Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan
Awan debu raksasa yang menyelimuti Lembah Angin Mati perlahan-lahan tersapu oleh pusaran angin gunung. Di tempat di mana portal perak Makam Pedang Awan Jatuh dulunya berdiri, kini hanya tersisa kawah hangus selebar ratusan tombak. Retakan ruang masih berkedip-kedip di udara, mengeluarkan suara gemeretak seperti pecahan kaca, sebelum akhirnya menutup dan menghilang sepenuhnya, memutus hubungan dimensi itu selamanya.
Di tepi kawah tersebut, keheningan yang mencekam menyelimuti para Tetua sekte luar. Wajah mereka sepucat kertas. Makam Pedang adalah urat nadi sumber daya sekte, tempat lahirnya senjata kuno dan obat spiritual. Kehilangannya setara dengan memotong salah satu lengan Sekte Pedang Awan Mengalir.
Tetua Lu, dengan mata memerah dan napas memburu, melangkah maju mendekati Su Yue yang sedang duduk berlutut di tanah. Gaun putih gadis itu compang-camping, dipenuhi noda darah, abu, dan debu. Di sampingnya, pelayan fana berbaju lusuh itu tergeletak tak sadarkan diri, napasnya tersengal-sengal lemah.
"Su Yue..." Suara Tetua Lu bergetar, perpaduan antara kelegaan karena melihat satu jenius selamat, dan amarah yang siap meledak. "Apa... apa yang terjadi di dalam sana?! Di mana Lei Luo?! Di mana Gu Feng?! Kenapa dimensi makam leluhur kita runtuh menjadi ketiadaan?!"
Su Yue tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan rambut panjangnya menutupi wajahnya, sementara bahunya bergetar seolah ia sedang menahan trauma yang sangat mengerikan. Di dalam hatinya, ia sedang memutar kembali rangkaian kebohongan yang telah ia susun dengan cermat sedetik sebelum melangkah keluar dari portal.
Perlahan, Su Yue mengangkat wajahnya. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kepanikan dan keputusasaan yang sangat meyakinkan.
"Tetua Lu... ini adalah bencana... sebuah malapetaka dari zaman kuno," ucap Su Yue dengan suara parau. Ia memuntahkan setetes darah dari sudut bibirnya—ia sengaja melukai sedikit meridiannya sendiri untuk memperkuat sandiwaranya. "Lei Luo... kesombongannya telah mengubur kita semua."
Mendengar nama murid peringkat pertama disebut, para Tetua lainnya langsung mendekat, menajamkan telinga mereka.
"Jelaskan secara perlahan, Su Yue. Sekte akan melindungimu," ujar seorang Tetua berjubah biru, mencoba menenangkan gadis itu.
Su Yue menarik napas panjang, merangkai epik kebohongannya. "Kami berhasil mencapai wilayah dalam makam dengan susah payah. Namun, di pusat makam, kami menemukan sebuah altar segi enam yang memenjarakan sebilah pedang iblis berwarna ungu. Pedang itu memancarkan hawa kematian yang luar biasa pekat."
"Lei Luo dan Gu Feng berselisih. Lei Luo mengklaim pedang itu adalah pusaka tertinggi makam dan berniat mencabutnya. Saya sudah memperingatkannya bahwa itu adalah sebuah segel, bukan pusaka. Tapi Kakak Senior Lei Luo menolak mendengarkan. Ia menyerang Gu Feng hingga pingsan, lalu menggunakan Qi Petirnya untuk menghancurkan altar pelindung pedang tersebut."
Wajah Tetua Lu menjadi sangat gelap. Ia bisa membayangkan arogansi Lei Luo yang memang selalu merasa dirinya di atas segala aturan.
"Lalu... saat altar itu hancur," lanjut Su Yue, matanya membelalak memperagakan kengerian, "Pedang itu hidup. Sebuah kehendak kuno yang menyebut dirinya Jenderal Bayangan Darah bangkit dari dalam pedang tersebut. Kekuatannya... berada di luar pemahaman kita. Setidaknya setara dengan Alam Inti Emas! Jenderal itu hanya melepaskan satu helaan Niat Pedang, dan tubuh Lei Luo langsung meledak menjadi kabut darah tanpa sempat berteriak."
"Alam Inti Emas?!" Beberapa Tetua sekte luar berseru ngeri, mundur selangkah tanpa sadar. Keberadaan eksistensi sekuat itu di makam tingkat rendah adalah sesuatu yang menentang surga. Pantas saja jimat nyawa puluhan murid hancur serentak!
"Lalu bagaimana kau bisa selamat?!" desak Tetua Lu, matanya menatap Su Yue dengan tatapan tajam yang menekan, mencari celah kebohongan.
Su Yue menatap lurus ke mata Tetua Lu tanpa keraguan sedikit pun. "Karena kehendak makam itu sendiri yang menyelamatkan saya. Ketika Jenderal Iblis itu mencoba menelan dimensi makam, sebuah cahaya keemasan bangkit dari langit. Sisa Kehendak Dewa Pedang leluhur kita terbangun untuk melawan iblis tersebut. Bentrokan dua eksistensi kuno itu menghancurkan hukum ruang dan waktu. Langit runtuh, dan daratan terbelah."
"Saya berada paling jauh dari pusat ledakan. Saya membakar esensi darah saya dan menggunakan Teknik Pelarian Teratai Es untuk melesat menuju portal yang sedang runtuh. Badai ruang menghancurkan seluruh hasil panen herbal dan Cincin Penyimpanan saya."
Su Yue lalu melirik dengan pandangan jijik namun pasrah ke arah pelayan yang pingsan di sampingnya. "Saat saya hampir tertelan oleh retakan dimensi di depan pintu portal, pelayan ini—yang sedari tadi meringkuk ketakutan di sudut pelataran gerbang—terlempar oleh gelombang kejut ke arah saya. Saya menggunakan tubuh fananya sebagai penahan beban untuk menstabilkan diri saya menembus pusaran ruang, sebelum akhirnya portal itu meledak di belakang kami."
Penjelasan itu sangat sempurna. Sangat masuk akal.
Keserakahan murid jenius yang memicu bencana kuno, pertarungan antara iblis dan kehendak leluhur yang meruntuhkan dimensi, dan alasan mengapa seorang pelayan fana bisa selamat sementara para jenius mati. Semuanya terjalin tanpa celah.
Lebih penting lagi, karena Makam Pedang itu sudah benar-benar musnah, tidak ada satu pun cara bagi sekte untuk memastikan kebenarannya. Kebohongan Su Yue kini telah menjadi sejarah mutlak.
Tetua Lu menghela napas panjang dan berat. Wajahnya tampak bertambah tua puluhan tahun hanya dalam beberapa menit. Alasan hancurnya jimat nyawa Lei Luo, Gu Feng, dan puluhan murid lainnya kini terjawab. Itu bukan salah formasi sekte, melainkan bencana dari dalam makam.
Tetua Lu melangkah mendekati Lin Ye yang terbaring. Ia menjulurkan jarinya dan menempelkannya ke urat nadi di leher Lin Ye.