NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 Makan Malam Ndalem

"Sudah siap?" Santaka mengelus kepala istrinya. Kebiasaan baru yang melenakan, bagi keduanya.

Nandini terkikik. "Mau makan malem saja kayak mau perang."

"Yaa, resiko makan sama polisi, hahaha... Saya jadi ikut-ikutan Mbak Dini bilang Ning Sarah itu polisi... Ck, Mbak Dini ini bawa pengaruh buruk buat saya." Santaka mengulum senyum.

"Enak saja! Nandini menonjok pelan lengan sang suami. Santaka terkekeh karena pukulan itu. Tak sakit sama sekali. Malah membuat hati berdesir.

Sang Gus menangkap tangan yang sudah lancang memukulnya, ia genggam dan remas tangan halus itu. "Nakal nih, berani nonjok suami."

Nandini tertunduk sambil mesem. Dengan tangan terayun yang saling menggenggam erat, mereka berjalan menuju ruang makan Ndalem. Entah masih murni skenario atau sudah ada campur aduk tulusnya perasaan.

Ternyata mereka menjadi pasangan pertama yang tiba di meja makan. Menyusul kemudian pasangan komandan polisi dan polisi, Abyasa dan Sarah. Baru pasangan adem nan suportif, Danendra dan Husna.

Abyasa dan Sarah sudah memiliki dua orang anak. Sepasang. Anak pertama lelaki, usianya delapan tahun. Zaky Ammar Al Fatih. Yang kedua Zaskia Amaliyah Al Fatih, lima tahun.

Danendra dan Husna baru dikaruniai satu anak perempuan berusia tiga tahun. Namanya Afifa Amanina Al Fatih.

Pernikahan Santaka dan Nandini diharapkan dapat menggenapkan jumlah cucu Mansur dan Lastri. Bagaimana mau menggenapkan, proses pembuatannya saja jauh dari rencana? Tak diketahui hilalnya.

Anak-anak memiliki waktu makan yang berbeda. Mereka makan sebelum magrib. Sesuai sunnah Rasul. Warga Ndalem biasanya juga seperti itu.

Makan malam setelah Isya atau agak malam, hanya di hari tertentu saja. Agar semua dapat berkumpul pascaberkegiatan seharian. Biasanya mengikuti titah Mansur sebagai kepala keluarga.

Begitu tiba, Sarah langsung memindai penampilan Nandini. Aman. Wajah istri Santaka itu juga tak menampilkan urat sewot, ketus, seperti biasanya. Bagus. Sarah benar-benar bak penilik khusus Nandini.

Nandini yang sadar sedang dalam peninjauan Sarah hanya tersenyum pada kakak ipar tertuanya itu. Maunya berpose bak artis, menggoda Sarah, tapi ia takut Abyasa akan membalikkan meja makan melihat aksinya.

Santaka mengelus genggaman tangannya dan Nandini. Ia sadar istrinya sedang jadi pusat perhatian Sarah. Ia bermaksud menguatkan dengan sentuhan itu. Nandini balas dengan tersenyum.

Mereka berdua sudah terlalu sering berakting, jadi mulai bablas. Tak bisa membedakan ini akting atau asli. Mulai nyaman satu sama lain.

Mansur dan Lastri memasuki ruang makan. Makan malam pun dimulai. Pembicaraan seru mulai mengalir, topiknya tentu saja tentang Al Fatih.

Semua bergulir dengan tenang. Tiba-tiba sang komandan polisi Ndalem, Abyasa, mencetuskan satu topik. Tak suka rupanya jika suasana tenang.

"Taka, kamu sudah denger kan kalau Abi mau Al Fatih semakin melek dengan perkembangan zaman. Butuh anak muda sebagai motor penggerak.

Kamu ndak mau gabung? Sampai kapan kamu mau lari dari tanggung jawab?"

Santaka memelankan kunyahannya. Bahunya menegang. Ia berusaha melanjutkan mengunyah dan menelan makanannya. Terasa seret untuk ditelan. Padahal menu malam ini bebek goreng, kesukaannya.

Nandini mengulurkan gelas untuk suaminya. Santaka menerimanya sambil tersenyum.

"Sudah banyak kan tim Mas Yasa? Sejauh ini juga sudah luar biasa perkembangan pondok. Taka mendukung saja. Bantu sedikit secara finansial dan dari belakang layar." Santaka menipiskan bibirnya.

"Tapi kan mereka bukan kamu, adik Mas Yasa. Tetep beda. Mas mau kita bertiga, lengkap, jadi garda terdepan. Sampai sekarang ndak jelas apa alasan kamu, ndak mau jadi pengurus inti." Abyasa menatap tajam adik bungsunya.

Santaka merasa pelipisnya begitu berdenyut. Dadanya sesak. Ia sudah berusaha berdamai dengan alasannya tak aktif di pondok. Ia tak mau mengungkitnya lagi.

"Ya sudah, Mas. Ndak apa-apa, kita berdua dulu saja. Mungkin Taka masih butuh waktu buat ngembangin usahanya. Tokonya kan baru setahun buka. Masih repot." Danendra bersuara. Tak ingin adiknya terus ditekan.

Mansur mengelus jenggotnya. Sejujurnya rasa kecewa, sedih, masih bergelayut di hatinya jika mengingat penolakan sang anak bungsu untuk ikut membangun Al Fatih.

Lulus SMA, Abyasa dan Danendra berkuliah di Kairo. Mendalami ilmu agama. Santaka malah memilih berkuliah di NHI, Bandung untuk memperkuat kecintaannya pada dunia kue dan kuliner. Benar-benar melenceng.

Jika bukan karena Lastri, Mansur benar-benar marah pada Santaka. Lastrilah yang menenangkan suaminya. Menyadarkan bahwa dalam suatu keluarga terkadang ada anak yang berbeda, dan itu adalah bentuk ujian hidup mereka.

"Alasan terus. Dulu lulus kuliah malah sibuk kerja di hotel, di Bandung. Sampai Umi nangis nyuruh pulang ke Solo. Mau sampai kapan Taka? Toko kasihlah ke asisten kamu. Atau suruh saja Mbak Dini yang pegang toko. Kamu fokus di pondok." Abyasa mengetatkan rahangnya.

Santaka mengembuskan napas panjang. Herannya dadanya tetap sakit. Nandini mengelus lengan suaminya.

"Taka belum dapat karyawan yang benar-benar mumpuni, Mas. Maaf belum bisa ninggalin toko begitu saja. Ada nasib karyawan yang harus Taka pertanggungjawabkan. Mereka tulang punggung buat keluarga mereka.

Masalah Mbak Dini yang pegang toko, maaf sebagai suami, Taka ndak izinkan. Jangan kasih istri Taka semakin banyak beban."

Rahang Abyasa semakin mengetat. "Terus fungsi kalian berdua di sini apa? Kamu ndak mau berkontribusi nyata, istri kamu masih harus banyak belajar."

Santaka memalingkan wajah. Nandini menunduk. Ia tak menyangka sang suami dianggap problematik dalam keluarganya.

"Mas Yasa..." Mansur akhirnya turun tangan. Lastri memejamkan mata. Konflik menahun ini belum juga menemukan jalan keluar.

"Abi, mau sampai kapan toleransi untuk Taka? Mau ndak mau, dia harus terima kalau dia adalah seorang Gus. Tempat utamanya adalah pondok, umat."

"Abi paham maksud Mas Yasa. Abi pun sependapat. Bagaimanapun solusi untuk masalah ini harus kita cari. Agar ndak jadi duri dalam daging untuk keluarga kita." Mansur menatap seluruh anak dan menantunya.

Abyasa menyeringai. "Bagaimana kalau kita kasih waktu enam bulan buat Taka membereskan tokonya supaya siap ditinggal, dan Mbak Dini juga siap memberi kontribusi pada Al Fatih?"

Santaka mengerutkan dahi. Tangannya terkepal. Selalu saja seperti ini. "Mas, maaf, jangan selalu memutuskan sepihak. Yang tahu kondisinya, Taka."

"Satu tahun. Satu tahun Abi rasa cukup, Le. Ini permintaan dari Abi, bukan Mas Yasa." Mansur menatap anak bungsunya. Lastri melipat bibirnya.

Santaka menunduk. Haruskah seperti ini? Tak bisakah ia tetap seperti keadaannya sekarang? Kenapa sesulit itu keluarganya menerima pilihan hidupnya?

Nandini mengelus lengan suaminya. Lidahnya kelu. Lagipula ia juga tak punya hak suara. Tak ada perempuan yang bersuara dari tadi. Sadar bahwa ini adalah ranah para imam, pemimpin keluarga dan pondok.

Jika Mansur sudah memutuskan maka artinya toleransi terhadap Santaka sudah habis. Lastri juga sudah tak bisa mengulur emosi suaminya. Ia paham masalah ini perlu ada penyelesaian.

Mau tak mau, Santaka harus menerima. Ia memiliki dua belas bulan ke depan untuk mempersiapkan "kepulangannya" ke Pondok Pesantren Al Fatih bersama dengan istrinya.

Makan malam berlanjut dalam hening. Setelah selesai, Mansur dan Lastri bersiap untuk beranjak pergi. Lastri tiba-tiba teringat sesuatu.

“Gus Taka, Mbak Dini, sudah tau kan kalau hari Senin besok insyaa Allah kita ada tabligh akbar. Itu jadi ajang perkenalan Mbak Dini sebagai menantu di Al Fatih. 

Nanti sekalian Mbak Dini ngomong, sepatah dua patah kata. Buat sambutan, masih ada waktu untuk nyiapin.”

Nandini tercekat. Belum juga tensinya turun akibat drama keluarga tadi, sekarang ia sudah diberikan kejutan lain.

Tabligh akbar? Itu merupakan acara besar. Nandini harus memberikan sambutan sebagai menantu baru di pondok pesantren Al Fatih? Di hadapan jamaah? Tak terbayang berapa orang yang akan hadir di sana. Tidaaak!!

1
Aisyah Virendra
Biasanya klo orang ngomongnya ceplas ceplos itu emang lebih baik daripada yg terlihat kalem diem tapi menghanyutkan...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
Inna Kurnia: kita liat ya Kaaaak 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
ya Ampunnn jangan canda yg aneh² ya Boy, Ucapan sama dg Doa.. hati² dalam berucap gemblung 🙄🙄🙄
Inna Kurnia: hahaha
total 7 replies
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄 bahasane dikitik kitik bikin geliii membayangkannn 🤣🤣🤣🤣
Aisyah Virendra: kakak mau dikitik 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketik kata dikitik aja aku terkikikk geliii loh inii ngakakkk 🤣
total 2 replies
Nanik Arifin
kau tunggu jandanya Dini ya Boy....🤭🤭
Inna Kurnia: ada aja yaaa kelakuan orang ya, Kak 🤭
total 1 replies
Jaojatun Ma'rup
Maasyaallaah.. Gus Taka Super Duper Sabaar... semangaaat Gus💪💪💪
Inna Kurnia: iya, Kak Jaojatun. kan sabar nama tengah Gus Taka 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Taka dan Dini memang bener² harus waspada yaa sama sepasang sejoli resek itu (Ahsan n Syifa), mereka merencanakan sesuatu yg sedikit ehem tapiii smg ada salah 1 dari Ning Sarah atau Ning Husna juga menyadari kejanggalan dan berpihak pada Taka dan Dini 🫠
Aisyah Virendra: hhuuuh
total 2 replies
Nadia Zalfa
syafakillah kak
Inna Kurnia: aaamiin ya Allah, jazaakillahu khoyr Kak Nadia ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
Syafakillah waa fii amanillah kakak sayang.. semoga dunia nyata kita baik² aja dan ga ada problem apapun, sehat² selalu.. kutunggu up nyaa bolak balik, tapi yasudahlah.. kesehatan itu lebih utama, segera membaik kakak 🤝😇🥰
Aisyah Virendra: Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🥰
total 3 replies
Aisyah Virendra
Diiiiihhhh...ngapain lagi si Ahsan beluuuttt datang kekamar orang, yg sakit juga Nandini bulan Santaka, anehhh bgt.. Ustadz gajeee 😂🤣 lelepinn neeeehhh 🫳
Inna Kurnia: 🤭😂😂🤭😂
total 5 replies
Aisyah Virendra
marah.. tertatih, pelaku eh merasa korban 😂🤣 Nandini gemblung 🤣🤣🤣 mlm itu Santaka menang berkali lipat banyak dan dini ya ampunnn pasti malu banget setelahnya 😂😂 ky nya ntar jadi kembar 4 ehh 🤣🤣🤣
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣 subuhhhh
total 5 replies
Aisyah Virendra
gaskuy lagiiii 🤣🤣🤣🤣
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
Inna Kurnia: hahaha, saa-bar 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Inna Kurnia: hissss 😂😂😂😂
total 4 replies
Aisyah Virendra
Nandini salah ambil jamu, jamunya Taka diminumnya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mengandung perangsang herbal ini mah, duh bisa² ntar langsung hamil baby twins 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: gasss 😂😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
ko sur ? harusnya mud kan yaa 🤔🤔🤔
Inna Kurnia: typo, wkwkwk
total 1 replies
Aisyah Virendra
minta traktir banyak² yaa Din, jangan lupaaa alu dikasih jugaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Nanik Arifin
Dini salah minum jamu ?
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭
Inna Kurnia: pantengin bab besok ya Kak Naniiik 😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Gus Agam... ini sepeeti sosok pria yg kalau mencintai bisa sedalam dan sesetia ituu.. tapi skrg kondisinya berbeda, jadi lelaki yg tak punya perinsip hidup dalam berkomitmen. sudah punya pasangan masing² masih juga tak tahu diri ko malah tahu bakso 😂🤣🤣
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🏻🙏🏻
total 13 replies
Aisyah Virendra
huhhhh akhirnya nongol juga..
Inna Kurnia: sip, insyaa Allah malem ❤️❤️😘
total 3 replies
Nanik Arifin
baby blues ini Ning Rini. harusnya Gus Agam berperan agar baby blues g berlanjut, kasihan bayinya
Inna Kurnia: betul bgt Kak Nanik, ning rini depresi abis lahiran ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
kasian sih Rini 🙄🙄 trnyata Agam gamon dan menghanyutkan bahtera rumah tangganya sendiri. menyebalkan
Aisyah Virendra: 😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!