NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

BAB 15: Gema Kehampaan di Menara Kaca

Hujan di luar jendela penthouse itu tidak lagi terdengar seperti simfoni, melainkan seperti ribuan jarum yang menghantam kaca, mencoba menembus pertahanan Hana yang sudah hancur. Di dalam kemewahan yang menyesakkan itu, Hana Asuka masih terduduk bersimpuh di lantai marmer yang dingin, memeluk surat terakhir dari Ren seolah itu adalah detak jantung terakhir pria itu.

"Ren-san... kau pembohong," bisiknya, suaranya parau dan pecah. "Kau bilang... kau akan melindungiku. Tapi perlindungan macam apa ini jika kau meninggalkanku dalam kegelapan?"

Dengan tangan gemetar, Hana menyambar ponselnya yang tergeletak di meja. Ia menekan nomor Ren—nomor rahasia yang biasanya dijawab dalam dua detik dengan suara rendah yang menenangkan.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”

Suara operator wanita yang datar itu terasa seperti belati yang diputar di dalam lukanya. Hana menekan tombol panggil lagi. Sekali. Lima kali. Sepuluh kali. Hasilnya tetap sama. Kekosongan digital yang dingin.

Frustrasi memuncak menjadi histeria. Hana melempar ponselnya ke dinding sutra, napasnya tersengal-sengal. Ia merasa oksigen di apartemen itu telah dibawa pergi oleh pesawat jet yang membawa Ren ke Eropa. Ia berjalan sempoyongan menuju balkon. Dari ketinggian lantai 50, Tokyo tampak seperti lautan cahaya yang tidak peduli pada penderitaannya.

Ia menatap ke bawah. Jarak antara dirinya dan aspal jalanan tampak seperti pelukan yang menjanjikan akhir dari rasa sakit ini. Satu langkah, pikirnya. Hanya satu langkah, dan ia tidak perlu lagi menanggung beban sebagai putri Asuka yang gagal, atau tunangan yang dijual, atau kekasih yang ditinggalkan.

Hana memegang pagar balkon yang basah. Pikirannya mulai gelap. Namun, saat ia memejamkan mata, bayangan itu muncul.

Bukan bayangan Aurelius sang penguasa yang sombong, melainkan wajah Ren. Wajah tenang pria itu saat sedang mengelas besi di bengkel Ota, dengan noda oli di pipi dan senyum tipis yang tulus. Ia mengingat hangatnya tangan Ren saat menyuapkan kue padanya, dan bisikan pria itu: "Hiduplah sebagai Hana yang berani."

Hana tersentak. Ia menarik tangannya dari pagar balkon seolah-olah besi itu baru saja membakarnya.

"Tidak," isaknya, jatuh terduduk di lantai balkon yang basah oleh hujan. "Jika aku mati di sini, maka pengorbananmu untuk pergi ke Eropa akan sia-sia. Kau pergi agar aku bisa bebas, Ren. Aku tidak boleh menyerah secepat ini."

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Hana bangkit. Ia masuk kembali ke dalam, mengabaikan bayangan dirinya yang hancur di cermin. Ia melepaskan gaun tidur sutra merah muda yang masih menyisakan aroma parfum Ren—aroma kayu cendana dan maskulin yang kini terasa menyakitkan. Ia mengenakan kembali gaun formalnya dari semalam, merapikan rambutnya yang berantakan, dan menghapus sisa maskara yang luntur di pipinya.

Ia harus pulang. Bukan karena ia ingin, tapi karena ia harus menghadapi dunia yang telah Ren bersihkan untuknya.

Kediaman keluarga Asuka terasa lebih dingin dari biasanya saat Hana melangkah masuk. Daichi Asuka sedang duduk di ruang tengah, menatap layar televisi yang menampilkan berita bursa saham pagi. Begitu melihat putrinya masuk dengan wajah pucat dan mata sembab, Daichi langsung berdiri.

"Hana! Dari mana saja kau? Kaito menelpon semalam, dia bilang—"

Hana terus berjalan melewati ayahnya tanpa menoleh. Langkah kakinya tegas, meskipun hatinya rapuh.

"Hana! Aku sedang bicara padamu!" teriak Daichi. "Aurelius Renzo sudah pergi ke Eropa pagi ini! Kau tahu apa artinya itu bagi kita? Kau sekarang tidak punya pelindung lagi di sini jika kau tidak bisa menjaga hubungannya lewat telepon atau—"

Hana berhenti di depan tangga. Ia berbalik, menatap ayahnya dengan tatapan yang begitu kosong dan dingin hingga Daichi terdiam. "Ayah," suara Hana rendah namun tajam. "Berhenti membicarakan aku seolah-olah aku adalah komoditas. Ren sudah membereskan hutangmu. Dia sudah menjamin keamanan perusahaanmu. Sekarang, biarkan aku tenang. Jika Ayah mengucapkan satu patah kata lagi tentang 'memanfaatkan' posisiku, aku bersumpah akan menghancurkan kontrak itu dengan tanganku sendiri."

Daichi tertegun. Ia belum pernah melihat Hana seberani ini. Hana tidak menunggu jawaban; ia langsung naik ke kamarnya dan membanting pintu.

Di dalam kamar, Hana mengunci pintu dan merosot di baliknya. Tangisnya kembali pecah, namun kali ini tanpa suara. Ia membenamkan wajahnya di lutut, membiarkan kesedihan itu mengalir hingga ia tertidur karena kelelahan di atas lantai yang keras.

Keesokan harinya, alarm berbunyi tepat pukul 06.00 pagi.

Hana membuka matanya. Langit-langit kamarnya tampak asing. Selama beberapa detik, ia lupa bahwa Ren telah pergi. Namun, saat kesadaran itu menghantamnya, rasa sesak itu kembali.

Ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Cermin memperlihatkan wajah yang berbeda. Matanya sangat sembab, bengkak karena tangis semalaman. Namun, ada garis keras di rahangnya yang tidak ada sebelumnya. Ia memakai kompres es untuk meredakan bengkak di matanya, lalu mengaplikasikan makeup yang lebih tebal dari biasanya untuk menutupi jejak-jejak kehancuran jiwanya.

Ia mengenakan setelan kerja yang tajam—blazer hitam dan rok span yang sempurna. Ia harus kembali ke perusahaan. Ia harus bekerja.

Sepanjang perjalanan menuju kantor Asuka Group, Hana menatap keluar jendela mobil. Ia melewati jalur yang biasanya menuju ke Ota. Ia melihat gang kecil yang mengarah ke bengkel Ren. Pintu besarnya tertutup rapat, dan papan "TUTUP" yang digantung Ren tampak seperti nisan di atas makam kenangan mereka.

Sesampainya di perusahaan, suasana terasa aneh. Para karyawan berbisik-bisik saat ia lewat. Berita tentang batalnya pertunangan dengan Shimada dan keterlibatan misterius keluarga Hohenzollern sudah menjadi rahasia umum di kalangan atas.

Hana duduk di kursinya di lantai eksekutif. Di depannya bertumpuk dokumen yang harus ditandatangani. Ia mulai bekerja. Satu jam, dua jam, tiga jam. Ia bekerja dengan mekanis, seperti robot yang diprogram untuk tidak merasakan apa-apa.

Namun, kekosongan itu ada di sana.

Setiap kali pintu kantornya terbuka, jantungnya berdegup kencang, berharap pria dengan jaket kulit hitam itu akan melangkah masuk dan mengajaknya minum teh. Setiap kali ponselnya bergetar, ia berharap ada pesan singkat bertuliskan: "Jangan lupa makan siang, Hana."

Tapi tidak ada apa-apa. Hanya email bisnis dan laporan keuangan.

Saat jam makan siang tiba, Hana tidak pergi ke kafetaria. Ia tetap duduk di mejanya, menatap kursi kosong di depannya. Ia baru menyadari bahwa selama ini, Ren bukan hanya pelindungnya; Ren adalah tujuannya. Tanpa Ren, kebebasan yang ia miliki sekarang terasa seperti padang pasir yang luas dan tidak berujung. Ia bebas untuk pergi ke mana saja, tapi tidak punya tempat untuk pulang.

Hana mengambil kunci bengkel yang ditinggalkan Ren dari tasnya. Ia menggenggam logam dingin itu kuat-kuat hingga telapak tangannya sakit.

"Kau memberiku kebebasan, Ren," bisiknya pada ruangan yang sunyi. "Tapi kau lupa mengajariku cara hidup tanpamu."

Hana berdiri, berjalan menuju jendela kaca raksasa kantornya yang menghadap ke arah barat—ke arah Eropa. Ia tahu, di suatu tempat di sana, di balik ribuan kilometer samudera, Aurelius Renzo sedang duduk di singgasananya yang dingin, mungkin juga sedang menatap ke arah timur.

Hana menghapus setetes air mata yang nekat jatuh di pipinya yang sudah dirias sempurna. Ia tidak akan mengakhiri hidupnya. Ia akan menjadi Hana yang kuat, Hana yang akan membangun kerajaan Asuka sendiri, sehingga suatu hari nanti, ketika Ren kembali—atau ketika ia cukup kuat untuk menyusul Ren—pria itu akan melihat bahwa wanita yang ia selamatkan bukanlah lagi seorang putri yang rapuh, melainkan seorang ratu yang pantas berdiri di sampingnya.

"Tunggu aku, Ren," ucapnya dengan tekad yang membara di balik duka. "Aku akan menjaga tempat ini sampai kau kembali merebutnya."

Matahari sore Tokyo mulai tenggelam, membias warna emas pada gedung-gedung pencakar langit. Hana kembali ke mejanya, menyalakan komputer, dan tenggelam dalam tumpukan angka. Ia sudah bebas, tapi perjuangannya untuk mengisi kekosongan itu baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!