NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Romantis / Cintamanis / Mafia
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama di depan gerbang kampus

Galen memilih untuk tetap bermain cantik. Ia belum ingin dunia Rea yang tenang hancur karena identitas "Alonso" yang berlumuran darah, namun ia akan menunjukkan bahwa seorang "Tukang Kebun Senior" pun bisa menghancurkan klan Kaela hanya dengan jentikan jari.

Mobil SUV hitam Galen berhenti tepat di depan gerbang universitas. Di sana, Kaela berdiri bersama ayah dan ibunya—paman dan bibi Rea yang dulu sering menghina Rea. Mereka tampak berteriak-teriak pada satpam kampus.

"Mana Rea?! Suruh dia keluar! Berani sekali dia membuat putriku ketakutan kemarin!" teriak Paman Rea dengan angkuh.

Rea yang berada di dalam mobil gemetar hebat. Tangannya dingin. "Mas... itu Paman dan Bibi. Mereka pasti marah soal kejadian kemarin. Rea takut," bisik Rea cemas.

Galen menggenggam tangan Rea, meremasnya lembut untuk memberi kekuatan. "Ingat Bunny, kamu adalah istri Galen. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang boleh membuatmu menunduk."

Galen turun dari mobil lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Rea. Suasana seketika sunyi saat Galen muncul. Meskipun hanya mengenakan kemeja hitam sederhana, aura kepemimpinannya tetap membuat orang-orang di sana menahan napas.

"Oh, jadi ini laki-laki yang membawa Rea?" Bibi Rea melangkah maju dengan sinis. "Dengar ya, Tukang Kebun! Kamu pikir karena kamu punya mobil bagus, kamu bisa mengancam putriku? Kamu itu cuma pesuruh! Kami akan melaporkanmu ke polisi karena sudah mengintimidasi Kaela!"

Kaela yang berdiri di belakang ibunya tampak sombong kembali. "Iya! Kamu itu cuma tukang kebun, jangan sok jagoan di sini!"

Paman Rea melangkah maju, hendak mencengkeram kerah kemeja Galen. "Heh! Jawab! Berapa gaji tukang kebun sepertimu sampai berani menyewa mobil mewah ini untuk pamer? Kau pasti mencuri uang majikanmu untuk membiayai kuliah simpananmu ini, kan?!"

Rea semakin mencengkeram jas Galen, matanya mulai berkaca-kaca menahan malu dan takut. "Paman, jangan bicara begitu... Mas Galen tidak seperti itu..."

Galen hanya menatap Paman Rea dengan tatapan datar, seolah sedang melihat serangga yang mengganggu. Ia tidak membalas makian itu dengan teriakan. Galen hanya melirik Leon yang berdiri di belakangnya.

"Leon," panggil Galen rendah.

"Iya, Tuan?"

"Siapa pemilik kontrakan yang ditinggali keluarga ini?" tanya Galen sambil merapikan jam tangan mahalnya yang harganya mungkin bisa membayar sewa rumah keluarga Kaela selama sepuluh tahun.

Leon membuka tabletnya sejenak. "Pemiliknya adalah salah satu anak perusahaan di bawah naungan kita, Tuan. Dan kebetulan, Paman Rea ini bekerja sebagai buruh di gudang logistik milik relasi kita di sektor selatan."

Mendengar itu, wajah Paman Rea sedikit berubah, namun ia tetap angkuh. "Lalu kenapa kalau aku kerja di sana? Memangnya kau siapa?!"

Galen menyeringai tipis, sebuah seringai yang sangat berbahaya. Ia mengambil ponselnya dan melakukan panggilan singkat. "Halo, hentikan semua subsidi dan berhentikan pria bernama Pradipta dari gudang logistik sekarang juga. Oh, dan katakan pada pemilik kontrakan di jalan mawar untuk mengosongkan rumah nomor 12 dalam waktu satu jam."

Suasana gerbang kampus mendadak sunyi. Kaela dan ibunya tertawa mengejek. "Halah! Aktingmu hebat sekali! Kau pikir kau siapa bisa memecat orang?!"

Namun, tawa itu tidak bertahan lama. Ponsel Paman Rea bergetar hebat. Begitu ia mengangkatnya, wajahnya yang tadi merah karena marah mendadak berubah menjadi putih pucat seperti kertas.

"A-apa? Saya dipecat? Tanpa pesangon?! Tapi kenapa?!" Paman Rea berteriak panik ke arah teleponnya. Belum selesai satu masalah, ponsel Bibi Rea juga berbunyi. Kabar bahwa barang-barang mereka sedang dikeluarkan dari kontrakan karena sewa dibatalkan secara sepihak membuat wanita itu hampir jatuh pingsan.

Kaela gemetar, ia menatap Galen dengan ketakutan yang luar biasa. "K-kamu... kamu siapa sebenarnya?"

Galen melangkah satu langkah lebih dekat, auranya membuat keluarga itu mundur ketakutan. Ia merangkul bahu Rea dengan sangat protektif.

"Saya hanya 'Tukang Kebun Senior' yang tidak suka melihat istrinya diganggu oleh sampah seperti kalian," bisik Galen dengan suara bariton yang berat. "Sekarang, pergi sebelum saya memutuskan untuk membeli tanah makam untuk kalian sekalian."

Keluarga Kaela langsung lari tunggang langgang meninggalkan gerbang kampus dengan rasa malu yang luar biasa di depan mahasiswa lainnya.

Rea tertegun, ia menatap Galen dengan bingung. "Mas... kok mereka bisa langsung dipecat? Mas Galen punya kenalan orang hebat ya?"

Galen kembali tersenyum lembut, mengusap kepala Rea seolah tidak terjadi apa-apa. "Mas kan sudah bilang, Mas ini senior di sini, jadi banyak kenalan. Sudah, jangan dipikirkan. Masuklah ke kelas, Mas tunggu di sini sampai kamu masuk."

Rea menahan lengan Galen, matanya yang berkaca-kaca menatap suaminya dengan tatapan memohon. "Ta... tapi Mas, walaupun begitu, mereka sudah mengurusku dulu. Sejak SMP, setelah orang tuaku tiada, Rea tinggal di rumah mereka meskipun Rea diperlakukan seperti pelayan," bisik Rea lirih.

Hati Rea yang terlalu tulus tidak tega melihat pamannya kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal dalam sekejap, meskipun mereka telah menjadikannya tukang cuci piring selama bertahun-tahun.

Galen terdiam. Rahangnya mengeras. Baginya, orang-orang yang menyakiti Rea tidak pantas mendapatkan belas kasihan, tapi melihat air mata istrinya, pertahanan Galen runtuh. Galen tidak bisa menolak permintaan dari satu-satunya orang yang ia cintai di tahun ini.

"Kamu masih ingin membela orang-orang yang menganggapmu rendah, Bunny?" tanya Galen dengan suara rendah, mencoba meredam amarahnya.

Rea mengangguk pelan. "Rea tidak mau punya utang budi di akhirat, Mas. Tolong... biarkan mereka punya tempat tinggal."

Galen menghela napas panjang, lalu melirik Leon yang masih berdiri sigap. "Leon, batalkan perintah pengosongan rumah. Tapi pastikan paman itu dipindahkan ke bagian pembersihan limbah. Dia harus belajar cara menghargai pekerjaan dari bawah."

"Baik, Tuan," sahut Leon patuh.

Galen kembali menatap Rea, ia mengusap air mata di pipi istrinya dengan jempolnya. "Hanya karena kamu yang meminta, Rea. Tapi jika mereka berani muncul lagi di depanmu, Mas tidak akan memberikan kesempatan kedua. Mengerti?"

Rea tersenyum lega dan mengangguk. "Mengerti, Mas Galen. Terima kasih ya, Mas baik sekali."

Galen hanya mendengus pelan, ia merasa geli karena Rea masih menganggapnya "baik", padahal ia baru saja hampir menghancurkan hidup satu keluarga. "Sudah, jangan menangis lagi. Masuklah ke kelas. Mas tunggu di sini sampai kamu masuk ke dalam gedung."

Rea mencium tangan Galen dengan takzim sebelum melangkah masuk ke area kampus dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Sementara itu, Galen menatap punggung Rea sampai menghilang di balik pintu, lalu ekspresinya kembali dingin saat menatap Leon.

"Pantau keluarga itu. Jika mereka berani bicara satu kata kasar lagi pada Rea, habisi mereka tanpa perlu lapor saya lagi," perintah Galen yang langsung diangguk mantap oleh Leon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!