NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SYARAT DI RUANG CEO

Maheer menghentikan mobilnya dengan napas yang masih sedikit memburu. Ia keluar dari kendaraan dan menatap gedung tinggi yang berdiri kokoh tepat di samping gedung Arasyid Group, hanya terpisah oleh sebuah bangunan bank swasta. Di puncak gedung itu, huruf krom besar bertuliskan A.R Designer berkilauan tertimpa cahaya matahari. Maheer terpaku. Selama ini ia melewati jalanan ini setiap hari, namun tak pernah sekalipun ia menyadari bahwa istana bisnis istrinya berada begitu dekat dengannya.

Ia segera melangkah menuju pintu lobby dengan penuh keyakinan. Namun, baru saja dua langkah melewati pintu kaca, dua orang petugas keamanan berseragam lengkap langsung menghadangnya.

"Maaf, Tuan. Ada keperluan apa? Apakah sudah ada janji dengan Nyonya Assel?" tanya salah satu petugas keamanan dengan sopan namun tegas.

Maheer sempat melihat kedua petugas itu tertegun sejenak, mungkin karena wajahnya yang sangat mirip dengan almarhum Muzammil. Namun, mereka segera kembali ke sikap profesional.

"Aku suaminya. Aku ingin bertemu dengan istriku," jawab Maheer santai.

Kedua petugas itu saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka tertawa kecil yang terdengar meremehkan. "Tuan, jangan bercanda. Kami semua tahu kalau suami Bos kami sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Jangan mencoba menipu kami dengan kemiripan wajah Anda."

Maheer menghela napas panjang, berusaha menahan emosi. "Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan silsilah keluarga besar Arasyid pada kalian. Sebaiknya hubungi atasan kalian dan katakan Maheer Arasyid ada di sini."

Melihat keyakinan di mata Maheer, petugas itu akhirnya ragu. Salah satu dari mereka pergi ke meja resepsionis dan berbicara dengan seorang wanita di sana. Tak lama, wanita itu melakukan panggilan telepon. Selang beberapa menit, lift terbuka dan seorang wanita berhijab dengan jas hitam, Dia sekretaris Assel yang bernama Laras, ia terlihat berlari kecil menghampiri.

"Tuan Maheer! Maafkan petugas kami, mereka belum tahu," ujar Laras dengan napas terengah. "Mari, silakan ikut saya ke lantai atas. Nyonya sudah menunggu."

Sesampainya di lantai atas, Maheer kembali dibuat kagum. Ruangan itu luas, modern, dan dipenuhi oleh puluhan desainer yang sibuk dengan sketsa serta kain-kain mahal. Laras menuntunnya menuju sebuah pintu kayu ek besar bertuliskan Chief Executive Officer.

Setelah ketukan pintu dan suara izin dari dalam, Maheer masuk. Di balik meja besar, Assel tampak sedang serius menandatangani tumpukan fail. Ia hanya melirik Maheer sekilas dengan tatapan datar yang tidak terbaca.

"Duduklah. Aku selesaikan ini sebentar," ujar Assel singkat.

Maheer memilih duduk di sofa panjang yang terletak di sudut ruangan, menunggu hingga Assel menutup map terakhirnya. Wanita itu kemudian bangkit, berjalan anggun, dan duduk di sofa yang berseberangan dengan Maheer.

"Ada perlu apa? Jika ini soal surat yang aku minta tadi, aku akan menyuruh pengacaraku ke kantormu besok," tanya Assel tanpa basa-basi.

"Assel, bisakah kita bicara sebagai suami istri? Aku ingin meluruskan kesalahpahaman tentang wanita tadi," pinta Maheer dengan suara rendah.

Assel menyandarkan punggungnya, wajahnya tetap tenang meski hatinya bergejolak. "Kesalahpahaman apa? Aku rasa itu bukan salah paham. Maheer, kau masih muda. Wajar jika kau memiliki seseorang yang bisa membuatmu bahagia. Jangan bebani dirimu dengan pernikahan yang hanya akan menyiksamu karena wasiat. Aku dan Razka akan baik-baik saja tanpa ikatan formal ini. Aku yakin Mas Muzammil akan paham."

Dada Maheer terasa perih mendengar betapa mudahnya Assel melepaskannya. Namun, ia segera menepis rasa sakit itu dan menatap Assel tajam.

"Sudah selesaikan semua yang ingin kau katakan?" tanya Maheer. Assel terdiam. "Sekarang giliranku. Dan jangan menyela sampai aku selesai."

Maheer kemudian menjelaskan segalanya. Tentang Ricardo, tentang kecelakaan di Australia, dan tentang status Lusi yang hanya ia anggap sebagai adik demi menunaikan janji pada mendiang temannya. Ia menekankan bahwa sejak perpisahan mereka tujuh tahun lalu, ia tidak pernah menyentuh atau menjalin hubungan dengan wanita manapun karena hatinya masih tertinggal pada Assel.

Maheer bangkit dari sofa, lalu secara perlahan ia bersimpuh di lantai, tepat di hadapan Assel. Ia menatap mata wanita itu dengan sorot yang begitu sedih dan tulus.

"Maafkan aku atas kebodohanku di masa lalu, Assel. Berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita yang pernah kandas. Aku tidak bisa mencintai wanita lain karena namamu sudah terpatri terlalu dalam di sini," ucap Maheer sambil menunjuk dadanya.

Assel hanya terdiam. Di dalam hatinya, ia merasa hampa. Cintanya pada Maheer memang pernah begitu membara, namun seiring waktu dan kesempurnaan cinta yang diberikan Muzammil, rasa itu telah lama pudar tanpa bekas.

"Jangan buat aku tersiksa dengan bayangan Kak Muzammil yang menuntut wasiatnya. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk mencintaiku sekarang. Cukup berada di sampingku, itu sudah lebih dari cukup," pinta Maheer lagi, matanya mulai berkaca-kaca. "Jangan ucapkan kata cerai lagi. Allah membenci perceraian, dan dosaku padamu dan Kak Muzammil sudah terlalu banyak. Tolong, jangan tambah lagi."

Assel menarik napas panjang, melihat kesungguhan dan kerapuhan pria di depannya. Akhirnya, ia mengangguk pelan. "Baiklah, aku ikuti perkataanmu. Tapi dengan satu syarat utama."

"Apa pun, Assel. Sebutkan saja," jawab Maheer cepat.

"Kau tidak boleh menuntut apa pun yang tidak bisa aku berikan. Baik itu perasaan, maupun hak-hak biologis jika aku belum siap," tegas Assel.

Maheer tersenyum tipis, merasa sedikit lega. "Baiklah, aku setuju. Aku tidak akan menuntut, karena aku tahu kau lebih paham tentang hukum agama dalam rumah tangga daripada aku."

Assel mendengus mendengar 'sentilan' halus dari suaminya itu. "Sudahlah, sekarang kembalilah ke kantormu. Aku sedang banyak pekerjaan."

Assel bermaksud bangkit, namun tiba-tiba Maheer melakukan hal yang tak terduga. Dengan cepat, ia merebahkan kepalanya di pangkuan Assel yang sedang duduk.

"Terima kasih, Istriku. Terima kasih karena memberikan suami yang berdosa ini kesempatan untuk selalu berada di sampingmu. Aku berjanji akan mencintaimu seumur hidupku dan melindungi kalian," gumam Maheer manja.

Assel bergidik ngeri, bulu kuduknya meremang. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong kepala Maheer hingga pria itu nyaris terjungkal dari lantai.

"Iikh! Apa-apaan sih kamu! Lebay banget!" bentak Assel dengan wajah jutek namun pipinya merona merah. "Pergi sekarang atau aku panggil security beneran!"

Maheer tertawa lepas, ia segera berdiri dan merapikan jasnya. "Baiklah, Nyonya Arasyid yang galak. Aku pergi dulu. Tapi sebelum itu..."

Tanpa aba-aba, Maheer mencondongkan tubuhnya dan memberikan kecupan kilat di pipi Assel. Chuu!

"I love you, muach!" seru Maheer sambil berlari kearah pintu.

"MAHEER! KAU!" teriak Assel dengan mata membulat sempurna, tangannya sudah melayang ingin melempar map, namun Maheer sudah lebih dulu menghilang di balik pintu.

"Assalamualaikum, Istriku yang cantik!" suara Maheer terdengar dari balik pintu yang tertutup rapat.

Assel terengah-engah, dadanya naik turun karena emosi yang meluap. Ia mengusap pipinya yang terasa panas. "Dasar gila! Benar-benar gila!" umpatnya ketus. Namun, di tengah kekesalannya, ia merasakan getaran aneh yang sudah lama tidak ia rasakan—sebuah getaran yang membuatnya merasa sedikit lebih 'hidup' di tengah kedukaan yang ia jalani. Ternyata, menghadapi Maheer yang manja jauh lebih melelahkan daripada mengurus ratusan karyawan desainnya.

1
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪
partini
lebih tau agama hemmm pintar kamu her
Lia siti marlia
cie cie yang di kasih kesempatan dah langsung nyosor aja tuh 🤭🤭🤭lanjut thorr😍😍
Lia siti marlia
ok maherr ...semangat up nya thorrr💪💪💪😍
Radya Arynda
semangaaaat up💪💪💪💪
Nifatul Masruro Hikari Masaru: selamat berjuang
total 1 replies
Nana Biella
rasa percaya hilang setelah melihatmu her
Nur Halida
bukannya masih nikah siri??
Lia siti marlia
hehehe itu kan jurang yang kau ciptakan sendiri maher jadi nikmatilah 🤭🤭🤭
partini
hemmm see muncul jalangkung wkwkkk
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
Radya Arynda
semangaaat up up up💪💪💪💪
Rarik Srihastuty
ceritanya bagus
Radya Arynda
ceritqnya bagus👍👍👍👍
Radya Arynda
semangaat up
Lia siti marlia
swmoga saja 💪selamat berjuang maherr💪😍
Silvia
cerita nya bagus
partini
💯bayang masa lalu lah apa lagi nanti yg 7 tahun di luar negri ga mungkin ga punya something apa lagi pergi pas hati kesal ,,siap" aja si jaelnagkung datang minta pertanggungjawaban
Irni Yusnita
ceritanya menarik 👍 sekaligus enak dibaca, lanjut Thor 👍
Daulat Pasaribu
seru juga novelnya thor...lanjut dong thor😍
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
Lia siti marlia
sedikit sedikit mulai mencair mulai saling menerima 😍😍🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!