Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?
Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.
Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.
Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....
Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?
Saksikan eklusif disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12 :
Kurang dari setengah jam aparat kepolisian tiba di tempat kejadian perkara beserta alat tempur mereka. Memasang garis polisi segera agar tidak ada orang yang mendekat ke lokasi tempat kejadian perkara.
Anehnya, saat polisi tiba di sana, tidak satu orang pun yang mengerumuni lokasi tersebut. Hanya ada beberapa petugas keamanan yang menjaga lokasi, baik di depan Menara Kusuma maupun di lantai 85. Ini semua terjadi karena Jimmy melarang tegas para staf untuk tidak mendekat saat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Mereka semua diperintahkan untuk tetap berada di tempat masing-masing mengerjakan pekerjaan mereka sendiri.
Bahkan saat salah satu rekan mereka terjebak di dalam lift pun, mereka dilarang memberikan segelas air pun; semuanya akan dilakukan oleh staf keamanan. Hingga peraturan tersebut menjadi kebiasaan. Walau tragedi besar terjadi saat jam pulang, tidak ada seorang pun yang akan tertarik. Mereka memilih untuk segera pulang ke tempat tinggal masing-masing. Coba saja tragedi berdarah seperti itu terjadi di gedung lain, kerumunan pasti ada di mana-mana.
"Apa yang terjadi?" Tanya Jimmy menghampiri Crystal, Helena, dan Angel yang sedang menangis ketakutan.
"Angel melihat ke luar menara tadi," jawab Helena ragu-ragu. Takut kena semprot.
"Astaga dasar gadis bodoh! Bukankah aku sudah bilang pada kalian semua agar tidak kepo saat terjadi sesuatu," omel Jimmy dingin pada keduanya.
"Daddyyy......" panggil Crystal sesenggukan. Jimmy meraih putrinya dari gendongan sekretarisnya, menyimpan gadis kecilnya di dalam pelukannya.
"Sudahlah, antar dia ke psikiater!" menghela nafasnya panjang. Lalu meninggalkan kedua pegawainya, membawa putri kecilnya ke dalam ruangannya untuk ditenangkan.
"Baik Tuan," Helena menganggukkan kepalanya. Memapah Angel pelan, membawanya menuju rumah sakit terdekat.
"Daddyy.... takuttt....." Crystal menempelkan kepalanya pada dada bidang Jimmy. Matanya sembab, hidungnya merah, dan pipinya banjir air mata.
"Tenang okay. Tidak apa-apa semuanya akan baik-baik saja. Uncle Clyde akan mengurusnya," mengusap-ngusap pelan punggung putri kecilnya.
"Hiksss...." menyembunyikan wajahnya di dada Jimmy.
"Cupp.... cupp.... tidak apa-apa," Jimmy menepuk pelan pantat kecil putrinya. Berpikir Crystal benar-benar ketakutan, padahal gadis kecilnya itu tengah tertawa puas di dalam hatinya.
"Ha... ha.... ha.... haaa..... akhirnya daddy jadi milikku lagi. Tidak ada yang boleh mengambil daddy dariku. Jika ada yang berani mencoba merenggut daddy dariku lagi, aku akan mengirimnya ke alam bawah juga," batin Crystal penuh kecemburuan. Bagi Crystal, tidak ada seorang pun wanita di dunia ini yang boleh berdekatan dengan Jimmy, termasuk juga Alice Kusuma mommynya sendiri. Jimmy hanya boleh menjadi miliknya seorang diri.
"Laparr....." keluhnya pelan memegangi perut kecilnya yang telah menelan banyak. Jimmy menyentuh pelan hidung putrinya, tersenyum tipis memandangi wajah Crystal yang lembut.
"Lapar mulu.... minum susu saja, ok. Hari ini kamu sudah makan terlalu banyak," membelai lembut surai rambut putrinya.
"Heummm...." mengangguk pelan, kembali merebahkan kepalanya di dada bidang milik sang daddy. Walau jujur perutnya terasa menyayat, entah mengapa setiap kali ia cemburu buta pada daddynya, perutnya lebih cepat lapar dari biasanya. Tapi ia tak bisa berkutik jika Jimmy sudah bilang tidak.
Tak lama kemudian, Clyde masuk menyampaikan pesan dari inspektur kepolisian. Jimmy meletakkan Crystal di sofa dan memberikan sebotol susu, lalu keluar menemui inspektur.
"Tuan Jimmy Kusuma?" sapa Inspektur saat Jimmy tiba dengan aura kelam.
"Bagaimana hasil penyelidikannya?" tanya Jimmy dingin.
"Berdasarkan hasil rekaman CCTV, Nona Stella dinyatakan meninggal karena bunuh diri," jelas inspektur singkat. Jimmy langsung memerintahkan Clyde menghubungi Clyda untuk mengajukan gugatan terhadap keluarga Stella karena telah "mengganggu" mental putrinya.
Di sisi lain, Clyda—adik kembar Clyde yang berprofesi sebagai pengacara—sedang asyik tidur di hari liburnya. Setelah "drama" telepon antara si rajin Clyde dan si malas Clyda, akhirnya pengacara nyentrik itu bersedia datang ke kantor.
Tak butuh waktu lama, Clyda tiba di Menara Kusuma. Ia memarkirkan mobilnya sembarangan di depan lobby dan masuk ke ruangan Jimmy tanpa permisi.
"Aku datang," ujar Clyda santai.
"Dasar bajingan," cibir Clyde yang duduk di sofa, menatap sinis adiknya yang baru tiba.
Clyda dengan santainya duduk di sebelah kakaknya. Tiba-tiba Clyde berteriak frustasi sambil memeras wajahnya sendiri. "Oh My God, Clyda!"
Bisa-bisanya adiknya itu keluar rumah hanya menggunakan boxer dan kaos oblong saja. Padahal dia adalah seorang pengacara!
"Why?" tanya Clyda tanpa dosa. Clyde pun menjitak kening adiknya dengan kuat.
"Ada apa Clyde?" tanya Jimmy yang baru keluar dari kamar setelah memandikan Crystal. Ia bermaksud memakaikan baju putrinya di ruang kerja saja. Namun, Jimmy langsung terbelalak melihat penampilan Clyda.
"Clyda, pakai celanamu!" tunjuk Jimmy ke arah kaki Clyda.
"Emangnya kenapa?" ucapnya santai.
"Heyy.... kau merusak mata putriku, Clyda!" bentak Jimmy kesal sambil menutupi mata Crystal dengan telapak tangannya.
"Rusak gimana? Emangnya kakiku mengeluarkan radiasi?" tanya Clyda santai, membuat Jimmy dan Clyde semakin naik darah menghadapinya.
"Daddy, paman Clyda ada dua," tutur Crystal lembut mendesalkan wajahnya di ceruk leher sang daddy, karena malu Clyda menatapnya.
"Dia Clyda! Bukan Clyde!" sungut Clyde tak terima disamakan oleh adiknya.