Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Sang Model dan Labirin Pikiran Eleanor
Di sebuah apartemen penthouse mewah dengan pemandangan kota London, suasana terasa mencekam. Suara pecahan kaca terdengar nyaring saat sebuah vas bunga mahal menghantam dinding. Lyodra berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu, matanya merah menatap layar ponsel yang menampilkan laporan kegagalan rencana semalam.
"Bodoh! Semuanya tidak berguna!" Teriak Lyodra frustrasi.
Dua pria yang ia sewa menghilang tanpa jejak, dan Tuan Miller baru saja meneleponnya dengan suara gemetar, mengatakan bahwa perusahaannya berada di ambang kehancuran karena Edward Zollern menarik semua investasi dalam semalam.
"Kenapa harus Edward sendiri yang datang?!" Lyodra mencengkeram rambutnya. "Seharusnya Eleanor hancur semalam! Seharusnya dia menjadi skandal terbesar bagi keluarga Lichtenzell! Tapi kenapa malah Edward yang menyelamatkannya?"
Lyodra merasa terjepit. Ia menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil untuk menjatuhkan Eleanor justru membuat Edward semakin protektif. "Kau pikir kau sudah menang, Eleanor?" desisnya tajam. "Jika aku tidak bisa menghancurkan tubuhmu, aku akan menghancurkan posisimu. Aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi meski aku harus membakar seluruh London!"
Kantor Pusat Lichtenzell Group – Waktu yang Sama. Berbeda jauh dengan suasana panas di tempat Lyodra, di kantornya sendiri, Eleanor sedang mengalami "perang batin" yang sangat melelahkan. Ia duduk di kursi direkturnya, namun matanya tidak fokus menatap dokumen kerja sama yang ada di depannya.
Setiap kali ia mencoba membaca satu kalimat, potongan memori semalam mendadak terputar otomatis di kepalanya.
Bayangan ia menarik kerah kemeja Edward... Sentuhan kulit dada Edward yang kokoh... Dan bagian paling memalukan adalah ia yang memimpin ciuman panas itu dengan begitu rakus.
"Aaaarrghhh! Eleanor, kau benar-benar memalukan!" Teriaknya pelan sambil membenturkan jidatnya ke atas meja kerja yang dingin.
Tata, yang baru saja masuk dengan plester kecil di tengkuknya akibat kejadian semalam, langsung tertegun melihat tingkah bosnya. "Nona? Anda baik-baik saja? Apa kepala anda masih sakit?"
Eleanor langsung duduk tegak, merapikan rambutnya dengan canggung. "Eh? Tata! Kau... kau sudah sembuh? Maafkan aku, semalam gara-gara aku kau jadi terluka."
"Tidak apa-apa, Nona. Tuan Edward sangat baik, beliau membiarkan saya dirawat di rumah sakit pribadinya semalam," jawab Tata tulus. "Tapi Nona, Anda terlihat sangat tidak fokus hari ini. Apa terjadi sesuatu yang buruk setelah saya pingsan?"
Wajah Eleanor seketika berubah menjadi merah padam. Ia teringat tuduhan Edward bahwa ia telah "memperkosanya dengan brutal".
"Tidak! Tidak ada! Semuanya... semuanya terkendali!" Jawab Eleanor cepat, namun suaranya terdengar terlalu tinggi. "Aku hanya... hanya sedang memikirkan strategi bisnis! Ya, strategi!"
Eleanor kembali menatap dokumennya, tapi yang ia lihat bukanlah angka-angka laba, melainkan bayangan wajah Edward yang sedang menyeringai tipis di balik jubah mandinya tadi pagi.
'Apa aku benar-benar sebuas itu semalam? Tapi kenapa aku tidak merasa sakit sama sekali? Apa mungkin Edward sangat berpengalaman sehingga dia bisa menjagaku tetap nyaman? Oh Tuhan, apa yang kupikirkan?!' Eleanor menutup wajahnya yang panas dengan kedua tangan.
Ia merasa sangat bersalah sekaligus berhutang budi. Eleanor, yang biasanya selalu punya seribu kata untuk mendebat Edward, kini merasa seperti tawanan yang menyerah tanpa syarat. Baginya, Edward telah menyelamatkannya dari bahaya besar, dan ia justru membalasnya dengan "perilaku liar".
"Tata," panggil Eleanor dengan suara lemah.
"Ya, Nona?"
"Tolong kosongkan jadwal soreku. Aku harus... menyiapkan diri untuk makan malam dengan Tuan Zollern."
Tata tersenyum lebar. "Wah, akhirnya Nona mulai membuka hati?"
"Bukan membuka hati!" Sanggah Eleanor cepat. "Ini adalah bentuk... pertanggungjawaban moral. Ya, moral!"
Eleanor kembali termenung. Ia tidak tahu bahwa semua "rasa bersalah" ini adalah bagian dari rencana licik Edward untuk menjinakkannya. Dan ia juga tidak tahu, bahwa di luar sana, Lyodra sedang menyiapkan rencana baru yang jauh lebih berbahaya untuk menghancurkan reputasinya sebagai putri mahkota Lichtenzell.