NovelToon NovelToon
Rekah Rasa Di Ambang Senja

Rekah Rasa Di Ambang Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:400.7k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.

Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.

***

Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.

Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?

~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"

"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Bentuk lain dari cemburu

Menunggu barangnya dihitung cukup untuk Afif beberapa kali melirik Lova, memandang secara keseluruhan sang istri dari samping tentu saja.

Rambut sepunggung yang hitam berkilau, dihiasi bando plastik segaris berwarna merah muda.

Selalu, wajah cantik remaja yang ia temukan dengan kepolosan dan raut ceria, tatapannya turun semakin ke bawah pada pakaian yang belakangan ini seolah menamparnya begitu keras tentang perbedaan usia.

Benar... berkali-kali ia meyakinkan diri jika rentang usianya dengan sang istri memang cukup jauh, tapi sejak awal bukankah itu tak menjadi masalah berarti? Bahkan sekarang sudah ada di titik ia menikahinya.

Tapi satu nama itu, nama yang sempat ia lihat di selembar kertas merah muda, yang bahkan terlipat-lipat kusut dan mungkin saja tak berarti apapun sekarang untuk Lova berhasil memukul dan menjebleskan rasa percaya dirinya cukup dalam.

Afnan? Apakah ada nama Afnan lain di hidup Lova? Apakah Afnan Syauqi? Bukankah tidak saling mengenal? Meski yaa tentu saja satu sekolah tidak mungkin tak tau...

Sejak kapan? Apakah masih? Seperti apa Afnan yang namanya itu dibubuhi tanda love? Dan isinya? Oh ayolah ia ingin segera membaca isi suratnya sesampainya di rumah.

Tentang secarik kertas usang terlupakan yang kini memantik rasa penasarannya, tentang masa lalu yang kembali ia tarik ke dalam ingatan bahwa pernikahan ini terjadi karena Lova yang patah hati, sebegitu sakit dan menorehkan luka kah Afnan ini? Ia hanyut dalam gelap.

Lova mengangguk, menemukan Afif yang mendadak diam membisu tanpa ekspresi. Saat kasir apotek sudah menyebutkan nominal pembayaran.

"Mas," coleknya.

"Ya?"

Ia memiringkan kepalanya dan berbisik, "bayar, astaga ...mas ngantuk atau apa, kok malah ngelamun? Ihhh jangan ngelamun disini mas, aku ngga mau mas tiba-tiba kesurupan..." Lova mengehkeh, tapi Afif sungguh tak mau ikut merasa lucu.

"Oh,"

"Berapa kak?" tanya Afif lagi, ada senyum geli yang di lemparkan kasir apotek itu, "50 ribu, pak."

Dan yeah! Pak..Afif mendengar itu dengan jelas. Kenapa ia baru merasa sekarang? Apa ini, perasaan tak enak ini yang sungguh mengganggu, apakah ia sedang sensitif? Lelah, padahal lelaki tak ada masa masa pms.

Senyap, hanya deru mesin mobil, AC dan yahhh bunyi detakan lampu sen sesaat sebelum Afif membelokan stirnya. Gerakan bergeser atau gesekan benda tanpa ada obrolan manusia.

Itu sungguh mengganggu, terlebih Lova...Afif melirik istri kecilnya yang sibuk dengan ponsel, cengengesan dengan sesekali bunyi denting atau getaran notifikasi dari samping.

Lalu tatapannya mendarat pada wajah Lova yang tersirami cahaya pantulan ponsel, binar bahagianya, sepenting itukah orang yang sedang bertukar pesan, ada orang yang bisa membuat Lova sangat senang? Tapi bukan dirinya?

Ekhem. Afif berdehem.

"Kenapa mas, batuk, sakit tenggorokan? Mau minum?" Lova notice dan bergegas mengambil tumbler miliknya menyerahkan itu pada Afif, tapi sang suami malah menggeleng, menolaknya, "saya boleh tanya?"

Lova kembali menoleh, tanpa menaruh ponsel yang ada di tangannya, "nanya apa sih mas? Biasanya juga langsung tembak .."

"Di sekolah kamu sama Uqi ngga sekelas?"

Yeah! Afif melihat perubahan air muka Lova, meski tak begitu jelas, "oh, engga. Emang sebelumnya mas ngga tanya sendiri sama Uqi? Waktu ngajarin aku ngaji. Sebelum kita nikah?"

Afif hanya menggidikan tak acuh.

Lova kembali melanjutkan kesibukannya mengetik di ponsel tak menghiraukan wajah yang sepertinya tak puas dengan jawaban Lova.

Hingga akhirnya pertanyaan itu lolos, "ada berapa orang Afnan yang kamu kenal selama ini?"

Lagi, wajah Lova tampak clueless tapi ada raut risih, janggal dan, "satu. Uqi kan dipanggilnya Afnan kalo di sekolah."

Kini tatapan keduanya menyiratkan sesuatu yang janggal, "kenapa, mas?" tanya Lova dengan nada yang mulai tak enak hati, begitupun saat ia melihat sorot mata Afif yang mendadak redup.

"Ngga apa-apa."Geleng Afif.

Diam.

Hening.

Hanya bunyi benda mati saja yang terdengar.

Tak ada kehangatan yang tercipta sekalipun dari sorot mata. Hingga mereka sampai tepat di rumah.

"Baru pulang to?" Abi menyambut kedatangan anak dan mantunya, begitupun Lova yang menaruh oleh-oleh bawaan dari rumah bunda di meja ruang tengah. Dimana sudah dua hari ini Afnan lebih sering menghabiskan waktunya di lantai bawah.

"Wah, apa nih?" tanya Afnan.

"Cobain, enak loh...makanan favorit aku. Umi pasti tau deh soalnya bunda bilang sering beli sama umi juga kesini..." tunjuk Lova ke arah keresek dengan logo toko kue.

"Toko kue prima rasa pasti nih, risol mayo, carabikang?" tebak umi benar memancing tawa Lova yang melengos masuk ke dalam kamar Afif, "umi betul! Dapat gelas! Nanti minta sama mas, ya!"

Tawa Abi Insan masih terdengar sayup di ruang tengah itu, menyahuti ocehan Lova, mengisi kehangatan yang kian terasa.

"Tumben disini terus?" pertanyaan itu tiba-tiba lolos dari mulut Afif yang menyusul masuk setelah menjinjing tas kain dari bangku belakang dan masuk, bersamaan dengan Afnan yang baru saja hendak melahap risoles, memburu bawaan Lova yang baru saja ditaruh si empunya tadi, jelas pertanyaan itu terlempar untuk sang adik sebab sorot mata Afif yang langsung tertuju padanya.

"Apa sih, mas....biasanya juga disini." Umi menengahi sementara Afnan, ia hanya mendengus tak begitu mengindahkan ucapan masnya itu.

"Ngga boleh?" tapi sungguh pertanyaan yang dianggap Afnan itu candaan ditanggapi lain oleh Afif sekarang. Sorot matanya...mendadak tajam meski tak bicara apapun disana, ia tahan dan hembuskan lewat nafas berat, "tumben aja. Biasanya duniamu di lantai atas terus. Harus tumpengan kamu turun terus disini, ada yang asik ya?" nada itu datar tapi sedikit sumbang.

Umi hanya mendengus geli dan mengehkeh tak menganggap jika Afif serius, mungkin karena siapapun sangat hafal putra pertamanya itu sosok yang datar.

"Besok berangkat, jadi mas?" tanya Abi cukup berhasil mengalihkan emosinya.

"Jadi lah bi. Wong sudah dikasih liburan berdua kok ya ngga diambil, sayang. Afif dan Lova memang butuh ini. Liburan berdua bisa jadi opsi baik untuk membentuk bonding, memupuk subur kebersamaan." Jawabnya kini berlalu ke arah dapur.

Ia melirik sang adik yang terlihat anteng nyemil risoles sambil memperhatikan televisi, "ngga ngaji kamu? Coba kutes sudah sejauh mana bacaanmu, biar ngga kendor?! Bukannya cita-cita mau IIUM Malay?"

"Minimal UIN Jakarta atau Jogja lah." Lanjutnya lagi.

"Yang di Bandung juga ngga kalah bagus kan, cocok ada kamu yang juga jadi dosennya." Bukan Afnan tapi Abi yang bicara.

Alih-alih menyetujui, Afif justru menggeleng, "maunya Uqi jurusan apa dulu. Jangan plin plan, kamu mau kemana? Menurutku cocok di Jakarta, lebih beragam, ada Dirasat Islamiyah, Syariat dan Hukum, Tarbiyah dan keguruan."

"Kalo, Lova...sudah ditanya? Mau kemana?" tanya umi.

Afif yang sudah meneguk segelas air putih dingin kembali ke ruangan tengah, menatap wajah adiknya dengan air muka yang sulit ditebak, "Lova mau kubujuk buat kuliah di tempatku ngajar, mi."

Afnan menaikan alisnya menatap sang kakak, "emangnya dia mau? Setauku Lova ngga begitu suka ilmu keislaman begitu."

"Kamu tau banget Lova kayanya?" tanya Afif.

.

.

.

.

1
Ney Maniez
aduhhh lovaa sbnrnya GK ditolak 😂
tapiii itu dah terlambat 😂😂
Elshanum
Selalu suka 🥰
Rusmirus
baru baca, awal cerita yang menarik, dari penulisan dan bahasa yang digunakan juga jadi kaya langsung masuk kedalam cerita.. okelahh kita lanjutkan baca nyaa, semoga seru yahhh kak baru lagi baca noveltoon cerita baru, biasanya selalu ngulang ngulang novel yang udah lama...
Astrid Kucrit
tapi lova kan sekarang cinta ayang afif kan ya va yaa
Aca
up lagi plisss tehh🤣😭
MPit Mpit MPit
hahahaha hahaha pakaian udah ukhti kalo ngomong masihhh bahlul..😂😂😂😂 akuh suka akuh suka
Christine
serius vy....ada hidayah...🤭🤭🤭🤭
Bunda Idza
akhirnya kebenaran muncul juga kepermu6ya Va..... ternyata perasaanmu bukan tidak terbalas, tapi tidak terbaik menurut pemilik hatimu, kini Allah SWT telah tetapkan yang terbaik untukmu Va.... genggam yang kuat meniti jalan ridho-Nya agar kelak tetap bersama hingga di kehidupan abadi/Jannah -Nya
Rosyani Rini
helehhhhh.... ketahuan 🤣🤣🤣
Diaz Nayla Az Zahra
nah....lho.....ngaruh gak va denger pengakuan Afnan....gak lah ya....secara mas Afif jauh lebih2 dari Afnan...Afnan mah masalalu,masa sekarang dan masa depan hanya mas Afif seorang 🥰
Bulan-⁶
tapi cara kamu buat nolak lova terlalu sadis nan tapi sukses sih buat lova jadi sakit hati
Ernaaaaa
awassss Kade ipar adalah maut xixixii
Tiffany_Afnan
besti gesrek 🤣
dyah EkaPratiwi
cobaan apalagi ini
ieda1195
pertama begitu va, entar lama lama kmu juga terbiasa, klo kmu udah terbiasa, ntar kki gk pake berasa malu, berasa ada yg kurang, dan gk pede,
ieda1195
wkwkwkwk, jawaban yg baik,
masih mending dibilang kunti, gk dibilang wewe gombel
ieda1195
berpenampilan muslimah bukan berarti katro sih va, sekarang banyak contoh outfit muslimah yg keren keren kok
Iccha Risa
aelaah teuing bulet, emang tahu... gpp juga gendut namanya juga kelebihan cinta mas Afif yee🤭
Daisy❤️HilVi
ngucur itu bukan netes lg🤭
Trituwani
nggak denger...
nggak denger....
anggep angin kentutt va....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!