NovelToon NovelToon
Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: samSara

罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6 - Yamaguchi part II

...**...

...⛔️⚠️Mengandung Adegan Kekerasan⚠️⛔️...

...__________________________________...

...血は血で洗い替えられた...

...-Chi wa Chi de Arai Kawareta-...

...'Darah Ditebus Dengan Darah'...

...⛩️🏮⛩️...

...'Di dunia ini, kesetiaan dibayar bukan dengan hidup... tapi dengan kehilangan bagian tubuh yang bisa kau tanggung.'...

...⛩️🏮⛩️...

Lorong menuju ruangan utama terasa lebih panjang dari yang seharusnya.

Langkah-langkah mereka bergema di koridor kayu tua nan kokoh, dingin, dan penuh sejarah kelam.

Mikami Torao berjalan di depan, tubuhnya tegap dan senyum tipis tak pernah pudar. Di belakangnya, Hane dan satu penjaga klan—Kaito, menahan Noa seperti seekor binatang liar yang baru saja dijinakkan.

Lampu-lampu gantung dari kertas bergetar tertiup angin musim gugur yang masuk dari jendela kayu yang terbuka.

Noa berjalan dengan tubuh sedikit diseret. Kakinya lemas. Dunia masih terasa runtuh. Dan ada ketakutan... ketakutan yang merayap pelan seperti kabut dari dasar bumi yang membuatnya tetap sadar.

"Kikareru made hanasu na," (Jangan bicara kecuali ditanya) bisik Hane singkat.

Noa—setengah sadar, menggumam pelan, terdengar seperti berbicara pada bayangan dalam kepalanya.

"Kimura-han...?" Suaranya pecah, lebih seperti desahan daripada kata.

Hane menoleh sekilas, senyum tipis tergambar bibirnya. "Namaku bukan Kimura."

Noa terkejut—atau setidaknya di dalam benaknya. Namun tubuhnya tetap tumpul, tak memberi ruang pada reaksi. Lidahnya terasa berat, kelopak matanya seperti membawa beban berat. Sisa bius masih membelenggu tubuhnya, melumpuhkan setiap usahanya untuk bergerak. Ia hanya mampu menatap profil pria itu dari sudut pandang yang sempit, berusaha mencerna setiap kata yang barusan keluar dari bibirnya.

Pintu geser besar dengan ukiran naga tua. Dua penjaga bersenjata berdiri di depan, wajah mereka tak menampakkan apa pun kecuali kehampaan profesional.

Langkah kaki Noa baru saja akan menghilang di balik pintu aula utama ketika suara itu keluar. Terdengar datar, nyaris malas, tapi menghentikan seluruh udara di dalam ruangan itu.

"Soto de osaete oke."

(Tahan dulu dia di luar)

Dua orang yang menyeret Noa segera menariknya keluar lagi, tanpa memberi penjelasan. Torao masuk ruangan begitu mendapatkan kode anggukan dari Oyabun yang menatapnya dan menutup pintu dari dalam.

...⛩️🏮⛩️...

Di dalam, suasana berubah. Senyap. Berat seperti awan yang menggantung sangat rendah.

Aula itu luas dan berlapis tatami. Di ujung paling terhormat, pada posisi kamiza*, Oyabun duduk tegak di depan meja rendahnya. Para anggota lain berlutut berbaris memanjang di sisi kanan dan kiri ruangan, kepala sedikit tertunduk, punggung lurus. Tak seorang pun berani bergerak.

Di tengah ruangan, tepat di atas tatami yang bersih, sebuah nampan hitam tengah dipersiapkan. Di atasnya terletak sebilah tantō** pendek—diam, dingin, menunggu.

Di sisi kamiza, Sakaki Jin bergerak maju, lalu menekuk lutut kakinya hingga menyentuh tatami tanpa suara. Ia membungkuk dalam, lalu meletakkan map tipis di atas meja rendah di hadapan Oyabun.

Beberapa detik Oyabun membaca laporan dalam map itu. Tak satu pun ekspresi berubah di wajahnya. Tapi sesuatu dalam udara seperti bergeser lebih tegang, lebih padat.

Akhirnya, ia menutup map itu perlahan.

"Tadashi-san wa metta ni ayamaranai," (Tadashi hampir tak pernah salah) ucapnya tanpa menoleh, suaranya dalam.

Oyabun kemudian perlahan bangkit berdiri. Setiap gerakannya seperti langkah pembantaian.

"Lama sekali aku bertanya-tanya," ujarnya pelan, "Bagaimana Rin bisa keluar tanpa jejak. Tanpa ijinku."

Tatapannya turun ke tengah ruangan—ke nampan hitam itu. Lalu beralih menatap lurus ke arah Kuroda.

Kuroda, yang sejak awal berlutut di barisan kiri, mengangkat kepala perlahan. Ia sudah memahami. Tanpa diperintah dua kali, ia bangkit dan bergerak maju. Kemudian berhenti tepat di hadapan nampan. Ia berlutut, lalu menunduk, memposisikan diri duduk seiza*** kemudian menunduk dalam dan kembali menegakkan punggungnya.

Tak ada pembelaan. Tak ada penjelasan.

"Hanya satu orang yang berani membuat lubang di dinding besiku dan menyembunyikan retaknya."

Semua orang tetap menunduk.

Jin memejamkan mata sesaat. Torao menoleh tipis, sudut bibirnya terangkat samar.

Kurosawa Tadashi tetap diam di barisan kanan. Di sampingnya, Kagemaru Daigo, pria berambut ikal dengan kacamata yang tidak pernah lepas, mendengus pelan. "Kuroda-san? Aniki**** terlalu tua untuk hukuman itu," gumamnya rendah.

Oyabun melangkah turun dari kamiza dan berhenti beberapa langkah dari Kuroda.

"Omae wa chiisana uragirimono janai, Kuroda. Daga teki demo nai, dakara koso yokei ni yakkai nan da."

(Kau bukan pengkhianat kecil, Kuroda. Tapi kau bukan musuh, dan itu jauh lebih rumit)

Tiga orang lainnya—dengan postur tubuhnya hampir setara hanya bisa menunduk menyaksikan itu, dua diantaranya tersenyum dengan samar. Seolah senang dengan pertunjukan yang akan terjadi.

Kuroda perlahan mengulurkan tangan kanannya. Wajahnya tenang seperti tembok menahan badai yang ada di dalam dirinya.

Torao bangkit dari barisan dan bergerak maju. Dengan langkah berat dan tegas. Ia berhenti di sisi Kuroda, berlutut, lalu mengambil tantō itu tanpa ragu.

Lalu... menekan tepat di nampan hitam depan Kuroda.

Satu hentakan. Dua potong.

Suara bilah menembus daging terdengar cepat—tepat dan bersih.

Jari manis dan kelingking kanan jatuh ke atas nampan hitam. Darah segar menyebar di atas permukaan gelap itu. Yubitsume***** ganda. Pengakuan bahwa kesalahannya cukup besar untuk menghapus namanya dari catatan kehormatan—namun belum cukup untuk mengusirnya dari keluarga.

Kuroda menggigit kain yang telah disiapkan di antara giginya, menahan jeritan yang hampir meledak. Matanya terpejam, bukan karena tak sanggup menahan sakit, melainkan karena beban pengkhianatan di masa lalu akhirnya terbayarkan.

Ia tetap berlutut, napasnya berat namun terkendali. Tangan kirinya bergerak dengan sangat cekatan, seolah ini bukan kali pertama ia terluka—membalut sisa jemarinya yang terpotong dengan kain kasa seadanya. Tak ada erangan. Tak ada keluhan. Hanya diam... diam yang lebih menyakitkan dari teriakan.

Kemudian, dengan jari buntung yang terbalut itu, ia mencondongkan tubuh. Membungkuk. Sedalam mungkin. Hingga dahinya hampir menyentuh tatami... hingga pundaknya sedikit bergetar karena menahan beban rasa bersalah yang tak terucapkan.

Itu bukan sekadar permintaan maaf. Bukan juga pengakuan kalah. Tapi sumpah bisu bahwa apapun yang terjadi selanjutnya, ia akan memikul dosanya sendiri. Hidup, tapi tidak utuh lagi.

Oyabun menatapnya tanpa suara. Tak ada pujian. Tak ada pengampunan. Tak ada belas kasihan. Tapi juga... tak ada perintah untuk menghabisinya.

Dan dalam dunia mereka, itu merupakan satu-satunya bentuk belas kasih yang dapat diberikan.

Oyabun memutar badan, kembali ke kursinya.

"Katadzukero!" (Bersihkan!)

Beberapa anggota bergerak maju membersihkan tatami dengan kain putih. Nampan hitam diangkat. Bekas darah diseka sampai tak menyisakan noda.

Kuroda kembali ke barisannya, masih berlutut, tangan terbalut rapi.

Saat ruangan kembali sunyi, Jin menatap pintu shojii****** itu dari dalam.

"Naka ni irero!"

(Bawa masuk!)

Pintu bergeser perlahan.

Dan Noa melihatnya.

...⛩️🏮⛩️...

Aula tatami itu luas dan nyaris kosong dari perabot. Ruangannya lengang, namun tekanan di dalamnya terasa seperti udara yang terlalu padat untuk dihirup.

Di ujung paling terhormat—kamiza—Oyabun duduk tegak di depan meja rendahnya. Tidak ada altar, tidak ada panggung. Hanya posisi yang lebih tinggi secara makna, bukan secara tinggi lantai. Dari tempat itu, ia menjadi pusat perhatian sekaligus penguasa ruang—terlihat oleh semua, tapi tak tersentuh. Seluruh ruangan berada dalam jangkauan pandangnya.

Lentera kertas di sudut-sudut ruangan menyala temaram, memantulkan bayangan panjang di atas dinding kayu. Para pria berlutut berbaris di sisi kanan dan kiri tatami, punggung lurus, kepala sedikit tertunduk. Sembilan orang. Diam. Tidak bergerak. Seperti barisan patung yang diberi napas. Aura mereka berbeda satu sama lain, tapi semua memancarkan satu hal yang sama yaitu kuasa.

Ketika pintu shōji bergeser, semua tetap pada posisinya.

Noa didorong masuk.

Langkahnya tertahan sesaat—bukan oleh tangan yang mencengkeram lengannya, melainkan oleh apa yang dilihatnya.

Kuroda berada di barisan kiri. Masih berlutut. Tangan kanannya terbalut kain kasa tebal yang mulai menggelap oleh darah yang merembes. Posturnya tegak seperti biasa, namun ada ketegangan halus di bahunya.

Ia tidak menatap Noa.

Tatapannya lurus ke depan, ke ruang kosong di hadapannya. Tapi sorot matanya jelas—bergetar. Terluka. Seperti seseorang yang menyaksikan hantu masa lalu berjalan dengan darah baru.

Seolah luka itu bukan karena Noa kembali. Tapi karena Noa pernah pergi.

Noa menghentikan langkah sejenak. Hane, yang berdiri di belakangnya, menekan bahunya pelan.

"Jangan buat Oyabun menunggu," bisiknya rendah.

Noa hanya bisa menelan ludah. Tangannya mulai terasa berdenyut bukan karena luka, tapi seperti ada sesuatu di dalam darahnya yang bereaksi terhadap ruangan itu.

Di tengah tatami, bekas darah telah dibersihkan. Namun warna serat jerami masih sedikit lebih gelap di satu titik—hampir tak terlihat, kecuali bagi mereka yang tahu apa yang baru saja terjadi di sana.

Kaito dan Hane bergerak serempak. Mereka maju satu langkah, lalu berlutut dan membungkuk dalam.

"Oyabun, musume wa mō tsukimashita."

(Oyabun, gadis itu telah tiba) ucap Kaito tenang.

Tak satu pun anggota lain mengangkat kepala.

Oyabun tidak menoleh. Suara lembutnya terdengar, tenang namun tak terbantahkan.

"Kanojo o chūō ni tsurete koi."

(Bawa dia ke tengah)

...—つづく—...

*Kursi/ area paling jauh dari pintu, diperuntukkan bagi tamu kehormatan atau pihak dengan jabatan tertinggi.

**pisau belati tradisional Jepang yang memiliki sejarah panjang sebagai senjata maupun alat ritual.

***Gaya duduk tradisional ala Jepang.

****Panggilan kakak tertua/saudara yang lebih tua dari hirarki

*****Ritual pemotongan jari yang berasal dari budaya yakuza Jepang, dilakukan sebagai bentuk penebusan kesalahan, permintaan maaf, atau pengakuan atas kegagalan besar kepada atasan (Oyabun).

******Pintu, jendela, atau partisi geser tradisional Jepang yang terdiri dari kerangka kayu berkotak-kotak (kisi-kisi) yang dilapisi kertas washi tembus cahaya.

1
Faeyza Al-Farizi
kamu seneng, kok aku justru ketar ketir Noa 😭😭😭
Faeyza Al-Farizi
makanya jangan disakitin 🫵
Faeyza Al-Farizi
aaaah.... sama 😌😌, ini di sini kamu kelihatan baik, nggak cuma kelihatan kan? emang asli baik?
Faeyza Al-Farizi
Kimura sama Hane sama?
Faeyza Al-Farizi
itulah tantangan jadi pedagang, yang di stok bukan cuma barang tapi sabar dan senyuman, kalau enggak pelanggan bakal 😌
Faeyza Al-Farizi
Tetap aja Nak... bocil macam kamu tuh justru banyak di titeni
Faeyza Al-Farizi
Hadeh akang Hane... tolong ya Kak Author perjelas statusnya, biar aku bisa jelass harus dukung atau demo ke si akang Hane ini
Faeyza Al-Farizi
aku harap seenggaknya kamu simpati lah 🥴
Faeyza Al-Farizi
lebih manfaat kalau hidupmu bikin orang lain nyaman, tentram, sehat 🥲
Faeyza Al-Farizi
Halah Hane... milikilah hati sedikit, atasanmu gak bakal tau kalau kamu kasih dia soklat barang sebatang... apalagi kalau coklatnya cuma bungkusnya dalemnya emas 😌😌, tapi ini kayaknya cuma hayalan pembaca yang kepalanya udah berat sama rasa kasihan sama Noa.
Faeyza Al-Farizi
ini pak Tadashi siapanya Noa? ayahnya ? ngapain ngawasin dari jauh kalau emang kau ayahnya. datengin kek. minimal kalau gak mau ngakuin santunin, berobatin ibunya, jangan cuma kirim mata-mata, gak guna
Faeyza Al-Farizi
Udah capek, mana pake ada bau kejahatan pula ini, heran masih ada yang doyan nambahin deritanya 🥴
Faeyza Al-Farizi
NAK... kamu juga harus bantu dirimu 😭😭😭, ish kenapa takdirnya timpang banget begini
Faeyza Al-Farizi
😭😭😭😭 semudah itu harus banting tulang, tolong yang bikin dia lahir dengan nitipin benih ke ibu Noa, tanggung jawab woy 🫵
Bis Mika
Ceritanya keren sekali, aku suka ritme yang diatur author
Selens ana
🔥🔥🔥🔥
Bis Mika
Keren banget thor gimana km segitu niatnya bikin cerita yg atmosferik kayak gini🥹🔥
Bis Mika
huhuuu kasihan sekali baby merah itu, kenapa teganya ada manusia yang mau memalsukan kondisinya saat lahir 😔
Een Nuraeni
Kisah perempuan yang bahkan harus menyembunyikan kelahiran bayinya, mengganti identitas dan pergi sejauh mungkin untuk melindungi si bayi.

Dia bukan istri, bukan selir, cuma perempuan yang di takdirkan untuk melahirkan seorang bayi yang mungkin bisa saja menjadi ancaman untuk klan di masa depan.

prolog aja udah di suguhi cerita yang wah banget, penasaran sama kehidupan Rin dan bayinya nanti.
Een Nuraeni
Sesuatu yang di tutupi pada akhirnya emang bakal ketauan juga, tapi... tapi.... kalau sampai Rin dan bayinya ketemu, kira-kira apa yang bakal terjadi ya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!