NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana

Angin malam menderu panjang di antara celah-celah batu bangunan tua, meratap di lorong-lorong sempit yang tak pernah tersentuh cahaya matahari. Ia membawa serta serpihan es yang menari-nari liar di kegelapan. Embun beku merayap perlahan, diam-diam, di atas batu-batu jalanan yang sudah licin oleh es, membuatnya berkilau pucat di bawah sorotan dingin bulan purnama yang menggantung tinggi.

"Dingin sekali hari ini," gumam Eliana hampir pada dirinya sendiri, suaranya hanya berupa embusan napas putih yang langsung lenyap ditelan udara.

Di sebuah ceruk terlindung di balik bangunan tua yang setengah runtuh, para anggota Organisasi IV berkerumun. Nyala api dari perapian darurat mereka—hanya beberapa potong kayu basah yang berasap dan kotoran kering yang mereka kumpulkan dengan susah payah—menjilat-jilat udara gelap dengan enggan dan malas, memantulkan bayangan-bayangan bergoyang yang liar dan tidak menentu di dinding batu yang lembap dan ditumbuhi lumut hijau gelap.

Suasana gang itu sunyi, hanya desis kayu basah yang terbakar dengan suara pshh, erat gigi yang beradu karena kedinginan, dan sesekali batuk kering yang memecah kesunyian.

Salah satu anggota, seorang pria bertubuh kurus kering dengan wajah yang selalu terlihat lapar meski baru saja makan, meringkuk lebih dalam ke dalam jubahnya yang tipis dan lusuh, lengannya mencengkeram tubuhnya sendiri. Getaran halus namun tak henti merambat dari bahunya hingga ke ujung jari. "Sampai kapan kita harus mencari Tuan Iago, Bos?" suaranya pecah.

Eldric memalingkan wajahnya dari api yang berderak, menatap pria itu. Sorot matanya, yang tertangkap cahaya api, berkerlip dingin. "Menurutmu, berapa lama?"

"Y-yah," pria itu gagap, menarik napas yang segera keluar sebagai kabut putih tebal, langsung membeku di udara. "Maksud saya... Ini sudah puncak musim salju, Bos. Pencarian pasti semakin sulit. Jejak kaki hilang dalam hitungan menit, orang-orang bersembunyi di dalam rumah masing-masing... Dan kita sendiri kedinginan."

Dari pojokan bayangan terdalam, Eliana tak bergerak sama sekali. Tubuhnya yang ramping membeku dalam posisi setengah duduk, setengah merangkul diri sendiri. Tatapannya kosong, hampa, tertambat pada pusat api yang berputar-putar dan berderak. Dia sedang memutar ulang kejadian terakhir kali dia bertemu dengan Iago—tatapan dinginnya yang menusuk, kata-kata penolakannya yang menghancurkan hati, kehangatan yang tiba-tiba hilang dari dunianya.

Tanpa sadar, buku-buku jarinya memutih, mencengkeram erat lutut jubah cokelat lapuknya hingga kain wol kasar itu mengerut dan berubah bentuk di bawah tekanan jari-jarinya. Kerutan halus, nyaris tak terlihat, muncul di dahinya yang biasanya mulus. Matanya yang merah menyipit ketika dia mengingat suara tuannya yang tegas, "Ini bukan urusanmu, Eliana. Pergilah." Sebuah perintah, sekaligus pengusiran.

Seorang anggota lain, seorang pria dengan mata sipit, menangkap ekspresi yang melintas cepat di wajah Eliana. Dengan gerakan hampir tak terlihat, dia menyentuh lengan Eldric yang besar dan berotot, lalu mengarahkan pandangan tajamnya ke sudut gelap tempat Eliana bersembunyi dari sorotan api.

"Ada apa, Eliana?" Suara Eldric menggema, memecah lamunannya.

Gadis itu tersentak. "Ah, itu..." Napasnya tertahan sebentar di tenggorokan, tercekat, sebelum akhirnya keluar sebagai kabut putih. "Tidak ada apa-apa kok. Hanya... kedinginan."

"Hm?" Eldric tidak melepas pandangannya sedikit pun. "Yakin? Wajahmu tadi seperti baru saja melihat hantu."

"Ya, Bos. Aku yakin." Jawabnya.

Pria besar itu kemudian bersandar sedikit ke belakang, menggeser berat badannya, hingga wajahnya sepenuhnya masuk dalam lingkaran cahaya api yang berkedip-kedip.

Tatapannya yang intens menelusuri setiap garis wajah Eliana. "Entah kenapa," ucapnya perlahan, suaranya rendah, "semenjak si kelinci gila itu berkeliaran sendirian di kota, kau jadi sering melamun. Seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Atau... menyembunyikan sesuatu yang penting dari kami semua."

Eliana membeku sepenuhnya. Seluruh tubuhnya kaku, getaran dingin di tubuhnya berhenti seketika.

"Sejujurnya," Eldric melanjutkan, tubuhnya yang besar kini condong ke depan, menciptakan bayangan besar. "Itu membuatku curiga padamu, Eliana. Kau dan Otto... kalian berdua punya rahasia, ya? Kalian tidak sedang menyembunyikan sesuatu tentang keberadaan Master Iago, kan? Atau lebih buruk lagi, kalian sudah menemukannya dan memutuskan untuk bermain sendiri, tanpa memberi tahu kami?"

Di bawah hantaman tatapan dan tuduhan berat itu, bibir Eliana bergetar halus, hampir tak terkendali. "Ti-tidak," bisiknya. Dia meraih ujung jubah coklatnya yang lapuk dengan kedua tangan, meremasnya. "Hanya saja... udara malam ini benar-benar menusuk tulang, Bos. Sepertinya jubah tua ini sudah tidak cocok lagi di musim dingin, ya?" Sebuah tawa kecil, tipis, dan getar keluar dari mulutnya.

Eldric mengamati jubah itu dengan seksama, dari kerah hingga ujungnya yang sudah usang, lalu kembali menatap wajah Eliana yang pucat pasi. "Ya, itu wol murahan dari Optherra. Terlalu sering digesek, dicuci dengan air kotor kali, hingga serat-seratnya rontok dan kehilangan semua minyak alaminya. Semua kehangatan yang seharusnya terperangkap di dalamnya... sudah lama menghilang."

Tiba-tiba, sebelum ketegangan di antara mereka memuncak menjadi sesuatu yang lebih buruk, salah satu anggota yang berjaga di pinggir, seorang pria berambut kribo tebal dengan pedang pendek di pinggang, berteriak keras sambil mengacungkan senjatanya ke arah kegelapan, "Siapa di sana?! Keluar atau kutebas!" Suaranya yang panik menggema tajam di lorong sempit, memantul dari dinding batu ke dinding batu lainnya.

Terkejut, semua orang—termasuk Eldric dan Eliana—menoleh serempak ke arah pandangan pria itu, tangan dengan refleks terlatih langsung meraih gagang senjata masing-masing.

"Ada apa?" tanya Eldric, tubuhnya sudah dalam posisi siap, sebelum dia memandang ke arah yang ditunjuk.

Di sana, dari balik tirai bayangan pekat dan gerimis salju halus yang terus turun, sebuah siluet gelap berdiri dengan postur sedikit menunduk. Saat sosok itu melangkah maju mendekat, masuk ke pinggiran cahaya api yang redup, alangkah terkejutnya mereka semua.

Itu adalah Otto.

Topeng kelincinya yang retak dan kotor, mantel cokelatnya yang basah kuyup membeku di beberapa bagian, dan rambut peraknya yang biasanya tersembunyi rapi kini terurai basah, menempel di kening dan pipinya.

"Ketemu," gumamnya lemah, napasnya terengah-engah.

"Oh, jadi si kelinci liar sudah kembali, ya?" Eldric berjalan melewati pria kribo, menghampiri Otto dengan langkah berat. Urat di pelipisnya terlihat berdenyut dan tangannya yang besar mengepal erat di samping tubuhnya. "Sudah puas kau berkeliaran sendirian tanpa pamit? Apa kau puas, sialan, meninggalkan kami di sini kedinginan tanpa kabar berita?"

"Akhirnya... sudah mulai..." Otto mengabaikan omelannya sama sekali. Tangannya yang gemetar melepas topeng kelincinya. Wajahnya yang pucat dan masih sangat muda terlihat jelas, mata birunya yang tajam namun lelah menatap mereka satu per satu. Napasnya masih terengah-engah, tidak beraturan. "Tanda-tanda... sudah mulai muncul."

"Hah? Tanda apa? Kau ngomong apa, Otto?" Eldric mendekat hingga hanya beberapa inci.

"Tanda-tanda keruntuhan Cirland," Otto menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang liar. "Sudah dimulai." Dia berhenti sejenak untuk mengatur napas. "Tepat seperti yang diperkirakan Tuan Iago bertahun-tahun lalu."

Tepat setelah kata-kata terakhir itu terucap, jantung mereka semua seakan berhenti berdetak untuk satu detik yang panjang, sebelum kemudian berdegup kencang, memompa darah yang tiba-tiba terasa panas meski cuaca dingin. Tidak terkecuali Eldric yang kini matanya membelalak lebar, pupilnya menyempit, sama seperti yang lainnya.

Suasana hening seketika. Udara di sekitar mereka jadi semakin terasa sesak.

"Ma-maksudmu..." Eliana dari belakang mencoba berbicara, suaranya serak.

"Ya," potong Otto tegas. "Keruntuhan Cirland. Perselisihan mulai terbuka dan memanas antara Kerajaan Valemira dengan Gereja Cahaya. Aku melihatnya sendiri hari ini."

Mereka yang baru saja mendengar pengumuman itu saling bertukar pandang dengan cepat, raut ketidakpercayaan dan keheranan yang mendalam jelas terpampang di wajah masing-masing. Alangkah terkejutnya mereka ketika perkiraan Tuan mereka yang dulu akhirnya mulai menjadi kenyataan yang tak terbantahkan.

"Tunggu dulu, Otto," kata Eldric. "Kau serius dengan ini? Dari mana kau tahu semua ini? Bukankah Kerajaan dan Gereja adalah sekutu paling kuat di Cirland? Mereka adalah dua pilar utama, bagian dari fondasi negara ini!"

"Jelaskan pada kami, Otto, jangan buat kami penasaran!" desak salah satu anggota lain, wajahnya penuh antusiasme yang tak tertahan, matanya berbinar.

Melihat mereka yang begitu keras kepala dan sulit percaya, Otto menghela napas panjang, lalu duduk di atas sebuah bongkahan batu besar di dekat api, merentangkan tangannya yang membiru ke arah sumber panas. "Aku baru saja menghabiskan waktuku tengah-tengah pusaran perseteruan mereka. Ceritanya... panjang. Tapi intinya, Putri Stella sendiri yang membawa aku ke Gereja Cahaya untuk bersaksi melawan Lavernus, dan apa yang kudapat di sana? Penolakan mentah-mentah, pembelaan buta dari para petinggi, dan tawaran untuk menyuapku agar diam."

Eldric segera melompat maju dengan mata melotot, memegang kedua bahu Otto dengan cengkeraman besi lalu menggoyang-goyangkannya keras-keras. "Jangan bercanda, sialan! Kau bertemu dengan gadis itu? Apa kau sedang mencari mati, bodoh?! Hah?! Dia bisa mengenali wajahmu dari daftar buronan! Atau lebih buruk, menangkapmu dan menyiksamu untuk mendapatkan informasi tentang kita!"

Otto, dengan gerakan cepat, menyingkirkan kedua tangan Eldric yang besar itu dan menarik diri menjauh. "Mulutmu bau. Tentu saja aku tidak sedang bercanda." Lalu dia menatap anggota lainnya yang masih terpana, mulut terbuka. "Kalian pikir untuk apa aku berkeliaran sendirian? Untuk bersantai-santai? Menikmati pemandangan salju yang indah? Tidak. Aku sedang mengumpulkan informasi vital. Asal kalian tahu."

"Mari kita semua tenang dulu." Eliana melangkah maju, menengahi mereka berdua dengan tubuhnya yang kecil. "Anggap saja perkataan Otto benar adanya, maka apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita hanya akan berdiam diri di sini? Menyaksikan mereka saling bertikai dari kejauhan?"

"Tentu saja tidak." Eldric kembali tenang, menarik napas dalam-dalam yang beruap. "Inilah saatnya, kawan-kawan. Saat yang selama ini kita tunggu-tunggu. Ini mungkin bagian dari rencana besar Tuan Iago yang bahkan kita sendiri tidak sepenuhnya pahami. Inilah kesempatan emas kita untuk bangkit kembali dari kegelapan."

"Untuk kali ini aku setuju denganmu, Eldric," ucap Otto, suaranya masih datar. "Tapi pertanyaan besarnya sekarang adalah: apakah kita bisa memanfaatkan situasi kacau balau ini tanpa kehadiran Master Iago?"

"Benar juga apa katamu, sialan." Eldric memegang dagunya yang berjanggut dan kotor, matanya yang tajam fokus pada bara api. "Tanpa Master, kita seperti kapal tanpa nahkoda di tengah badai paling dahsyat."

Mereka semua sontak berpikir keras. Wajah-wajah yang tadi lelah dan kedinginan kini penuh konsentrasi. Eliana yang masih berdiri di belakang, menatap tajam Otto dengan ekspresi yang campur aduk. Tentu saja, menurut pendapatnya, keputusan Otto untuk meninggalkan Iago bersama gadis berambut merah dan adiknya saat itu adalah sebuah kesalahan besar.

Tapi di sisi lain... bisakah mereka benar-benar membawa Iago yang ingatannya masih kacau balau, yang jiwanya masih terpecah, ke dalam pusaran politik? Apakah itu tidak akan memperburuk keadaan?

"Bagaimana dengan ini," Otto memecah keheningan yang berat dan menekan. "Perselisihan ini pasti akan membesar, menarik perhatian dan keterlibatan faksi-faksi lain di seluruh Cirland. Kita bisa memposisikan diri sebagai orang ketiga yang netral."

"Maksudmu bagaimana, Otto?" tanya salah satu anggota dengan penuh semangat, condong ke depan.

"Aku sudah cukup dekat dengan Putri Stella. Aku bisa menawarkan bantuan secara diam-diam kepada Kerajaan Valemira, dari dalam, sebagai mata-mata."

"Bantuan? Seperti apa contohnya?" Eldric mengangkat sebelah alisnya.

"Yah, misalnya sebagai mata-mata yang menyusup ke dalam lingkaran dalam Gereja Cahaya? Atau sebagai pengawal pribadinya yang bisa memberi informasi berharga tentang pergerakan musuh? Mata-mata adalah aset terbaik untuk mengetahui setiap gerakan. Dengan informasi, kita bisa mengendalikan arah pertarungan."

Setelah mendengar ide dari Otto, beberapa anggota mulai mengangguk-angguk setuju, wajah mereka berseri-seri oleh prospek tindakan nyata dan pengaruh yang bisa mereka raih.

Beberapa yang lain mengaku setuju dengannya dengan berbisik-bisik antusias. Hanya Eliana yang tetap diam seribu bahasa, hanya mengamati mereka dengan tatapan yang sulit terbaca.

Menurut kebanyakan dari mereka, menjadi pihak ketiga yang tak terlihat masih bisa dilakukan dengan aman tanpa kehadiran Iago secara fisik di tengah-tengah mereka. Tidak terlalu mencolok, namun bisa memberi keuntungan informasi dan mungkin materi yang cukup besar untuk bertahan hidup.

Namun, pria besar yang berjanggut dan memimpin mereka itu tiba-tiba tertawa keras. Suaranya dalam, bergema di lorong sempit, membuat yang lainnya terhenti dan heran. "Astaga," ucapnya di antara tawa yang tiba-tiba berhenti, "bodoh sekali kalian. Kalian semua terlalu bersemangat tanpa berpikir jernih."

Dia menatap Otto tajam, senyumnya yang tiba-tiba muncul kini menghilang seketika, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya. "Begini, apa kau benar-benar sudah sedekat itu dengannya, Otto? Atau ini hanya asumsi bodohmu berdasarkan satu atau dua pertemuan singkat?"

"Aku yakin kalau aku bilang 'sudah cukup dekat untuk dipercaya', bukan 'sudah dekat seperti saudara kandung'."

"Kalau begitu, idemu itu hanya omong kosong." Eldric menggeleng dengan tegas. "Kalian semua tahu sendiri kan bagaimana karakter Stella Valemira itu? Dia bukan gadis sembarangan. Dia adalah putri yang berhasil memecahkan kasus Pembunuh IV sendirian, kasus yang dilakukan oleh kita sendiri! Aku tidak ingin mengambil risiko sebesar itu. Satu kesalahan kecil saja, kita semua akan digantung berjejer di alun-alun kota."

"Lalu bagaimana menurutmu?" tantang Otto. "Organisasi ini tidak pernah mendapatkan kemajuan semenjak kau yang memimpin, Eldric. Kau hanya bisa menunggu, bersembunyi di lorong-lorong kotor, dan berharap Master Iago suatu hari akan kembali dan segalanya menjadi mudah dengan sendirinya."

"Ya. Itulah pilihan terbaik dan teraman saat ini—menunggu dengan sabar sampai waktu yang tepat." Eldric kembali duduk di tempatnya semula dengan gerakan berat, lalu bersandar malas di dinding batu yang dingin dan basah. Dia menghela napas panjang. "Setelah kupikir-pikir... bukankah hidup tenang seperti ini juga cukup enak? Bersembunyi, bertahan, tidak menarik perhatian siapa pun. Kita masih hidup, bukan? Itu sudah lebih dari cukup."

Setelah melihat Eldric bersandar pasrah dengan ekspresi lelah, tanpa semangat juang, wajah Otto berubah drastis. Ekspresi yang biasanya datar mencair, digantikan oleh sesuatu yang lebih tajam—api kemarahan yang selama ini dipendam.

Dengan gerakan yang begitu cepat, ia melesat menghampiri Eldric. Lalu, sebelum siapa pun di sekitar api sempat bereaksi, sebuah kilatan logam dingin muncul di tangannya—belati pendek bermata dua, mengkilat—dan mengarahkannya tepat di leher Eldric, menekan kulit tebal di atas urat nadinya yang berdenyut.

"Oh?" Eldric sama sekali tidak bergerak, tidak ada gentar, hanya matanya yang tenang menatap lurus ke mata Otto yang biru dan kini membara oleh amarah. "Memakai kekerasan sekarang, Otto? Sudah kehabisan akal?"

Otto mendekatkan wajahnya hingga hanya beberapa inci, suaranya rendah. "Kau... adalah orang yang paling pengecut yang pernah kutemui, Eldric. Kau mengkhianati visi Master, mengkhianati semua perjuangan kami, hanya demi rasa aman palsumu yang sempit. Kau tidak pantas memimpin organisasi ini."

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!