Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Pelarian
Sore itu Irwan tidak langsung pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia duduk cukup lama di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan. Mesin kendaraan sudah dimatikan, tetapi pikirannya terus berputar tanpa henti. Pertengkaran demi pertengkaran dengan Sulis, keadaan usaha yang semakin tidak menentu, anak-anak yang kini tinggal di kampung, dan rumah yang tak lagi memberinya ketenangan bercampur menjadi satu. Semua itu membuat dadanya terasa sesak.
Ponselnya bergetar. Nama Lastri muncul di layar. Seolah tahu saat Irwan sedang tidak baik-baik saja.
"Mas, sudah makan?"
Pesan sederhana itu membuat Irwan mengembuskan napas panjang. Beberapa menit kemudian mereka saling menelepon. Irwan menceritakan hari yang buruk, suasana rumah yang semakin dingin, dan perasaannya yang semakin kacau. Lastri mendengarkan seperti biasa. Tanpa menyela. Tanpa menghakimi. Setidaknya begitulah yang dirasakan Irwan.
"Mungkin Mas butuh istirahat," ujar Lastri
lembut dari seberang telepon.
"Aku capek," jawab Irwan pelan.
"Ya sudah, jangan pikirkan apa-apa dulu."
Irwan terdiam beberapa saat sebelum berkata, "Aku pengen pergi sebentar."
Lastri langsung memahami maksud kalimat itu. Tak lama kemudian mereka sepakat untuk bertemu.
Malam mulai turun ketika mobil Irwan meninggalkan kota. Lampu-lampu jalan perlahan berkurang, berganti dengan jalanan yang lebih sepi. Mereka menuju sebuah villa sederhana di kawasan perbukitan. Tempat yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Tempat yang menurut Irwan bisa memberinya kesempatan untuk melupakan semua masalahnya, meski hanya untuk sementara waktu.
Sesampainya di sana, suasana terasa tenang. Udara dingin menyambut mereka. Dari teras villa terlihat hamparan pepohonan yang gelap diterpa malam. Sesekali terdengar suara serangga dari kejauhan. Lastri membuatkan teh hangat, sementara Irwan duduk memandangi pemandangan di luar.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, pikirannya terasa sedikit lebih ringan.
"Aku nggak tahu harus cerita ke siapa lagi," ujar Irwan memecah keheningan.
Lastri menoleh dan tersenyum kecil. "Mas masih punya aku."
Kalimat itu membuat Irwan tersenyum tipis. Belakangan ini ia semakin sering menggantungkan perasaannya kepada Lastri. Setiap kali marah, kecewa, atau merasa gagal, Lastri selalu menjadi orang pertama yang ia cari. Bukan Sulis. Bukan keluarganya. Melainkan perempuan itu.
Malam semakin larut. Percakapan mereka terus mengalir, membahas masa lalu, mimpi-mimpi yang belum tercapai, dan kehidupan yang terasa semakin rumit. Sesekali Lastri menyentuh lengan Irwan untuk menenangkan. Memberikan perhatian yang selama ini begitu dicari oleh pria itu.
Perlahan, Irwan semakin yakin bahwa Lastri adalah satu-satunya orang yang benar-benar memahami dirinya.
Padahal kenyataannya jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Lastri memang mendengarkan keluh kesahnya, tetapi Irwan juga hanya memperlihatkan sisi tertentu dari hidupnya kepada perempuan itu. Ia lebih sering menceritakan luka dan masalah yang ia alami, tanpa benar-benar menghadapi kenyataan tentang luka yang dialami Sulis, ketakutan anak-anaknya, dan berbagai akibat dari keputusan-keputusan yang pernah ia ambil sendiri.
Menjelang tengah malam mereka masih duduk di teras villa. Kabut mulai turun perlahan dan udara semakin dingin. Lastri menyandarkan kepalanya di bahu Irwan, sementara pria itu memandang jauh ke depan, menikmati ketenangan yang ia rasakan malam itu.
Namun ketenangan itu sebenarnya hanyalah pelarian sementara.
Karena masalah yang ia tinggalkan di rumah tidak ikut menghilang.
Mereka hanya tertunda.
Menunggu waktunya untuk kembali muncul.
...****************...
Sementara itu, jauh di rumah mereka, Sulis baru saja tiba setelah dari rumah sakit. Tangannya masih dibalut perban. Rumah terasa kosong, sunyi, dan dingin. Ia melirik jam dinding yang terus bergerak, tetapi Irwan tidak kunjung pulang. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan.
Sulis hanya mengembuskan napas panjang sebelum masuk ke kamar seorang diri.
Ia tidak mengetahui bahwa suaminya sedang menghabiskan malam di tempat lain.
Tidak mengetahui bahwa jarak di antara mereka semakin hari semakin melebar.
Dan tidak mengetahui bahwa setiap keputusan yang diambil Irwan malam itu perlahan membawa rumah tangga mereka menuju kehancuran yang semakin sulit dihentikan.
Hujan tipis mulai turun di luar villa. Suaranya yang lembut memecah kesunyian malam. Irwan dan Lastri masih duduk di teras sambil menikmati udara dingin pegunungan. Untuk sesaat, Irwan merasa semua masalahnya tertinggal jauh di belakang. Tidak ada tagihan yang menumpuk. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada tekanan dari rumah.
Yang ada hanya ketenangan yang selama ini ia cari.
Atau setidaknya, itulah yang ia yakini.
Lastri memperhatikan wajah Irwan yang terlihat lelah. Ia menyadari bahwa pria itu semakin sering datang kepadanya ketika sedang menghadapi masalah. Dan Lastri tahu pengaruhnya dalam hidup Irwan semakin besar.
Karena itulah malam itu ia mulai lebih berani menyampaikan apa yang selama ini tersimpan di dalam pikirannya.
Namun tidak secara langsung.
Tidak dengan memaksa.
Melainkan perlahan.
"Mas."
"Iya?"
Lastri memainkan ujung cangkir tehnya.
"Mas pernah nggak mikir sampai kapan hidup seperti ini?"
Irwan menoleh. "Maksudnya?"
"Kita terus sembunyi-sembunyi."
Irwan langsung terdiam. Pembicaraan seperti ini sebenarnya sudah beberapa kali muncul. Namun selalu berakhir tanpa jawaban yang jelas.
"Aku nggak minta apa-apa," kata Lastri pelan. "Tapi kadang aku capek."
Irwan menghela napas panjang. "Aku tahu."
"Aku juga manusia, Mas."
Lastri menundukkan kepala.
"Kadang aku pengen hidup tenang."
Kalimat itu membuat Irwan merasa bersalah. Selama ini ia selalu meminta Lastri memahami keadaannya, tetapi jarang memikirkan bagaimana posisi perempuan itu.
"Aku nggak bisa ninggalin anak-anak," ucap Irwan akhirnya.
Lastri mengangguk pelan.
"Aku ngerti."
"Aku serius."
"Aku tahu."
Jawaban Lastri terdengar lembut. Tidak membantah dan tidak memaksa. Namun justru karena itulah kata-katanya terasa semakin kuat.
Beberapa menit mereka terdiam. Hanya suara hujan yang terdengar.
Lalu Lastri kembali berbicara.
"Aku nggak pernah minta Mas milih sekarang."
Irwan menatapnya.
"Tapi Mas juga harus mikirin diri sendiri."
"Maksud kamu?"
Lastri tersenyum tipis.
"Mas kelihatan nggak bahagia."
Kalimat itu membuat Irwan kembali terdiam. Karena jauh di dalam hatinya, ia memang sering merasakan hal yang sama.
"Setiap kali Mas cerita tentang rumah, yang aku dengar cuma pertengkaran."
Lastri berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Setiap kali Mas cerita tentang Sulis, yang aku dengar cuma masalah."
Irwan tidak membantah. Karena memang itulah yang selama ini sering ia ceritakan. Tanpa sadar, ia hanya membawa sisi buruk rumah tangganya ke hadapan Lastri.
"Kadang aku mikir," ujar Lastri pelan, "mungkin ada orang yang bertahan terlalu lama dalam hubungan yang udah nggak bikin bahagia."
Irwan memandang hujan di luar. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai pertanyaan yang selama ini berusaha ia hindari.
"Aku nggak bilang Mas harus cerai," lanjut Lastri. "Tapi Mas juga berhak hidup tenang."
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun perlahan masuk ke dalam benak Irwan, seperti banyak kalimat lain yang pernah diucapkan Lastri sebelumnya.
Malam semakin larut. Pembicaraan mereka akhirnya beralih ke hal-hal lain. Namun ucapan Lastri tetap tertinggal di dalam pikiran Irwan.
Sementara itu, di rumah yang kini terasa semakin asing baginya, Sulis tertidur sendirian dengan tangan yang masih dibalut perban. Ia tidak mengetahui percakapan yang sedang berlangsung di tempat lain.
Tidak mengetahui bahwa perempuan yang selama ini hadir di antara rumah tangganya perlahan kembali menanamkan pengaruhnya.
Sedikit demi sedikit.
Hingga membuat Irwan semakin bimbang antara tanggung jawab yang dimilikinya dan pelarian yang selama ini ia anggap sebagai ketenangan.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .