NovelToon NovelToon
Kemampuan Tak Pernah Sama

Kemampuan Tak Pernah Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Geb Lentey

Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Pagi itu, langkah Kayla terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Udara di sekolah sama seperti hari-hari lain, namun ada sesuatu yang berbeda—sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tapi bisa ia rasakan. Tatapan orang-orang terasa lebih lama, lebih tajam, dan bisikan kecil yang biasanya samar kini terdengar jelas di telinganya.

Ia berhenti sejenak di depan pintu kelas.

Perasaannya tidak enak.

Sangat tidak enak.

“Kay…” suara Salsa terdengar dari dalam, diikuti langkah cepat yang mendekat. Wajah sahabatnya itu terlihat cemas, tidak seperti biasanya.

“Ada apa?” tanya Kayla pelan.

Salsa tidak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Kayla dan menariknya sedikit ke samping, menjauh dari pandangan teman-teman lain. Dengan ragu, ia membuka ponselnya dan menunjukkannya ke Kayla.

“Kay… kamu harus lihat ini.”

Kayla menunduk.

Dan dalam satu detik, seluruh dunia seolah berhenti.

Di layar itu, terpampang foto dirinya—foto saat ia duduk bersama Reyhan di kantin. Tidak ada yang aneh dari foto itu, hanya dua orang yang sedang berbincang. Namun, sudut pengambilan gambarnya membuat mereka terlihat… lebih dekat dari seharusnya.

Di bawah foto itu, tertulis kalimat yang membuat dadanya sesak.

*“Pinter cari perhatian, deket sama kakak kelas biar naik level.”*

Komentar-komentar di bawahnya mulai berdatangan. Ada yang sekadar ikut-ikutan, ada yang terang-terangan menyindir, bahkan ada yang menertawakan.

Tangan Kayla sedikit gemetar.

“Ini… dari mana?” suaranya nyaris berbisik.

Salsa menggeleng pelan. “Gak tahu… tapi udah nyebar ke mana-mana.”

Kayla tidak menjawab lagi. Ia hanya menatap layar itu beberapa detik lebih lama, seolah mencoba memastikan bahwa ini nyata. Lalu perlahan, ia menurunkan ponsel Salsa.

Ada satu nama yang langsung muncul di pikirannya.

Maya.

Hari itu berjalan sangat lambat. Di dalam kelas, Kayla mencoba duduk seperti biasa, membuka buku seperti biasa, dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Namun kenyataannya, setiap detik terasa berat. Ia bisa merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya, bisa mendengar bisikan yang sengaja dipelankan, tapi tetap terdengar.

Anehnya, ia tidak menangis.

Tidak seperti dulu.

Ia hanya diam.

Menahan.

Bertahan.

Sampai akhirnya, saat jam istirahat tiba, pintu kelas terbuka dengan cukup keras hingga membuat beberapa siswa menoleh.

Reyhan berdiri di sana.

Wajahnya tidak seperti biasanya. Tidak tenang. Tidak santai. Ada sesuatu yang berbeda lebih tegas, lebih serius.

“Kayla,” panggilnya.

Suasana kelas langsung hening.

Kayla menoleh perlahan.

Reyhan berjalan mendekat tanpa ragu, berhenti tepat di depan mejanya.

“Aku lihat,” katanya singkat.

Kayla menunduk sedikit. “Maaf…”

Namun Reyhan langsung menggeleng.

“Jangan minta maaf.”

Nada suaranya tegas, cukup untuk membuat beberapa siswa di sekitar mereka saling pandang.

“Ini bukan salah kamu.”

Lalu, tanpa diduga siapa pun, Reyhan menoleh ke seluruh kelas. Tatapannya menyapu satu per satu, membuat suasana semakin menegang.

“Kalau ada yang punya masalah sama Kayla,” katanya, suaranya jelas dan tidak terburu-buru, “bilang langsung.”

Tidak ada yang menjawab.

Tidak ada yang berani bergerak.

“Jangan sembunyi di balik postingan kayak gitu.”

Sunyi.

Udara di ruangan itu terasa berat.

“Dan buat yang nyebarin…” lanjut Reyhan, kali ini sedikit lebih rendah tapi tetap tajam, “aku harap kamu cukup berani buat tanggung jawab.”

Tidak ada suara.

Tidak ada tawa.

Tidak ada bisikan.

Hanya keheningan yang penuh tekanan.

Kayla menatap Reyhan dari tempat duduknya. Jantungnya berdetak cepat, tapi bukan karena takut. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang hangat, sesuatu yang membuatnya merasa… tidak sendirian.

Untuk pertama kalinya dalam situasi seperti ini, ia tidak merasa harus melawan sendirian.

Di luar kelas, tanpa mereka sadari, seseorang berdiri diam.

Maya.

Ia melihat semuanya.

Mendengar semuanya.

Namun kali ini, tidak ada senyum di wajahnya. Tidak ada tawa kecil seperti biasanya. Tatapannya dingin, dan tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.

“Berani ya sekarang…” gumamnya pelan.

Ia menatap ke arah Kayla sekali lagi, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Namun langkahnya tidak ringan.

Ada sesuatu yang tertahan.

Dan jelas… ini belum berakhir.

Di dalam kelas, suasana perlahan kembali bergerak, meski tidak ada yang benar-benar berani bicara. Reyhan kembali menatap Kayla, kali ini dengan ekspresi yang lebih lembut.

“Kamu gak sendiri,” katanya pelan.

Kayla mengangguk.

Matanya sedikit berkaca, tapi ia tidak membiarkan air mata itu jatuh.

“Iya…”

Jawabannya sederhana.

Namun kali ini, penuh arti.

Di balik semua kekacauan itu, Kayla mulai menyadari sesuatu. Bahwa dunia mungkin tidak selalu adil, bahwa orang-orang bisa berkata apa saja tanpa mengetahui kebenaran tapi selama ia tahu siapa dirinya, dan selama masih ada orang yang melihatnya dengan jujur ia tidak perlu takut.

Namun jauh di dalam hatinya, ia juga tahu satu hal. Ini belum mencapai puncaknya. Dan apa yang akan datang berikutnya mungkin akan jauh lebih besar dari ini.

Sore itu, suasana sekolah mulai sepi. Satu per satu siswa pulang, meninggalkan koridor yang perlahan kembali sunyi. Namun bagi Kayla, hari itu terasa jauh dari kata tenang. Meski ia berusaha terlihat biasa saja sejak kejadian di kelas, ada sesuatu yang masih tertinggal di dalam dirinya—rasa lelah yang tidak terlihat, tapi terasa.

Ia duduk diam di bangku taman dekat lapangan, menatap kosong ke arah langit yang mulai berubah warna. Buku di tangannya terbuka, tapi tidak benar-benar ia baca.

Langkah kaki mendekat.

“Kayla.”

Ia menoleh.

Reyhan.

Seperti biasa, tapi kali ini tatapannya lebih lembut.

“Kamu masih di sini,” katanya.

Kayla mengangguk kecil. “Belum pengen pulang.”

Reyhan tidak langsung duduk. Ia berdiri sejenak, seperti memikirkan sesuatu, lalu akhirnya berkata pelan, “Ikut aku sebentar, yuk.”

Kayla mengernyit. “Ke mana?”

Reyhan tersenyum tipis. “Udah, ikut aja dulu.”

Kayla ragu sejenak. Namun entah kenapa, ia berdiri juga.

“Yaudah…”

Mereka berjalan keluar area sekolah. Tidak jauh, hanya beberapa menit berjalan kaki. Di belakang, ternyata Raka dan Salsa sudah menunggu.

“Lama banget sih kalian,” keluh Raka.

Salsa langsung tersenyum melihat Kayla. “Akhirnya datang juga.”

Kayla sedikit bingung. “Ini… kita mau ke mana sih?”

Reyhan akhirnya berhenti di sebuah tempat sederhana—sebuah ruang kecil dengan jendela besar, di dalamnya ada beberapa kanvas, cat warna-warni, dan meja panjang.

Kayla menatap sekeliling.

“Melukis?” tanyanya.

Reyhan mengangguk. “Iya.”

Raka mengangkat bahu. “Gue juga baru tahu tadi.”

Salsa tertawa kecil. “Tapi seru kayaknya.”

Kayla masih diam.

Jujur saja… ini di luar dugaannya.

Reyhan berjalan masuk lebih dulu, lalu mengambil satu kanvas kosong dan meletakkannya di depan Kayla.

“Kamu gak harus jago,” katanya.

Kayla menatapnya.

“Hanya… keluarin aja apa yang kamu rasain.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi tepat.

Kayla duduk perlahan.

Di depannya, kanvas putih kosong.

Seperti pikirannya.

Seperti perasaannya.

Raka sudah mulai asal mencoret dengan warna cerah. “Gue gambar gunung aja lah, paling aman,” katanya santai.

Salsa mulai mencampur warna dengan serius. “Aku mau bikin pemandangan sore…”

Kayla masih diam beberapa detik.

Lalu perlahan… ia mengambil kuas.

Mencelupkannya ke cat.

Dan mulai menggores.

Awalnya pelan.

Ragu.

Namun semakin lama… semakin bebas.

Ia tidak tahu pasti apa yang ia gambar. Hanya garis, warna, dan bentuk yang muncul begitu saja. Ada warna gelap, ada warna terang. Ada bagian yang berantakan, ada yang halus.

Seperti perasaannya sendiri.

Reyhan tidak mengganggu.

Ia hanya duduk di samping, sesekali melukis juga, tapi lebih sering memperhatikan tanpa terlihat mencolok.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Untuk pertama kalinya hari itu… Kayla tidak memikirkan omongan orang.

Tidak memikirkan Maya.

Tidak memikirkan tekanan.

Hanya… dirinya.

Dan warna-warna di depannya.

Beberapa saat kemudian, Kayla berhenti.

Ia menatap hasil lukisannya.

Tidak sempurna.

Tapi… jujur.

“Aneh ya,” katanya pelan.

Reyhan menoleh. “Kenapa?”

“Kayak berantakan…”

Reyhan melihat kanvas itu.

Lalu tersenyum kecil.

“Enggak.”

Kayla menatapnya.

“Ini kamu,” lanjut Reyhan.

Kayla terdiam.

Raka tiba-tiba menyahut, “Kalau itu berantakan, punya gue apa dong? Bencana alam?”

Salsa langsung tertawa. “Itu bukan gunung, itu kayak es krim jatuh.”

Mereka semua tertawa kecil.

Dan di momen itu…

sesuatu terasa berubah.

Bukan dunia di luar.

Tapi hati Kayla.

Ia tersenyum.

Bukan senyum yang dipaksakan.

Bukan untuk menutupi sesuatu.

Tapi senyum yang… benar-benar muncul.

“Makasih ya…” katanya pelan.

Reyhan hanya mengangguk.

“Iya.”

Tidak perlu banyak kata.

Langit di luar mulai gelap.

Mereka membereskan alat-alat lukis, lalu keluar bersama. Angin sore terasa lebih sejuk.

Saat berjalan pulang, langkah Kayla terasa lebih ringan.

Masalahnya belum selesai. Isunya masih ada. Maya masih di sana. Namun sekarang ia tidak merasa sendirian. Ia punya tempat untuk kembali.

Punya orang-orang yang membuatnya tetap berdiri. Dan mungkin di tengah semua kekacauan ini ia mulai menemukan sesuatu yang lebih penting dari sekadar jawaban. Ia menemukan dirinya sendiri.

1
Ditzz
semangat buat kakaknya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!