Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. Memori Berdarah
Udara di dalam aula latihan pedang sayap timur The Velvet Manor terasa statis, seolah waktu telah membeku di antara dinding-dinding batu granit yang lembap.
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela-jendela tinggi yang sempit, menciptakan garis-garis cahaya keperakan yang menyoroti debu yang menari di udara.
Aroma besi yang dingin, minyak senjata, dan sisa keringat dari latihan bertahun-tahun menggantung pekat, mencekik indra penciuman siapa pun yang masuk ke sana.
Aira berdiri di tengah aula, tepat di atas lingkaran kayu ek yang sudah tergores oleh ribuan jejak pertarungan masa lalu.
Ia mengenakan setelan latihan dari kulit hitam yang membalut tubuhnya dengan sangat ketat, seolah menjadi kulit kedua yang melindungi sekaligus menonjolkan setiap lekuk tubuhnya yang berbahaya.
Rambut hitam panjangnya diikat tinggi ke atas, memperlihatkan leher porselennya yang masih dihiasi tanda kemerahan—jejak kepemilikan Dante yang seolah menjadi bahan bakar kemarahan bagi pria di hadapannya.
Jantung Aira berdegup kencang hingga ia bisa merasakannya di pangkal tenggorokannya. Tangannya yang memegang rapier perak terasa dingin dan sedikit gemetar.
Ia hanyalah Aira, seorang gadis dari dunia modern yang bahkan tidak pernah menyentuh pisau dapur dengan benar. Namun, saat jemarinya melingkar di gagang pedang yang berat itu, sesuatu yang aneh terjadi.
Gagang pedang itu terasa... pas. Seolah-olah tangan ini memang diciptakan untuk menggenggam senjata.
Kael berdiri lima langkah di depan Aira. Ia telah menanggalkan kemejanya, membiarkan dada bidangnya yang penuh dengan otot-otot keras dan bekas luka lama terekspos sepenuhnya di bawah cahaya pagi.
Keringat mulai mengucur di pelipisnya, bukan karena kelelahan, melainkan karena gejolak emosi yang membakar dadanya. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah pedang latihan dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Anda yang memintanya, Nyonya," geram Kael, suaranya rendah seperti geraman serigala yang siap menerkam.
"Jangan salahkan saya jika pedang ini merobek sedikit dari kesombongan baru Anda."
Kael meledak.
Dengan raungan liar, ia menerjang maju. Langkahnya begitu cepat hingga ia tampak seperti bayangan hitam yang melesat. Ia mengayunkan pedangnya dari atas, sebuah serangan vertikal yang sanggup membelah bahu manusia biasa.
Aira memejamkan mata karena ngeri, insting pelariannya berteriak untuk menghindar, untuk bersembunyi. Namun, tubuhnya melakukan hal yang sebaliknya.
TRANG!
Suara benturan besi yang memekakkan telinga menggelegar di aula yang sunyi. Tanpa perintah dari otak Aira, tangan kanannya terangkat dengan presisi yang mengerikan.
Bilah pedangnya menangkis serangan berat Kael tepat di titik tumpu yang paling lemah, membelokkan tenaga besar itu hanya dengan satu putaran pergelangan tangan yang halus.
Aira terkesiap, matanya membelalak. Ia merasa seolah-olah ia hanyalah penumpang di dalam tubuhnya sendiri. Ia bisa merasakan otot-otot lengannya menegang dengan cara yang sangat spesifik, koordinasi mata dan tangannya menjadi sangat tajam di luar logikanya.
Tubuh Isabella von Raven telah bangun. Naluriah tubuh sang Nyonya Menor—memori otot dari bertahun-tahun latihan berdarah—mengambil alih kendali.
"Apa yang...?" gumam Kael, matanya menyipit penuh keterkejutan melihat tangkisan yang begitu sempurna dan elegan.
Kael menyerang lagi, kali ini lebih brutal dan tidak teratur. Ia mengayunkan pedangnya dari arah samping, mengincar pinggang Aira.
Sekali lagi, Aira merasa tubuhnya bergerak secara otomatis—sebuah gerakan menghindar yang sangat anggun namun mematikan.
Ia berputar di atas tumitnya, membuat gaun latihan kulitnya berderit halus. Di saat yang sama, ujung pedangnya menyambar lengan atas Kael, merobek kulitnya hingga darah segar menetes ke lantai kayu.
Aira merasakan sensasi aneh menjalar di sarafnya. Ada rasa haus yang mendidih, sebuah kepuasan gelap yang bukan miliknya.
Di dalam kepalanya, ia bisa mendengar tawa Isabella asli yang bergema, sangat dekat, seolah berbisik tepat di telinganya.
"Biarkan tubuh ini bekerja, Aira... biarkan aku menunjukkan padamu bagaimana cara menjinakkan serigala ini. Kau hanyalah tamu. Aku adalah senjatanya."
Aira membuka matanya, dan tatapannya telah berubah sepenuhnya. Rasa takut itu hilang, digantikan oleh kilatan hijau zamrud yang tajam dan dingin.
Ia memberikan smirk yang sangat tajam kepada Kael, sebuah senyuman yang meremehkan setiap inci maskulinitas pria itu.
Ia tidak lagi menghindar; ia menyerang.
Tubuh Aira bergerak seperti bayangan—cepat, tidak terduga, dan sangat kejam. Setiap tusukan pedangnya mengincar titik-titik vital, memaksa Kael mundur hingga terdesak ke pilar batu besar di sudut aula.
Denting besi beradu berulang kali, menciptakan simfoni kekerasan yang indah di tengah kesunyian Manor.
"Kau terlalu lambat, Kael," ujar Aira. Suaranya terdengar berbeda—lebih dalam, lebih berwibawa, dan sangat dingin, persis seperti suara Isabella dalam film.
"Apakah hutan telah membuat ototmu tumpul dan lamban? Atau kau sengaja membiarkan dirimu dikalahkan karena kau terlalu sibuk menatap leherku?"
Kael menggeram, napasnya memburu dengan hebat. Dada bidangnya naik turun dengan liar, berkilat karena keringat dan darah.
Perpaduan antara rasa sakit dari luka-lukanya dan hasrat yang tertahan melihat dominasi mutlak Aira membuatnya hampir kehilangan kewarasan.
Ia mencoba melakukan serangan terakhir yang membabi buta, sebuah tebasan horisontal yang penuh tenaga.
Namun, Aira dengan mudah merunduk, membiarkan pedang Kael menebas angin, lalu dengan gerakan cepat ia menghantamkan pangkal pedangnya ke ulu hati Kael.
DUG!
Kael tersedak, kehilangan keseimbangan. Dengan satu gerakan kaki yang licin, Aira menjatuhkan pedang Kael ke lantai kayu.
PRANG!
Bilah pedang perak Aira kini menempel di jakun Kael, sedikit menekannya hingga mengeluarkan setetes darah merah yang kontras di kulit leher pria itu.
Kael terengah-engah, matanya yang liar menatap Aira dengan campuran antara rasa takut, amarah, dan pemujaan yang ekstrem.
Di ambang pintu aula, dalam kegelapan bayangan, Dante, Julian, dan Zane menonton dalam keheningan yang mencekam. Mereka semua bisa merasakan atmosfer yang berubah; yang berdiri di depan mereka bukan lagi wanita rapuh yang ketakutan, melainkan raga Isabella dengan jiwa yang kini mulai
"menyatu" dengan kegelapan raga itu.
Aira menarik pedangnya perlahan, membiarkan ujungnya yang tajam menggores dada Kael yang bidang, menciptakan garis merah tipis dari leher hingga ke perut.
Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Kael, menghirup aroma maskulin yang bercampur dengan bau besi darah yang tajam.
"Berlutut," perintah Aira. Singkat, padat, dan tak terbantahkan.
Kael tidak punya pilihan. Harga dirinya hancur berkeping-keping di depan rekan-rekannya, namun gairahnya yang gelap mencapai puncaknya.
Ia perlahan turun ke lantai, berlutut di bawah kaki Aira. Aira meletakkan sepatu kulitnya di atas bahu Kael, menekan pria itu agar menunduk lebih dalam ke lantai kayu.
"Kau adalah pedangku, Kael. Dan pedang tidak boleh memiliki kehendak sendiri selain kehendak tuannya," bisik Aira sambil memberikan sentuhan lembut yang sangat kontras di rambut Kael, sementara matanya menatap Dante dan yang lainnya di ambang pintu dengan tatapan menantang.
"Jangan biarkan kegagalan memalukan ini terulang, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa menggenggam apa pun lagi seumur hidupmu."
Aira melepaskan kakinya dari bahu Kael dan melangkah pergi dengan keanggunan yang membekukan darah. Di dalam batinnya yang terdalam, Aira berbisik ngeri: "Isabella... kau benar-benar monster. Dan aku... kenapa aku mulai menyukai kekuatan yang merusak ini?"
Di pojok ruangan, di balik pilar yang gelap, Isabella asli hanya tersenyum puas. Penyatuan ini baru saja menjadi jauh lebih intim, lebih berdarah, dan lebih mematikan bagi siapa pun yang berani menghalangi jalan sang Nyonya Menor.
Lanjuutt