*Sinopsis Singkat:*
Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.
Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.
Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24; Surat ke Dua untuk Dara
Amplop cokelat itu nyampe hari Kamis.
Nggak ada nama pengirim. Cuma ada tulisan di depan: _“Untuk Alya & Revan, Meja 7.”_
Di dalamnya bukan undangan nikah.
Tapi kartu kecil dengan foto Dara ketawa lebar, rambutnya kena angin.
Di bawahnya tertulis:
_Peringatan 2 Tahun Kepergian Dara Maharani_
_18 November 2026_
_Halaman Belakang Kafe Senja Sagan_
_“Datanglah kalau kamu masih ingat cara kami ketawa.”_
_– Keluarga Dara_
Alya diem lama.
Tangannya gemetar pas baca tanggalnya.
Dua tahun. Rasanya baru kemarin dia denger kabar itu dari telepon malam-malam.
Revan yang baru pulang dari Seturan lihat mukanya langsung ngerti.
Dia duduk di sebelah Alya, nggak ngomong apa-apa.
Cuma ngelus punggungnya pelan.
Malam itu Alya nggak bisa tidur.
Dia buka laptop, buka folder lama berjudul _“Untuk Dara”_.
Isinya draf bab terakhir novel yang dulu dia tulis buat Dara.
Belum pernah selesai.
Belum pernah dikirim.
“Van… aku mau datang,” bisik Alya jam 2 pagi.
Revan ngangguk. “Gue temenin.”
“Aku takut rasanya balik lagi ke dulu. Takut ngerasa bersalah lagi.”
Revan kecup pundaknya.
“Kamu nggak bersalah, Al. Kamu cuma manusia yang belajar tinggal.”
---
18 November 2026.
Halaman belakang Kafe Senja dihias lampu kuning hangat dan foto-foto Dara.
Ada yang waktu kuliah, waktu dia ketawa di kafe, waktu dia pertama kali pegang naskah Alya yang udah dicetak.
Keluarga Dara ngadain acara kecil: doa bareng, bagi-bagi buku, sama baca surat buat Dara.
Meja 7 ditutup kain putih, di atasnya ada satu buku kosong dan pulpen.
“Buat yang mau nulis surat buat Dara,” kata adiknya.
Alya bawa Senja.
Senja udah 2 tahun, lari-lari kecil pakai dress mustard, nggak ngerti kenapa semua orang matanya merah.
Pas giliran baca surat, adik Dara baca satu surat dari ibu Dara.
“Dia bilang, Alya itu anak yang bikin Dara merasa hidupnya nggak sia-sia. Karena kamu terus nulis, Al.”
Alya nangis diem-diem di pelukan Revan.
Setelah acara selesai, dia duduk di meja 7.
Nggak banyak orang yang berani ganggu.
Dia buka buku kosong itu.
Nulis satu halaman penuh.
_Ra,
Dua tahun dan aku masih suka ngomong ke kursi kosong.
Kafe ini rame, tapi meja 7 selalu aku kosongin buat kamu.
Aku takut kalau aku hapus, kamu bener-bener hilang.
Tapi hari ini aku ngerti… kamu nggak hilang.
Kamu ada di setiap pembaca yang bilang ‘aku ngerasa nggak sendiri’ gara-gara tulisan aku.
Makasih ya udah ngajarin aku tinggal.
Aku janji nggak kabur lagi.
– Al_
Dia tutup buku itu.
Di sebelahnya, Revan nyodorin teh hangat.
“Nangis lagi?”
Alya angguk.
“Nangis lega. Rasanya… kayak aku akhirnya bisa pamit beneran.”
Revan peluk bahunya.
“Kamu nggak pamit. Kamu cuma berhenti lari.”
---
Malamnya, setelah Senja tidur, Alya buka file novel lagi.
Dia hapus kata _“Bersambung”_ di akhir Bab 24.
Terus nulis satu paragraf terakhir:
_“Dua tahun lalu aku kehilangan orang yang ngajarin aku cara tinggal.
Hari ini aku ngerti, tinggal itu bukan berarti berhenti.
Tinggal itu berarti terus hidup… buat mereka yang nggak bisa lagi.”_
Revan ngintip dari belakang.
“Selesai?”
Alya angguk.
“Buat bab ini, iya. Buat kita… kayaknya belum.”
Revan senyum.
“Bagus. Gue nggak mau cerita kita selesai cepat-cepat.”
Di luar hujan gerimis.
Di dalam, meja 7 nggak kosong lagi.
Ada surat, ada foto, ada keluarga kecil yang akhirnya belajar tinggal bareng.
*[Bersambung: ]*
---