NovelToon NovelToon
TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_va

Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.

Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.

Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.

Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.



Simak cerita selengkapnya 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalung

"Iya, saya Nara," sahut Nara pelan.

"Anda siapa??"

"Aku......"

"Nara, nenek ini tuh majikan Rama. Kita sama-sama tahu, kalau Rama kadang jadi sopir pengganti," sela Gita sangat tidak sopan.

"Pasti mau nyuruh Rama nyetir atau jangan-jangan mau nagih hutang ya, Nek."

"Gita, yang sopan sama orang tua." tegur Nara tidak enak hati. Gita sangat keterlaluan.

Gita mencebik menatap si nenek dengan senyum miring nan sinis. Lalu tanpa berpamitan pergi.

Nara menarik napas, menghembuskannya cukup panjang. Gita yang dulu dikenalnya tidak separah saat ini. Dulu, masih punya adab sopan santun walaupun sombong.

"Apa Rama di rumah?"

"Mas Rama kerja, Nek. Hmmm Anda siapa ya?" Nara mengulang pertanyaan yang tadi. Nenek itu kok bisa tahu namanya.

"Aku Hanum, neneknya Rama dari pihak ibu," jelas Hanum.

Nara yang kaget refleks menutup bibir. Kedua matanya membulat. Dia juga agak terhuyung karena keduanya kakinya seolah kehilangan daya. Neneknya Rama?

"Kenapa kaget begitu. Oma mu ini nggak dipersilakan masuk?" tanya Hanum, kedua tangannya memegang tongkat.

"Silakan masuk, Bu," kata Nara.

"Panggil aku Oma."

"Iya." Nara agak meringis. Berjalan cepat membukakan pintu.

Nara menunggu di dekat pintu, memperhatikan Hanum yang bicara dengan sopirnya. Lalu berjalan pelan ke arah rumah kontrakan.

"Rumah kontrakan kami sempit," kata Nara.

"Cocok untuk pengantin baru," canda Hanum.

Ruang tamu itu memang tidak luas. Bahkan lebih besar kamar mandi di rumahnya. Satu sofa, meja di bawah televisi, karpet yang lembut di telapak kaki. Rama masih sama seperti yang dulu, selalu rapi.

Nara menawarkan minuman. Hanum minta teh hangat tawar. Saat di dapur, Nara menelepon suaminya. Tetapi tidak diangkat. Nara mencoba sampai tiga kali..

'Halo, Sayang. Ada apa? Tumben nelpon?'

cerocos Rama.

"Nenekmu datang ke rumah, Mas...." Nara berkata pelan. Terdengar suara kendaraan berat.

'Apa?!! Nggak dengar!'

Nara menekan tombol merah kemudian mengirim pesan. Daripada teriak-teriak, nanti kedengaran Hanum.

Nara: [Oma Hanum di rumah kontrakan. Nyari Mas Rama.]

Rama: (Aku segera pulang.]

Nara menaruh ponsel. Lantas membawa nampan ke ruang depan. Nara meletakkan cangkir di meja.

"Silakan diminum, Oma."

Hanum tersenyum ramah. Memperhatikan Nara yang duduk di kursi kayu, Manis sekali dengan kulit putih dan hidung yang mungil.

"Usia berapa?"

"Sebentar lagi dua puluh dua," jawab Nara agak kikuk.

"Tadi siapa? Saudarimu?"

Nara mengangguk. "Saudari sepupu. Mantannya Mas Rama. Gita namanya."

Hanum manggut-manggut. Ia tahu dari Sekar kalau Rama mendadak menikah. Menjadi pengantin pengganti.

"Oma sepertinya perlu memberikan sedikit kejutan untuk sepupumu itu."

"Maksudnya gimana, Oma?"

"Biar bibirnya bisa dikondisikan. Untung yang jadi istrinya Rama kamu." Hanum meraih cangkir di meja.

Nara menggaruk hidungnya. Penampilan dan aura Hanum membuatnya agak-agak ciut. Walaupun minim perhiasan hanya cincin di jari kanan, Hanum jelas terlihat dari kalangan atas. Nara memandangi kuku-kukunya yang tidak pernah tersentuh perawatan.

Suara mesin motor terdengar. Nara yang hafal, mengatakan kalau itu Rama. Motor itu berhenti di rumah kontrakan.

Rama melepas helm, juga jaketnya yang disampirkan di stang motor. Dengan buru-buru melepas sepatu.

"Oma, apa kabar?" tanya Rama. Dipeluknya Hanum karena kangen.

"Aku dengar oma sakit." Kemudian melepas pelukan.

"Nara, suamimu item gini kamu kok suka?" canda Hanum karena kulit Rama yang cokelat eksotis.

Nara mengulum senyum. Awalnya tidak suka, malas lihat Rama. Terpaksa demi orang tuanya. Sekarang bagai lem, tidak mau ditinggal.

"Oma nggak sakit, cuma kangen. Tapi kamu tetep nggak mau pulang sekedar jenguk nenekmu ini," jelas Hanum.

"Viola bilang kamu ngojek. Frans bilang jadi penyanyi kafe."

"Mau bagaimana lagi, yang penting ada pemasukan," sahut Rama duduk di sebelah Hanum.

"Papa menghalangi aku setiap melamar pekerjaan di kantor-kantor."

Rama menanyakan kakeknya. "Kenapa Oma sendirian?"

"Oma nggak sendirian. Itu diantar Vian juga Rara yang malah masuk angin, jadi dia istirahat di hotel. Opa nggak mau ninggalin kucing-kucingnya. Kamu tahu itu kan?" ujar Hanum.

"Kamu terlihat lebih segar dan ganteng. Pasti karena istrimu."

Rama menatap istrinya yang duduk di dekat pintu.

"Aku sangat mencintai istriku Nara, Oma."

"Oma lega kamu baik-baik saja." Hanum memegang tangan Rama.

"Mamamu sedang berusaha membuktikan kamu nggak bersalah."

Rama mengangguk. Senang mendengar mamanya mulai menyelidiki Bianca.

Hanum tidak berlama-lama, ia kembali ke hotel tempatnya menginap. Besok pagi kembali ke kota yang gegap gempita.

Nara tersenyum membuka kado dari Hanum. Kotak kado berwarna cokelat susu dan berpita merah tua.

"Aku kok nggak dikasih kado?" Rama duduk di belakang istrinya yang sedang melepas simpul kado. Tangan Rama melingkar di perut istrinya. Dagunya di bahu.

"Tadi minta Oma, Mas...." Kedua mata Nara membeliak. Tumpukan uang di dalam kotak. Juga ada kotak beludru hitam di dalamnya.

"Boleh nih nanti aku ditraktir."

"Banyak banget. Mas Rama aja yang nyimpen uangnya," kata Nara. Uang yang diberikan Hanum sejumlah tiga puluh juta.

"Kamu tabung aja, besok aku antar ke bank. Oma Oma... harusnya bisa ditransfer."

Kotak beludru berisi kalung kecil dengan tiga mutiara mungil.

"Sini aku pakaikan." Rama mengambil kalung itu.

Nara agak menunduk, tangan kanannya memegang bandul mutiara.

"Sudah," ucap Rama

Nara berdiri. Bercermin di depan kaca, melihat kalung minimalis yang melingkar di leher.

"Cakep, kayak kamu. Maaf, aku belum bisa ngasih perhiasan. Cuma cincin kawin," kata Rama agak-agak kesentil ego lelakinya. Karena uang yang tersisa difokuskan untuk usaha sendiri jika tidak diterima kerja.

"Mas Rama....." Nara cemberut.

"Kalau ngomong gitu lagi aku ngadep tembok lagi," candanya.

"Aku paksa ngadep balik."

Nara memeluk punggung Rama. Kepalanya rebah di sana. Nara mengatakan mencintai Rama karena sikap dan perilaku. Sabar menghadapi istri yang dingin.

"Aku nggak suka Mas Rama ngomong gitu. Aku mengenal lebih dulu Rama yang katanya nggak punya kerjaan tetap daripada Rama putra kedua pengusaha," ucap Nara, lalu mengusel-usel punggung suaminya.

Rama tersenyum mendengarnya. "Jangan ngusel terus. Nanti ada yang tegang."

Telapak tangan kanan Nara menepuk bahu Rama dan buru-buru berdiri menghindar.

...****************...

Gita di butik bersama Harmi dan Yuni. Mencoba tiga baju pengantin yang dipesan.

Harmi agak cemberut karena sifat Gita yang boros. Walaupun gaun yang dipesan dibayar keluarga Gita sendiri. Harmi khawatir, ketika sudah berumah tangga sifat boros itu makin menjadi-jadi.

Mobil warna kuning sengaja dibelikan karena ingin membuat Nara makin patah hati ditinggal Dewa. Harmi juga ingin membuat Risna menyesal karena sangat arogan saat mengembalikan seserahan waktu lamaran. Ingin membuat Nara dan Risna menyesal karena menjelekkan Dewa.

"Mbak, agak sesak ya...." keluh Gita saat mencoba gaun pengantin model kebaya.

"Sepertinya Mbak Gita mengalami sedikit penambahan berat badan," ucap Keira, pemilik sekaligus desainer baju.

"Tenang saja, bisa dilonggarkan sedikit."

"Kamu itu apa nggak diet, Git?" ucap Harmi.

"Udah, Bu. Udah diet." Gita mendecak pelan, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Yuni.

Gita sempat menjaga pola makan. Tetapi gagal, sehingga berat badannya malah naik.

Selesai fitting gaun pengantin, Gita mengajak ibunya dan Harmi makan di restoran mewah. Sehari sebelumnya sudah reservasi.

Gita memotret sajian di meja makan bulat. Piring-piring putih tebal yang terlihat wah, juga sendok, garpu, dan pisau yang terlihat kokoh.

Sengaja ia posting di story WA dan dua akun media sosial miliknya. Gita geram karena postingan Nara cukup ramai. Banyak yang berkomentar betapa mesra nan estetik.

Gita beralih memotret Harmi yang sedang bicara dengan Yuni. Setelah edit sana sini, Gita memosting tiga foto. Salah satunya fitting di butik.

Lantas dia mengetik caption: Tiga hari menuju hari H, kemarin dibelikan mobil sekarang diajak makan di restoran. Love banget ibu mertua.

Gita tersenyum puas. Karena belum bisa pamer suami di atas seprai kusut, pamer ibu mertua dulu.

Pasti kaum hawa akan berkomentar betapa beruntungnya punya ibu mertua yang baik hati dan perhatian. Gita tidak sabar membalas komentar-komentar itu.

...****************...

Risna menyiapkan makan siang untuk menantu dan putrinya yang sebentar lagi sampai.

Yuda mencomot perkedel kentang. Risna refleks memukul lengan putra bungsunya itu.

"Cuma satu, Ibuk!"

"Makan aja, Yud. Jangan ditaruh di piring lagi," cegah Risna.

Yuda memasukkan semua perkedel ke mulut. Lalu menyusul bapaknya yang menunggu di ruang tamu.

"Ibu dan bapak ini kayak nunggu Mbak Nara yang nggak pulang selama seabad," kelakar Yuda.

"Masalahnya, Nara yang bilang mau datang. Bapak kerja apa nggak. Katanya ada hal penting. Gitu, Yud ...." tukas Rahmat.

"Hamil mungkin." Risna ikut menimpali.

"Bisa jadi." Rahmat manggut-manggut setuju.

Tidak butuh waktu lama, yang ditunggu datang juga. Nara membawa tiga paper bag. Rama juga membawa sekeranjang buah.

"Ada apa? Kalian berbuat salah? Kok bawa oleh-oleh banyak," gurau Risna.

Nara pura-pura cemberut seraya menaruh paper bag di kursi. Rama duduk di sebelah Rahmat.

Karena Risna tidak sabaran, akhirnya Rama menceritakan tentang dirinya tanpa ada yang ditutupi.

Rahmat tampak tenang dan hanya menghela napas pendek. Reaksi Yuda dan Risna hampir sama, bibir menganga dan mata membulat.

1
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
sepanjang jalan kenangan kak😂
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜: Nah itu masalah nya😭😭😭😭🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
꧁ռǟռǟ꧂
panggilan pak rete Kayak nama korea "suho eh suha" 😄😄😄
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Pingsan dong Bu😂😂😂

Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Hmmmmm kecelakaan Radit di sengaja,

Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨

Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Iri bilang bos 😂

Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,

Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
Tri Wahyuni: si gita minta di tampol 😭🤭
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
mulai kebongkar nih siapa Bianca...
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Yg banyak atuh kak,
nanggung kelanjutan nya 😬😬
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Bu Risna Shok ternyata memiliki menantu orang kaya😂😂
Tri Wahyuni: shik shak shock 🤭🤣
total 1 replies
꧁ռǟռǟ꧂
suka sama ceritanya tentang kehidupan sehari hari,, baca sambil bayangin, Kalo gk masuk di bayangan brati ceritanya kurang masuk di Hati......
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
syirik bgt sih nih orang.. 😂😂
Tri Wahyuni: minta di tampol kayanya 😭🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
Nara maklumi saja suami mu ya dia kan polos...😂😂
Tri Wahyuni: pura² polos 🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor..
Tri Wahyuni: baik. di tunggu updatenya kak 😍
total 1 replies
Poni Jem
sampai saat ini belum ada typo. masih baik untuk dibaca. semangat trs 👌
Tri Wahyuni
bagus 🥰
Tri Ayu
semangat berkarya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!