Bayangin kalo kamu jadi Aku?
Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?
penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusui Rasyid
Di rumah Abi, Aku melihat Rasyid di timang sama fattah dan istrinya menatap sendu putraku dengan tatapan hangat mereka.
Hamdan baru saja keluar kamar mandi dan baru selesai sholat asar. kemudian Fattah melihatku dan bergantian menggendong Rasyid agar Fattah menunaikan sholat asar bareng istrinya.
"Sayang? sini. biar Rasyid aku yang gendong ya? kamu sholat aja gih."
Aku mengangguk dan menyerahkan Rasyid pada suamiku.
"Anak ayah ganteng. mirip Ayah apa Bunda? dua-duanya aja deh hehe." Hamdan berbicara pada anak kita namun aku tersenyum saat mendengarnya belum jauh dari belakangku.
Jam pukul 16:37 sore.
.
.
"Ri? nisa mau ke pasar beli buah. lu mau nitip apa?"
Aku menoleh melihat reaksi Hamdan, Hamdan mengkode anggukan agar aku merespon.
"Hmm blewah aja kali ya? apa melon mas?" kataku.
Hamdan terus menimang Rasyid dan Abi Rehadi datang ingin bergantian menggendong anakku.
"Melon juga boleh sayang sesuka kamu aja? kalo boleh dua-duanya aja Fat."
Fattah mengangguk ucapan Hamdan.
"Yaudah Ri, Gua ama nisa jalan dulu. Nis ayo jalan."
Nisa membungkuk sopan lalu mengikuti langkah Fattah didepan.
"Orang tua kamu belom kesini Riana?"
Abi rehadi terlihat memerhatikan sekitar.
"Belum Abi," kataku melihat Rasyid menangis keras.
"Haus ya? hehehe gemes banget anak ayah haus. cup cup-- anak sholeh ayah? nih ada Bubun disamping Ayah."
"Abi kan baru gendong nakk? anak ganteng Abi tiba tiba nangis." Abi Rehadi mencium badan cucunya dengan hangat penuh sayang.
Aku tersenyum melihat reaksi Abi. lalu mendengar Hamdan sehalus itu dengan Rasyid buat aku terharu.
Aku mengambil Rasyid daru dan ku gendong ke kamar yang berbeda.
soalnya karna Fattah belum ada rumah sendiri jadi, sementara Fattah dan Nisa istrinya tinggal dirumah Abi Rehadi dulu.
dikamar yang baru di bikin itu ada gorden panjang dan 1 kipas angin sama Tv digital.
ruangan bercorak klasik merah bata warna catnya dan ranjang sederhana.
1 buah lemari dan 1 kamar mandi baru didalamnya.
Kata Abi, kamar baru ini untuk aku jika ingin menginap dan pindahnya tidak di kamarnya Fattah lagi.
Aku masuk kamar dan menutup pintu.
lalu menyusui Rasyid dengan hati-hati dan berusaha tenang.
Karna yang namanya menyusui bayi itu pasti ada rasa-rasa ngilu dan rasa geli yang hebat.
jadi mencoba untuk menahan getaran perasaan tersebut.
Ketika seluruh energi cinta itu di hisap oleh anakku, memang rasanya ngilu yang hebat meraung ke ubun-ubun kepala rasanya itu hampir ingin menangis tapi bercampur perasaan cinta ku pada Rasyid yang masih mungil.
Hamdan membuka pintu melihatku meringis saatku menyusui anak kita.
"Tahan sayang, jadikan moment ini pasti akan kamu rindukan suatu saat Rasyid beranjak 2 atau 3 tahun."
"Sakit mas." lirihku.
"Pas waktu bukan sama Rasyid melainkan sama aku? emangnya ga sesakit itu Sayang?"
"Beda. lidah bayi ternyata tajem mas. udah ah kamu ga ngerti rasanya."
aku merundel dengan Hamdan yang masih setia menemaniku menyusui.
"Yaudah, Aku bantuin tenangin Rasyid menyusunya gimana?"
"Boleh." Merespon anggukan.
Tangan hamdan memainkan pipi Rasyid yang masih stay menyusu disana.
"Rasyid? pelan pelan aja yaa, ga di ambil kok sama ayah hmm. Ayah ada bagiannya nanti, kamu pelan-pelan aja ya kasian Bubun kesakitan tuh. kamu cepet gede aja yaa biar gantian aja sama ayah."
Aku menggigit bibirku menahan tawa.
ini namanya suami bukan nenangin bayinya, tapi membuat syarat ketika anakku sudah lebih besar.
Hamdan suami yang memang ada aja akal randomnya.
TBC.
Lanjut?
semangat tor