NovelToon NovelToon
Transmigrasi Leader Mafia Ke Tubuh Istri Culun

Transmigrasi Leader Mafia Ke Tubuh Istri Culun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Clarissa Anggreni, pemimpin mafia kejam yang dijuluki Queen of Damnation, tewas ditembak oleh sahabatnya sendiri, Kalina, dan kekasihnya, Rafael, karena perselingkuhan. Saat ajal menjemput, ia justru terbangun di tubuh Alisha Kirana Maharani – istri cupu korban KDRT dari konglomerat Giovan Salvatore Vizcaya, yang wajahnya persis seperti Rafael. Alisha baru saja jatuh dari lantai atas setelah ditembak orang tak dikenal. Keluarga Vizcaya mengira ia sudah mati. Tapi kini, di balik tubuh lemah Alisha, bersemayam jiwa seorang ratu maut. Di keluarga Vizcaya yang kejam, Alisha direndahkan sebagai pelayan. Giovan berselingkuh di depannya. Tapi Clarissa tidak pernah menjadi korban. Dengan kecerdikan, koneksi bawah tanah, dan haus balas dendam, Alisha (Clarissa) mulai menyusun rencana: ·Membalaskan kematian jasad aslinya kepada Rafael (Giovan) dan Kalina. · Menguasai keluarga Vizcaya dari dalam. · Menemukan siapa penembak yang hampir membunuh Alisha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa di Jebak?

Giovan menginjak pedal gas mobilnya, meninggalkan jalanan kota yang ramai. Roda mobilnya berputar cepat, mencerminkan keadaan hatinya yang gelisah.

Sesampainya di rumah, ia membanting pintu mobil dengan sedikit kekuatan yang tersisa dalam dirinya.

"Akhirnya, sampai juga," desahnya, sebelum berjalan masuk ke dalam kediaman megahnya yang sepi.

Ceklek.

Tanpa menyalakan lampu terlebih dahulu, Giovan langsung berjalan ke arah dapur untuk mengambil minuman.

Glek.

Ia meneguk habis minumannya, dan menaruh gelasnya di atas meja. Saat Giovan berbalik badan, tiba-tiba saja.

PLAAKK.

Pipi Giovan menoleh ke samping, ia terdiam beberapa detik hingga menyadari jika sudut bibirnya berdarah karena tamparan pria di hadapannya.

"Kakek??"

"Sini kamu!!"

SREKK.

Giovan ditarik oleh Edward menuju ruang tamu. Ruangan yang tampak sepi sebelumnya, kini ternyata dipenuhi oleh seluruh anggota keluarganya, termasuk orang tuanya.

"Dad, ada apa ini? Kenapa Daddy tarik-tarik Giovan?" tanya Emeline yang bingung.

Edward menatap tajam menantunya tersebut dan mendorong tubuh Giovan hingga tersungkur ke lantai.

Brukk.

Walaupun Edward sudah tua tapi, jangan salah. Tenaganya sangat-sangat besar.

"Dari mana kau?!!" tanya Edward tanpa berbasa-basi.

"A-aku.."

"Kau izin padaku untuk pulang lebih awal tapi, apa hah?! Kau malah tidak pulang ke rumah. Kau ke mana, Giovan?!"

Giovan menundukkan kepalanya.

"Apa kau pergi ke rumah Elena?" tanya Edward membuat kepala Giovan terangkat.

Ekspresi wajah Giovan yang terkejut, membuat Edward yakin jika cucunya ini memang habis pulang dari apartemen Elena.

"Kurang ajar! Ternyata kau masih berhubungan dengan Elena, Gov?!"

"T-tidak, Kakek. A-aku.."

"Jangan bohong! Alisha sudah menceritakan semuanya, dan kau.. Kau sungguh menjijikkan, Giovan!"

"Kakek, aku.."

"Ambilkan cambuk, dan cambuk dia sampai seratus kali," potong Edward.

Semua mata terbelalak, hukuman Giovan kali ini sangat berat. Satu cambukan saja sudah membuat luka apalagi ini seratus cambukan.

"Dad, aku mohon jangan lakukan itu pada Giovan. Kita dengar dulu penjelasannya," pinta Emeline yang tak tega melihat anaknya.

"Kalau begitu, hukuman Giovan di bagi dua denganmu, Emeline. Lima puluh cambukan!"

Mata Emeline melebar, kenapa dia jadi kebawa. Padahal Emeline hanya ingin membantu anaknya saja.

"Dad, aku.."

"Kalau kau tidak ingin kena cambuk juga, maka diam!!" sentak Edward membuat Emeline kaget.

Bramantya segera menarik tangan istrinya. "Sudah, biarkan Daddy menghukum Giovan," ujar Bramantya.

"Tapi, Mas.."

"Kau ingin kena cambuk juga?!" tanya Bramantya membuat kepala Emeline menggeleng ke kanan dan ke kiri.

"Ya sudah, maka dari itu diam saja!!" bisik Bramantya.

Alisha yang sedari tadi memerhatikan Giovan pun, hanya bisa diam saja. Ia tidak ingin membantu pria itu.

"Mana cambuknya?!" teriak Edward membuat seorang pria berbadan besar mendekat.

"Ini, Tuan Ed."

Edward meraih cambuk itu, panjangnya sekitar satu meter, dengan niat yang penuh amarah cambuk itu terayun ke arah Giovan.

PLETAK.

Giovan meringis kecil, saat cambuk tersebut mengenai pundaknya. Dia sengaja tidak melawan karena dirinya sadar, memang pantas untuk diperlakukan seperti ini.

PLETAKKK.

"Sshh."

Kemeja yang Giovan kenakan mulai robek berserta darah yang mengalir, pria itu sedikit meringkuk menahan sakit setelah dua kali cambukan.

"Dad, hentikan, Dad! Lihat, Giovan sudah seperti itu," ujar Emeline yang tak tahan melihat anaknya menahan kesakitan.

PLETAKKK.

"AAHKK!"

Kedua tangan Emeline terkepal erat, melihat anak yang baru saja mendapatkan tiga cambukan berarti masih ada 97 cambukan lagi. Lalu ia menatap ke arah Alisha dan mendekatinya.

"Alisha!!"

"Ehh, apa nih?" bingung Alisha saat tangannya dicekal Emeline.

"Tolong hentikan Kakek, Alisha!" pinta Emeline.

Alisha menatap ke arah Edward yang sedang mencambuk Giovan. "Maaf, Mom. Aku enggak bisa," ujar Alisha.

"Alisha, Mommy mohon! Giovan bisa mati kalau mendapatkan 100 cambukan!!"

"Tapi.."

"Hanya kamu yang bisa menghentikan Kakek, Alisha. Mommy mohon, hikss."

Emeline sungguh tak tega melihat anaknya, apalagi Giovan itu anak satu-satunya.

Alisha menarik napasnya dan mengangguk. "Kalau Kakek masih enggak mau berhenti, Mommy jangan salahin aku ya."

"Iya, sekarang tolong bicara pada Kakek."

"Hm."

Alisha berjalan menghampiri Edward, ia sedikit meringis melihat punggung Giovan yang sudah luka-luka.

"Kakek," panggil Alisha yang berhasil menghentikan pergerakan tangan Edward.

"Kenapa?" tanya Edward.

"Sudah, Kakek. Lihatlah Giovan sudah tak berdaya," jawab Alisha.

Edward menatap pada Giovan, seperti yang Alisha katakan. Giovan memang benar-benar sudah tak berdaya.

"Tapi, Kakek belum puas!"

"Tenang saja, Kakek. Setelah luka Giovan sembuh, Kakek bisa memukulnya kembali."

Mata semua orang melebar termasuk Emeline. Bukan ini yang dia minta pada Alisha.

Senyum Edward seketika mengembang. "Kamu pintar sekali, Alisha. Baiklah, kita tunggu lukanya sembuh dulu."

"Betul, Kakek. Karena kita tidak akan puas menyiksa seseorang yang tak berdaya."

"Hm, kalau begitu bawa Giovan pergi dan kurung dia di ruangan bawah!" titah Edward pada anak buahnya.

"Baik, Tuan!"

"Loh, loh kok Giovan di bawah ke ruangan bawah, Dad?" tanya Emeline tak terima.

"Dia harus tetap menjalankan hukuman!" jawab Edward.

"Tapi,.."

"Jangan kau bela anakmu itu, Emeline!"

Kepala Emeline langsung tertunduk. "Maaf, Dad."

"Sudah, sekarang kalian semua istirahat!"

"Baik, Kakek."

"G-Kakek.." seru Giovan dengan suara lirih.

Edward membalikkan kepalanya menatap Giovan, yang saat ini sedang dipegangi oleh anak buahnya.

"A-aku dan Elena, k-kami sudah putus!"

"Lalu??"

"A-aku i-ingin minta maaf, Kakek."

"Jangan minta maaf kepadaku, Giovan! Tapi, pada istrimu," ujar Edward.

Pandangan Giovan menatap ke arah Alisha namun, Alisha melongoskan wajahnya begitu saja.

"Kamu lelah, tidur duluan ya. Bye!!" seru Alisha sebelum Giovan meminta maaf padanya.

---

Fiona segera meninggalkan ruang tamu dan mengambil ponselnya untuk menelepon Elena.

"Halo, Tante."

"Halo, El. Gawat nih, El. Gawat!!"

"Hah, gawat kenapa?"

"Edward sudah tahu kalau kamu dan Giovan masih berhubungan!"

"Apa?!!"

"Giovan baru saja dihukum cambuk, karena ketahuan pulang malam dan bertemu dengan kamu!"

"Astaga, terus aku harus gimana, Tante? Aku enggak mau mati sia-sia ya!"

"Kamu tenang dulu ya. Maka dari itu, Tante minta kamu untuk pergi atau sembunyi untuk sementara dan jangan hubungi Giovan dulu."

"Loh, kenapa??"

"Karena Giovan masih menjalankan hukumannya. Tante takut kalau kamu hubungi dia, Edward justru akan mengincar kamu!"

"Oh oke, Tante. Aku akan ikuti perintah Tante."

"Hm. Ehh, tapi kamu beneran enggak berhasil tidur sama Giovan?!"

"Ya enggak lah, Tante! Giovan pingsan. Gimana bisa aku dan dia begituan, kecuali kalau aku yang perkosa dia!"

"Astaga, kenapa enggak kamu itu aja!!"

"Ya Tuhan, mana enak aku begituan sama cowok yang pingsan!"

"Tapi, kalau kalian enggak tidur bersama, gimana bisa kamu hamilnya, El?!"

"Tante tenang aja, masalah hamil aku bisa hamil anak orang lain. Haha."

"Stres, emang kamu!"

Tanpa Fiona sadari, seseorang tak sengaja mendengar pembicaraannya.

"Apa jangan-jangan Giovan ingin dijebak? Atau Giovan sudah terjebak?"

---

Bersambung

1
Anne Soraya
lanjut
Lucky Ferdinand Sihombing
mana nih up nya😄
Lucky Ferdinand Sihombing
apa itu Alisha 🤭🤭
Lucky Ferdinand Sihombing
lanjut dong
Lucky Ferdinand Sihombing
lanjut
jeeny sihombing
double dong thor🤭
jeeny sihombing
lanjut
Nelson Sihombing
lanjut dong
Anne Soraya
lanjut 👍
SANG
Semangat terus ya dek👍💪
SANG
Like iklan plus komen
Alia Chans: thanks 😍😣
total 1 replies
SANG
Ceritanya seru dek👍💪
SANG
Novel baru semangat baru ya dek👍💪
☾⚘ `ᴿᵃ | тια.яα↬ˢᵃʲᵃⁿᵍ⁻ⁿⁱᵐ
Kak, tadi aku sempat ngira “PRANGG!” itu dialog karakter, baru sadar ternyata suara gelas pecah 😭 Mungkin bisa tanpa tanda petik biar lebih jelas kalau itu SFX.
Alia Chans: wk" thanks dh mampir
total 1 replies
Wawan
Salam kenal buat Alisa💪✍️
Amila FM,IG:amilaeditslife
waa female fatal nih go go alisha
Alia Chans
Halo guys
ini Novel baru aku👈✍️
☾⚘ `ᴿᵃ | тια.яα↬ˢᵃʲᵃⁿᵍ⁻ⁿⁱᵐ: Haloo~
Aku mampir ☝🏻✨
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!