Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Berdebat sudah menjadi hal yang biasa bagi Fatwa jika ada satu kata saja yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Selama ini Kevin selalu memilih diam dan mengalah. Bukan karena tak mampu melawan, melainkan karena ia merasa itu tak sepadan.
Namun kali ini berbeda. Toh sebentar lagi wanita itu bukan lagi mertuanya, pikir Kevin.
“Aku sudah bilang, aku akan pisah dengan Iren. Dan semua yang pernah aku beri akan aku ambil kembali,” ucap Kevin tanpa berusaha menurunkan suara ataupun menyembunyikan maksudnya.
Alih-alih terkejut, Fatwa justru tertawa terbahak-bahak. Tawanya panjang dan meremehkan, seolah Kevin baru saja melontarkan lelucon paling konyol.
“Kevin, Kevin,” ujarnya sambil menggeleng. “Kamu kalau pisah sama Iren mau hidup jadi gembel di luar sana? Masih untung Iren nggak pernah menuntut macam-macam selama kamu jadi suaminya. Ini malah belaga mau ambil ini dan itu. Sadar posisi, sadar diri.”
Kevin menatapnya datar, tiidak ada lagi keinginan untuk menjelaskan. “Terserah,” jawabnya singkat. “Percaya syukur. Nggak juga tidak masalah.”
Ucapan itu justru membuat amarah Fatwa memuncak. “Kamu ini lelaki nggak guna!”
Tangannya terangkat, seperti yang sudah sering ia lakukan selama ini. Namun kali ini Kevin lebih sigap. Ia menahan pergelangan tangan wanita itu sebelum sempat menyentuhnya.
Tatapan Kevin berubah dingin. Rahangnya mengeras, jika orang di depan ini seorang lelaki sebaya dengannya mungkin ia sudah membalas berkali-kali lipat, tapi ini seorang wanita dan sudah berusia. Ia pun menahan, tapi mulutnya yang membalas.
“Jangan pura-pura lupa, Bu Fatwa,” ucapnya tenang namun tajam. “Dulu saat suami Anda meninggal, yang tersisa hanya hutang untuk kalian berdua.”
Fatwa terdiam, namun sorot matanya masih menyala.
“Selama ini siapa yang menutup itu semua?” lanjut Kevin. “Siapa yang menutup cicilan rumah, biaya hidup, bahkan utang lama yang tidak pernah saya buat?”
Ia melepaskan tangan Fatwa perlahan. “Anda selalu bilang saya tidak berguna,” katanya lagi, kini suaranya lebih rendah. “Kita lihat saja nanti. Setelah saya pergi, apa keluarga ini masih bisa berdiri.”
“Kevin, kamu benar-benar sudah berani sekarang ya? Kalau kamu merasa sehebat itu, silakan pergi dari sini!” bentak Fatwa sambil menunjuk ke arah pintu.
Fatwa yakin lelaki itu hanya menggertak. Selama ini Kevin selalu kembali melunak setiap kali diusir. Apalagi ia tahu betul bagaimana Kevin mencintai Iren. Namun Kevin hanya menarik sudut bibirnya tipis, tidak membantahan, tidak ada emosi yang meledak. Ia berbalik dan melangkah menuju kamar.
Langkah Kevin terlalu tenang membuat Fatwa sedikit cemas.
Beberapa menit kemudian Kevin keluar sambil menyeret koper. Suara roda koper bergesekan dengan lantai terdengar jelas di ruang tamu yang mendadak sepi.
“Kevin!” teriak Fatwa.
Kevin tetap berjalan. Tangannya mantap menggenggam gagang koper. Di ambang pintu ia berhenti, bukan untuk kembali, melainkan hanya untuk menyisakan satu kalimat.
“Tolong sampaikan pada Iren, kita bertemu di pengadilan.”
Tak lama pintu terbuka lalu tertutup. Membuat Fatwa berdiri kaku. Tangan yang tadi menunjuk pintu perlahan turun. Dadanya terasa sesak, napasnya memburu, ia memegang dada dengan wajah yang kehilangan warna.
Beberapa menit kemudian Fatwa meraih ponselnya dengan tangan yang masih gemetar. Ia mencari nama Iren lalu menekan tombol panggil. Dering terdengar beberapa kali sebelum akhirnya tersambung.
“Ada apa, Bu? Aku lagi di rumah sakit, nganter Vano periksa,” suara Iren terdengar tergesa namun tetap tenang.
“Iren, kamu segera pulang. Ini masalah besar, Kev—”
Iren berdecak pelan. Dadanya sudah lebih dulu dipenuhi kesal sebelum ibunya selesai bicara. Tadi Kevin sudah mendapatkan apa yang ia mau. Lalu apa lagi sekarang?
“Bu,” potongnya cepat, “Kevin memang seperti itu. Sudah biarkan saja apa yang ingin dia lakukan. Nanti juga balik sendiri seperti biasa. Ibu nggak perlu khawatir.”
Di seberang sana Fatwa terdiam, napasnya masih terdengar berat.
“Kalau aku sudah selesai nganter Vano, aku langsung pulang,” lanjut Iren tanpa memberi ruang. “Sudah dulu ya, Bu.”
Panggilan terputus. Fatwa menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Awalnya ia masih merasa cemas tapi mendengar Iren berkata demikian ia menjadi tenang kembali dan tak ingin ambil pusing.
***
Sementara itu di ruang tunggu rumah sakit, Iren duduk dengan ponsel yang baru saja ia turunkan dari telinga. Tatapannya masih terpaku pada layar yang telah gelap. Perkataan ibunya barusan terasa janggal, namun ia memilih mengabaikannya.
Di sampingnya, Vano memperhatikan sejak tadi. Ia tidak benar-benar mendengar seluruh percakapan, tetapi cukup untuk menangkap nada tegang di suara Iren.
“Kevin bikin masalah lagi?” tanyanya pelan.
Iren menggeleng kecil. “Biasa saja.”
Vano menunduk, lalu tersenyum tipis yang nyaris tak terlihat. “Maaf ya. Ini pasti karena aku. Kalau saja aku nggak minta kamu temani, mungkin kamu nggak perlu ribut lagi di rumah.”
Nada suara Vano terdengar tulus, namun terlalu terukur.
Iren menoleh. Wajah Vano memang tampak pucat, entah karena sakit atau karena sengaja diperlihatkan seperti itu.
“Jangan menyalahkan diri sendiri,” ucap Iren lebih lembut. “Kita sekarang teman dekat. Aku pasti bantu.”
Vano menghela napas pelan, seolah masih menyimpan beban.
“Tapi Kevin bagaimana? Aku tahu dia sangat mencintaimu. Dia pasti cemburu.”
Nama itu membuat Iren terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sesak. Beberapa hari terakhir Kevin memang berbeda. Tidak lagi menanyakan keberadaannya, tidak lagi mempersoalkan kepulangannya. Bahkan tadi pagi pun ia dibiarkan pergi begitu saja.
Tidak ada larangan apalagi tatapan yang menahan untuknya agar tidak pergi. Keheningan itu justru lebih mengganggu.
Vano menangkap perubahan raut wajah Iren.
“Ada apa?” tanyanya pelan, suaranya diturunkan seperti orang yang benar-benar peduli.
Iren menarik napas tipis. “Aku merasa Kevin sedikit berubah.”
Vano terdiam sejenak, lalu perlahan meraih tangan Iren. Genggamannya hangat, menenangkan.
“Iren,” katanya lembut, “dia tidak mungkin berubah secepat itu.”
Iren menatapnya.
“Mungkin saja dia sedang bermain tarik ulur. Kamu tahu sendiri, laki-laki kadang seperti itu. Mereka pura-pura menjauh supaya kita merasa kehilangan.”
Ia berhenti sejenak, memastikan setiap katanya masuk.
“Kalau dia benar-benar putus asa, dia tidak akan diam. Dia akan berusaha keras. Jadi kalau sekarang dia terlihat tenang, bisa jadi itu cuma cara supaya kamu tetap di sisinya.”
Iren menggigit bibirnya pelan. Logika itu terdengar masuk akal.
“Kamu yakin dia cuma bermain?” tanyanya.
Vano tersenyum tipis. “Tentu. Aku dan dia sama-sama laki-laki. Aku tahu pola pikirnya. Lagipula dulu aku cukup dekat dengannya.”
Tangannya sedikit menguat menggenggam tangan Iren.
“Kamu hanya perlu tetap seperti ini. Nanti dia sendiri yang akan kembali," jawab Vano, tapi di balik wajah pucatnya, sudut bibir Vano terangkat samar.
Iren mengangguk pelan, meski jauh di dalam hatinya masih ada rasa ganjil yang tak sepenuhnya hilang. Namun, kini ia fokus pada Vano lalu bertanya, "Apa dulu kamu juga seperti itu?"