Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Kelam Sensei Nakamura
Hari pertama pendaftaran ekskul karate, aula sekolah berubah jadi seperti dojo yang sesungguhnya. Lantai dipel dengan sampai bersih, dan dilapisi matras karate warna biru terang, garis barisan juga sudah ditarik. Dan Sensei Nakamura yang bertubuh atletis dengan muka garang berdiri di depan meja berkas dengan menyilangkan tangan di dada seperti seorang malaikat penjaga gerbang neraka yang bengis.
Rommy melihat Axel mendaftar ekskul karate ini. Pandangan mata mereka bertemu, dan mereka saling menatap tajam. Axel menunjukkan jempolnya ke arah bawah, pertanda dia menghina Rommy. Rommy hanya menatap lekat gerak-gerik Axel saja tanpa t reaksi berlebihan. Aroma permusuhan masih kentara sekali, walau mereka sudah disatukan dalam kepanitiaan kegiatan sosial sekolah.
Lalu satu per satu murid maju, menyerahkan map, lalu mundur tanpa banyak bicara. Di ujung antrean, Rommy meremas map tipisnya, yang terasa terlalu tipis jika dibandingkan dengan berkas anak-anak lain.
Axel maju duluan, sensei Nakamura memeriksa berkas itu dengan teliti, dan berkasnya ditanyakan lengkap. Kemudian Mauren menyusul, rapi, tenang. Sama. sensei Nakamura memeriksa berkas milik Maren lalu memandang wajah Mauren.
“Kamu sudah sabuk hitam dan ke-6?” tanya Sensei Nakamura sambil melanjutkan membaca berkas Mauren
“Benar, sensei,” jawab Mauren pelan.
“Bagus nanti kamu sparring sama saya sekaligus bantu-bantu,” jawab Sensei Nakamura.
Berikutnya nama “Rommy” dipanggil, dan Rommy melangkah maju, dia nampak takut ditolak ikut ekskul karate ini karena berkasnya belum lengkap, namun dia berusaha tampak tetap tenang.
“Maaf, Sensei, saya sedang sibuk mengurus kegiatan sosial sekolah. Surat izin orang tua saya akan susulkan 1-2 hari,” kata Rommy kepada Sensei Nakamura.
Namun, sensei Nakamura benar-benar tidak mau berkompromi dan sama sekali tidak membuka map itu. “Tidak bisa. Surat izin orang tua wajib hari ini.” Tatapannya dingin, tanpa marah, justru lebih menekan. “Tanpa itu, kamu tidak bisa ikut.”
“Lalu?” Tanya Rommy.
“Kamu bisa menunggu di luar atau pulang. Pokoknya tidak boleh berada di area aula atau dojo ini,” jawab Sensei Nakamura tegas.
Rommy hanya bisa menunduk, dan berjalan gontai ke luar aula.
Dari belakang, Axel nampak menyeringai lalu mengepalkan tangannya sambil menatap Rommy yang nampak putus asa. Gerakan kecil itu cukup membuktikan bahwa aroma permusuhan Axel dan Rommy masih terasa.
Selanjutnya latihan dimulai, dan Sensei Nakamura melakukan latihan bersama, lalu memisahkan para murid dalam dua barisan, yang belum pernah latihan karate dan yang sudah pernah latihan karate, dan menyuruh para murid yang sudah pernah berlatih karate untuk melakukan sparring.
Kecuali Mauren yang ilmu karatenya sudah tinggi, dia ajak melakukan sparring. Gerakan-gerakan Mauren sungguh luar biasa, Di samping gerakan indah, kuda-kuda Mauren juga sangat kokoh, termasuk melakukan mawashi geri, tendangan melingkar yang hanya bisa dilakukan oleh karateka level tinggi.
“Luar biasa, Mauren! Kemampuanmu sudah tinggi!” puji Sensei Nakamura. Mauren pun menerima pujian dari Sensei Nakamura dengan melakukan salam khas dalam karate, yaitu membungkuk dalam, tanda kerendahan hati.
Namun di balik tatapan tegas dan dingin sensei Nakamura itu, tersimpan sebuah luka yang sangat dalam.
Melihat Mauren, dia teringat kejadian di kota Osaka, Jepang 20 tahun lalu, dimana terjadi sebuah kecelakaan tragis di suatu jalan raya. Anak dan istri Nakamura muda tewas dalam sebuah kecelakaan tragis di sebuah jalan tol.
“Maaf, tuan Nakamura, tim dokter sudah berusaha sekeras mungkin menyelamatkan anak dan putri anda, tapi mereka tidak tertolong,” kata dokter Nakata sambil menunduk dalam sebagai pertanda simpati yang dalam.
Dalam kondisi terluka parah, Nakamura muda yang biasanya garang itu melolong dan menangis dengan sangat menyedihkan. Tangannya terkepal dan menghantam pintu kamar rumah sakit dengan keras yang mengagetkan seluruh dokter dan perawat yang ada disitu.
“Kenapa bukan aku yang mati saja? Kenapa harus mereka?” Teriak Nakamura sambil menangis perih. Beberapa petugas keamanan harus menenangkan manusia perkasa yang sedang sangat terpukul itu.
“Lepaskan aku!” Nakamura berontak sekuat tenaga, dan perlu 5 orang petugas keamanan untuk menenangkannya.
“Untuk apa aku hidup?” Tanya Nakamura kepada diri sendiri sambil terisak setelah ia berhasil ditenangkan oleh para petugas keamanan. “Semua yang kucintai telah pergi.”
Bukan itu saja penderitaan yang dialami oleh Nakamura muda. Saat itu dia tengah berada pada posisi puncak sebagai atlet karate di Jepang yang berprestasi, terpaksa harus mundur dari dunia yang sangat dicintainya tersebut akibat cedera kaki yang dialaminya dalam kecelakaan tersebut.
Kejadian mengerikan yang terjadi bertubi-tubi itu menjadikannya seorang sensei karate yang berusaha melupakan masa lalunya yang menyedihkan dengan melanglang ke seluruh dunia, melupakan bayang-bayang kelam yang dialaminya dengan mengajar karate di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Melihat Mauren, dia teringat anak gadisnya yang tewas dalam tragedi yang tak terbayangkan itu. Andai putri Sensei Nakamura masih hidup, mungkin dia sudah sepantaran Mauren, yang sama-sama cantik dan sama-sama jago karate.
Axel yang belajar karate dari Serial tentang karate di Netflix merasa ilmunya sudah setinggi langit dan petentang-petentang caper dihadapan cewek-cewek SMA Tunas Bangsa yang ikut ekskul karate sore itu, termasuk Mauren.
Dia melakukan tendangan tinggi seperti dalam film itu, tapi kuda-kudanya sepertinya kurang kuat, jadi dia jatuh terjengkang di atas matras dan semua malah mentertawakannya.
Hanya Sensei Nakamura yang tidak tertawa dan tampak tidak senang, “hey kamu!” Siapa nama kamu?”
Anak-anak spontan berhenti tertawa, ruangan aula mendadak sepi mendenar bentakan sensi Nakamura.
“Axel, sensei,” jawab Axel.
“Axel, kalau latihan karate harus serius, dan jangan buat aksi sok jago di sini!” bentak Sensei Nakamura.
“Mengerti, sensei!”
Di luar aula, tampak Rommy gontai karena gagal ikut eksku karate. Kekecewaan terbesarnya adalah karena dia gagal melihat wajah Mauren yang begitu manis dalam balutan seragam karate. Lalu dia memutuskan untuk berlatih tinju (shadow boxing) di lapangan basket.
Gerakannya sudah lebih luwes dan lentur sekarang dan lebih enak dilihat.
Logan, papa Mauren, yang sedang menjemput Mauren melihat Rommy melakukan shadow boxing di lapangan basket dan menghampirinya.
“Kamu temennya Mauren yang juga berlatih di Sasana Bulungan kan? Tanya papa Mauren.
“Betul om. Nama saya Rommy, om,” jawab Rommy.
“Gerakanmu sudah sangat bagus waktu om pertama kali lihat di Sasana Bulungan, Rom,” kata Papa Mauren.
“Terimakasih, om,” jawab Rommy.
Lalu papa Mauren membetulkan posisi tinju Rommy dan memberi beberapa pengetahuan tinjunya sebagai mantan petinju juara nasional.
Mauren yang barusan selesai berlatih karate melihat papanya melatih Rommy. Dia tersenyum, karena papanya bisa dekat dengan temannya.
“Bagus, pukul lebih cepat yang penting. Pukulan keras itu mudah dilatih nanti, tapi yang penting kecepatan dan posisi serta kuda-kuda dulu yang dilatih,” kata papa Mauren mirip coach Barda pelatih tinju Rommy yang asli.
Axel yang keluar dari aula melihat dari jauh bagaimana papa Mauren melatih Rommy, musuh besarnya itu.
“Terus berlatihlah, kawan. Supaya kau bisa menghadapiku nanti,” kata Axel dalam hati.