seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 4
Pesta perlahan mereda, menyisakan kerabat dekat dan keheningan malam yang nyaman di paviliun belakang. Siska melepas sepatu hak tingginya, membiarkan kakinya menyentuh rumput yang masih sedikit basah oleh embun. Ia menatap cincin di jarinya, lalu menatap Andi yang sedang melonggarkan dasinya.
"Ingat saat kita duduk di bangku taman kampus dan kamu bilang ingin membangun gedung yang bisa bertahan seratus tahun?" tanya Siska memecah kesunyian.
Andi terkekeh, duduk di kursi rotan di sampingnya. "Ya. Tapi sekarang aku sadar, membangun gedung itu jauh lebih mudah daripada membangun kepercayaan di dalam keluarga besar yang penuh intrik. Gedung punya cetak biru yang pasti, tapi manusia? Kita harus menggambar ulangnya setiap hari."
Siska mengangguk setuju. Ia duduk di samping Andi, menyandarkan punggungnya yang lelah. "Ayah tadi membisikkan sesuatu sebelum dia pulang. Dia bilang, Paman Hardi sudah resmi mengundurkan diri dari semua posisi di anak perusahaan. Dia memilih pergi daripada menghadapi tuntutan hukum yang lebih berat."
"Itu keputusan terbaik untuk semua orang," sahut Andi tenang. "Perusahaan butuh awal yang bersih. Dan kamu, Siska, adalah awal yang bersih itu."
Siska menoleh, menatap wajah suaminya dengan lekat. "Kita, Andi. Bukan aku saja. Aku tidak akan bisa melewati rapat direksi besok pagi kalau aku tidak tahu bahwa saat aku pulang, ada kamu yang akan mengingatkanku bahwa aku bukan sekadar angka atau aset perusahaan."
Andi meraih tangan Siska, mencium punggung tangannya dengan lembut. "Besok akan menjadi hari pertama yang sangat sibuk. CEO baru, proyek baru, dan tantangan baru. Tapi malam ini, biarkan dunia luar menunggu."
Di kejauhan, lampu-lampu gedung Jakarta masih berkelap-kelip, simbol dari hiruk-pikuk dunia yang pernah hampir memisahkan mereka. Namun di taman itu, hanya ada dua orang sahabat lama yang kini terikat dalam janji yang lebih kuat dari sekadar kontrak bisnis. Mereka tahu, badai mungkin akan datang lagi di masa depan, tapi kali ini mereka memiliki fondasi yang tidak akan bisa diruntuhkan oleh siapa pun.
"Terima kasih sudah bertahan, Andi," bisik Siska pelan.
"Terima kasih sudah memilihku, Siska," balas Andi sebelum mereka berdua tenggelam dalam ketenangan malam yang sempurna.
Setahun kemudian, kantor pusat bukan lagi tempat yang mencekam bagi Siska. Pagi itu, ia melangkah masuk ke lobi utama dengan langkah yang jauh lebih ringan. Di dinding besar dekat resepsionis, kini terpampang maket proyek "Green-Bridge" Kalimantan yang telah selesai sepenuhnya—sebuah monumen kesuksesan yang bukan hanya menyelamatkan perusahaan, tapi juga menyatukan dua hati.
Di ruang kerjanya, Siska mendapati sebuah kotak kayu kecil di atas meja. Di dalamnya terdapat sebuah kompas tua dan secarik catatan dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali: "Agar kita tidak pernah lupa jalan pulang, sesibuk apa pun dunia korporat mengubah kita."
Andi muncul dari balik pintu penghubung, membawa dua cangkir kopi. Wajahnya tampak sedikit lebih matang, namun binar jenaka di matanya tetap sama.
"Kompas?" Siska mengangkat benda itu sambil tersenyum.
"Untuk CEO yang baru saja memenangkan penghargaan 'Inovasi Hijau' tahun ini," Andi meletakkan kopi itu di meja. "Aku tidak ingin kamu terlalu asyik melihat angka pertumbuhan saham sampai lupa arah ke taman belakang rumah tempat kita biasa minum teh."
Siska tertawa, menarik Andi untuk duduk di kursi di hadapannya. "Andi, perusahaan ini berkembang dua kali lipat sejak kita mengambil alih. Ayah bahkan mulai sering menelepon hanya untuk bertanya kapan kita punya waktu luang untuk makan malam keluarga—tanpa membahas bisnis sama sekali."
"Itu kemenangan terbesar kita, Sis," sahut Andi tulus. "Bukan profitnya, tapi kembalinya fungsi keluarga yang sebenarnya."
Andi kini memimpin departemen pengembangan berkelanjutan di perusahaan tersebut. Mereka tidak lagi bekerja dalam bayang-bayang ketakutan akan kehilangan warisan, melainkan dalam semangat untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Paman Hardi dan intrik masa lalu kini hanya menjadi bab gelap yang telah mereka tutup rapat.
"Nanti malam jangan lembur," Andi berdiri, mengusap bahu Siska lembut. "Aku sudah membuat reservasi di tempat yang tidak punya sinyal ponsel. Hanya ada kita, musik lama, dan tidak ada pembicaraan soal merger."
Siska mengangguk, menggenggam tangan suaminya. "Janji. Hanya kita."
Saat Andi keluar dari ruangan, Siska menatap ke luar jendela kaca besarnya. Jakarta masih sama padatnya, namun ia tahu bahwa di tengah rimba beton itu, ia telah membangun sebuah oase yang kokoh. Seorang muda-mudi yang memulai dari persahabatan, melewati badai tekanan keluarga, dan kini berdiri tegak sebagai nahkoda bagi masa depan mereka sendiri.
Pernikahan itu bukan akhir dari cerita mereka, melainkan fondasi abadi dari sebuah bangunan cinta yang mereka gambar bersama—garis demi garis, rintangan demi rintangan, hingga menjadi nyata.
Siska menyesap kopinya perlahan, matanya terpaku pada kompas tua di atas meja. "Kadang aku masih merasa ini semua seperti mimpi, Ndi. Tahun lalu kita masih terjebak di antara tumpukan dokumen audit dan ancaman Paman Hardi. Sekarang, kita bicara soal masa depan yang kita tentukan sendiri."
Andi menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, melipat tangan di dada dengan senyum simpul. "Itu karena kita tidak hanya bertahan, Sis. Kita melawan. Banyak orang di posisi kita mungkin akan menyerah pada perjodohan itu dan menerima nasib, tapi kamu memilih untuk bertaruh pada seorang arsitek yang hanya punya modal nekat dan penggaris."
Siska meletakkan cangkirnya, lalu berdiri dan berjalan mendekati Andi. Ia merapikan kerah kemeja suaminya yang sedikit miring. "Modalmu lebih dari itu. Kamu punya integritas yang tidak bisa dibeli Ayah dengan saham mana pun. Itulah yang membuat mereka akhirnya diam."
"Ayahmu meneleponku tadi pagi," ujar Andi tiba-tiba, membuat gerakan tangan Siska terhenti.
"Oh ya? Apa katanya? Jangan bilang dia mau membahas ekspansi ke Sumatera?"
Andi tertawa kecil, menggelengkan kepala. "Bukan. Dia bertanya apakah aku punya waktu luang akhir pekan ini untuk mengajarinya memancing. Dia bilang, dia ingin belajar bagaimana caranya bersabar menunggu sesuatu, seperti cara aku menunggumu dan menunggu proyek Kalimantan itu membuahkan hasil."
Mata Siska berbinar. Itu adalah pengakuan paling tulus yang pernah keluar dari ayahnya, meski disampaikan dengan cara yang sangat maskulin dan tersirat. "Pancingan? Ayahku yang tidak bisa diam lebih dari lima menit itu mau memancing?"
"Dunia berubah, Siska. Dan terkadang, perubahan itu dimulai dari cara kita memandang orang-orang di sekitar kita," Andi menarik Siska ke dalam pelukan singkat yang hangat. "Dia sudah tenang sekarang. Dia tahu perusahaannya berada di tangan yang tepat, dan putrinya berada di hati yang tepat."
Siska menyandarkan kepalanya di dada Andi, mendengarkan detak jantung yang dulu pernah berpacu kencang karena ketakutan saat menghadapi dewan direksi. Kini, detak itu tenang dan stabil.
"Jadi, akhir pekan ini memancing?" tanya Siska sambil mendongak.
"Ya, memancing. Tapi setelah itu, kita tetap pada rencana kita. Tempat tanpa sinyal, hanya ada aku dan kamu."
Siska tersenyum lebar. "Sepakat. Biarkan perusahaan ini berjalan sendiri selama dua hari. Mereka punya CEO yang hebat, tapi CEO itu juga butuh waktu untuk menjadi sekadar Siska, sahabat Andi."
Di luar jendela, matahari Jakarta mulai terik, namun di dalam ruangan itu, segalanya terasa sejuk. Mereka telah berhasil mengubah beban warisan menjadi sebuah anugerah, dan mengubah ikatan persahabatan menjadi sebuah kemitraan hidup yang tak tergoyahkan.