

Tanpa repot-repot mengikatkan tourniquet karet, Raditya langsung meraba nadi di lipatan siku Alika. Jam terbangnya sebagai dokter spesialis terbukti di sini. Ia menggunakan jarum butterfly kecil yang dirancang untuk mengambil darah dengan cepat dan nyaris tanpa rasa sakit.

Suntik.

Alika menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan ringisan saat jarum itu menembus nadinya. Matanya terus terpaku pada punggung Rasti di cermin. Asisten itu sedang menekan-nekan cairan sabun ke atas tisu.

Lima belas detik.

Tabung vial kecil berukuran tiga mililiter itu mulai terisi oleh darah merah gelap Alika. Tangan Raditya sangat stabil, tidak bergetar sedikit pun meski keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Nyonya, sabun cair di wastafel ini sepertinya—" Rasti tiba-tiba bersuara, berniat menoleh.

"Jangan pakai sabun yang itu!" sentak Alika seketika, menghentikan gerakan memutar Rasti. "Pakai sabun cuci tangan khusus dari botol kaca di rak bawah cermin! Cepat, Rasti, sebelum Mas Narendra mencari kita!"

Rasti kembali menunduk, mencari botol yang dimaksud.

Dua puluh lima detik.

Tabung darah terisi penuh. Raditya mencabut jarum itu secepat kilat, langsung menekan titik suntikan dengan kapas alkohol kecil, lalu menempelkan plester bedah bening yang sudah ia siapkan di jarinya.

Bersamaan dengan itu, tangan kiri Raditya menyelipkan sebuah botol pipih ke dalam clutch bag Alika yang terbuka. Ia menatap mata Alika dalam-dalam, sebuah tatapan yang mengatakan: Aku sudah mendapatkan buktinya. Bertahanlah.

Raditya segera mundur tanpa suara, meluncur kembali ke dalam bilik toilet dan menutup pintunya pelan tepat saat gemericik air wastafel dimatikan.

Tiga puluh detik yang menentukan hidup dan mati itu selesai.

Rasti berbalik membawa gumpalan tisu basah hangat. Ia berlutut di dekat kaki Alika, mulai mengusap bagian bawah gaun beludru tersebut dengan saksama. Alika berdiri kaku, menyilangkan lengan kirinya di depan perut untuk menyembunyikan plester bening di lipatan sikunya, berusaha menetralkan napasnya yang memburu.

"Nyonya..." Rasti mendongak, keningnya berkerut bingung. "Saya tidak melihat ada noda anggur di sini. Kainnya bersih."

Alika membuang napas kasar, berpura-pura lega sekaligus kesal. "Oh, benarkah? Mungkin tadi hanya pantulan cahaya dari karpet merah. Syukurlah. Kau bisa membuang tisunya, Rasti. Kita harus segera kembali."

Rasti berdiri, menatap Alika dengan pandangan menilai yang mengintimidasi. Mata asisten itu menyapu wajah pucat Alika, lalu turun ke lengan Alika yang menyilang. Sejenak, Alika merasa nyawanya ditarik paksa dari ubun-ubun. Jika Rasti mendekat dan meneliti lengan kirinya...

Kring! Kring!

Ponsel di saku gaun Rasti berdering tajam. Asisten itu segera mengambilnya. Layarnya menampilkan nama yang sangat mereka kenal.

"Tuan Narendra," lapor Rasti datar, lalu mengangkat panggilan itu. "Ya, Tuan? Kami ada di powder room. Nyonya sedang merapikan gaunnya... Baik, kami akan turun sekarang."

Rasti mematikan ponselnya. "Tuan Narendra sudah menunggu di depan pintu ballroom untuk sesi foto. Kita harus bergegas."

"Ayo," jawab Alika mantap.

Ia melangkah keluar dari powder room dengan kepala tegak, meninggalkan ruangan marmer itu. Di dalam tas kecilnya, ia merasakan beban botol obat baru dari Raditya yang akan menyelamatkan hari-harinya minggu depan. Dan di dalam bilik toilet yang terkunci, Raditya berdiri memegang tabung darah Alika—kunci utama untuk membongkar misteri medis yang perlahan membunuh wanita itu.

Saat Alika kembali ke ballroom, Narendra langsung meraih lengannya. Cengkeraman pria itu jauh lebih kuat dari sebelumnya, menyisakan rasa sakit yang memicu denyut peradangan di otot Alika.

"Dua puluh menit, Alika," bisik Narendra di telinga istrinya sambil tersenyum ke arah kamera wartawan yang memotret mereka. "Kau menghabiskan dua puluh menit di toilet. Rasti bilang kau mengurus noda gaun yang bahkan tidak ada."

Darah Alika berdesir hebat. Narendra tidak pernah melepaskan kecurigaannya.

"Ruangannya agak jauh, Mas, dan aku panik karena takut gaun ini rusak saat difoto," jawab Alika lancar, mempertahankan senyum plastiknya ke arah lensa kamera.

Narendra mendengus pelan. Ia menarik pinggang Alika lebih rapat hingga tubuh mereka bersentuhan erat. "Selesaikan sesi foto ini. Malam ini, aku sendiri yang akan memeriksa apa kau menyembunyikan sesuatu di balik gaunmu itu."

Di bawah kilatan lampu kamera (blitz) yang menyilaukan mata, Alika tersenyum lebar. Sangkar itu mungkin semakin ketat dan mencekik, namun untuk pertama kalinya sejak penyakit mematikan ini menyerangnya, Alika merasa ia punya harapan nyata. Darahnya kini ada di tangan yang tepat. Sandiwara ini akan segera mencapai batas akhirnya.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!