"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 // MBKCM
Gemerlap lampu kristal gantung setinggi tiga meter menerangi aula utama hotel mewah tempat berlangsungnya pesta pertunangan Ardan Arkatama dan Dania Abraham. Ratusan tamu undangan dari kalangan pejabat, pengusaha papan atas, hingga selebritas ternama memenuhi ruangan yang didekorasi penuh dengan bunga tulip putih segar yang diimpor langsung dari Belanda. Musik klasik yang dimainkan oleh orkestra simfoni terkenal mengalun indah, menciptakan atmosfer yang luar biasa megah dan elegan.
Di atas panggung utama, Kakek Wirya Arkatama duduk di kursi VIP dengan senyum yang tidak pernah pudar dari wajah tuanya. Kesehatannya yang belakangan ini sering naik-turun, malam ini seolah pulih total karena rasa bahagia yang membuncah.
"Lihat cucuku, Wirawan," ujar Kakek Wirya kepada salah satu rekan bisnis lamanya yang berdiri di sampingnya."Ardan akhirnya menemukan wanita yang tepat. Keluarga Abraham adalah mitra yang sempurna untuk masa depan Arkatama Group. Aku sungguh senang sekali malam ini."
"Selamat, Wirya. Ardan memang pemuda yang hebat. Mereka berdua tampak sangat serasi," puji rekan bisnisnya itu ikut tersenyum.
Momen sakral yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pembawa acara meminta Ardan dan Dania untuk saling bertukar cincin di tengah panggung, di bawah sorotan lampu spotlight dan puluhan kamera awak media yang siap mengabadikan momen tersebut. Ardan yang mengenakan setelan tuksedo hitam pekat tampak gagah, meskipun ekspresi wajahnya sedingin es. Di hadapannya, Dania tersenyum sangat lebar dengan gaun bertabur payet berlian yang berkilauan.
Ardan perlahan mengambil cincin berlian turun-temurun milik almarhumah neneknya dari dalam kotak beludru merah. Dia meraih jemari tangan kiri Dania, lalu mencoba menyematkan cincin itu ke jari manis sang calon istri.
Srett..
Cincin itu tertahan di urat jari Dania. Ardan sedikit menekan cincin tersebut, namun tetap tidak bisa masuk.
"Eh? Kok tidak bisa masuk, Kak?" bisik Dania, matanya sedikit membelalak panik namun berusaha tetap menjaga senyumnya di depan kamera. "Coba dorong sedikit lagi."
Ardan mencobanya sekali lagi dengan lebih bertenaga, hingga kulit jari Dania memerah. "Tetap tidak muat, Dania. Ukurannya terlalu kecil."
"Ih, masa sih? Padahal jari manisku ini sudah sangat kecil, lho! Kemarin aku ukur nomor enam. Kenapa cincin ini tidak muat?" keluh Dania dengan suara berbisik yang mulai terdengar kesal dan panik. Bisik-bisik dari barisan tamu undangan di bagian depan mulai terdengar, menyadari ada kendala yang terjadi di atas panggung.
Kakek Wirya yang melihat kejadian itu langsung memberi kode keras kepada Bimo yang berdiri di sudut panggung. Bimo yang tanggap dengan situasi darurat itu segera berbalik dan berlari secepat kilat keluar dari aula menuju butik perhiasan mewah yang kebetulan berada di seberang hotel itu. Pembawa acara sedikit mengalihkan dengan menceritakan perjalanan kisah cinta Ardan dan Dania yang sebenarnya tidak ada kisah apapun karena mereka dijodohkan.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Bimo kembali dengan napas yang sedikit terengah-engah, membawa sebuah kotak cincin cadangan yang dibelinya secara dadakan dengan harga fantastis tanpa melihat label harga lagi. Dia menyerahkan kotak itu secara samar kepada Ardan dari balik tirai panggung.
"Ini cincin cadangannya, Pak. Ukurannya standar nomor tujuh, pasti muat," bisik Bimo cepat.
Ardan mengambil cincin baru itu, lalu dengan lancar menyematkannya ke jari Dania. Tepuk tangan meriah dari para tamu undangan seketika membahana, menutupi kecanggungan yang sempat terjadi beberapa menit lalu.
Setelah sesi foto selesai, Kakek Wirya segera memanggil Dania dan Ardan untuk mendekat ke kursinya. Beliau menggenggam tangan Dania dengan lembut. "Dania, Kakek mohon maaf ya soal cincin peninggalan nenek Ardan tadi. Cincin itu memang sudah lama mungkin mengalami penyusutan."
Dania tersenyum manis, meski hatinya sedikit kecewa karena gagal memakai perhiasan legendaris keluarga Arkatama. "Tidak apa-apa kok, Kek. Dania paham. Cincin yang ini juga sangat bagus dan berkilau."
Kakek Wirya menepuk punggung tangan Dania dengan penuh kasih. "Iya, tidak apa-apa meski tidak muat di jarimu. Yang paling penting adalah maknanya. Kamu tetap calon nyonya muda Arkatama yang sah di mata Kakek, dan tidak akan ada yang bisa mengubah hal itu."
Ardan yang berdiri di samping Dania hanya menatap cincin cadangan di jari tunangannya dengan pandangan datar. Di dalam hati kecilnya, sebuah ironi aneh mendadak muncul. Cincin pusaka neneknya bahkan menolak untuk terpasang di jari Dania, seolah-olah alam semesta pun tahu bahwa wanita di sampingnya ini bukanlah pemilik tempat yang sesungguhnya di dalam hidupnya.
.
.
Di belahan tempat lain, ratusan kilometer jauhnya dari kemegahan Jakarta, suasana kota Bandung hari ini terasa begitu menyejukkan. Di dalam ruko yang sederhana, Kiana sedang sibuk menyusun beberapa pot keramik kosong di atas rak kayu. Di atas pintu masuk ruko, sebuah papan nama sederhana terbuat dari kayu pinus baru saja selesai dipasang beberapa menit lalu. Papan itu bertuliskan 'Twin's Florist'.
Kiana menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu tersenyum kecil menatap papan nama itu. Nama Twin's sengaja dia pilih sebagai bentuk dedikasi dan janjinya untuk berjuang demi kedua anak kembar yang kini sedang bertumbuh di dalam rahimnya.
Sembari beristirahat di kursi, Kiana membuka ponselnya. Jari-jarinya dengan lincah mengetik pesan dan melakukan panggilan ke beberapa nomor supplier pemasok bunga segar.
"Halo, selamat malam, Kang. Iya, saya Kiana yang kemarin pesan bunga mawar potong, krisan, sama beberapa tanaman hias indoor," ucap Kiana dengan nada suara yang ramah melalui telepon. "Apakah besok pagi-pagi sekali bisa langsung dikirim ke ruko saya di daerah kota? Iya, soalnya saya berencana mulai menata toko besok... Baik, terima kasih banyak ya, Kang. Saya tunggu besok."
Setelah menyelesaikan urusan pasokan bunga, Kiana tidak membuang waktu. Dia mulai mengambil beberapa foto estetik dari sudut-sudut rukonya yang mulai tertata, lalu mengunggahnya ke akun sosial media baru miliknya sebagai bentuk promosi awal.
"Semoga saja ada yang tertarik dan memesan untuk acara wisuda atau pernikahan minggu depan," gumam Kiana penuh harap.
Keesokan paginya, sebelum resmi membuka tokonya untuk umum, Kiana memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat yang paling ingin dia kunjungi sejak tiba di kota ini. Dengan mengenakan pakaian setelan gamis longgar berwarna hitam dan kerudung senada, Kiana berjalan perlahan memasuki kawasan tempat pemakaman umum yang sunyi.
Langkah kakinya berhenti di depan dua buah makam yang berdampingan, dengan rumput hijau yang terawat rapi. Kiana perlahan berlutut di tanah yang sedikit lembap, menatap dua buah nisan batu yang bertuliskan nama Baskara bin mulyono dan Sari binti achmad. Itu adalah makam kedua orang tua kandungnya.
Kiana memejamkan mata, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan mengirimkan doa terbaik untuk ketenangan jiwa ayah dan ibunya di alam sana. Setelah selesai berdo'a, keheningan kuburan itu mendadak dipecahkan oleh suara isakan kecil dari bibir Kiana. Dia mengulurkan tangannya yang gemetar, mengusap permukaan nisan batu milik ibunya dengan penuh kerinduan.
"Ibu... Ayah... Kia pulang," sapa Kiana lirih, air matanya mulai menetes satu per satu membasahi tanah pemakaman. "Maafkan Kia karena baru bisa datang menjenguk kalian sekarang setelah sekian lama."
Kiana menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan menaruh telapak tangan kirinya di atas perutnya yang kini sudah mulai sedikit membuncit nyata. "Ibu, Ayah... Kia tidak datang sendirian hari ini ke sini. Kia membawa cucu-cucu kalian."
Tangis Kiana pecah seketika, dadanya terasa begitu sesak oleh rasa bersalah yang selama ini dia pendam sendirian. Dia bersujud kecil di dekat nisan ibunya. "Maafkan Kiana, Ibu... Ayah... Maafkan Kia karena sudah melanggar batasan yang kalian ajarkan dulu. Kia sudah berbuat dosa besar sampai bisa hamil di luar nikah seperti ini... Kia benar-benar anak yang tidak berguna dan memalukan nama keluarga."
Kiana terisak beberapa saat, meluapkan seluruh beban batinnya kepada tanah kuburan yang membisu. Namun, beberapa menit kemudian, dia kembali menegakkan tubuhnya. Dia menghapus air matanya dengan jemari yang gemetar, mencoba menguatkan hatinya sendiri.
"Tapi... anak-anak di dalam kandungan ini sama sekali tidak bersalah, Ibu, Ayah," ujar Kiana, suaranya kini terdengar lebih tegar di antara sisa tangisnya. "Mereka adalah darah daging Kia. Dan Kia berjanji di depan makam kalian hari ini, Kia akan membesarkan mereka dengan baik. Kia akan memberikan mereka seluruh kasih sayang dan didikan yang tulus, persis seperti bagaimana Ayah dan Ibu membesarkan Kia dengan penuh kasih sayang dulu."
Kiana menatap nisan ayahnya dengan pandangan mata yang menyipit pilu. "Meskipun... meskipun hidup Kia ke depannya akan terasa sangat berat sendirian di kota ini. Pria yang selama ini aku anggap sebagai rumah tempatku pulang... Dafa... dia kini sudah mengkhianatiku dengan sangat kejam, Ayah. Dia memanfaatkanku dan menghancurkan hidupku."
Kiana tersenyum getir, sebuah senyuman penuh luka. "Tapi tidak apa-apa. Sekarang Kia sudah tidak butuh pria itu lagi. Kia punya si kembar yang akan menemani sisa hidup Kia."
Suasana sedih, haru, dan penuh air mata penyesalan yang dialami oleh Kiana di bawah pohon kamboja pemakaman saat ini, benar-benar berbanding terbalik dengan suasana pesta megah penuh tawa kepalsuan dan kemewahan ratusan miliar rupiah yang kini sedang dinikmati oleh Ardan Arkatama di atas panggung pertunangannya di Jakarta. Dua manusia yang pernah menyatu dalam satu malam terkutuk itu, kini resmi menjalani dua takdir kehidupan yang saling bertolak belakang tanpa pernah tahu kapan benang merah mereka akan kembali saling bertaut.