Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Baru Di Ibukota
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Cila keluar dari rumah. Ia mengenakan pakaian santai untuk bersepeda. Rambutnya diikat sederhana, tapi tetap terlihat rapi.
Entah kenapa, menurutku ia terlihat lebih cantik dan ceria daripada tadi.
Perasaan tadi nggak secantik ini deh, pikirku dalam hati. Sepertinya dia sempat sedikit berdandan.
Aku jadi berpikir lagi.
Jadi orang kaya gini ya… beda aktivitas, beda outfit.
Sedangkan aku? Mau ke mana saja biasanya pakai baju yang itu-itu saja. Kadang sehari sekali baru ganti. Biar nggak capek nyuci, begitu kata Oma dulu.
Tak lama kemudian kami keluar lewat pintu depan. Namun sebelum sempat pergi jauh, kami dihentikan oleh seseorang di halaman.
Ternyata Pak Bejo, tukang kebun di rumah Cila.
“Lho, mau ke mana, Non?” tanya Pak Bejo. Lalu ia menatap ke arahku. “Ini siapa?”
“Oh, ini Rendra, Pak. Anak tetangga yang baru pindah,” jawab Cila. “Kami cuma mau keliling komplek naik sepeda.”
“Oh begitu,” kata Pak Bejo sambil mengangguk.
Setelah itu kami pun berangkat.
Sepanjang jalan, Cila menunjukkan beberapa tempat di sekitar komplek.
“Itu taman komplek,” katanya sambil menunjuk ke arah lapangan hijau.
“Kalau yang itu lapangan basket. Biasanya sore banyak yang main di situ.”
Saat kami melewati lapangan basket, beberapa anak yang sedang duduk di pinggir lapangan menatap ke arahku dengan pandangan agak nyolot.
Mungkin karena aku anak baru.
Tapi aku pura-pura tidak peduli dan terus mengayuh sepeda.
Dalam hati aku membandingkan tempat ini dengan kampungku.
Di kampung, udara biasanya sejuk. Orang-orang sering saling menyapa. Di kejauhan terlihat pegunungan yang indah.
Sedangkan di sini terasa lebih panas. Rumah-rumahnya besar, tapi terlihat sepi. Sepertinya orang-orangnya sibuk dengan urusan masing-masing.
Tak lama kemudian kami berhenti di sebuah minimarket.
“Aku mau beli minum dulu,” kata Cila.
“Kebetulan aku juga mau ambil uang di ATM,” jawabku.
Aku membeli air putih, sedangkan Cila membeli minuman dan beberapa snack.
Saat sampai di kasir, aku langsung membayar semuanya.
“Eh, aku bayar sendiri aja,” kata Cila.
“Enggak usah,” jawabku. “Anggap aja tanda terima kasih karena kamu sudah nemenin aku keliling.”
“Serius?”
“Iya. Pokoknya hari ini kalau jajan, aku yang bayar.”
Cila hanya tersenyum kecil.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi sampai akhirnya berhenti di sebuah taman. Di sana ada pedagang kaki lima.
Aku membeli dua bungkus kecil makanan.
Kami duduk di bangku taman di bawah pohon yang cukup rindang.
Aku membuka bungkusnya lalu menawarkannya.
“Nih, mau nggak?”
Cila melihatnya sebentar.
“Apaan tuh?”
“Batagor.”
Cila langsung menggeleng.
“Nggak ah. Aku nggak boleh makan sembarangan. Mending ini aja,” katanya sambil menunjukkan snack dari minimarket.
Aku tertawa kecil.
“Lah, lebih sehat ini kali. Buatan tangan, tanpa pengawet.”
“Tapi kan takutnya nggak higienis,” jawabnya.
Aku mengangkat alis.
“Ya nggak semua pedagang kaki lima garuk pantat kali… jangan suudzon.”
Cila langsung berhenti minum.
“Apaan? Garuk pantat?”
Ia hampir tersedak minumannya sendiri sambil menahan tawa.
Aku ikut tertawa.
Beberapa detik kemudian, ia melihat lagi batagor di tanganku.
“Aku coba sedikit deh,” katanya akhirnya.
Aku menyerahkan satu tusuk padanya.
Cila menggigit pelan.
Lalu matanya sedikit membesar.
“Eh… enak juga ya,” katanya.
Aku tersenyum puas.
“Kan aku bilang.”
Ia mengambil satu lagi.
“Serius ini enak.”
Beberapa menit kemudian bungkus batagor itu habis.
“Kayaknya aku mau nambah deh,” kata Cila.
Aku menoleh ke arah tempat pedagang tadi.
Tapi ternyata si akang batagor sudah pergi.
“Yah… udah kabur,” kataku.
Cila tertawa kecil.
“Yaudah deh.”
Setelah itu kami duduk santai di bangku taman, ngobrol macam-macam.
“Ngomong-ngomong, kamu orang Sunda ya?” tanya Cila tiba-tiba.
Aku mengangguk.
“Kok tahu?”
“Kak Marissa pernah cerita sedikit,” jawabnya.
“Oh gitu.”
“Aku sebenarnya orang Jawa,” lanjutnya. “Aslinya dari daerah bagian timur Pulau Jawa.”
“Ooh,” kataku.
“Di kampung kamu gimana sih? Katanya rindang dan indah ya?” tanyanya penasaran.
Aku mengangguk pelan.
“Iya. Di sana banyak pohon. Udara juga sejuk. Kalau pagi sering kelihatan kabut di pegunungan.”
“Wah enak banget kayaknya,” kata Cila.
Kami lalu terus mengobrol.
Ia bertanya tentang kehidupanku di kampung, tentang Abah dan Oma, juga tentang sekolah lamaku.
Aku juga bertanya balik.
“Ngomong-ngomong, kamu nanti sekolah di mana?”
Cila menyebut nama sebuah SMA.
Aku langsung tertawa kecil.
“Lho… sama.”
“Serius?” katanya kaget.
“Iya. Aku juga daftar di situ.”
“Berarti nanti kita satu sekolah dong,” katanya sambil tersenyum.
Sejak saat itu obrolan kami makin panjang.
Dari hal serius sampai candaan kecil yang kadang tidak penting.
Tapi entah kenapa terasa menyenangkan.
Kami terus mengobrol cukup lama di bangku taman itu. Dari cerita tentang kampungku yang rindang dan sejuk, sampai cerita masa kecil Cila di kampung halamannya di Jawa Timur.
Sesekali kami tertawa karena candaan yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Angin taman berhembus pelan, membuat daun-daun di atas kami bergerak perlahan.
Aku bersandar sedikit di bangku sambil melihat ke sekitar taman.
Baru sehari aku berada di kota ini. Semuanya masih terasa asing.
Rumah besar, jalanan ramai, dan orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Tapi kali ini juga terasa sedikit berbeda.
Setidaknya sekarang aku sudah mengenal satu orang yang membuat kota ini tidak terasa terlalu sepi.
Aku menoleh ke arah Cila yang masih sibuk bercerita tentang sekolah dan teman-temannya.
Aku hanya tersenyum kecil.
Mungkin… hidup di kota ini tidak akan seburuk yang aku bayangkan.