Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Jerat Halus Sang Rubah
BAB 5: Jerat Halus Sang Rubah
Devano menyodorkan sebatang pena berujung emas ke sela-sela jari Luna yang dingin. Pria itu tersenyum tipis, sangat yakin bahwa korbannya kali ini tidak akan punya pilihan selain tunduk.
Namun, di luar dugaan Devano, Luna justru menatap pena itu dengan tatapan benci yang mendalam. Air mata yang sejak tadi mengalir di pipinya mendadak berhenti. Ada sepercik kekuatan yang muncul dari balik rasa rapuhnya.
Plak!
Luna mengibaskan tangannya, menjatuhkan pena mahal itu hingga menggelinding jauh di atas lantai marmer.
Devano tertegun. Rahangnya mengeras menatap penolakan terang-terangan itu. "Luna..."
"Cukup, Mas! Cukup!" jerit Luna dengan suara tertahan, napasnya memburu naik turun. "Kamu boleh menghina Kak Siska sesukamu karena dia memang bersalah padamu. Tapi jangan pernah berpikir kamu bisa menginjak-injak hargadiriku!"
Luna mendorong dada bidang Devano dengan seluruh sisa tenaga yang dia miliki. Sentakan yang tiba-tiba itu berhasil membuat tubuh kekar Devano mundur satu langkah, memberi ruang bagi Luna untuk turun dari atas meja kerja.
Dengan tangan gemetar, Luna mengancingkan kembali kerah kemejanya yang sempat terbuka. Dia menatap Devano dengan tatapan mata yang sarat akan luka, kecewa, sekaligus ketegasan.
"Semalam... semalam itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku mabuk kepayang oleh kata-katamu dan rasa bersalah atas kelakuan Kak Siska. Tapi bukan berarti aku mau menjadi budak pemuas nafsumu selama satu tahun ke depan!" Suara Luna meninggi, bergetar hebat. "Aku ini adik kandung Siska, Mas! Wanita yang pernah kamu nikahi secara resmi di depan Tuhan dan negara! Bagaimana bisa kamu berpikir sepicik itu untuk menjadikanku wanita simpananmu?"
"Luna, jangan menguji kesabaranku. Kamu tahu apa konsekuensinya jika—"
"Sebar saja, Mas! Sebarkan!" potong Luna lantang, menantang balik sorot mata elang Devano yang mulai menyala marah. "Sebarkan video itu ke Ibu, ke Kak Siska, atau ke seluruh dunia sekalian! Biar mereka semua tahu kalau CEO Devano yang terhormat ternyata tidak lebih dari seorang pria berhati iblis yang melampiaskan dendamnya pada adik ipar yang tidak tahu apa-apa!"
Luna melangkah mundur, meraih tas kerjanya dengan cepat sebelum Devano sempat mengunci pergerakannya lagi.
"Kalau Ibu dan Kak Siska membenciku setelah melihat video itu, aku akan pergi dari rumah itu. Aku akan menanggung aibku sendiri. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan diriku masuk ke dalam kamar terlarangmu lagi. Aku masih punya harga diri, Mas Devano!"
Setelah mengucapkan kalimat itu dengan satu tarikan napas, Luna berbalik. Dia berlari sekencang mungkin menuju pintu jati besar ruang kerja tersebut, membukanya dengan kasar, dan menghambur keluar menuju lift tanpa menoleh ke belakang lagi.
Di dalam ruangan yang mendadak sunyi, Devano berdiri mematung. Pandangannya perlahan turun, menatap pena emas yang tergeletak di lantai, lalu beralih ke pintu yang masih terbuka lebar.
Alih-alih mengamuk karena ditolak, perlahan sudut bibir Devano justru terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang teramat misterius dan berbahaya. Matanya berkilat penuh obsesi yang jauh lebih pekat dari sebelumnya.
"Berlari lah sejauh yang kamu bisa, Luna Maharani..." bisik Devano pada keheningan ruangan. "Karena semakin kamu menghindar, semakin aku tidak akan melepaskanmu."
Semalaman Luna Maharani tidak bisa memejamkan mata. Dia duduk meringkuk di atas kasur tipis kamarnya sembari memeluk kedua lutut, menatap layar ponsel yang tergeletak di sampingnya dengan dada yang bergemuruh kencang.
Setiap kali ada notifikasi masuk, jantung Luna serasa mau copot. Dia ketakutan setengah mati. Bayangan wajah dingin Devano yang mengancam akan menyebarkan video intim mereka semalam terus menghantui pikirannya. Luna bersumpah menolak kontrak itu demi harga dirinya, namun sisa keberaniannya semalam perlahan menguap digantikan rasa cemas yang menyiksa batinnya hingga subuh menjelang.
Namun, hingga matahari terbit dan jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi, ponselnya tetap hening. Tidak ada video yang tersebar. Tidak ada amukan dari ibunya.
Luna menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang pucat karena kurang tidur. Dia mengira Devano mungkin hanya menggertaknya semalam. Dengan perasaan yang sedikit lega namun masih menyisakan kewaspadaan, Luna memutuskan untuk izin tidak masuk kantor hari ini karena tubuhnya yang teramat lelah.
Sekitar jam dua siang, saat Luna sedang membantu menyapu lantai dapur, suara riuh dan pekikan heboh tiba-tiba terdengar dari arah ruang tamu.
"Ya ampun! Ini semua dari Mas Devano, Pak?!" Suara Siska melengking tinggi, dipenuhi nada manja yang dibuat-buat.
Luna tersentak. Dia meletakkan sapunya dan berjalan perlahan menuju ruang tamu. Di sana, matanya seketika membelalak. Ruang tamu mereka yang sempit kini dipenuhi oleh beberapa pria berbadan tegap dengan setelan safari hitam. Di atas meja, bertumpuk bingkisan buah impor berukuran besar, parsel suplemen kesehatan mahal, dan yang paling mencolok adalah sebuah koper kecil berisi perhiasan emas yang berkilau.
Bu Rahma duduk di sofa dengan mata yang berbinar-binar, tangannya gemetar mengusap permukaan koper perhiasan itu. Sementara Siska berdiri di samping seorang pria berjas—sekretaris kepercayaan Devano—dengan senyuman lebar yang merekah.
"Benar, Ibu, Mbak Siska," ucap sekretaris Devano dengan sopan. "Tuan Muda Devano mengirimkan semua ini sebagai bentuk apresiasi dan tanda kerja sama awal."
"Kerja sama apa ya, Pak?" tanya Bu Rahma, suaranya terdengar sangat manis, hampir menyembah.
Pandangan sekretaris itu beralih, menatap Luna yang baru saja muncul dari balik tirai dapur. "Kerja sama dengan putri bungsu Ibu, Mbak Luna Maharani. Mulai hari ini, Tuan Muda Devano secara resmi menunjuk Mbak Luna untuk menjadi Asisten Pribadi (Personal Assistant) langsung di bawah pengawasan beliau."
Bagai disengat listrik di siang bolong, Luna mundur satu langkah. Wajahnya yang semula sudah pucat kini semakin kehilangan warna. Asisten pribadi? Menjadi wanita yang harus menempel pada Devano 24 jam penuh? Ini jebakan!
"Apa? Luna jadi asisten pribadi Mas Devano?" Siska memotong, matanya berkedip-kedip kaget. Namun, bukannya marah, sedetik kemudian senyuman licik justru terbit di bibir Siska.
Di dalam otak Siska yang egois, sebuah rencana langsung terbentuk. Dia berpikir, Devano merekrut Luna pasti karena pria itu gengsi untuk menghubunginya langsung. Devano pasti ingin memanfaatkan Luna sebagai jembatan untuk mencari tahu tentang kabarnya!
Siska langsung menghambur memeluk lengan Luna dengan sangat akrab, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. "Ya ampun, Luna! Ini luar biasa! Mas Devano memang sengaja melakuakan ini demi kita. Dia tahu kamu butuh pekerjaan yang gajinya besar, dan dengan begini, kita sekeluarga bisa tetap berhubungan baik dengan Mas Devano!"
Siska berbisik setengah menuntut di telinga Luna, "Luna, kamu harus terima! Nanti di kantor, kamu harus sering-sering ceritakan hal baik tentang Kakak ke Mas Devano, ya? Bilang kalau Kakak menyesal dan selalu merindukannya setiap malam. Kamu harus bantu Kakak PDKT lagi sama dia!"
Luna merasa mual mendengar ucapan kakaknya. Siska tidak tahu saja kalau pria yang dianggapnya masih mengejarnya itu, telah menelanjanginya dan meninggalkan tanda kepemilikan yang pekat di tubuh adiknya sendiri.
Sekretaris Devano kemudian menyerahkan sebuah dokumen resmi kepada Bu Rahma. "Dan satu hal lagi, Ibu. Bersamaan dengan pengangkatan Mbak Luna sebagai Asisten Pribadi, Tuan Muda Devano juga telah melunasi seluruh sisa utang almarhum suami Ibu di bank, beserta jaminan seluruh biaya pengobatan Ibu di rumah sakit untuk satu tahun ke depan. Semua sudah bersih."
Bu Rahma langsung menutup mulutnya, menangis terharu seolah baru saja mendapatkan durian runtuh. Setelah para utusan Devano itu pamit dan keluar dari rumah, Bu Rahma langsung menatap Luna dengan pandangan memerintah yang mutlak.
"Luna! Kamu dengar sendiri, kan? Devano sudah menjadi malaikat penolong keluarga kita! Dia melunasi utang kita dan memberi kamu pekerjaan terhormat! Tidak ada alasan untuk menolak. Besok pagi kamu harus sudah datang ke kantornya!" Tegas Bu Rahma tidak mau dibantah.
"Tapi, Bu... Luna tidak bisa—"
"Kenapa tidak bisa?!" Siska memotong tajam, matanya menyipit marah. "Kamu mau menghancurkan kesempatan Kakak untuk rujuk dengan Mas Devano? Kamu mau lihat Ibu masuk penjara karena utang-utang itu lagi? Kamu harus bekerja di sana, Luna! Titik!"
Di tengah kepungan desakan ibunya yang matre dan kakaknya yang narsis, ponsel di saku celana Luna tiba-tiba bergetar satu kali.
Luna merogohnya dengan tangan gemetar, membuka pesan yang baru saja masuk dari nomor tak dikenal yang dia tahu pasti siapa pemiliknya.
[Nomor Tidak Dikenal]: "Bagaimana, Asisten Pribadiku? Menolak kontrak dariku memang hakmu, Luna Maharani. Tapi membuat keluargamu sendiri yang mengemis dan menyerahkanmu kembali ke dalam ruang kerjaku... adalah keahlianku. Nikmati malam terakhirmu di rumah itu, karena mulai besok, hidupmu sepenuhnya berada di bawah kendaliku."
Luna meremas ponselnya erat-erat, menatap ke luar jendela dengan air mata yang mengambang di pelupuk mata. Dia menyadari, sekeras apa pun dia mencoba memberontak dan menjaga harga dirinya, rubah licik bernama Devano itu telah memasang perangkap tak terlihat yang membuat seluruh keluarganya sendiri mendorong Luna masuk ke dalam sangkar terlarang pria itu.