Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 Makan Malam Ndalem
"Sudah siap?" Santaka mengelus kepala istrinya. Kebiasaan baru yang melenakan, bagi keduanya.
Nandini terkikik. "Mau makan malem saja kayak mau perang."
"Yaa, resiko makan sama polisi, hahaha... Saya jadi ikut-ikutan Mbak Dini bilang Ning Sarah itu polisi... Ck, Mbak Dini ini bawa pengaruh buruk buat saya." Santaka mengulum senyum.
"Enak saja! Nandini menonjok pelan lengan sang suami. Santaka terkekeh karena pukulan itu.
Sang Gus menangkap tangan yang sudah lancang memukulnya, ia genggam dan remas tangan halus itu. "Nakal nih, berani nonjok suami."
Nandini tertunduk sambil mesem. Dengan tangan terayun yang saling menggenggam erat, mereka berjalan menuju ruang makan Ndalem. Entah masih murni skenario atau sudah ada campur aduk tulusnya perasaan.
Ternyata mereka menjadi pasangan pertama yang tiba di meja makan. Menyusul kemudian pasangan komandan polisi dan polisi, Abyasa dan Sarah. Baru pasangan adem nan suportif, Danendra dan Husna.
Abyasa dan Sarah sudah memiliki dua orang anak. Sepasang. Anak pertama lelaki, usianya delapan tahun. Zaky Ammar Al Fatih. Yang kedua Zaskia Amaliyah Al Fatih, lima tahun.
Danendra dan Husna baru dikaruniai satu anak perempuan berusia tiga tahun. Namanya Afifa Amanina Al Fatih.
Pernikahan Santaka dan Nandini diharapkan dapat menggenapkan jumlah cucu Mansur dan Lastri. Bagaimana mau menggenapkan, proses pembuatannya saja jauh dari rencana? Tak diketahui hilalnya.
Anak-anak memiliki waktu makan yang berbeda. Mereka makan sebelum magrib. Sesuai sunnah Rasul. Warga Ndalem biasanya juga seperti itu.
Makan malam setelah Isya atau agak malam, hanya di hari tertentu saja. Agar semua dapat berkumpul pascaberkegiatan seharian. Biasanya mengikuti titah Mansur sebagai kepala keluarga.
Begitu tiba, Sarah langsung memindai penampilan Nandini. Aman. Wajah istri Santaka itu juga tak menampilkan urat sewot, ketus, seperti biasanya. Bagus. Sarah benar-benar bak penilik khusus Nandini.
Nandini yang sadar sedang dalam peninjauan Sarah hanya tersenyum pada kakak ipar tertuanya itu. Maunya berpose bak artis, menggoda Sarah, tapi ia takut Abyasa akan membalikkan meja makan melihat aksinya.
Santaka mengelus genggaman tangannya dan Nandini. Ia sadar istrinya sedang jadi pusat perhatian Sarah. Ia bermaksud menguatkan dengan sentuhan itu. Nandini balas dengan tersenyum.
Mereka berdua sudah terlalu sering berakting, jadi mulai bablas. Tak bisa membedakan ini akting atau asli. Mulai nyaman satu sama lain.
Mansur dan Lastri memasuki ruang makan. Makan malam pun dimulai. Pembicaraan seru mulai mengalir, topiknya tentu saja tentang Al Fatih.
Semua bergulir dengan tenang. Tiba-tiba sang komandan polisi Ndalem, Abyasa, mencetuskan satu topik. Tak suka rupanya jika suasana tenang.
"Taka, kamu sudah denger kan kalau Abi mau Al Fatih semakin melek dengan perkembangan zaman. Butuh anak muda sebagai motor penggerak.
Kamu ndak mau gabung? Sampai kapan kamu mau lari dari tanggung jawab?"
Santaka memelankan kunyahannya. Bahunya menegang. Ia berusaha melanjutkan mengunyah dan menelan makanannya. Terasa seret untuk ditelan. Padahal menu malam ini bebek goreng, kesukaannya.
Nandini mengulurkan gelas untuk suaminya. Santaka menerimanya sambil tersenyum.
"Sudah banyak kan tim Mas Yasa? Sejauh ini juga sudah luar biasa perkembangan pondok. Taka mendukung saja. Bantu sedikit secara finansial dan dari belakang layar." Santaka menipiskan bibirnya.
"Tapi kan mereka bukan kamu, adik Mas Yasa. Tetep beda. Mas mau kita bertiga, lengkap, jadi garda terdepan. Sampai sekarang ndak jelas apa alasan kamu, ndak mau jadi pengurus inti." Abyasa menatap tajam adik bungsunya.
"Ya sudah, Mas. Ndak apa-apa, kita berdua dulu saja. Mungkin Taka masih butuh waktu buat ngembangin usahanya. Tokonya kan baru setahun buka. Masih repot." Danendra bersuara.
Mansur mengelus jenggotnya. Sejujurnya rasa kecewa, sedih, masih bergelayut di hatinya jika mengingat penolakan sang anak bungsu untuk ikut membangun Al Fatih.
Lulus SMA, Abyasa dan Danendra berkuliah di Kairo. Mendalami ilmu agama. Santaka malah memilih berkuliah di NHI, Bandung untuk memperkuat kecintaannya pada dunia kue dan kuliner. Benar-benar melenceng.
Jika bukan karena Lastri, Mansur benar-benar marah pada Santaka. Lastrilah yang menenangkan suaminya. Menyadarkan bahwa dalam suatu keluarga terkadang ada anak yang berbeda, dan itu adalah bentuk ujian hidup mereka.
"Alasan terus. Dulu lulus kuliah malah sibuk kerja di hotel, di Bandung. Sampai Umi nangis nyuruh pulang ke Solo. Mau sampai kapan Taka?
Toko kasihlah ke asisten kamu. Atau suruh saja Mbak Dini yang pegang toko. Kamu fokus di pondok." Abyasa mengetatkan rahangnya.
Santaka mengembuskan napas. Nandini mengelus lengan suaminya. "Taka belum dapat karyawan yang benar-benar mumpuni, Mas.
Maaf belum bisa ninggalin toko begitu saja. Ada nasib karyawan yang harus Taka pertanggungjawabkan. Mereka tulang punggung buat keluarga mereka.
Masalah Mbak Dini yang pegang toko, maaf sebagai suami, Taka ndak izinkan. Jangan kasih istri Taka semakin banyak beban."
Rahang Abyasa semakin mengetat. "Terus fungsi kalian berdua di sini apa? Kamu ndak mau berkontribusi nyata, istri kamu masih harus banyak belajar."
Santaka memalingkan wajah. Nandini menunduk. Ia tak menyangka sang suami dianggap problematik dalam keluarganya.
"Mas Yasa..." Mansur akhirnya turun tangan. Lastri memejamkan mata. Konflik menahun ini belum juga menemukan jalan keluar.
"Abi, mau sampai kapan toleransi untuk Taka? Mau ndak mau, dia harus terima kalau dia adalah seorang Gus. Tempat utamanya adalah pondok, umat."
"Abi paham maksud Mas Yasa. Abi pun sependapat. Bagaimanapun solusi untuk masalah ini harus kita cari. Agar ndak jadi duri dalam daging untuk keluarga kita." Mansur menatap seluruh anak dan menantunya.
Abyasa menyeringai. "Bagaimana kalau kita kasih waktu enam bulan buat Taka membereskan tokonya supaya siap ditinggal, dan Mbak Dini juga siap memberi kontribusi pada Al Fatih?"
Santaka mengerutkan dahi. "Mas, maaf, jangan selalu memutuskan sepihak."
"Satu tahun. Satu tahun Abi rasa cukup, Le. Ini permintaan dari Abi, bukan Mas Yasa." Mansur menatap anak bungsunya. Lastri melipat bibirnya.
Santaka menunduk. Nandini mengelus lengan suaminya. Lidahnya kelu. Lagipula ia juga tak punya hak suara. Tak ada perempuan yang bersuara dari tadi. Sadar bahwa ini adalah ranah para imam, pemimpin keluarga dan pondok.
Jika Mansur sudah memutuskan maka artinya toleransi terhadap Santaka sudah habis. Lastri juga sudah tak bisa mengulur emosi suaminya. Ia paham masalah ini perlu ada penyelesaian.
Mau tak mau, Santaka harus menerima. Ia memiliki dua belas bulan ke depan untuk mempersiapkan "kepulangannya" ke Pondok Pesantren Al Fatih bersama dengan istrinya.
Makan malam berlanjut dalam hening. Setelah selesai, Mansur dan Lastri bersiap untuk beranjak pergi. Lastri tiba-tiba teringat sesuatu.
“Gus Taka, Mbak Dini, sudah tau kan kalau hari Senin besok insyaa Allah kita ada tabligh akbar. Itu jadi ajang perkenalan Mbak Dini sebagai menantu di Al Fatih.
Nanti sekalian Mbak Dini ngomong, sepatah dua patah kata. Buat sambutan, masih ada waktu untuk nyiapin.”
Nandini tercekat. Belum juga tensinya turun akibat drama keluarga tadi, sekarang ia sudah diberikan kejutan lain.
Tabligh akbar? Memberikan sambutan sebagai menantu baru di pondok pesantren Al Fatih? Di hadapan jamaah? Tak terbayang berapa orang yang akan hadir di sana. Tidaaak!!
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj