" Aku telah kehilangkan kedua orang tuaku dari karna ulah keluargamu, maka bersiap lah menerima akibat dari perbuatanmu itu!" Ucap seorang pria dengan mata penuh dendam.
” Aku menerima semua kemarahan mu tuan, atas apa yang telah di perbuat oleh orang tuaku untuk menebus semua kesalahan itu. Tapi jika aku lelah aku pamit pergi tuan." Balas seorang wanita dengan wajah sendiri penuh kepasrahan apa yang akan ia terima dengan ikhlas untuk menebus semua kesalahannya pada pria yang membenci dirinya itu.
Bagaimana kelanjutannya ikuti terus cerita ini sampai selesai ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda sri ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duabelas
Setelah selesai menelpon shaka pun masuk kembali kedalam kamar rawat naura yang kini kembali berpura pura tidur saat kedatangan pria itu.
Shaka yang melihat gadis itu masih tertidur pun memilih untuk duduk di kursi sofa yang tersedia di ruangan itu sambil memainkan ponselnya dengan wajah serius. bahkan tangannya tidak henti hentinya mengetik sesuatu di layar ponselnya sejak masuk tadi.
Perlahan Naura pun membuka matanya lalu mengangkat wajahnya
Hampir setengah jam Shaka masih duduk di situ dengan wajah datarnya masih menatap serius ke arah ponselnya dengan tenang tidak keluar dari kamar tersebut membuat Naura yang pura pura tidur tiba tiba kebelet ingin membuang air kecil pun harus menahan karena kalau ia bangun takut ketahuan kalau ia pura-pura tidur apa lagi pria itu yang pastinya nanti bakal membuat pria itu marah.
Namun sampai beberapa menit naura menunggu pria itu pun juga tidak beranjak dari sana yang buat naura mau gak mau terpaksa bangun dari tidur bohongan nya.
Perlahan Naura membuka kedua nya yang pertama kali tertuju kepada pria tersebut yang masih fokus terhadap ponselnya. lalu dengan pelan-pelan menurunkan kedua kakinya menyentuh lantai sambil mengambil selang infus yang tergantung pada tiang.
Ternyata pergerakan dari Naura membuat Shaka yang tadinya fokus terhadap ponselnya pun teralihkan saat mendengar tapi yang infus tersebut bergeser.
Krekkk...
" Kamu!"
" Mati kamu naura sudah ketahuan oleh pria itu, siap-siap saja setelah ini kamu akan menerima kekerasan darinya lagi." Batin naura dalam hati saat pria itu sadar dirinya sudah bangun dengan degug jantung melanjut dengan cepat.
" Mau kemana kamu. Kenapa gak bilang kalo kamu sudah Sadar?" Rentetan pertanyaan mengintimidasi serta suara yang dingin memenuhi indra pendengaran naura yang kini kuat berpegangan pada sisi ranjang tempat tidurnya.
"Maaf. saya hanya ingin buang air kecil saja." Suara gemetar terdengar dari bibir kecil naura.
Bahkan untuk mengangkat wajahnya saja Naura tidak berani saat pria itu sudah berdiri di hadapannya dengan tangan yang dilipat di dada serta tatapan tajam yang tertuju kepada naura.
Lalu tanpa diduga-duga dengan cepat Shaka menggendong tubuh mungil Naura di dalam dekapannya yang membuat Naura tercengang sekaligus terkejut dengan apa yang dilakukan oleh pria itu yang kini berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar rawat tersebut serta dan langsung menurunkan tubuh naura di dalam tampa berkata apa apa.
Namun saat hendak keluar dari kamar mandi Saka pun Berhenti sejenak tanpa membalikan badannya dan berkata." Kalau sudah siap panggil saya."
Dan setelah mengatakan hal tersebut Saka pun langsung keluar dari dalam kamar mandi meninggalkan Naura yang terbengong atas keterkejutan apa yang dilakukan oleh pria tersebut kepada dirinya.
Padahal tadi naura sudah berpikiran macam-macam ketika pria itu mengangkat tubuhnya ternyata pria itu hanya mengantarkannya ke kamar mandi walaupun dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.
Karena kantong kemih sudah penuh naura pun menutup pintunya dengan perlahan sambil memegang botol infus lalu membuang air kecil gitu di toilet jongkok yang ada di dalam kamar mandi tersebut.
Untungnya tuh tubuh Naura tidak lemas dan mempermudahkan dirinya untuk berjongkok membuang air kecil.
Selesai membuang air kecil naura merapikan kembali celana serta baju piyama tidur dari rumah sakit tersebut, lalu setelah itu naura pun mencuci muka di depan cermin yang ada dalam kamar mandi dengan menggunakan satu tangannya, sedangkan satu lagi digunakan untuk memegang botol infus.
Di depan cermin naura melihat wajahnya sendiri tampa senyum di wajahnya. terlihat bekas cengkraman tangan di pipi serta dagu naura yang membekas terlihat memerah.
Naura pun menyentuh pipinya dengan pelan ia rasakan pipinya yang memerah itu dengan senyum sendu di wajahnya.
Tampa sadar air mata naura mengalir di sudut matanya namun dengan cepat naura menghapus setetes air itu menggunakan lengannya sambil menghela nafas dengan panjang.
Sampai sebuah ketukan pintu terdengar dari luar membuat Naura menundukkan sesaat kepalanya sebelum ia memutar tubuhnya untuk membuka pintu kamar mandi yang ia kunci dari dalam.
Saat naura membuka pintu kamar mandi ia melihat pria itu berdiri tegap di pinggir pintu dengan tatapan mata tajam tertuju pada naura yang langsung menundukkan kepalanya. lalu tampa mengatakan apa pun naura berjalan menuju ranjang meninggalkan shaka yang terdiam di depan kamar mandi dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.
Sampai di ranjang naura pun hendak merebahkan tubuhnya, namun tiba tiba saja shaka langsung datang menahan pergelangan tangan naura yang terlihat terkejut namun tidak mengeluarkan sekata kata apa pun dari bibirnya.
" Kenapa kamu pergi begitu saja. apa kamu tadi tidak dengar apa yang saya bilang tadi hah!" Ujar shaka dengan tegas dengan tatapan tajam menusuk pada naura.
Naura menggelengkan pelan dengan wajah ketakutan." Maaf saya hanya tidak ingin merepotkan anda saja tuan." kata naura dengan pelan sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman erat tangan kekar milik shaka.
Shaka melepaskan tangan nya dari tangan gadis itu sambil mencondongkan tubuhnya mendekati kearah tubuh naura yang menarik kebelakang menghindari dari wajah pria itu yang makin dekat dengan dirinya.
" Jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi atau kalo tidak kamu akan tau akibatnya...!"
Deg.
Nafas naura memburu dengan cepat seiring dengan wajahnya yang memerah karna wajah pria itu sangat dekat dengan dirinya yang tidak bisa menghentikan detak jantung yang makin bertambah besar setiap berdekatan dengan pria itu.
Shaka pun memundurkan tubuhnya lalu pergi dari hadapan gadis itu dengan wajah tampak grogi.
Namun sebisa mungkin shaka tidak menampakan kalo dirinya juga sedang menahan detak jantung yang terus berpacu dengan cepat sambil keluar dari dalam kamar rawat gadis itu.
Di luar shaka mengusap rambutnya hingga berantakan dengan tangan yang meninju ninja dinding.
" Kenapa jantung gue setiap berdekatan dengan gadis sial itu selalu begini argggh..." Racau shaka pusing memikirkan hal tersebut.
Berhubung waktu sudah menujukan siang hari perut shaka pun mulai terasa perih. apa lagi dirinya sejak pagi belum ada makan sekali pun sejak tau gadis itu pergi dari rumah sampai ia pun melupakan makan nya sendiri.
Lalu shaka pun berjalan menuju lorong rumah sakit dengan kaya cool nya yang menarik beberapa mata wanita menatap pesona serta karismatik dari seorang Shaka dengan wajah dingin bagaikan kulkas dua pintu.
Walau hanya berpakaian biasa saja namun pesona seorang shaka tidak akan hilang, dari malahan makin bertambah yang membuat semua wanita yang melihat akan terpanah akan ketampanannya.