NovelToon NovelToon
Villain & Villainess

Villain & Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.

Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.

Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.

Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03: Breakfast

Langit masih diselimuti kabut tipis berwarna kebiruan ketika Amorette sudah terjaga sepenuhnya. Aroma wangi melati dan mawar yang meruap dari air rendaman bunga masih melekat lembut di kulitnya, memberikan rasa segar dan ketenangan yang jarang ia rasakan di dunia ini. Dengan gerakan perlahan namun penuh kendali, ia merapikan penampilannya. Rambut pirang terangnya yang berkilau di bawah cahaya pagi diikat sederhana ke belakang, disatukan oleh selembar pita hijau zamrud yang serasi dengan selingan warna pada pakaiannya. Ia mengenakan gaun santai berwarna putih bersih, hanya diberi sedikit hiasan tali dan pita hijau di bagian pinggang dan lengan—sangat sederhana, jauh dari kemewahan mencolok yang biasa dipakai Amorette terdahulu, namun justru membuatnya tampak bersinar dengan caranya sendiri.

Kakinya melangkah tenang menuju sayap utara istana, tempat perpustakaan besar kerajaan berada. Ruangan itu luas, beraroma kertas tua dan kayu jati, dan hampir tidak pernah ada orang yang mendatangi kecuali para pelayan yang bertugas membersihkan. Di sini, di antara deretan rak buku yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit, Amorette menemukan ketenangan yang sejati. Bagi Autumn Isabella yang dulu, buku adalah jembatan menuju ilmu pengetahuan; dan bagi Amorette yang sekarang, buku adalah kunci untuk bertahan hidup.

Selama dua jam penuh, ia tenggelam dalam lembaran-lembaran Sejarah dan Asal-Usul Kerajaan Elowen. Ia mencatat detail kecil yang penting: persekutuan dengan kerajaan tetangga, kekuatan militer, struktur kekuasaan, hingga kebiasaan-kebiasaan lama bangsawan yang bisa menjadi celah atau senjata baginya di masa depan. Setelah sejarah selesai, tangannya beralih ke rak yang lebih tersembunyi, mengambil sebuah buku tebal bersampul kulit berwarna hijau tua berjudul Tumbuh-Tumbuhan Ajaib dan Khasiat Penyembuhannya.

Sebagai ahli botani dan dokter hewan di masa lalu, topik ini adalah keahliannya sendiri. Matanya berbinar penuh minat saat ia membaca tentang tanaman-tanaman yang tidak ada di dunianya dahulu, tanaman yang bisa menyembuhkan racun, menumbuhkan kembali jaringan yang rusak, hingga tanaman yang memiliki efek mematikan jika dosisnya tidak tepat. Ia mengamati setiap ilustrasi dan catatan dengan teliti, menyusun pengetahuan baru ke dalam ingatannya seolah sedang menyusun teka-teki.

"Setelah membaca buku ini, aku akan membaca buku manual tentang cara menggunakan pedang," gumamnya pelan, hampir berbisik, saat ia menutup buku botani itu dan meletakkannya di meja.

Ia tidak sadar bahwa di balik deretan rak buku besar di sudut ruangan, sosok tinggi besar telah berdiri cukup lama mengamati gerak-geriknya.

Pangeran Cornelius Elowen bersandar dingin di tiang penyangga, lengannya terlipat di dada, alisnya berkerut tajam. Ia datang ke sini hanya untuk mengambil peta wilayah yang dibutuhkannya, namun terhenti karena melihat sosok adik perempuannya yang duduk diam di sana. Cornelius mengamati cara Amorette membaca—fokus, tenang, serius, dan tidak gelisah sedikit pun. Ia melihat rambut pirang itu berkilau lembut, ia melihat pakaian sederhana yang justru menonjolkan keanggunan alami gadis itu, dan ia merasa semakin bingung sekaligus kesal. Baginya, Amorette tidak mungkin berubah. Segala sesuatu yang dilakukan adiknya pasti ada maksud tersembunyi.

Langkah kakinya yang berat terdengar bergema saat ia melangkah mendekat, memecah keheningan perpustakaan.

"Kau pasti seperti ini karena sedang mencari perhatian, 'kan? Drama apa lagi yang kau mainkan?" tanya Cornelius dengan nada sinis dan penuh ejekan, matanya menatap tajam penuh curiga.

Amorette hanya melirik sekilas ke arah kakaknya itu, tatapannya datar, dingin, dan sama sekali tidak berminat. Ia kembali meraih buku berikutnya dari tumpukannya seolah sosok kakaknya tidak lebih dari sekadar tiang penyangga yang bergerak.

"Aku tidak berminat menjawabmu. Buatlah asumsi sebanyak mungkin, aku tidak peduli," jawabnya acuh tak acuh, suaranya tenang tanpa ada nada marah atau menangis seperti biasanya jika berhadapan dengan Cornelius.

Respon itu justru membuat Cornelius semakin geram. Ia terbiasa dengan Amorette yang akan berteriak membela diri, atau menangis, atau marah besar. Sikap dingin dan masa bodoh ini hal baru yang tidak ia mengerti.

"Aku yakin, setelah ini, kau pasti akan menyakiti Elarise lagi. Dan jika itu terjadi—" ancamnya, langkahnya mendekat dengan aura mengintimidasi.

Namun, kalimatnya terputus kasar saat Amorette menyahut cepat tanpa menoleh sedikit pun, nada suaranya terdengar sangat bosan.

"Ya, ya, ya. Aku akan mati. Dimengerti. Aku tidak akan ikut campur lagi, Kakakku tersayang. Lagi pula, kapan aku pernah benar?" jawabnya, lalu terkekeh pelan seolah menertawakan nasibnya sendiri. Kalimat itu bukan lagi kalimat penuh kepahitan seperti dulu, melainkan pernyataan fakta yang tidak lagi ia permasalahkan.

Cornelius tertegun sejenak. Ia menatap adiknya dengan pandangan bingung, merasa ada yang sangat janggal namun tidak bisa ia sebutkan apa. Ia mendengus kasar, memutar bola matanya jengah.

"Kau semakin aneh," gumamnya pelan, lalu berbalik badan dan segera pergi dari perpustakaan itu. Ia tidak mau berlama-lama di dekat Amorette yang rasanya telah berubah menjadi orang asing yang aneh baginya.

Setelah langkah kaki kakaknya menghilang sepenuhnya, Amorette baru mengembuskan napas panjang. Ia menatap pintu yang tertutup itu dengan senyum tipis. Biarkan saja mereka berpikir sesuka hati. Selama mereka tidak mengganggu ketenanganku, aku akan membiarkan mereka hidup dalam kebodohannya masing-masing.

Pukul delapan pagi tepat, sinar matahari sudah masuk lewat jendela-jendela tinggi istana, menerangi lantai marmer yang mengkilap. Amorette berjalan menuju ruang makan utama dengan langkah yang terasa malas dan berat. Baginya, berkumpul bersama keluarga ini sama menyenangkannya dengan berjalan di ladang berduri. Namun, ia harus hadir, ia harus terlihat, dan ia harus memainkan peran barunya dengan benar.

Saat ia masuk ke ruangan yang luas itu, ternyata belum ada siapa pun selain Elarise.

Gadis itu duduk dengan anggun di kursi utama sebelah kanan—kursi yang dulu, sepuluh tahun lalu, adalah kursi kebanggaan Amorette, tempat duduk putri kandung kesayangan Raja. Dulu, hal itu adalah luka besar bagi Amorette kecil. Dulu, ia akan merasa panas dingin, marah, dan iri hanya dengan melihat Elarise duduk di sana. Namun sekarang, Amorette hanya menatap sekilas dan mengangkat bahu dalam hati.

Kursi apa pun yang kau duduki tidak akan mengubah kenyataan siapa dirimu sebenarnya. Silakan saja kau nikmati semua benda dan kehormatan ini. Suatu hari nanti, aku akan pergi dari sini dan membangun kerajaanku sendiri yang jauh lebih indah dan murni dari tempat kotor ini.

Objektifnya sudah berubah total: membangun usaha sendiri, mengumpulkan kekayaan dan koneksi, lalu keluar dari keluarga kerajaan yang penuh kepalsuan dan drama ini selamanya.

Amorette duduk di kursinya yang berada sedikit jauh dari kepala meja, di posisi yang dianggap kurang istimewa. Di tangannya, ia masih membawa buku panduan dasar penggunaan senjata yang tadi ia ambil dari perpustakaan. Ia membukanya kembali, matanya bergerak menyusuri barisan tulisan, berniat menghabiskan waktu menunggu dengan ilmu.

Namun, kedamaian itu terusik. Suara lembut namun menusuk itu segera terdengar menyapa, seolah sengaja dibuat agar tidak ada yang bisa mengabaikannya.

"Kak, tumben sekali kau bangun sepagi ini? Biasanya, harus ada tiga pelayan yang mengetuk-ngetuk pintu kamarmu dengan tergesa-gesa sampai pintunya hampir copot baru kau mau bangun," ucap Elarise sambil menutup mulutnya tertawa kecil, senyum manisnya terlihat sangat bersalah namun nadanya penuh sindiran.

Amorette setengah menutup bukunya, jari telunjuknya menjadi penanda halaman, lalu ia menoleh perlahan menatap adik tirinya itu. Ia pun tersenyum, sebuah senyum yang sama manisnya namun matanya tetap dingin dan tajam.

"Ya, sepertinya aku akan memulai kebiasaan baru. Jadi, kau harus terbiasa, ya?" jawabnya santai, lalu ia tertawa pelan—sebuah tawa yang terdengar seperti sedang mengejek ketidaktahuan Elarise.

Di balik meja makan itu, tangan Elarise diam-diam meremas kain gaunnya hingga terlipat berantakan. Ia tidak suka respon itu. Ia berharap Amorette akan marah, membentaknya, atau setidaknya terlihat kesal. Namun gadis itu terlihat begitu tenang, begitu bebas, seolah kata-katanya tidak ada artinya sama sekali. Hal itu membuat rasa kesal perlahan menjalar di hati Elarise.

Tak lama berselang, suara langkah kaki dan percakapan terdengar mendekat. Raja Julius, Ratu Mirelle, dan Pangeran Cornelius masuk bersamaan. Aura kehangatan langsung tercipta saat mereka bertiga berjalan mendekati Elarise.

"Selamat pagi, Bunga Hatiku. Apakah kau tidur nyenyak?" tanya Raja Julius dengan nada lembut yang tidak pernah ia gunakan untuk putri kandungnya sendiri.

"Pagi, Sayangku. Gaun yang dikirimkan Pangeran Theodore kemarin sangat indah, kau pasti akan menjadi yang terindah besok," sambung Ratu Mirelle sambil mengusap puncak kepala Elarise dengan penuh kasih sayang.

Cornelius hanya tersenyum tipis sambil mengangguk ke arah Elarise, lalu matanya beralih ke Amorette sekilas dengan tatapan tidak suka, sebelum kembali memusatkan perhatian ke adik tirinya yang manis itu.

Saat ketiganya duduk, keberadaan Amorette seolah-olah dihapus begitu saja dari ruangan itu. Tidak ada sapaan, tidak ada pertanyaan, tidak ada pandangan sekilas pun ke arahnya. Bagi mereka, Amorette hanyalah bayangan tak berguna yang ada di sudut ruangan.

Namun, Amorette tersenyum dalam hati. Semakin mereka mengabaikanku, semakin aman aku. Semakin mereka memusatkan dunia mereka pada Elarise, semakin aku punya ruang untuk bergerak dan belajar.

Makanan pun disajikan. Amorette makan dengan tenang dan penuh selera. Ia sangat menikmati potongan daging panggang yang empuk dan beraroma rempah itu. Jujur saja, itu adalah daging terenak yang pernah ia rasakan, dan ia sama sekali tidak berniat merusak kenikmatan sarapannya hanya demi membalas perkataan orang-orang yang tidak penting baginya.

Suasana hening sesaat, hingga Ratu Mirelle kembali membuka percakapan, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar jelas hingga ke ujung meja tempat Amorette duduk.

"Elarise, kudengar Pangeran Theodore membelikanmu banyak gaun indah dan perhiasan berharga sebagai hadiah ulang tahun yang ke tujuh belas ini," ujar sang Ratu, matanya melirik tajam dan penuh kemenangan ke arah Amorette yang masih fokus mengunyah. Ia berharap akan melihat ekspresi cemburu atau marah di wajah putri sulungnya itu.

Elarise tersenyum malu-malu, pipinya merona cantik. "Iya, Ibunda. Pangeran Theodore begitu baik padaku. Aku tidak sabar menunggu mengenai acara besok. Kak Cornelius, Kak Amorette..." Ia menoleh ke kiri dan kanan, lalu menatap Amorette tepat di mata dengan senyum yang dibuat-buat tulus. "...aku harap kalian dapat ikut merayakan ulang tahunku besok. Aku sangat menginginkan kehadiran seluruh keluargaku."

Amorette menelan makanannya dengan gerakan yang anggun dan terukur, lalu menyeka sudut bibirnya dengan serbet sebelum menjawab. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah Elarise dengan sorot mata yang tajam namun dingin.

"Tentu saja aku akan datang besok," jawabnya pelan namun tegas, bibirnya melengkung membentuk senyum penuh makna yang sulit diartikan.

Senyum itu membuat Elarise merasa tertantang dan sedikit gelisah. Ada sesuatu di balik senyum itu yang tidak ia pahami.

"Kakak pasti akan datang untuk mengacaukannya, bukan? Seperti biasanya?" Elarise mencoba untuk memancing, suaranya terdengar sedih dan takut, seolah-olah Amorette adalah monster yang akan menghancurkan kebahagiaannya.

Namun, Amorette hanya mengangkat bahu dengan santai, kembali menyuap makanan ke mulutnya. "Terserah kau saja menilainya apa. Yang jelas, aku akan hadir dengan penampilan terbaikku. Bukankah itu yang diharapkan seorang tuan rumah dari tamunya?"

"Kau tidak benci melihatku bahagia, Kak?" tanya Elarise lagi, mendesak. Di sudut mata gadis itu, air mata buatan sudah mulai berkumpul, siap tumpah kapan saja. Raja Julius dan Ratu Mirelle sudah mulai menatap tajam ke arah Amorette, bersiap memarahi jika gadis itu menjawab kasar.

Amorette menghela napas pelan, menatap Elarise seolah sedang menatap anak kecil yang rewel. "Benci? Untuk apa aku menghabiskan waktuku membenci seseorang? Itu melelahkan, Elarise. Kau bahagia? Baguslah. Nikmati saja kebahagiaanmu itu selagi ada. Aku punya hal jauh lebih penting untuk dipikirkan."

Jawaban itu bukan saja tidak emosional, tapi juga terdengar sangat meremehkan keberadaan Elarise. Bagi Elarise, tidak ada hal yang lebih menyakitkan bagi egonya selain diabaikan begitu saja. Ia berharap dimusuhi, dibenci, atau ditentang—setidaknya itu berarti ia dianggap ada. Namun, di mata Amorette sekarang, ia seolah-olah tidak lebih penting dari debu yang lewat.

Percakapan itu berlanjut cukup lama. Elarise terus berusaha mencari celah, melontarkan kata-kata yang menyindir, memancing kemarahan, atau bahkan berlagak seolah-olah ia yang paling tersakiti. Ia menceritakan kembali kejadian masa lalu, mengungkit insiden-insiden kecil, berharap Amorette akan terpancing emosinya dan berteriak atau mengamuk seperti dulu.

Namun, semua itu sia-sia belaka.

Amorette menjawab sesuka hatinya, kadang dengan kalimat pendek, kadang dengan senyum yang membingungkan, kadang hanya dengan anggukan atau gelengan kepala acuh tak acuh. Ia tidak membela diri, tidak marah, dan tidak tersinggung. Ia seolah memiliki tembok tebal yang memisahkan dirinya dari racun kata-kata Elarise.

Akhirnya, ketika hidangan penutup selesai disajikan dan waktu sarapan usai, Amorette menutup bukunya rapat. Ia berdiri dari kursinya dengan gerakan elegan, menundukkan kepalanya sedikit kepada Raja dan Ratu—bukan sebagai tanda hormat, melainkan sekadar formalitas. Tatapannya datar, dingin, dan sama sekali tidak memiliki harapan atau permintaan apa pun.

"Aku permisi dulu. Masih ada hal yang harus kulakukan," ucapnya singkat, tanpa menunggu izin atau jawaban dari siapa pun. Ia berbalik dan berjalan pergi dengan punggung tegap, meninggalkan ruang makan yang hening karena kebingungan.

Raja Julius mengerutkan keningnya dalam-dalam, menatap punggung putrinya yang menjauh dengan rasa janggal yang luar biasa. Cornelius yang duduk di seberang hanya diam, wajahnya penuh kebingungan yang sama.

"Kau melihat itu juga, kan, Ayah?" gumam Cornelius pelan. "Dia... dia tidak mencari perhatian sama sekali. Dia bahkan tidak memandang Ayah. Seolah-olah kita semua tidak berarti apa-apa baginya."

Raja Julius tidak menjawab, namun hatinya merasa aneh dan sedikit kosong. Selama bertahun-tahun, Amorette selalu ada di sana, berteriak, menangis, atau marah demi mendapatkan sedikit pandangan darinya. Dan sekarang, saat gadis itu berhenti melakukan itu, rasanya ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang membuat mereka merasa cemas, bertanya-tanya: Apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh gadis itu?

Di lorong istana yang sepi, Amorette berjalan santai sambil mengusap sampul buku di tangannya. Senyum tipis kembali terbit di bibirnya.

Nikmati saja kemenangan kecilmu hari ini, Elarise. Nikmati saja pujian mereka. Karena besok, di pesta ulang tahunmu... aku akan menunjukkan padamu, pada mereka semua, apa arti sebenarnya dari kehadiran seorang Putri Amorette Ysandre Elowen.

1
Agus Hidayat
rambutnya Amorette sebenarnya warna pirang apa hitam kok selalu berubah?
cynth: Kayaknya lupa kuubah deh. Seharusnya itu pirang (walau rencana awalnya hitam biar senada sama warna matanya). Terima kasih ralatnya ya, Kak (^-^)/
total 1 replies
kitty ❤
seru thor, lanjutkan 😍🔥
cynth: Thank you Kak (*^^*)
total 1 replies
MayAyunda
keren👍👍
cynth: Terima kasih udah mampir <3!
total 1 replies
cila_aa
baguss banget kak next nunggu chapter selanjutnyaa
cynth: Makasih udah mampir, Kak <3
total 1 replies
Sahabat Oleng
Keren 👍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
lidiaaa
semangat Kaa, ceritanya seru
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
Davina Aurora
menarik ceritanya😍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
4revenge
hanssssss
4revenge
ini ni 😍
4revenge
seru padahal baru baca awal awal.
NonaMudaDesi
Kayaknya bagus nih cerita, konspenya kuereennn, tetep semangat kakk, aku mau nabung episode duku
cynth: Hai! Makasih banyak udah mampir <3
total 1 replies
Cattygril
semangat thor
Cattygril: sama-sama👌☺
total 2 replies
T28J
anggur sianida
T28J
kutu kupret juga si hans nih /Angry/
T28J
main catur saja biar akur kak 😂
MayAyunda
keren 👍👍
cynth: Terima kasih <3
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!