NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.

Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Sebelum Waktu Habis

...— ✦ —...

Kirana pertama kali merasakannya pada hari Kamis.

Bukan sakit. Bukan pusing. Sesuatu yang lebih sulit dideskripsikan dari itu — seperti sinyal radio yang mulai kehilangan frekuensinya, seperti genggaman yang sedikit mengendur tanpa peringatan. Ia sedang menyisir rambut di depan cermin ketika merasakannya: sedetik, tidak lebih, di mana tangannya terasa seperti bukan tangannya. Di mana pantulan di cermin terasa seperti kaca jendela yang ia lihat dari luar, bukan dari dalam.

Lalu sedetik itu berlalu dan semuanya kembali normal.

Kirana meletakkan sisir dengan perlahan. Menatap tangannya — tangan Gwyneth yang panjang dan terawat, yang sudah dua bulan lebih ia gerakkan seperti miliknya sendiri. Ia mengepalkan jari-jarinya. Membuka. Mengepalkan lagi.

Nyata. Masih nyata.

Tapi ada sesuatu yang berbeda sekarang, seperti retakan tipis di permukaan benda yang tampak utuh — tidak terlihat dari jauh, tapi terasa di ujung jari kalau kamu menyentuhnya dengan cukup hati-hati.

Kirana tahu apa artinya.

Ia hanya belum siap untuk mengakuinya.

...✦  ✦  ✦...

Ia tidak memberitahu siapapun.

Bukan karena ingin menyembunyikan — lebih karena belum tahu apa yang harus dikatakan, dan mengatakan sesuatu yang belum jelas bentuknya terasa lebih berbahaya dari diam. Maka ia menjalani hari Kamis seperti biasa: sarapan bersama Amethysta, mengantar ke sekolah, menyelesaikan beberapa urusan administratif rumah yang sudah lama tertunda, menjemput Amethysta sore hari.

Semuanya normal. Semuanya seperti hari-hari sebelumnya.

Kecuali bahwa setiap beberapa jam, sensasi itu datang lagi — sedetik, tidak lebih, di mana segalanya terasa seperti mimpi yang sedang ia sadari sebagai mimpi. Lalu berlalu. Lalu datang lagi, sedikit lebih lama dari sebelumnya.

Malam itu Kirana duduk di meja kerjanya dan membuka laci kiri — tempat ia menyimpan amplop bertuliskan *Gwyneth* dua hari lalu. Ia mengeluarkannya, meletakkannya di atas meja, dan menatapnya lama.

Belum cukup, batinnya. Masih ada yang kurang.

Ia mengambil kertas baru dan mulai menulis lagi.

...✦  ✦  ✦...

Jumat pagi, sensasi itu datang tiga kali sebelum sarapan selesai.

Kirana meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati dan menarik napas panjang, diam-diam, agar Amethysta yang duduk di seberangnya tidak melihat ada yang berbeda.

Tapi Amethysta, seperti biasanya, melihat.

"Mama tidak apa-apa?" tanyanya, dengan nada yang sudah tidak lagi sekadar basa-basi tapi benar-benar ingin tahu.

"Apa-apa," jawab Kirana. "Hanya sedikit tidak tidur nyenyak."

Amethysta menatapnya sebentar dengan mata ungu yang terlalu tajam untuk anak tujuh tahun. Lalu kembali ke rotinya. "Kalau tidak bisa tidur," katanya, "kata Naira, coba bayangin langit malam. Bintang-bintangnya satu per satu."

Kirana menatap gadis kecil itu. "Naira bilang itu?"

"Iya. Katanya neneknya yang mengajari." Amethysta mengambil selainya. "Aku belum coba. Tapi kelihatannya masuk akal."

"Kelihatannya memang masuk akal," kata Kirana pelan.

Amethysta mengangguk dengan ekspresi seseorang yang sudah menyampaikan informasi yang relevan dan sekarang bisa kembali ke sarapannya. Dan Kirana duduk di seberangnya, menatap anak yang dua bulan lalu memegang ujung gaunnya sampai knuckle-nya memutih, yang sekarang memberikan saran tentang cara tidur dari neneknya teman sekolah dengan santai sambil mengoles selai ke roti.

Ingat ini,* batin Kirana. *Ingat persis seperti ini.

...✦  ✦  ✦...

Sore itu, Kirana melakukan sesuatu yang tidak ada dalam rencananya.

Ia mengetuk pintu kamar Amethysta.

"Masuk," kata suara kecil dari dalam.

Amethysta sedang berbaring di lantai dengan atlas bintangnya terbuka — posisi favoritnya, tengkurap dengan kaki terangkat ke atas. Ia mengangkat kepalanya ketika Kirana masuk.

"Mama mau apa?"

"Boleh Mama duduk di sini sebentar?"

Amethysta bergeser sedikit, memberi ruang. Kirana duduk di karpet di sebelahnya — di lantai, di levelnya, seperti yang sudah beberapa kali ia lakukan sebelumnya dan yang terasa semakin natural setiap kalinya.

"Halaman berapa?" tanya Kirana, menunjuk atlas.

"Andromeda." Amethysta membalik halaman untuk menunjukkan. "Ini galaksi yang paling dekat dengan Bima Sakti. Bisa dilihat dengan mata telanjang kalau langitnya gelap."

"Pernah lihat?"

"Belum. Perlu pergi ke tempat yang tidak ada lampunya." Amethysta menatap halaman itu. "Mungkin suatu hari."

*Mungkin suatu hari.* Kalimat yang diucapkan dengan ringan, dengan keyakinan bahwa suatu hari itu akan datang. Bukan dengan kekhawatiran bahwa mungkin tidak. Dua bulan yang lalu, Kirana tidak yakin Amethysta punya kemampuan untuk berbicara tentang masa depan dengan nada seperti itu.

"Amethysta," kata Kirana.

"Hm."

"Mama ingin cerita sesuatu. Bukan sesuatu yang perlu kamu khawatirkan — hanya sesuatu yang Mama rasa penting untuk kamu tahu."

Amethysta menutup atlasnya perlahan. Duduk, menghadap Kirana, dengan ekspresi yang siap mendengarkan.

Kirana memikirkan kata-kata yang tepat — bukan yang terlalu berat untuk bahu tujuh tahun, bukan yang terlalu ringan hingga tidak tersampaikan. Suatu tempat di antaranya.

"Apapun yang terjadi nanti," katanya akhirnya, "apapun yang berubah atau tidak berubah — apa yang sudah terjadi di antara kita selama dua bulan ini adalah nyata. Bukan sandiwara. Bukan kebetulan." Kirana menatap mata ungu yang menatap balik dengan serius. "Mama mencintaimu. Bukan karena harus. Karena memilih."

Keheningan.

Amethysta menatapnya dengan ekspresi yang melewati beberapa lapisan — terkejut, lalu memproses, lalu sesuatu yang lebih dalam dari keduanya. Bibirnya bergerak sebentar tanpa menghasilkan suara, seperti seseorang yang sedang mencari kata yang tepat di tempat yang belum pernah ia cari sebelumnya.

"Kenapa Mama bilang itu sekarang?" tanyanya akhirnya. Pelan. Hati-hati.

Kirana tidak langsung menjawab. "Karena ada hal-hal yang lebih baik diucapkan sebelum kamu perlu mendengarnya, daripada sesudah."

Amethysta mempertimbangkan ini. Dengan kernyitan kecil di dahinya yang Kirana sudah hafal artinya — sedang memproses, sedang mencari jawaban dari dalam sebelum berbicara ke luar.

Lalu, sangat pelan, gadis kecil itu bergerak maju — tidak jauh, hanya cukup untuk meletakkan kepalanya di bahu Kirana dengan cara yang hati-hati dan masih sedikit ragu, seperti seseorang yang baru pertama kali mencoba sesuatu dan belum yakin apakah ia melakukannya dengan benar.

Kirana tidak bergerak. Tidak bernapas terlalu terlihat. Ia hanya duduk di sana dan membiarkan berat kepala kecil itu tinggal di bahunya, dan merasakan sesuatu di dadanya yang tidak punya nama tapi yang terasa seperti hal paling nyata yang pernah ia rasakan sejak ia terbangun di tubuh ini.

"Aku juga," bisik Amethysta. Sangat pelan, nyaris tidak terdengar. "Memilih."

...✦  ✦  ✦...

Malamnya, ketika Amethysta sudah tidur dan Xavier sedang menyelesaikan laporan di ruang kerjanya, Kirana pergi ke perpustakaan kecil.

Ia mengambil amplop dari tasnya — amplop yang sudah ia bawa kemana-mana sejak kemarin, yang isinya sudah ia tambah dan revisi sampai terasa cukup — dan duduk di kursi yang sudah ia kenal dengan baik.

Ia membuka amplop itu satu kali terakhir. Membaca dari awal.

Daftar tentang Amethysta. Tentang Xavier. Tentang Seren dan Ibu Zhang dan Vivienne. Tentang surat ibu yang ada di laci. Tentang rantai yang sudah mulai diputus dan harus terus diputus.

Dan di halaman terakhir, yang ia tambahkan tadi malam:

Gwyneth — atau siapapun yang membaca ini —

Aku tidak tahu siapa kamu sekarang. Aku tidak tahu apakah kamu masih orang yang sama dengan yang ada di halaman-halaman novel yang aku tulis, atau apakah waktu dan jarak dan entah apa lagi yang terjadi di tempatmu berada sudah mengubahmu menjadi sesuatu yang berbeda. Aku harap berbeda.

Yang aku tahu adalah ini: tubuh ini, keluarga ini, anak ini — semua ini lebih dari yang aku tulis. Lebih dalam, lebih kompleks, lebih nyata dari semua kata yang pernah aku ketikkan tentang mereka. Dan mereka layak mendapatkan seseorang yang hadir sepenuhnya, yang tidak bersembunyi di balik kendali dan jarak dan tembok yang dibangun terlalu tinggi untuk dilewati.

Amethysta tadi meletakkan kepalanya di bahuku. Pertama kali. Ia bilang ia memilih — memilih untuk mempercayai, memilih untuk membuka pintu itu sedikit lebih lebar. Jaga kepercayaan itu seperti hal paling berharga yang pernah diberikan padamu. Karena memang begitu.

Aku pergi — atau mungkin aku tidak pergi, mungkin ini semua berakhir dengan cara yang tidak ada di skenario manapun yang bisa aku bayangkan. Tapi kalau aku pergi: terima kasih untuk tempat ini. Terima kasih untuk kesempatan menjadi seseorang yang lebih baik dari yang kamu tulis untuk dirimu sendiri.

— Kirana

Ia melipat kertas itu kembali. Memasukkan ke amplop. Menyegelnya.

Lalu ia meletakkannya di atas buku yang ada di rak tengah perpustakaan — buku tentang astronomi yang sudah beberapa kali ia baca bersama Amethysta, yang halamannya sudah sedikit lusuh di bagian konstelasi Orion. Tempat yang mudah ditemukan kalau tahu cara mencarinya.

...✦  ✦  ✦...

Xavier menemukan Kirana masih di perpustakaan ketika ia selesai bekerja.

Ia tidak bertanya kenapa Kirana ada di sana di jam sekian. Ia hanya masuk, duduk di kursi seberang, dan menatap Kirana dengan cara yang sudah menjadi bahasa mereka sendiri — hadir, tidak memaksa.

"Xavier," kata Kirana.

"Hm."

"Kalau kamu harus mengatakan satu hal paling penting kepada Amethysta — satu hal yang ingin ia ingat seumur hidupnya — apa itu?"

Xavier tidak langsung menjawab. Ia menatap langit-langit perpustakaan sebentar, berpikir sungguhan, tidak memberikan jawaban cepat yang mudah.

"Bahwa ia tidak perlu menjadi sempurna untuk layak dicintai," katanya akhirnya. "Bahwa ia sudah cukup, persis seperti apa adanya, pada hari manapun."

Kirana menatapnya. "Sudahkah kamu mengatakan itu padanya?"

Diam yang singkat. "Belum. Tidak dengan kata-kata itu."

"Katakan," kata Kirana. "Besok. Atau lusa. Tapi katakan. Dengan kata-kata itu, bukan dengan cara lain yang bisa salah ditafsirkan."

Xavier menatapnya dengan ekspresi yang melewati beberapa lapisan sebelum menetap di sesuatu yang serius dan menerima. "Baik."

"Dan Xavier." Kirana memilih kata-kata berikutnya dengan hati-hati. "Apapun yang terjadi — teruslah pulang lebih awal. Teruslah menyiapkan sarapan kadang-kadang. Teruslah ada, bukan hanya hadir di sini secara fisik."

Xavier menatapnya lama. "Kamu bicara seperti seseorang yang sedang bersiap pergi."

Kirana tidak menjawab segera. "Aku bicara seperti seseorang yang ingin memastikan hal-hal penting sudah diucapkan."

Keheningan panjang. Di luar jendela perpustakaan, angin bergerak di antara dedaunan dengan suara yang pelan dan teratur.

"Aku tidak mau kehilanganmu," kata Xavier akhirnya. Bukan dramatis. Hanya jujur, dengan cara yang paling sederhana.

"Kamu tidak akan kehilangan hal-hal yang sudah berubah di sini," kata Kirana. "Itu sudah tertanam. Sudah tumbuh. Tidak ada yang bisa mencabutnya."

Xavier diam sebentar lagi. Lalu ia berdiri, berjalan ke arah Kirana, dan melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan sebelumnya — ia berlutut sedikit di depan kursinya, sehingga mereka sejajar, dan menatapnya langsung.

"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi," katanya pelan. "Dan aku tidak menuntut penjelasan. Tapi aku minta satu hal."

"Apa?"

"Kalau kamu bisa memilih — pilih untuk tinggal."

Kirana menatap pria ini — yang dalam novelnya ia tulis sebagai bayangan, sebagai pelengkap, sebagai suami yang memuja dari jarak aman — dan merasakan berat permintaan itu dengan sepenuhnya.

"Aku akan mencoba," katanya. Dan itu, untuk malam ini, adalah hal paling jujur yang bisa ia katakan.

...✦  ✦  ✦...

Ia tidur lebih awal malam itu. Atau mencoba tidur.

Berbaring di ranjang yang sudah akrab, menatap langit-langit yang sudah ia hafal setiap sudutnya, Kirana membiarkan pikirannya pergi ke tempat yang sudah lama ingin ia kunjungi tapi selalu ia tunda.

Bagaimana rasanya kembali?

Apartemen sempit di lantai empat. Laptop dengan novel yang selesai. Mi instan. Tagihan listrik. Kehidupan yang kecil tapi miliknya sendiri, yang tidak pernah ia anggap cukup tapi yang dari sini — dari jarak dua bulan dan satu kehidupan yang lain — terlihat seperti milik seseorang yang tidak cukup menghargai apa yang ada.

Dan di sini — rumah yang besar dan penuh dengan orang-orang yang sedang belajar satu sama lain, dengan pot lavender yang belum mekar di kamar anak yang baru belajar meletakkan kepalanya di bahu ibunya.

*Pilih untuk tinggal,* kata Xavier.

*Aku juga tidak tahu,* kata pantulan di mimpi.

Kirana menutup matanya. Di balik kelopak matanya, ia membayangkan langit malam — bintang-bintangnya satu per satu, seperti yang Naira sarankan melalui Amethysta. Cassiopeia. Orion. Ursa Minor dengan bintang kutubnya di ujung ekor.

Petunjuk arah untuk yang tersesat.

Selalu ada.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, atau minggu depan, atau pada malam ketika sensasi itu datang lebih lama dari sedetik dan tidak pergi lagi. Tapi untuk malam ini, dengan amplop tersegel di rak buku perpustakaan dan kepala Amethysta yang masih bisa ia rasakan di bahunya dan suara angin di luar jendela yang bergerak dengan ritme yang tidak terburu-buru —

Untuk malam ini, ia di sini.

Dan itu sudah cukup.

...✦  ✦  ✦...

...— Bersambung —...

1
Anonymous
Cerita yg filosofis banget. Dan dalem banget. Bagus 👍🏻👍🏻
AinaAsila: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
Freg ftu
mantap 💪
AinaAsila: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!