NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Rafa sudah duduk di mobilnya. Dia duduk sambil memegang bukti rekaman video yang sudah disalin ke flashdisk miliknya.

Bebi, terlihat jelas di dalam video kalau gadis itu yang sudah mengunci Dara di kamar mandi. Entah apa motifnya, karena setahu Rafa, Bebi adalah teman sebangku Dara, sahabat Dara. Dara juga sudah membantu Bebi saat gadis itu berada dalam masalah kemarin.

Rafa menghembuskan napas berat. Entah bagaimana dia harus memberitahu Dara masalah ini. Istri kecilnya itu pasti juga tidak akan menyangka kalau sahabatnya tega berbuat seperti itu. Dia mulai menyalakan mesin dan melajukan mobilnya keluar dari gerbang sekolah.

Saat berhenti di persimpangan karena lampu merah, ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari Dara.

[Mas Rafa di mana?]

Rafa tersenyum, jari tangannya sudah siap untuk membalas tapi suara klakson yang saling bersahutan dan berasal dari belakang membuat dia mengurungkan niatnya.

Rafa menekan tombol telepon dan menunggu Dara mengangkat panggilannya.

"Kenapa?" tanya Rafa saat panggilan sudah diterima.

"Mas Rafa lagi di mana? Kok lama banget?" tanya Dara.

"Ini lagi di jalan mau pulang. Tadi ada urusan dulu. Kenapa?" Rafa melirik ke arah kanan dan kirinya saat dia harus belok dan berhenti di bahu jalan yang kosong.

"Mau titip sesuatu?" tanya Rafa.

Dara yang sejak tadi menunggu Rafa di teras rumah pun berpikir sejenak. "Mau titip jajanan yang ada di dekat sekolah dasar, boleh?"

"Jajanan apa? Jangan minta yang aneh-aneh. Tadi dokter juga bilang kalau kamu harus menjaga pola makan," ujar Rafa.

Bibir Dara langsung mengerucut. "Ya udah gak jadi!" ketusnya.

Rafa tersenyum tipis. Andai dia bisa melihat langsung wajah cemberut istrinya, pasti akan sangat menggemaskan, pikirnya.

"Mau apa?" tanya Rafa. Sejak tadi dia bertanya dengan nada lembut.

"Gak jadi! Belum juga bilang mau apa tapi udah diomelin!" jawab Dara.

"Bukan diomelin, Sayang. Tapi ngingetin," sahut Rafa.

Hidung Dara langsung kembang kempis saat Rafa memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'.

"Sama aja!"

Rafa menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Mood wanita yang sedang datang bulan selalu berubah-ubah dan sensitif. Dia pernah mengalaminya saat Khaylila masih ada dulu.

"Ya udah. Jadi mau nitip apa enggak, nih? Kalau mau jajanan yang di sana jangan sore banget, nanti keburu pada pulang pedagangnya," ucap Rafa.

"Mau lumpia basah. Tapi pedes," balas Dara.

"Lumpia basah dan gak pedes!" tegas Rafa.

"Iih. Pedes." Dara merengek.

"Enggak, Sayang. Gak boleh. Mau yang gak pedes atau gak beli sama sekali?" ancam Rafa.

Terdengar hembusan napas kasar dari Dara.

"Dikit aja, boleh?" tawar Dara.

"Hm." Rafa menjawab dengan gumaman.

"Ya udah dikit aja pedesnya, tapi ... mudah-mudahan si amangnya khilaf trus sambelnya kebanyakan." Dara terkikik geli setelahnya.

"Daraaa....!"

Rafa melihat layar ponselnya yang sudah kembali menghitam.

Dara langsung mematikan panggilannya barusan.

"Dasar," gumam Rafa terkekeh pelan.

.

Senja mulai merangkak turun, mewarnai langit dengan semburat oranye yang indah. Dara menghela napas, merasakan angin sore yang sejuk menyentuh wajahnya.

Perutnya mulai keroncongan tapi belum ingin makan yang berat, dia ingat lumpia basah pesannya yang sedang dibawa pulang oleh Rafa.

Dara tersenyum saat melihat mobil milik suaminya memasuki gerbang. Senyumnya makin mengembang saat Rafa keluar dari mobil sambil membawa kantong plastik yang dia tahu kalau isinya itu lumpia basah pesannya.

Dara mencoba berdiri dan meringis saat merasa kakinya kesemutan akibat terlalu lama duduk di lantai. Rasa kesemutan itu semakin kuat saat dia menggerakkan kakinya. Hingga akhirnya, Dara hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan kalau Rafa tidak segera menangkap tubuhnya.

Dengan posisi berpelukan yang tiba-tiba itu, Dara berpegangan pada leher Rafa. Jantung keduanya berdebar kencang, dengan napas yang terdengar memburu juga.

Dara bisa merasakan kehangatan tubuh Rafa dan detak jantungnya yang cepat. Mereka saling berpandangan, seakan waktu pun berhenti berputar.

Bi Inem yang kebetulan hendak keluar untuk menyiram tanaman pun langsung menutup kedua matanya. Dia berjalan mengendap dan Rafa melihatnya.

"Lanjutin aja, Den, Non. Bibi mah bakal pura-pura gak liat," ujar Bi Inem.

Dara mengerjapkan matanya dan berdiri tegak dengan berpegangan pada lengan Rafa. Beruntung kesemutannya udah ilang.

"Maaf, tadi kesemutan," ucap Dara.

"Kebiasaan," sahut Rafa. "Nungguin dari kapan?"

"Emm, dari-"

"Udah ada sejam kayaknya, Den. Duduk aja di lantai, ya pantes kesemutan," celetuk Bi Inem, memotong ucapan Dara.

Dara nyengir dan Rafa mengacak puncak kepala istri kecilnya itu.

"Ya udah yuk masuk!" ajak Rafa.

Dara tersenyum dan mengangguk. Dia mengambil kantong plastik yang dibawa oleh Rafa dan masuk bareng.

Saat sedang makan malam, Oma Atira bertanya mengenai Dara berteman dengan siapa saja di sekolah.

"Aku cuman punya temen satu, Oma. Namanya Bebi. Dia yang nerima aku dan baik sama aku sejak hari pertama aku masuk sekolah di sana," jawab Dara.

"Bebi?" gumam Oma Atira.

Dara mengangguk cepat. "Kenapa, Oma? Oma kenal? Papanya pengusaha juga kayak Oma kalo gak salah."

Oma Atira diam, beliau saling lirik dengan Rafa. Rafa pun tidak heran, dia menyangka kalau sang oma pasti juga sudah mengetahui semuanya.

Hingga akhirnya di sini, di ruang kerja Oma Atira. Rafa duduk di sofa dengan sang oma. Membicarakan masalah yang tadi siang menimpa Dara.

"Ayahnya Bebi ini rekan bisnis Oma. Kami berhubungan baik karena dia orang yang jujur juga. Tapi Bebi ini, bukankah dia sahabat Dara? Lalu mengapa tega mengurung Dara di toilet? Kamu tahu masalahnya?" tanya Oma Atira.

Rafa menggelengkan kepalanya. "Setahu Rafa, mereka berteman baik. Dara bahkan masih membantu sahabatnya itu kemarin saat dia ada masalah."

"Kamu akan memberitahu Dara yang sebenarnya?" tanya Oma Atira.

Rafa terdiam sejenak dan mengangguk. "Harus. Dara harus tahu semuanya. Rafa hanya tidak ingin si Bebi itu melakukan hal lain pada Dara. Untuk selebihnya, biar Dara sendiri yang memutuskan."

Oma Atira mengangguk paham. Dia pun setuju dengan pendapat Rafa. Kini tinggal Oma Atira sendiri yang membereskan masalah ini dengan caranya.

"Rafa ke atas dulu," ucap Rafa lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti saat sang oma mengatakan sesuatu padanya.

"Oma tahu kamu selalu tidur di kamar Dara. Oma gak bisa ngelarang karena emang kalian sudah sah jadi suami istri di mata agama. Tapi, kamu harus ingat juga, dia masih sekolah, tinggal beberapa bulan lagi. Jangan buat dia hamil dulu," pesan Oma Atira.

Rafa tersenyum tipis, dia hanya membentuk jari jadi huruf O lalu keluar dari sana.

Setelah Rafa keluar, Oma Atira menghembuskan napas lega. "Oma bahagia melihatmu kembali seperti dulu, Rafa."

 

Rafa sudah ada di kamar Dara. Dia berada di kamarnya sendiri hanya sekedar mandi dan berganti pakaian saja. Atau, menyelesaikan pekerjaan seperti merekap nilai murid-muridnya.

Tidak seperti malam kemarin yang dia mengganggu Dara saat istri kecilnya itu sedang belajar. Kali ini dia diam dengan berbagai macam pikiran di kepalanya.

Rafa sedang merangkai kata untuk menyampaikan perihal Bebi kepada Dara nantinya.

"Selesai." Dara merentangkan kedua tangannya dan menggerak-gerakkan lehernya yang terasa pegal.

"Kenapa sih pada seneng banget ngasih tugas yang gak sesuai sama contoh yang diajarin di kelas," keluh Dara.

"Kalau sama, ya gak bakal ngembang dong pengetahuan kalian," sahut Rafa.

Rafa menepuk samping ranjang yang kosong, tanda kalau menyuruh Dara untuk segera naik dan rebahan di sampingnya.

"Bentar, mau ke kamar mandi dulu," ucap Dara.

Rafa terlentang, diam menatap langit-langit kamar. Hingga tidak lama kemudian, dia kembali memiringkan tubuhnya dan merentangkan tangan kanannya agar dijadikan bantal oleh Dara.

Seakan sudah terbiasa, Dara tidak sungkan lagi dan langsung merebahkan kepalanya di lengan berotot sang suami. Dia tidak takut juga Rafa akan berbuat macam-macam padanya karena dia sedang datang bulan.

"Masih sakit?" tanya Rafa sambil mengusap perut Dara.

Dara hanya menggeleng sebagai jawaban. Jujur saja, usapan tangan Rafa di perutnya membuat dadanya berdesir seketika.

"Tadi pas pulang langsung minum obat dari dokter sama di kompres pake botol yang diisi air anget," ucap Dara.

Rafa jadi teringat dengan kejadian tadi siang. Di mana dia harus menahan malu saat membeli celana segitiga untuk Dara, juga saat harus membeli pembalut.

Rafa menunduk dan mendekatkan wajahnya pada wajah Dara. Membuat gadis itu terkesiap dan menahan napasnya untuk sesaat.

"Kamu tahu, karena kamu, aku harus melewati pengalaman membeli pakaian dalam wanita untuk pertama kalinya dalam hidupku. Bukan itu saja, aku juga harus belajar memilih pembalut yang sesuai untukmu. Dan itu juga untuk pertama kalinya," ujar Rafa.

Dara mengerjapkan matanya. Antara malu, kasihan tapi ingin tertawa juga. "Ya maaf. Lagian Mas Rafa juga heboh langsung bawa aku ke rumah sakit."

"Hei, aku tadi nyari kamu keliling gedung sekolah. Aku yang udah cemas karena kamu gak ada, makin cemas dan panik saat menemukan kamu pingsan di kamar mandi. Kamu juga berda-rah dan aku udah gak bisa berpikir jernih. Aku khawatir dan seakan hampir gila tadi," sahut Rafa.

Dara diam, dia terharu karena Rafa memang terlihat begitu khawatir padanya tadi. Dara memeluk Rafa erat, dia membenamkan wajahnya di dada sang suami lalu memejamkan matanya.

"Makasih," ucapnya pelan.

Rafa balas memeluk Dara dan mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh sayang.

"Bayarannya gak cukup dengan kata makasih doang," ucap Rafa.

Dara langsung kembali menjauhkan wajahnya. Dia menatap heran dengan kening yang mengkerut mendengar ucapan Rafa. "Maksudnya?"

"Kamu harus bayar mahal untuk semua pengorbananku tadi," jawab Rafa.

"Pamrih!" ketus Dara dengan wajah memberengut. Dia menunduk sejenak karena gugup melihat tatapan Rafa padanya kemudian kembali mendongak. "Apa bayaran-hmmmmp."

Kedua mata Dara melotot saat Rafa langsung mencium bibirnya. Jantungnya juga seakan berhenti berdetak saat Rafa memegang tengkuknya dan bisa dia rasakan kalau bibir suaminya itu mulai bergerak.

Dara memejamkan matanya, meski dia hanya diam, tapi dia mulai menikmati apa yang suaminya lakukan.

Selang beberapa saat, Rafa melepaskan ciumannya dan menatap Dara yang perlahan membuka matanya. "Itu bayarannya. Adil, bukan?"

Dara tersenyum malu-malu, pipinya pun jadi merona merah. Dara mengulum bibirnya yang jadi agak basah dan itu membuat Rafa tambah gemas saja.

"Kalau bayarannya kayak gitu, Mas Rafa pasti mau aku repotin terus," ucap Dara.

Rafa tertawa pelan. Dia kembali memeluk Dara dan menghela napas panjang. Sekarang sepertinya waktunya dia untuk memberitahu Dara mengenai Bebi.

"Kamu ... gak penasaran sama siapa yang udah ngunciin kamu di toilet?" tanya Rafa.

Dara mendongak, menatap wajah Rafa yang juga sedang menatapnya. Setelahnya Dara menghembuskan napas berat. Iya sih dia penasaran, tapi dia juga bingung mau cari tahu dari mana.

"Kalau ternyata pelakunya adalah sahabat kamu sendiri, bagaimana?" tanya Rafa.

Kedua mata Dara melebar, keningnya mengkerut setelahnya. "Bebi maksudnya?" tanyanya dan Rafa langsung mengangguk.

Dara tertawa pelan. "Ya gak mungkin lah. Kenapa juga dia ngelakuin hal itu," ucapnya lalu kembali tertawa. Tawa yang perlahan terhenti saat dia melihat raut wajah Rafa yang serius.

"Mas Rafa gak bercanda?" tanya Dara. Dia kira tadi suaminya itu hanya sekedar bercanda. Tapi, kalau dilihat dari ekspresinya, sepertinya itu beneran.

Rafa mengambil ponselnya yang tersimpan di atas nakas dengan perlahan. Dia membuka video rekaman CCTV yang telah ia salin ke ponselnya sebelumnya. Raut wajahnya tampak serius saat ia mengingat tujuan utamanya kali ini.

Dia lalu membalikkan layar ponselnya ke arah Dara, istri kecilnya yang masih tercengang.

"Ini, lihat ini," ujar Rafa dengan nada berat, sambil menunjukkan video tersebut kepada Dara.

Bisa Dara lihat dengan jelas kalau itu memang Bebi, sahabatnya. Bibir Dara bergetar dan terbuka sedikit, seperti hendak mengatakan sesuatu tapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.

Dara tidak menyangka, kenapa sahabatnya tega melakukan hal itu padanya. Apa salahnya?

Rafa menyimpan kembali ponselnya ke atas nakas. Dia kembali memeluk Dara, mencoba untuk menenangkan perasaan istrinya.

"Aku ngasih tau karena ngerasa kamu berhak tau. Bukan juga untuk membuat kamu membenci sahabatmu itu. Dia mungkin punya alasan sendiri mengapa sampai melakukan hal itu. Aku hanya ingin kamu berjaga-jaga, takutnya dia melakukan sesuatu yang lain nantinya," ujar Rafa.

Dara yang masih shock pun tidak mengatakan apapun. Satu yang pasti, dia harus menanyakan langsung pada Bebi besok.

❤️

Besoknya di sekolah, Dara masih bersikap biasa saja pada Bebi. Dia masih pura-pura tidak tahu. Tapi, berbeda dengan Bebi yang kelihatan sekali kalau dia gugup bahkan tidak berani melihat wajah Dara.

Dara menghela napas panjang, melihat sikap Bebi yang seperti itu, membuat dia yakin kalau ada alasan lain Bebi menguncinya di toilet kemarin.

"Gue mau bicara sama lo," ujar Dara.

Jam istirahat pertama, dia mengajak Bebi pergi ke tempat lain. Dia dan Bebi harus bicara di tempat yang sepi.

Rafa yang kebetulan keluar dari ruang guru pun melihat Dara menarik tangan Bebi menuju taman belakang sekolah.

Pandangannya beralih pada sosok Renita yang seperti mengikuti Dara dan Bebi. Rafa penasaran, dia akhirnya juga mengikuti mereka.

Di sini, di taman belakang yang kebetulan agak sepi, Dara menekan pundak Bebi agar gadis itu duduk di bangku sedangkan dia berdiri sambil melipat kedua tangan di dada.

"Ada apa?" tanya Bebi.

"Maksud lo apa ngunciin gue di toilet kemarin?" tanya Dara to the point.

Kedua mata Bebi melotot. Mungkin kaget dan tidak menyangka kalau Dara akan mengetahui dia pelakunya. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, seakan mencari alasan untuk menyangkal tuduhan Dara padanya.

"A-apa maksud lo nuduh gue kayak gitu? Lo 'kan tau sendiri kalau gue pulang duluan kemarin," jawab Bebi.

Renita yang diam-diam menguping pun terkesiap saat ada yang menepuk pundaknya. Dia menoleh dan kaget karena Rafa sudah berdiri di belakangnya.

"Kamu Renita, 'kan?" tanya Rafa.

Renita mengangguk. "Iya. Ada apa ya, Pak?" tanyanya heran.

"Ikut saya. Ada yang harus saya diskusikan sama kamu," ujar Rafa.

"Apa, Pak?" tanya Renita masih tidak bergerak dari tempatnya. Tujuannya kan untuk menguping pembicaraan Dara dan Bebi. Kalau dia pergi, gagal dong rencananya.

"Ini mengenai nilai kamu," jawab Rafa.

Renita menyentak napas kasar. Mau tidak mau dia pun harus pergi dari sana dan mengikuti guru matematika nya itu.

.

"Gak usah ngelak lagi, Bi. Gue ada buktinya," ucap Dara.

Makin melebarlah bola mata Bebi. Kini dia bingung harus beralasan apa lagi. Dia juga takut kalau Dara akan melaporkannya ke pihak sekolah. Tapi, ada hal lain yang membuat dia lebih takut dari sekedar hukuman yang akan dia terima di sekolah.

"Jawab gue. Kenapa lo ngelakuin itu? Lo sahabat gue, Bi. Tega banget lo sama gue." Dara menatap nanar ke arah gadis yang sudah dia percaya dan dia anggap sahabat itu.

"Dara, gue ...."

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!