Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debu di Gerbang Kadipaten
Matahari menggantung rendah di cakrawala, memantulkan cahaya keemasan yang pucat pada dinding-dinding batu putih yang membentengi ibukota Kadipaten.
Dari kejauhan, kota itu tampak seperti permata mahkota yang tergeletak di tengah lembah hijau. Namun, semakin dekat Subosito melangkah, semakin terasa aura yang menyesakkan dada.
Bukan hawa panas yang biasa dirasakan dari punggungnya, melainkan hawa dingin yang berasal dari kecurigaan dan ketakutan yang mengendap di setiap sudut jalan.
Debu-debu beterbangan di udara, terinjak oleh derap kaki kuda para prajurit dan roda kereta dagang yang mengantre panjang. Subosito menarik kain penutup kepalanya, berjalan dengan langkah tenang di antara kerumunan orang yang tampak kepayahan.
Kontras yang dilihatnya sungguh menyakitkan mata. Di balik tembok kota yang megah, menara-menara pengawas berdiri angkuh dengan panji-panji sutra yang berkibar ditiup angin.
Berbanding terbalik dengan apa yang ada di kaki tembok itu, para pengemis berderet dengan piring tanah liat yang kosong, dan anak-anak kecil dengan baju compang-camping berebut sisa makanan yang jatuh dari kereta para bangsawan.
“Kadipaten ini memang bersinar dari luar, tapi busuk di dalam,” gumam Subosito dalam hati, teringat ucapan Resi Bhaskara tentang kemelut politik yang melanda jantung negeri ini.
Langkah Subosito terhenti, sesaat setelah mencapai gerbang utama yang disebut Gerbang Kencana. Di sana, pemeriksaan berlangsung sangat ketat. Para prajurit dengan seragam berlapis baja hitam tampak memeriksa setiap gerobak dengan kasar. Mereka tidak hanya memeriksa barang dagangan, tetapi juga meminta “uang jaminan” yang nilainya tampak mencekik leher para rakyat jelata.
“Hanya segini?” sebuah suara kasar menggelegar di antara kebisingan gerbang.
Subosito menoleh, seorang pedagang tua dengan tubuh bungkuk sedang berlutut di depan seorang perwira prajurit bertubuh gempal. Di sampingnya, sebuah gerobak kecil berisi keranjang-keranjang anyaman bambu terguling, isinya—buah-buahan segar dan sayuran—berceceran di tanah yang berdebu.
“Ampun, Gusti Perwira. Hanya itu hasil jualan saya hari ini. Anak dan istri saya sedang sakit di rumah, saya butuh sisa uang ini untuk membeli obat,” rintih sang pedagang sambil memeluk kaki sang perwira.
Sang perwira, yang memiliki kumis tebal dan tatapan mata yang haus akan kekuasaan, tertawa meremehkan.
“Ha! Obat? Obat terbaik untuk rakyat rendah sepertimu adalah kepatuhan! Kau ingin masuk ke kota ini tanpa membayar pajak keamanan yang layak? Itu artinya kau menghina hukum Adipati!”
Tanpa peringatan, sang perwira mengangkat kakinya yang bersepatu besi, bersiap untuk menghantam dada sang pedagang tua yang tak berdaya.
Darah Subosito berdesir, selama ini, dirinya selalu mencoba menahan diri agar tidak menarik perhatian. Namun melihat ketidakadilan yang terpampang di depan matanya, nuraninya bergejolak.
Subosito tidak memanggil amarah merah yang merusak; pemuda itu memanggil ketenangan emas yang telah dipelajarinya di puncak Lawu.
Tepat sebelum sepatu besi itu menyentuh dada sang pedagang tua, Subosito sudah berdiri di antara mereka. Subosito tidak memukul, hanya meletakkan satu tangannya di bahu sang perwira.
“Cukup,” ucap Subosito dengan nada rendah yang mengandung getaran yang membuat udara di sekitar mereka mendadak diam.
Sang perwira tertegun, merasa kakinya yang terangkat seolah membeku di udara, tertahan oleh sebuah kekuatan yang tidak kasat mata dan sangat padat.
Sang perwira menoleh dan melihat seorang pemuda dengan pakaian sederhana, dengan matanya memancarkan cahaya yang tidak biasa.
“Siapa kau?! Beraninya ikut campur urusan prajurit Kadipaten!” bentak perwira itu, mencoba menarik kakinya kembali, yang merasa seolah bahunya ditekan oleh beban sebuah gunung.
“Aku hanya seorang pengembara yang tahu bahwa hukum Adipati adalah untuk melindungi, bukan untuk menindas,” jawab Subosito tenang.
Subosito memberikan sedikit dorongan pada bahu sang perwira. Meski dorongan itu tampak ringan, tetapi perwira terpental mundur tiga langkah hingga menabrak kereta kuda di belakangnya.
Para prajurit lain segera menghunuskan tombak mereka, mengelilingi Subosito dalam formasi lingkaran yang mengancam.
Subosito tidak gentar. Di punggungnya, Segel Garuda Paksi mulai berdenyut hangat, yang masih bisa dikunci rapat agar tidak meledak menjadi api.
Subosito hanya melepaskan aura kewibawaan yang membuat kuda para prajurit yang mengelilinginya mulai meringkik ketakutan dan gelisah, seolah merasakan kehadiran predator puncak di dekat mereka.
“Lepaskan pedagang itu, dan biarkan dia masuk,” perintah Subosito tegas.
Sang perwira yang baru saja bangkit dengan wajah merah padam karena malu, hendak memerintahkan penangkapan, tiba-tiba langkahnya terhenti.
Sang perwira melihat ke arah telapak tangan Subosito yang terbuka—ada percikan kecil cahaya emas yang melompat di sela-sela jarinya. Cahaya itu tak terlalu panas, tetapi mampu membuat bulu kuduk setiap orang yang melihatnya meremang.
Ketegangan itu pecah ketika seorang pria paruh baya dengan pakaian sipil yang memiliki tatapan mata sangat tajam berjalan keluar dari balik bayang-bayang menara gerbang.
Pria itu tidak membawa senjata, kehadirannya membuat para prajurit segera menurunkan tombak mereka dan memberi hormat.
“Berhenti,” ucap pria itu. Suaranya halus dan berwibawa. “Biarkan mereka lewat. Kita tidak ingin ada keributan di gerbang, saat ibu kota sedang dalam keadaan waspada!"
Sang perwira mendengus kesal, mau tak mau dirinya harus patuh. Dengan kasar, sang perwira memberi isyarat agar pedagang tua itu segera membereskan sayurannya dan pergi.
Si pedagang menatap Subosito dengan air mata haru, menunduk dalam-dalam sebelum bergegas menarik gerobaknya masuk ke dalam kota.
Subosito mengangguk pelan, lalu melanjutkan langkahnya. Namun, pemuda itu bisa merasakan tatapan pria berpakaian sipil tadi terus mengikutinya.
Pria itu adalah bagian dari Telik Sandi—mata-mata kepercayaan istana yang bertugas menyaring setiap potensi ancaman yang masuk ke ibukota.
Kekuatan kecil yang ditunjukkan Subosito baru saja, secara tak langsung telah mengirimkan sinyal bahaya ke dalam sistem pertahanan istana.
Saat Subosito berjalan melewati jalanan utama Kadipaten yang berbatu, dirinya menyadari betapa besarnya tantangan yang menantinya. Kota ini adalah labirin tipu daya.
Di setiap kedai kopi, orang-orang berbisik tentang kesehatan Adipati yang kian memburuk. Di setiap persimpangan, poster sayembara “Setan Api” masih tertempel, meski kini gambarnya tampak lebih kabur dimakan debu.
Subosito merasa diawasi dari balik jendela-jendela tinggi rumah bangsawan yang tertutup rapat. Subosito merasa seperti seekor domba yang masuk ke kandang serigala yang sedang lapar.
Perlahan cincin perak di sakunya seolah memberinya kekuatan—pengingat bahwa dirinya memiliki hak untuk berada di sini.
Malam mulai turun, dan lampu-lampu minyak mulai dinyalakan di sepanjang jalan utama. Subosito memutuskan untuk mencari tempat beristirahat di sebuah penginapan kecil di pinggiran distrik pasar yang kumuh, tempat di mana bisa membaur dengan kerumunan tanpa terlalu mencolok.
Belum jauh Subosito melangkah masuk ke penginapan, sesosok bayangan bertudung menghalangi jalannya.
Bayangan itu adalah seorang wanita muda. Wajahnya tertutup kain sutra transparan, dengan mata yang tajam dan jernih memancarkan aura bangsawan yang tidak bisa disembunyikan oleh pakaian penyamaran sekalipun.
“Tuan muda dari Gunung Lawu,” bisik wanita itu. Suaranya seperti denting kecapi yang merdu dan menyimpan ketegasan. “Langkahmu di gerbang telah menciptakan riak yang terlalu besar. Jika kau ingin selamat sampai esok pagi, ikutlah denganku!"
Subosito mengernyitkan dahinya, tangannya secara insting bergerak menuju pusat energinya. “Siapa kau?”
“Seseorang yang memiliki musuh yang sama denganmu,” jawab wanita itu singkat.
Wanita itu menunjukkan sebuah lencana kecil dari balik jubahnya—sebuah lencana perak dengan ukiran Garuda yang sama persis dengan yang ada pada cincin yang dibawa Subosito.
"Ikutlah denganku, sebelum mata-mata Patih Mangkubumi menemukanmu di sini!"
Subosito terdiam sejenak, instingnya berbicara ini bisa jadi jebakan, getaran di punggungnya tidak menunjukkan adanya hawa jahat dari wanita ini.
Sebaliknya, Subosito merasakan sebuah hubungan yang aneh, seolah takdir telah menarik mereka berdua ke dalam satu garis lurus.
Subosito mengikuti wanita itu menyusuri gang-gang sempit yang gelap, menjauhi jalan utama yang ramai.
Mereka melewati lorong-lorong rahasia di bawah saluran air kota, menuju ke arah sebuah paviliun tersembunyi yang terletak di bagian belakang istana, sebuah tempat yang dikenal warga sebagai ‘Istana Terasing’.
Langkah Subosito di ibukota baru saja dimulai, tetapi pemuda itu sudah terseret ke dalam lingkaran kekuasaan yang sedang goyah. Wanita misterius yang membawanya bukanlah orang sembarangan, melainkan kunci yang selama ini dikubur dalam kegelapan.
Apakah pertemuan rahasia ini akan membawa Subosito pada jawaban tentang keadaan Kadipaten, atau justru menjadikannya pion baru dalam permainan catur politik yang mematikan? Dan rahasia apa yang disimpan oleh sang wanita dari balik dinding paviliun yang sepi itu?
Dapatkan jawabannya dalam cerita berikutnya.