NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Keesokan harinya, matahari sudah tinggi dan langit cerah.

Saat Xin Yuning, Zhao Yun, dan Rong Yuan baru saja menyeret tubuh mereka keluar kamar dengan wajah masih bengkak dan berantakan, mereka mendapati meja makan sudah rapi dan bersih.

Ternyata, Xin Yi sudah bangun sejak subuh buta.

Gadis itu melakukan rutinitas lari paginya menyusuri pinggir pantai yang sepi, menghirup udara laut yang segar, dan melakukan peregangan otot dengan lincah.

Saat mereka baru saja sarapan, Xin Yi sudah kembali dengan tubuh yang segar bugar, hanya sedikit berkeringat dan wajahnya bersinar cerah.

Melihat kondisi adiknya yang begitu sehat dan aktif, dibandingkan mereka bertiga yang terlihat lesu dan kumal... Xin Yuning dan teman-temannya hanya bisa terdiam canggung.

"......"

Gila, baru umur 18 tahun tapi disiplinnya seperti tentara. Kita yang malah kelihatan kayak pemalas di depan anak yang lebih muda. batin Zhao Yun merasa malu sendiri.

Setelah sarapan, Xin Yi merasa ingin berjalan-jalan sendirian. Ia mengikat rambut panjangnya menjadi kuncir kuda tinggi, membuat wajahnya terlihat lebih ceria dan energik.

Ia berjalan kaki menyusuri jalanan beraspal di area vila yang ia ingat. Jalanan itu bersih, berawa pepohonan rindang, dan sangat tenang.

Sesekali mobil-mobil mewah berlalu lalang melewati sisinya dengan cepat, namun Xin Yi tetap berjalan santai dengan tangan di saku celana, menikmati suasana baru ini.

Ia tidak tahu, bahwa di salah satu mobil yang melaju tidak jauh dari sana, seseorang sedang memperhatikan sosoknya itu dari balik kaca jendela yang gelap.

Jalan setapak yang teduh dan indah membuat Xin Yi betah berjalan lama. Akhirnya ia memilih berhenti di sebuah bangku taman yang teduh, tepat di bawah pohon besar yang di sekelilingnya tumbuh bunga-bunga kuning yang cantik dan bermekaran.

Pemandangan ini terlalu bagus untuk dilewatkan.

Tanpa sadar, gadis itu mengeluarkan ponselnya dan mulai memotret beberapa gambar—memotret bunga, pemandangan langit, dan bahkan mencoba memotret pantulan dirinya sendiri di lensa kamera dengan ekspresi santai.

Ia benar-benar sibuk dan terfokus pada layar ponselnya.

Tiba-tiba...

SENTUH!

Sebuah tangan menyentuh bahunya dari belakang dengan pelan, seolah ingin mengejutkan atau memanggilnya.

Namun, naluri bertahan hidup yang tajam dan kuat yang sudah terbentuk sejak kecil di desa langsung bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.

Tanpa menoleh atau melihat siapa yang datang, Xin Yi dengan gerakan cepat dan lincah langsung menangkap pergelangan tangan yang menyentuhnya itu. Menggunakan teknik bela diri sederhana namun efektif, ia memutar dan melempar tubuh orang itu ke depan!

BUK!

Suara bantingan terdengar cukup keras saat tubuh seseorang terhempas ke atas rumput hijau di hadapannya.

"......"

Xin Yi berdiri tegak dengan posisi siap siaga, matanya tajam menatap orang yang baru saja ia banting.

Namun saat melihat wajah orang itu terbalik menatap langit, mata bulat itu sedikit membelalak.

Orang yang tergeletak di rumput itu bukan orang jahat atau pencuri...

Tapi Quan Yubin!

Pria itu tampak sedikit terkejut namun tidak kesakitan, ia hanya menatap gadis di depannya dengan mulut sedikit terbuka dan alis terangkat tinggi.

"Wah... hebat juga refleksnya," gumam Quan Yubin pelan, tidak marah sama sekali, justru terlihat agak terkesan.

Menyadari siapa yang baru saja ia banting, ekspresi santai Xin Yi langsung berubah menjadi cemas.

"Kak Quan! Aduh, maafkan saya!" serunya cepat.

Dengan gerakan terburu-buru namun lembut, ia membantu Quan Yubin untuk bangun dari atas rumput. Matanya sibuk memeriksa lengan dan bahu pria itu dengan cemas.

"Pinggang Kakak tidak sakit? Lengannya tidak terkilir kan? Maaf... refleks saya terlalu kuat, saya tidak sengaja," ucapnya dengan wajah sedikit memerah karena rasa bersalah.

Ia merasa sangat tidak sopan sudah memperlakukan teman kakaknya yang begitu sopan dan baik hati dengan kasar seperti itu.

Di sisi lain, Quan Yubin sedang membersihkan sedikit debu di bajunya, namun pikirannya masih belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan.

Ia benar-benar terkejut setengah mati.

Bagaimanapun juga, dia adalah seorang pria dewasa dengan tinggi badan mencapai 190.cm cm dan tubuh yang berotot serta berat badan yang tidak ringan.

Sedangkan Xin Yi... gadis ini tubuhnya mungil, kecil, dan terlihat sangat imut seperti boneka.

Tapi nyatanya... dengan mudahnya gadis sekecil ini bisa menangkap pergerakannya dan bahkan melempar tubuh besarnya ke samping dengan begitu lancar dan kuat?!

"Kamu..." ucap Quan Yubin akhirnya, suaranya terdengar sedikit heran. Ia menatap tinggi badan Xin Yi yang jauh di bawah bahunya, lalu menatap mata gadis itu tak percaya.

"Kamu ini... sebenarnya semua tubuhmu berisi otot kan? Bagaimana bisa kamu sekuat itu? Aku saja hampir tidak sempat bereaksi," katanya jujur dengan alis masih terangkat.

Xin Yi hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, agak canggung.

"Dulu sering mengangkat beban berat dan belajar bela diri sendiri di desa," jawabnya pelan.

Quan Yubin terkejut.

Gadis ini makin lama makin membuat orang penasaran. Cantik, pintar, tenang, tapi ternyata punya kekuatan fisik yang luar biasa.

Mereka berdua akhirnya duduk bersampingan di bangku kayu itu. Angin sepoi-sepoi bertiup membuat suasana menjadi sangat tenang dan cocok untuk mengobrol.

Mereka duduk dibangku dipingiran jalan.Quan Yubin menatap wajah profil gadis itu dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Jadi... bagaimana sebenarnya kehidupanmu di desa sana? Pasti sangat berbeda jauh dengan di sini kan?" tanyanya pelan.

Xin Yi menatap jauh ke depan, matanya tampak menerawang mengingat masa lalu. Dengan nada suara yang tenang dan datar, ia menjawab,

"Di sana cukup menyenangkan. Suasananya hidup dan ramai karena semua orang saling kenal dan sering berteriak memanggil satu sama lain. Tapi meski berisik, tidak ada pertengkaran serius atau kejahatan. Semuanya hidup rukun."

Ia tersenyum tipis.

"Saya hidup baik-baik saja di sana. Bekerja, makan, dan tidur. Sangat sederhana tapi bahagia."

Quan Yubin mengangguk paham, lalu kembali bertanya mengenai hal yang masih mengganjal di pikirannya.

"Kalau begitu... siapa yang sebenarnya mengajarimu bela diri dan teknik pertahanan diri sehebat itu? Gerakanmu tadi sangat profesional, bukan cuma main-main."

Xin Yi menjawab dengan santai,

"Itu diajarkan oleh Kakek Peng. Dia adalah pensiunan tentara yang tinggal sendirian di dekat rumah saya dulu. Beliau yang mengajari saya cara bertahan diri dan memperkuat fisik."

"Lalu untuk pelajaran sekolah dan pengetahuan umum..." lanjut gadis itu. "Ada Nenek Zhang, istri Kakek Gu. Beliau dulunya profesor di universitas besar. Beliau yang mengajari saya membaca, menulis, dan berbagai ilmu pengetahuan sampai saya bisa setara dengan anak kota."

DEG!

Wajah Quan Yubin berubah terkejut luar biasa.

Pensiunan tentara dan mantan profesor universitas?!

Jadi bukan sembarangan orang desa yang mengajarinya! Xin Yi ternyata mendapatkan bimbingan dan pendidikan dari orang-orang hebat dan ahli di bidangnya masing-masing!

Tidak heran jika gadis ini memiliki pengetahuan yang luas, cara bicara yang sopan, serta fisik yang kuat dan disiplin tinggi.

"Jadi begitu..." gumam Quan Yubin pelan, matanya memandang Xin Yi dengan pandangan baru yang penuh rasa hormat.

"Kamu sungguh anak yang beruntung mendapatkan bimbingan dari orang-orang hebat itu. Dan mereka juga pasti sangat bangga memiliki murid secerdas dan sekuat kamu."

Xin Yi hanya mengangguk pelan setuju. Ia merasa bersyukur pernah bertemu dengan orang-orang baik yang membimbingnya.

Kemudian, ia menoleh perlahan dan menatap lurus ke arah Quan Yubin yang duduk di sebelahnya.

Saat itulah, Quan Yubin sempat terpaku sejenak.

Mata Xin Yi itu bulat sempurna dan berwarna gelap pekat, seperti dua keping batu giok hitam yang sangat jernih namun juga sangat dalam.

Saking gelap dan tajamnya tatapan itu, orang yang melihatnya dari dekat akan merasa sulit untuk menebak apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan atau rasakan.

Matanya indah, namun menyimpan misteri. Seolah ada dinding tak kasat mata yang membuat orang sulit untuk benar-benar mendekatinya, meskipun gadis itu duduk tepat di sampingmu.

"Kenapa Kakak menatap saya seperti itu?" tanya Xin Yi polos, bingung dengan reaksinya.

"Tidak..." Quan Yubin tersadar dan segera memalingkan wajahnya sedikit, menyembunyikan rasa takjubnya. "Hanya berpikir... matamu sangat unik. Seperti bisa melihat segalanya tapi sulit ditebak isinya."

Xin Yi mengedipkan matanya beberapa kali, menatap Quan Yubin dengan wajah semakin bingung.

Ia tidak terlalu mengerti arti kalimat puitis dan mendalam yang baru saja diucapkan pria itu.Baginya, mata itu hanyalah alat untuk melihat, tidak ada yang istimewa atau misterius seperti yang dikatakan.

"Begitu..." ucapnya singkat, tidak bertanya lebih lanjut.

Gadis itu pun kembali membalikkan wajahnya, menatap pemandangan laut biru yang terbentang di hadapan mereka.

Suara deburan ombak yang menghantam karang terdengar berirama, wusss... bruk... wusss... bruk...

Suara alam itu jauh lebih mudah dimengerti dan menenangkan daripada teka-teki kata-kata orang dewasa. Xin Yi menikmati hembusan angin yang menyapu wajahnya, membiarkan pikirannya melayang kosong dan damai bersama irama laut.

Beberapa hari berlalu dan Xin Yuning mulai merasa ada yang aneh pada temannya, Quan Yubin.

Pria yang biasanya dingin dan tidak terlalu memperhatikan sekitar, entah kenapa sering sekali menyempatkan diri melirik atau memperhatikan ke arah Xin Yi.

Tatapannya itu... sulit dijelaskan, tapi membuat Xin Yuning merasa sedikit waspada dan posesif.

Ada apa dengan pria Quan ini... batinnya curiga.

Siang itu, mereka semua berada di pantai pribadi milik vila. Suasana sangat cerah dan menyenangkan. Mereka sudah hampir satu minggu berlibur, dan rencana dua hari lagi mereka akan kembali ke Kota A.

Para pria—Xin Yuning, Zhao Yun, dan Rong Yuan—hanya mengenakan celana pendek pantai, tubuh mereka yang berotot berkeringat terkena sinar matahari. Mereka sedang asyik bermain air, berkejar-kejaran dan menyiram air satu sama lain dengan riang.

Bahkan Huo Feilin pun tampak sangat percaya diri. Wanita itu mengenakan bikini elegan yang menutupi tubuhnya dengan cantik, sedang berbaring santai di kursi panjang menikmati berjemur dengan anggun.

Sedangkan Xin Fuyang tertidur di kursi santai di samping istirnya.

Namun, berbeda dengan yang lainnya...

Xin Yi tampak seperti orang baru di tengah keramaian itu.

Karena kulitnya baru saja memutih dan ia masih agak pemalu, gadis itu memilih memakai kaos oblong putih dan celana renang panjang sampai di atas lutut. Penampilannya tertutup rapat, tapi tetap terlihat imut dan nyaman.

Alih-alih bermain air atau berjemur, ia justru duduk jauh di pinggir pantai yang agak kering dan teduh karena pohon kelapa.

Di tangannya terdapat mainan anak-anak: sebuah ember plastik berwarna cerah dan sekop kecil.

Xin Yi tampak sangat serius dan fokus. Ia sibuk menggali pasir, menimbunnya, dan membentuk sesuatu yang rumit. Mulutnya mengerucut sedikit, matanya tajam menatap tumpukan pasir itu.

"Eh... lihat tuh," seru Zhao Yun dari dalam air sambil tertawa. "Orang lain pada main air, si kecil malah asyik main pasir sendirian kayak anak TK!"

Xin Yuning melirik dan tersenyum lembut.

"Biarkan saja. Dia kan baru umur 18 tahun, sifat aslinya memang masih seperti anak kecil kalau lagi santai gitu. Lagipula, dia jarang bermain waktu kecil."

Quan Yubin yang berdiri di tepi air hanya diam menatap punggung kecil itu.

Gadis ini... benar-benar unik. Di satu sisi dewasa dan kuat, di sisi lain bisa sebahagia ini hanya dengan pasir dan air laut.

 

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!