罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Yamaguchi part II
...**...
...⛔️⚠️Mengandung Adegan Kekerasan⚠️⛔️...
...__________________________________...
...血は血で洗い替えられた...
...-Chi wa Chi de Arai Kawareta-...
...'Darah Ditebus Dengan Darah'...
...⛩️🏮⛩️...
...'Di dunia ini, kesetiaan dibayar bukan dengan hidup... tapi dengan kehilangan bagian tubuh yang bisa kau tanggung.'...
...⛩️🏮⛩️...
Lorong menuju ruangan utama terasa lebih panjang dari yang seharusnya.
Langkah-langkah mereka bergema di koridor kayu tua nan kokoh, dingin, dan penuh sejarah kelam.
Mikami Torao berjalan di depan, tubuhnya tegap dan senyum tipis tak pernah pudar. Di belakangnya, Hane dan satu penjaga klan—Kaito, menahan Noa seperti seekor binatang liar yang baru saja dijinakkan.
Lampu-lampu gantung dari kertas bergetar tertiup angin musim gugur yang masuk dari jendela kayu terbuka.
Noa berjalan dengan tubuh sedikit diseret. Kakinya lemas. Dunia masih terasa runtuh. Tapi ketakutan... ketakutan yang merayap pelan seperti kabut dari dasar bumi membuatnya tetap sadar.
"Kikareru made hanasu na," (Jangan bicara kecuali ditanya) bisik Hane singkat.
Noa, setengah sadar, menggumam pelan, seperti berbicara pada bayangan dalam kepalanya.
"Kimura-han...?" Suaranya pecah, lebih seperti desahan daripada kata.
Hane menoleh sekilas, senyum tipis tergambar bibirnya. "Namaku bukan Kimura."
Noa terkejut—atau setidaknya di dalam benaknya, itu sebagai kejutan. Tapi tubuhnya tetap tumpul, tak memberi ruang pada reaksi. Lidahnya terasa berat, kelopak matanya seperti membawa beban. Sisa bius itu menahan semua gerakannya, membuatnya hanya bisa menatap dari samping wajah pria itu—Hane... sambil mencoba memahami perkataan pria itu.
Pintu geser besar dengan ukiran naga tua. Dua penjaga bersenjata berdiri di depan, wajah mereka tak menampakkan apa pun kecuali kehampaan profesional.
Langkah kaki Noa baru saja akan menghilang di balik pintu aula utama ketika suara Oyabun terdengar datar, nyaris malas, tapi menghentikan seluruh udara di ruangan itu.
"Soto de osaete oke."
(Tahan dulu dia di luar)
Dua orang yang menyeret Noa segera menariknya keluar lagi, tanpa memberi penjelasan. Torao masuk ruangan begitu dapat kode anggukan dari Oyabun yang menatapnya dan menutup pintu dari dalam.
...⛩️🏮⛩️...
Di dalam, suasana berubah. Senyap. Berat seperti langit yang menggantung sangat rendah.
Di dekat pilar utama, Sakaki Jin melangkah maju tanpa suara. Ia membungkuk sopan di samping Oyabun, lalu menyelipkan sebuah map tipis ke meja rendah di sebelah kursi kehormatan. Beberapa detik Oyabun membaca laporan dalam map itu. Tak satu pun ekspresi berubah di wajahnya. Tapi sesuatu dalam udara seperti bergeser lebih tegang, lebih padat.
Akhirnya, ia menutup map itu perlahan.
"Tadashi-san wa metta ni ayamaranai," (Tadashi hampir tak pernah salah) ucapnya tanpa menoleh, suaranya dalam.
Oyabun kemudian perlahan berdiri. Setiap gerakannya seperti langkah pembantaian.
"Lama sekali aku bertanya-tanya," ujarnya pelan, "Bagaimana Rin bisa keluar tanpa jejak. Tanpa ijinku."
Langkahnya maju mendekat ke tengah ruangan. Di sana, sebilah tantō* kecil disiapkan di atas nampan hitam. Ia melihat lurus ke arah Kuroda.
Kuroda—yang berdiri di sudut ruangan—tahu maksud Oyabun. Ia melangkah maju ke tengah—mendekatkan diri pada nampan hitam yang telah disiapkan. Kemudian menunduk sejenak dan berlutut.
Kuroda tak bersuara sejak kedatangan gadis itu. Tapi sorot matanya jelas—bergetar. Terluka. Seperti seseorang yang menyaksikan hantu masa lalu berjalan dengan darah baru.
"Hanya satu orang yang berani membuat lubang di dinding besiku dan menyembunyikan retaknya."
Semua orang di ruangan diam.
Jin memejamkan mata sebentar. Torao menoleh ke samping, menyembunyikan senyumnya.
Kurosawa Tadashi berdiri tenang di sudut lain ruangan. Di sampingnya, Kagemaru Daigo, pria berambut ikal dengan kacamata yang tidak pernah lepas, mendengus pelan. "Kuroda-san? Aniki** terlalu tua untuk hukuman itu," gumamnya rendah.
Oyabun melirik Kuroda dan menunduk sedikit.
"Omae wa chiisana uragirimono janai, Kuroda. Daga teki demo nai — dakara koso yokei ni yakkai nan da."
(Kau bukan pengkhianat kecil, Kuroda. Tapi kau bukan musuh, dan itu jauh lebih rumit)
Tiga orang lainnya-yang tingginya hampir setara hanya bisa menunduk menyaksikan itu, dua diantaranya tersenyum dengan samar. Seolah senang dengan pertunjukan yang akan terjadi.
Kuroda perlahan mengulurkan tangan kanannya. Tak membela diri. Tak memohon. Wajahnya tenang seperti tembok menahan badai yang ada di dalam dirinya.
Torao mendekat. Dengan langkah berat dan tegas. Tangannya mulai mengambil tantō.
Lalu... mengayun tepat di nampan hitam depan Kuroda.
Satu hentakan. Dua potongan.
Darah segar mengucur. Jari manis dan kelingking kanan tergeletak di atas tatakan nampan. Merah menyala diatas hitam. Yubitsume*** ganda. Sebuah pengakuan diam bahwa kesalahannya cukup besar untuk menghapusnya dalam sejarah...tapi tidak dari keluarga.
Kuroda menggigit kain di mulutnya, menahan jeritan yang hampir meledak. Matanya menutup, bukan karena sakit tapi karena akhirnya, pengkhianatan di masa lalunya terbayarkan.
Kuroda masih berlutut, napasnya berat namun terkendali. Tangan kirinya bergerak dengan sangat cekatan, seolah ini bukan kali pertama ia terluka—membalut jemarinya yang terpotong dengan kain kasa seadanya. Tak ada erangan. Tak ada keluhan. Hanya diam... diam yang lebih menyakitkan dari teriakan.
Kemudian, dengan jari buntung yang terbalut itu, ia mencondongkan tubuh. Membungkuk. Sedalam mungkin. Hingga dahinya hampir menyentuh lantai... hingga pundaknya sedikit bergetar karena menahan beban rasa bersalah yang tak terucapkan.
Itu bukan sekadar permintaan maaf. Bukan juga pengakuan kalah. Tapi sumpah bisu bahwa apapun yang terjadi selanjutnya, ia akan memikul dosanya sendiri. Hidup, tapi tidak utuh lagi.
Oyabun menatapnya tanpa suara. Tak ada pujian. Tak ada pengampunan. Tak ada belas kasihan. Tapi juga... tak ada perintah untuk menghabisinya.
Dan dalam dunia mereka, itu merupakan satu-satunya bentuk belas kasih yang dapat diberikan.
Oyabun memutar badan, kembali ke kursinya.
"Katadzukero!" (Bersihkan!)
Kuroda menyeka darahnya yang tercecer di lantai dengan sigap. Saat Kuroda berdiri dan kembali ke sudut ruangan, Noa baru dibawa masuk kembali.
Jin menatap pintu geser itu dari dalam.
"Naka ni irero!"
(Bawa masuk!)
Pintu bergeser.
Dan Noa melihatnya.
...⛩️🏮⛩️...
Sebuah ruangan besar bergaya tatami, lengang, tapi penuh tekanan. Di tengah, sedikit ke tepi seperti panggung kehormatan, seorang pria tua duduk bersila di depan sebuah altar kecil. Posisi itu membuatnya menjadi pusat perhatian sekaligus penguasa ruang—terlihat oleh semua, tapi tak tersentuh.
Oyabun.
Lentera kertas menyala temaram, dan bayang-bayang panjang para pria lain berdiri membentuk siluet menyerupai sosok-sosok dari dunia lain.
Sembilan pria berdiri diam seperti patung yang hidup. Aura mereka berbeda satu sama lain, tapi semua memancarkan satu hal yang sama: kuasa.
Dengan langkah lambat, tubuh Noa ditahan, tapi matanya menangkap apa yang tak sempat disembunyikan.
Kuroda tetap berdiri. Jari tangan kanannya berbalut kasa yang masih bernoda merah. Napasnya dalam. Matanya tidak menatap Noa.
Seolah luka itu bukan karena Noa kembali. Tapi karena Noa pernah pergi.
Noa menghentikan langkah sejenak. Tapi Hane mendorong bahunya perlahan.
"Jangan buat Oyabun menunggu," bisiknya.
Noa hanya bisa menelan ludah. Tangannya mulai terasa berdenyut bukan karena luka, tapi karena sesuatu... seperti roh yang ingin keluar.
Kaito dan Hane membungkuk singkat hampir bersamaan.
"Oyabun, musume wa mō tsukimashita."
(Tuan Oyabun, gadis itu telah tiba) Kaito mengawali.
Oyabun tidak menoleh. Hanya suara lembutnya yang memotong udara.
"Kanojo o chūō ni tsurete koi."
(Bawa dia ke tengah)
...—つづく—...
*pisau belati tradisional Jepang yang memiliki sejarah panjang sebagai senjata maupun alat ritual.
**panggilan kakak tertua/saudara yang lebih tua dari hirarki
***ritual pemotongan jari yang berasal dari budaya yakuza Jepang, dilakukan sebagai bentuk penebusan kesalahan, permintaan maaf, atau pengakuan atas kegagalan besar kepada atasan (Oyabun).
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍