Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Selembar kertas sobek
Lova bergegas membungkus dirinya dengan selimut tebal, sepeninggal Afif yang keluar dari kamarnya.
Aargghh!
Perkara honeymoon yang menurutnya konyol itu, berhasil membuatnya dilanda grogi dan tertawa-tawa sendiri dalam hati. Perasaan apakah ini??! Kantuknya yang sempat menumbangkannya sewaktu mengaji tadi mendadak membumbung tinggi.
Wajahnya memanas hatinya terasa seperti digaruk-garuk geli. Seperti---kepakan sayap kupu-kupu menggerayangi perutnya, bukan satu atau dua, melainkan puluhan pasang.
Bukan sesuatu yang istimewa atau berlebihan jika diingat-ingat, Afif hanya mengajaknya menjadi teman ternyaman lalu menyodorkan dua buah tiket liburan bareng, tapi apa yang dibayangkannya? Sampai bisa senyum-senyum sendiri tiada henti ini macam orang gila?
Ia merasa seperti sedang diinginkan, dikejar dan diharapkan oleh seseorang. Diantara bayangan dan lamunannya itu, samar-samar suara langkah dan suara orang mendekati pintu kamar, membuat Lova segera memejamkan kedua matanya.
"Udah tidur lagi, ya? Cepet banget." Lirih Afif, semakin lama degupan jantung Lova justru semakin tak bisa dikondisikan, setiap detik gerak gerik Afif terekam oleh memori pendengaran dan otaknya. Mulai dari langkah kaki, gerakan kasur yang bergoyang di belakang badannya hingga udara hangat yang kini dirasakan olehnya dan lirih gumaman do'a tidur yang dilantunkan.
Oh, jangan lupakan juga aroma maskulin lembut yang menguar dari tubuh pria ini, selalu berhasil membuatnya tenang dan terlindungi, apakah ia mulai candu?
Yap! Posisinya menyamping membelakangi Afif itu tanpa sadar jika ia sudah mengambil tempat Afif sejak memutuskan untuk menggulung diri di dalam selimut tadi, padahal awalnya ia telah mendeklarasikan diri sebagai penghuni baru sisi ranjang dekat meja, tapi kini...ia justru berada di sisi terpojok.
Perlahan dan pasti, syahdunya malam bersama alunan suara serangga malam menuntun Lova untuk menyelami dunia mimpi dihantarkan aroma menenangkan dari Afif.
Ia menggeliat sewaktu malam belum berakhir, tapi rasa dingin yang tiba-tiba menusuk kulit membawa tangannya meraba selimut, seingatnya ia membungkus tubuhnya dengan selimut tebal tadi...dan nyawa yang masih melanglangbuana itu ia tarik sepenuhnya ketika menyadari bunyi dengkuran halus yang begitu dekat, tepat di....
Lova langsung terjengkat menggeser mundur wajahnya sejenak, melotot saat menyadari posisinya kini sudah bukan lagi memunggungi Afif, melainkan berada tepat di depan wajah Afif yang entah bagaimana keduanya bermuara saling menghadap dalam posisi sedekat itu.
Nafas tenang bersama wajah yang begitu damai. Seketika wajah Lova memanas namun tak ada niatan untuk membawanya lebih mundur lagi, ia justru----semakin hanyut memandangi karya Tuhan yang tercipta tanpa takut dengan dosa, masyaAllah...gantengnya.
Alis tebal yang seringnya menukik tajam saat berbicara serius atau menyikapi sesuatu dengan kritis, lalu turun ke hidung yang tidak pesek----lantas semakin kurang ajar saja tangannya mencoba menyusuri pahatan itu membandingkan dengan hidungnya.
Lalu kembali memandang dengan nyaman bibir yang seringnya berbicara ketus dulu, tapi semalam mengajaknya *berteman nyaman*.
"Aku takut mas, kalo seandainya jawaban istikharah ku ngga sama kaya kamu..." lirihnya bermonolog tanpa sadar, bahkan kini Lova sudah membalikan badannya, terlentang menatap langit-langit kamar sejenak, dan kembali berbalik memunggungi Afif untuk melanjutkan tidurnya di waktu yang masih menunjukan pukul 2 malam.
Afif
Ia masih memakai arlojinya, setelah sempat menyemprotkan parfum, sementara Lova masih berada di kamar mandi.
"Va, tiket yang semalam saya liatin, kamu taruh dimana?" tanya Afif dari luar pintu.
"Apa mas?" teriaknya dari balik kamar mandi, bersama suara yang mendadak hening setelah sempat byarr--byuurr siraman air.
"Tiket liburan? Mau saya registrasi dulu jadwalnya sama pihak agen perjalanan."
"Oh tiket!" jawabnya dengan nada sedikit berteriak.
"Di belakang lipatan buku aku yang sampulnya merah putih, mas...di atas meja belajar!"
Afif mengangguk saat menemukan barang yang dimaksud, dengan sebelah tangan memegang ponsel ia meraih buku yang justru jatuh ke lantai hingga terbuka tepat di bagian belakang.
Awalnya Afif meraup lembaran amplop coklat dimana di dalamnya dua tiket tersimpan. Namun kemudian ia tak bisa untuk tak memperhatikan corat-coret tangan di halaman belakang buku catatan pelajaran Lova yang mungkin dibuat istri kecilnya itu ketika tak ada tugas, atau kegabutan.
Halamannya sobek atau entah sengaja disobek, hanya saja ia masih bisa melihat dan membaca sebagian, seperti kata-kata yang dibuat menjadi sebuah sajak, dan oh----apa itu?
Af---
Seperti bulan purnama----
Seperti mentari yang-----
Dealova Almaheera....
Entahlah, senyumnya terbit begitu saja, padahal ia belum tau kebenarannya, apakah Af...itu inisial namanya? Jika iya, sejak kapan?
Afif bergegas meraup buku itu dan menaruhnya kembali di meja belajar sebelum akhirnya bunyi pintu terbuka menampilkan sosok Lova yang sudah ada dalam balutan seragam batiknya.
"Nanti siang ada bimbel?"
Lova mengangguk, "kalau gitu mas yang jemput terus anter, kebetulan hari ini cuma ngisi 2 kelas."
"Oke." Jawab Lova langsung menghadap ke cermin. Dan Afif masih berada di saja sembari mengetik sesuatu di ponselnya.
"Mas..."
"Ya?" ia mendongak menatap pantulan wajah Lova dari cermin.
"Uang jajanku..." kekeh Lova, "udah jadwalnya mas kasih, jangan lupa." Ia masih saja terkikik, tapi belum ada satu menit, notifikasi menyambar ponsel Lova bersamaan dengan Afif yang menunjukan layar ponselnya pada Lova, "udah. Jangan lupa nabung."
Begini enaknya pacaran halal dengan pria matang. Begitu bertanggung jawab dan sat set menafkahi.
"Asiap komandan!" Lova membuat gerakan hormat dari pantulan cermin sana membuat Afif tersenyum tipis, "emangnya sekolah memperbolehkan siswinya berdandan ya?" Jika ia perhatikan, setiap pagi Lova mengaplikasikan make up-nya sebelum berangkat.
"Ngga boleh sih mas. Tapi kalo tipis-tipis boleh lah, biar ngga keliatan baru bangun tidur banget lah...ini juga cuma bedak, eyeliner sama liptint doang." Alibinya tak terima yang begini disebut make up.
"Sama saja kan?"
Done, Afif sudah menentukan tanggal keberangkatan mereka ke Jogja pada agen perjalanan lalu memasukan ponselnya ke dalam saku.
"Beda mas." Lova mengambil sisir kembali dan merapikan rambutnya, "buktinya aku ngga kena razia."
Afif menggeleng dan melengos keluar kamar duluan. Sementara Lova merampungkan persiapannya, ada senyum yang terukir dan tak pernah pudar darinya sepeninggal Afif.
Rasa nyaman yang mulai merambat, meski tak banyak bicara Afif memberikannya rasa perlindungan dan tanggung jawab yang mutlak.
Ia bergegas keluar setelah rampung, menemukan keempat orang lainnya sudah berkumpul di meja makan, bersama obrolan tentang kepergian Afif dan Lova ke Jogja beberapa hari ke depan.
"Lumayan, ngga singkat ngga lama juga. Refreshing sebelum ngikutin try out yang mulai padat merayap..."
"Sudah ambil cuti, mas?" tanya umi.
"Sudah umi." Angguknya sudah membawa piring ke meja depannya, namun Lova bergegas mengambil alih menyendokan nasi untuknya. Ia sempat melirik jam dinding yang menunjukan pukul setengah tujuh kurang lima belas menit.
Lova bergabung menarik kursi di samping lelaki dengan kemko maroon itu, "hitung-hitung membangun bonding, mas...." seloroh umi yang memang benar adanya tapi membuat suasana menjadi agak sedikit canggung.
"Sebenernya bonding Lova sama mas Afif udah terjalin lama loh umi... ya mas? Tapi selalu berakhir aku yang dimarahin ngga sih?" tanya nya lagi menatap Afif, menyambar pertanyaan umi.
"Bukan marah, tapi teguran. Beda---" geleng Afif tak mau mengakui selama mengajar mengaji Lova ia sering marah dan begitu jutek.
"Marah tanda sayang, ya mas?" kini justru umi yang memancing-mancing dan di luar prediksi Afif justru mengiyakan dengan alisnya yang berkedut dan anggukan kecil.
Lova terkekeh malu, hampir mendaratkan pukulan kecilnya di bahu Afif, dimana pria itu hanya menatap tak acuh saja.
Namun ia menemukan ide usilnya pagi itu demi menutupi kecanggungan, "sama mahasiswa di kampus begitu juga?"
"Maksudnya?" keningnya berkerut kecil diantara sendokan-sendokan yang kini sudah Lova ambilkan di piringnya.
"Ya...marah begitu..."
Pria dengan modelan rambut pendek rapi ini mengangguk acuh, "ya sama, kalo salah ditegur."
"Yaaaa...berarti sama mahasiswanya sayang juga dong? Kok sayangnya mas begitu sih, dibagi-bagi..."
Abi sudah tertawa kecil begitupun umi, dan Afnan yang ada disana turut melipat bibir kecilnya melihat interaksi Afif dan Lova, lebih tepatnya Lova yang memang selalu semanja, sekocak dan seheboh itu.
"Resiko menikah dengan seorang guru, dosen..." jawab Afif.
Umi menggeleng, "tapi kadar sayangnya antara ke murid atau mahasiswa sama ke istri berbeda, neng."
Afif mengangguk menunjuk udara, "nah, umi aja paham."
Lova terkikik, "iya, tau-tau kok."
Dan Afif melirik Lova kembali yang sudah khusyuk makan, mengingat lembaran sobek tadi yang ia temukan di halaman belakang buku Lova, ada segaris senyuman yang terbit meski urung ia kemukakan pada pemiliknya langsung, mungkin jawaban dari keraguan dan istikharah nya berbalas. Cintanya bersambut...
Afnan beranjak, "aku duluan. Mi, bi...mas ...berangkat duluan." Pamitnya.
.
.
.
.
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny