Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Nara berdiri di dapur dengan celemek sederhana, tangannya sedikit gemetar saat membalik telur dadar di wajan. Ini bukan pertama kalinya Nara memasak, tapi ini pertama kalinya ia menyiapkan sarapan sebagai seorang istri. Ada rasa gugup, tapi juga bahagia.
Aroma nasi hangat dan tumisan sayur memenuhi ruangan dapur ketika Arkan keluar dari kamar, sudah rapi dengan kemeja kerjanya.
“Wangi banget,” puji Arkan sambil duduk di kursi makan.
Nara tersenyum malu. “Masakannya biasa aja kok.”
Biasa menurut Nara, tapi bagi Arkan terasa istimewa. Ia menyuap nasi dengan lahap, seolah sarapan ini jauh lebih nikmat dari makanan hotel bintang lima.
“Ada berapa kelas hari ini?” tanya Arkan santai.
“Dua. Nanti jam makan siang sudah di rumah.” jawab Nara.
“Mampir ke kantor, ya?” Arkan berkata ringan. “Aku mau kenalin kamu sebagai istriku.”
Pipi Nara langsung hangat. “Boleh…”
“Nanti aku mau sekalian belanja. Stok dapur sudah mulai menipis.”
Arkan mengangguk. Memang sejak kemarin Arkan kepikiran ingin mengisi kulkas. Apalagi istrinya sangat doyan makan.
Belum sempat Nara menjawab lebih jauh, ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi.
Nara melirik layar, lalu matanya membulat.
“Sayang..” suaranya bergetar. “Ini kebanyakan.”
Arkan tetap tenang menyeruput kopi. “Buat kamu.”
“Ini bisa buat belanja satu tahun!” protes Nara panik.
“Kalau habis dalam seminggu juga nggak apa-apa.” jawab Arkan santai.
Nara menatap suaminya tidak percaya.
"Sayang, aku belanja ke supermarket, bukan mau buka supermarket.”
Arkan tersenyum kecil. “Kamu istriku sekarang. Aku senang kalau kamu nggak perlu mikirin uang lagi.”
Hati Nara terasa penuh.
“Kalau butuh apa pun, bilang. Jangan sungkan. Dan ini.." Arkan mengeluarkan sebuah kartu.
"Ini untuk kebutuhan kamu, kebutuhan pribadi, yang tadi aku transfer kan untuk kebutuhan rumah."
Nara menggigit bibirnya, menahan haru.
“Terima kasih… aku janji nggak boros.”
Arkan tertawa kecil. “Boros ke aku nggak apa-apa.”
Nara hanya bisa tersenyum lebar.
"Ternyata menjadi istri Arkan bukan cuma soal dimanja… tapi juga tentang merasa dihargai dan dijaga sepenuh hati." kata Nara didalam hati dan tentunya hatinya ber bunga-bunga.
Setelah sarapan, Nara ikut bersama Arkan, Nara turun di kampus dan Arkan pergi ke kantor.
Ruang kelas terasa tenang, hanya suara dosen yang menjelaskan materi di depan. Nara duduk rapi di bangku tengah, mencatat dengan fokus seperti biasa. Sejak awal kuliah, tujuannya hanya satu yaitu belajar. Ia tak tertarik ikut geng mana pun, tak ingin jadi pusat perhatian.
Setelah dosen selesai dengan materi dan meninggalkan kelas, Nara cukup terkejut saat seseorang duduk di sebelahnya. Nara tahu yang duduk adalah Naumi.
Mahasiswi yang terkenal sok kaya, sok pintar, dan selalu merasa paling unggul. Nara tetap menatap buku catatannya, pura-pura tak sadar.
“Eh, Nara,” bisik Naumi dengan senyum miring. “Kamu serius deh kuliah di sini? Biayanya mahal, lho.”
Nara diam.
“Keliatan sih…” lanjut Naumi pelan tapi cukup keras didengar beberapa orang. “Dari bajumu. Sederhana banget. Anak beasiswa miskin, ya?”
Beberapa mahasiswa lain melirik. Ada yang tersenyum kecil, ada yang pura-pura tidak dengar.
Nara menarik napas dalam. Ia memilih fokus pada catatannya.
Namun Naumi belum puas.
Tangannya tiba-tiba menyenggol lengan Nara, lalu, dengan sengaja menarik gelang yang melingkar di pergelangan tangannya sendiri sampai putus dan manik-maniknya berhamburan ke lantai.
“Eh! Kamu kok narik gelang aku sih!” suara Naumi langsung meninggi dramatis.
Semua mata tertuju pada mereka.
“Aku nggak—” Nara refleks ingin menjelaskan.
“Kok nggak? Tadi jelas kamu kesal terus narik gelang aku!” Naumi menunjuk Nara dengan wajah terluka.
Beberapa teman sekelas langsung bersuara.
“Eh iya, Nara, kamu ganti dong.”
“Kasihan Naumi, itu gelang mahal kayaknya.”
Tak satu pun yang membela Nara.
Naumi menunduk pura-pura sedih.
“Ya udah deh, nggak apa-apa… aku tahu Nara pasti nggak punya uang buat ganti.”
Nada suaranya terdengar iba, padahal jelas merendahkan.
Nara terdiam beberapa detik. Lalu ia berdiri.
“Nomor rekening kamu berapa?”
Naumi mendongak, terkejut.
“Hah?”
“Aku mau ganti sekarang.” kata Nara lagi.
Beberapa mahasiswa saling pandang.
Naumi tertawa kecil sinis.
“Aduh Nara… gelang ini sepuluh juta. Sama uang UKT kamu aja mungkin masih mahalan gelang ini.”
Ruangan langsung heboh kecil.
“Serius sepuluh juta?”
“Gila, mahal banget…”
Namun wajah Nara tetap tenang.
“Sebutin saja nomor rekeningnya.” tantang Nara.
Naumi sempat ragu, tapi akhirnya mengeja satu per satu dengan percaya diri, yakin Nara hanya menggertak.
Nara langsung membuka aplikasi bank di ponselnya. Jarinya bergerak cepat. Nama penerima muncul.
Nominal: 10.000.000. Klik transfer.
Beberapa detik kemudian. Transaksi berhasil.
Nara mengangkat layar ponselnya dan menunjukkannya ke Naumi.
“Sudah masuk.” kata Nara
Senyum Naumi membeku. “Ha… hah?”
Ponsel Naumi berbunyi notifikasi. Ia membukanya, dan wajahnya langsung pucat.
Saldo bertambah sepuluh juta. Seketika kelas riuh.
“Serius ditransfer?”
“Gila… langsung!”
“Katanya miskin?”
Nara mengambil tasnya dengan tenang.
“Aku sudah ganti. Semoga lain kali lebih hati-hati.”
Naumi tak mampu berkata apa-apa.
Untuk pertama kalinya, mahasiswi yang selama ini meremehkan Nara merasa dipermalukan di depan banyak orang.
Dan saat itu, semua orang sadar. Nara bukan gadis miskin seperti yang mereka kira.
Suasana kelas masih dipenuhi bisik-bisik setelah kejadian gelang mahal itu. Nara yang hendak keluar kelas, tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menengok ke arah teman-temannya, tatapan Nara seolah barusan tak terjadi apa-apa. Beberapa teman mulai melirik Nara dengan pandangan berbeda, bukan lagi iba, melainkan kagum dan penasaran.
“Teman-teman,” ucap Nara lembut. “Aku mau ke kantin. Kalau mau ikut, makanan kalian hari ini aku yang traktir.”
Sejenak hening.
“Hah? Serius, Nara?”
“Beneran semua?”
“Wah, rezeki anak solehah!”
Dalam hitungan detik, hampir setengah kelas berdiri mengikuti Nara ke kantin.
Nara tersenyum kecil. Ia memesan banyak makanan, nasi ayam, bakso, mie, es teh, jus buah, semuanya dibayar tanpa ragu. Petugas kantin sampai melotot melihat totalnya.
“Transfer saja, Bu,” kata Nara santai.
Notifikasi sukses kembali berbunyi.
Riuh rendah langsung pecah.
“Gila, Nara tajir bener!”
“Kirain pendiem miskin, ternyata sultan!”
“Mulai sekarang duduk sama Nara ah!”
Nara hanya tertawa kecil, menikmati makanannya, bersama teman-temannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa diterima tanpa diremehkan.
Di sudut kantin, Naumi duduk dengan wajah merah padam. Tangannya mengepal kuat.
“Pamer banget,” gerutu Naumi. “Cuma karena punya duit, sok jadi ratu kelas.”
Melihat teman-teman yang biasanya mengelilinginya kini justru tertawa bersama Nara membuat dada Naumi panas.
"Dia sudah mempermalukan aku." Naumi menatap Nara dengan sorot penuh dengki.
“Tenang aja,” bisik Naumi dingin.
“Sekarang kamu yang kelihatan menang. Tapi aku bakal cari cara biar semua orang lihat siapa kamu sebenarnya.”
Senyum tipis penuh niat buruk terukir di wajah Naumi. Perang diam-diam baru saja dimulai.
Sedangkan Nara tidak ambil pusing, Nara menikmati makan siangnya dan tidak lupa mengirim pesan ke suaminya kalau dia datang sedikit terlambat.