Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Dunia yang Berhenti Berputar
Damian menghentikan langkahnya tepat di bawah bayangan pohon besar, beberapa meter dari gerbang panti asuhan yang nampak sederhana namun terawat. Ia sengaja tetap berada di sana, bersembunyi di balik batang pohon agar tidak merusak pemandangan yang tersaji di depan matanya.
Di tengah halaman panti yang berdebu, Selene sedang berada di sana.
Gadis itu tidak lagi mengenakan kaos pudar yang kemarin. Hari ini ia memakai terusan bunga-bunga sederhana yang panjangnya mencapai lutut. Rambutnya diikat satu ke belakang, mengekspos lehernya yang jenjang dan wajahnya yang bercahaya meski tanpa sapuan makeup mahal.
Selene tidak sendiri. Ia dikerumuni oleh belasan anak kecil yang tertawa riang. Salah satu anak laki-laki kecil menarik-narik ujung bajunya, sementara seorang anak perempuan memeluk kakinya dengan erat.
"Kak Selene! Tangkap kalau bisa!" teriak salah satu anak sambil berlari menjauh.
Selene tertawa. Suara tawa itu renyah, tulus, dan penuh kehidupan—sangat kontras dengan tawa basa-basi yang biasa Damian dengar di pesta-pesta kelas atas. Ia melihat Selene berputar-putar, merentangkan tangannya seolah sedang menari di bawah sinar matahari pagi.
Pada saat itulah, Damian merasa dunia seakan berhenti berputar.
Suara klakson kendaraan di jalan raya mendadak senyap. Angin sepoi-sepoi yang menerpa dedaunan pun seolah tak terdengar lagi. Fokus Damian terkunci sepenuhnya pada Selene. Sinar matahari yang menembus celah pepohonan jatuh tepat di wajah gadis itu, menciptakan aura yang begitu murni dan sakral.
"Bagaimana mungkin..." batin Damian takjub. "Bagaimana mungkin gadis yang semalam menyusup dengan penuh amarah ke rumahku, bisa memiliki senyum selembut itu di depan anak-anak ini?"
Damian tertegun. Ia merasa dadanya sesak oleh sebuah perasaan yang belum pernah ia definisikan sebelumnya. Bukan sekadar nafsu atau rasa penasaran, tapi kekaguman yang mendalam. Selene tampak seperti malaikat penjaga di tengah bangunan tua yang terancam dihancurkan oleh keluarganya sendiri.
Ia melihat Selene berlutut, menyeka keringat di dahi salah satu anak kecil dengan ujung jemarinya, lalu mengecup kening anak itu dengan penuh kasih sayang.
Namun, lamunan Damian terpecah ketika seorang anak kecil tanpa sengaja menunjuk ke arah tempatnya bersembunyi.
"Kak Selene! Ada Kakak Tampan di sana!"
Damian keluar dari balik pohon dengan gaya yang sangat teatrikal. Ia sengaja memasang wajah bingung, sesekali melihat ke arah ponselnya yang sengaja ia matikan, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah ia sedang mencari alamat di tengah labirin yang rumit.
Pria itu mondar-mandir di depan gerbang panti dengan gerakan yang sangat mencolok. Kemeja mahalnya yang kini ia gulung sampai siku dan kacamata hitam yang ia turunkan sedikit di batang hidung, membuatnya tampak seperti turis kaya yang kehilangan arah di pemukiman padat.
Selene, yang mendengar teriakan anak-anak tadi, akhirnya menoleh. Matanya menyipit saat melihat sosok pria jangkung yang tampak "asing" di lingkungannya itu.
"Damian?" gumam Selene. Ia mengenali postur tegap itu. Itu adalah pria 'asisten' yang menolongnya semalam.
Melihat Selene mulai berjalan ke arahnya, Damian semakin memperdalam aktingnya. Ia berpura-pura menggerutu kecil sambil memutar-mutar ponselnya.
"Maaf..." suara lembut itu akhirnya terdengar di dekatnya.
Damian berbalik, pura-pura terkejut. "Oh! Selene? Kau... kau yang di taman semalam, kan?" tanya Damian dengan nada yang sangat meyakinkan, seolah pertemuan ini adalah sebuah kebetulan yang luar biasa.
Selene menatapnya penuh selidik, tangannya masih memegang tangan seorang anak kecil. "Apa yang kau lakukan di sini, Damian? Ini wilayah yang cukup jauh dari rumah megah keluarga Nicholas."
"Aku..." Damian berdeham, mencari alasan yang masuk akal. "Aku diperintah oleh kantor untuk mencari lokasi pengembangan proyek di daerah sini, tapi sepertinya aku salah membaca peta digital. Sinyalku buruk dan aku benar-benar tersesat."
Selene tertawa kecil, sebuah tawa yang membuat hati Damian bergetar. "Pria kota sepertimu memang sering kalah dengan gang-gang sempit di sini. Kau mencari alamat apa?"
Damian menatap dalam ke mata Selene, membiarkan skenarionya mengalir. "Sejujurnya, aku tidak tahu lagi apa yang aku cari... sampai aku melihatmu di sini."
Wajah Selene merona tipis, namun ia segera membuang muka. "Jangan mulai bicara gombal lagi. Kau sudah makan? Kalau kau tersesat dan lapar, aku bisa mengantarmu ke tempat makan terdekat, atau kau bisa singgah sebentar di sini."
Bingo. Umpannya dimakan. Damian tersenyum kemenangan di dalam hati. "Singgah sebentar sepertinya ide yang bagus. Aku ingin tahu apa yang membuat asisten panti sepertimu bisa tertawa selega tadi."