Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24# ANTARA HARAPAN DAN KECEMASAN
Malam di wilayah perbatasan ini seolah menjadi pemisah antara dua takdir yang berbeda. Di bawah naungan batu raksasa, waktu terasa berjalan sangat lambat bagi mereka yang menunggu. Namun bagi tiga pria yang sedang bertaruh nyawa di labirin batu, setiap detik adalah pertarungan untuk tetap bernapas.
POV: ZEPHYR, HARRY, & RONY
Langkah kaki Harry memimpin di depan, matanya yang tua namun tajam menembus kabut merah yang semakin pekat. Di belakangnya, Zephyr dan Rony berjalan dengan senjata terhunus. Wilayah barat ini berbeda dengan wilayah lainnya; tanahnya tidak hanya berbatu, tapi juga dipenuhi oleh patahan kristal tajam yang bisa merobek sepatu bot mereka jika tidak hati-hati.
"Kita hampir memasuki ceruk labirin," bisik Harry. "Tetap di belakangku. Tanah di sini bisa menelanmu jika kau salah injak."
Tiba-tiba, dari celah-celah batu yang sempit, muncul kawanan Litho-Crawlers makhluk bertubuh pendek namun keras seperti batu dengan rahang yang mampu menghancurkan tulang. Tanpa peringatan, mereka menyerang.
Zephyr bergerak secepat kilat. Belatinya beradu dengan kulit keras monster itu, menciptakan percikan api. Kring! Kring! Zephyr tidak lagi merasakan perih pada luka lama di bahunya, rasa khawatir akan kondisi Rayden dan bayangan wajah Naya yang cemas justru menjadi bahan bakar energinya.
"Mati kau!" geram Rony sambil melepaskan anak panah tepat ke arah mulut monster yang terbuka.
Harry menghantam kepala satu monster dengan gagang senapannya. "Terus bergerak! Jangan biarkan mereka mengepung kita!"
Mereka bertiga bertarung dengan sinkronisasi yang luar biasa. Meski tubuh mereka kembali mendapatkan luka lecet baru dan darah segar mulai mengalir dari goresan-goresan kecil di wajah, mereka seolah sudah mati rasa. Bagi mereka, luka adalah bahasa sehari-hari di dunia ini. Mereka belum sampai di Lembah Air Mata Merah, dan rintangan tampaknya baru saja dimulai.
POV: ARLO (DI BATU RAKSASA)
Di dalam perlindungan batu raksasa, suasana semakin tegang. Cahaya api unggun kecil yang dibuat Arlo memantulkan bayangan-bayangan panjang di dinding batu. Arlo berdiri di mulut gua, tangannya bersedekap, matanya terus menatap ke arah barat.
Selene mendekati Arlo, ia berdiri di sampingnya tanpa suara. Ia bisa merasakan kegelisahan Arlo yang luar biasa. Selene menyentuh tangan Arlo, jemarinya yang dingin memberikan sensasi menenangkan bagi pemuda itu.
"Mereka akan kembali, Arlo. Harry tahu apa yang dia lakukan," ucap Selene lembut.
Arlo menoleh, menatap mata Selene yang berkilat dalam remang. "Aku hanya merasa bersalah, Selene. Aku duduk di sini dengan aman sementara mereka mempertaruhkan nyawa karena keputusanku. Jika terjadi sesuatu pada mereka..."
"Itu adalah tugas seorang pemimpin, Arlo. Menjaga apa yang tersisa," Selene melangkah lebih dekat, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Arlo. Ada sebuah chemistry yang kuat di sana, sebuah ikatan yang tumbuh dari penderitaan bersama. "Kau tidak sendirian memikul beban ini. Aku di sini."
Arlo menarik napas panjang, sedikit merasa tenang dengan keberadaan Selene di sisinya. Namun, kedamaian itu terusik oleh suara rintihan Rayden dari dalam.
Di sudut lain, Naya tampak sangat gelisah. Ia terus-menerus merapikan peralatan medisnya yang sebenarnya sudah rapi. Matanya sesekali melirik ke arah luar, ke arah kepergian Zephyr.
Lily yang sedang membantu memeras kain kompres, memperhatikan gerak-gerik Naya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh pengertian. "Dia akan baik-baik saja, Naya. Zephyr adalah orang paling tangguh yang pernah kulihat. Dia tidak akan membiarkan monster-monster itu menghalanginya kembali padamu."
Naya tersipu, meski wajahnya tetap terlihat cemas. "Aku hanya... aku hanya tidak ingin ada lagi yang hilang, Lily. Terutama Zephyr. Dia selalu ada untukku saat aku merasa tidak berguna."
Sementara itu, Rick duduk di dekat Dasha yang sedang mengasah anak panahnya. Rick menatap Dasha dengan tatapan tulus. "Dasha, aku belum sempat mengucapkannya dengan benar. Terima kasih. Terima kasih karena sudah melindungi Tom dan Lily selama ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada mereka jika kau tidak menemukan mereka di dasar jurang."
Dasha berhenti mengasah, ia menatap Rick. "Kami bertahan hidup bersama, Rick. Di dunia ini, kau tidak bisa bertahan sendirian. Tom dan Lily memberikan kami alasan untuk tetap berjuang. Jadi, jangan berterima kasih. Kita semua sekarang adalah satu tim."
Tiba-tiba, suara raungan jauh terdengar dari atas langit batu raksasa. Finn dan Cicilia langsung berdiri tegak dengan senjata siap. "Sesuatu sedang mengintai kita dari atas," bisik Finn. Ancaman tidak hanya ada di luar sana bersama tim pencari bunga, tapi juga tepat di atas kepala mereka.
POV ZEPHYR & TIM (DI PERJALANAN)
Kembali ke labirin batu, ketiga pria itu kini harus mendaki sebuah tanjakan terjal yang dipenuhi gas belerang. Napas mereka mulai sesak. Harry terbatuk-batuk, namun ia tetap memaksa kakinya melangkah.
"Sedikit lagi... di balik celah itu seharusnya lembahnya berada," ucap Harry parau.
Namun, jalan mereka tertutup oleh sebuah pemandangan mengerikan. Seekor Vipera Silvestris ular raksasa dengan sisik yang keras seperti baja sedang melingkar di tengah jalan satu-satunya. Matanya yang kuning menatap mereka dengan lapar.
"Kau bercanda..." gumam Rony.
Zephyr tidak bicara banyak. Ia menghunus belati keduanya. "Harry, Rony... kalian cari celah untuk lewat. Biar aku yang mengalihkan perhatian makhluk ini."
"Zephyr, itu terlalu berbahaya!" teriak Harry.
"Tidak ada waktu lagi! Ini hampir tengah malam!" Zephyr melesat maju, melakukan gerakan akrobatik untuk menghindari sambaran taring ular tersebut.
Pertarungan kembali pecah dengan hebat. Darah monster kembali menyembur, luka baru kembali terukir di kulit mereka. Mereka bertarung melawan waktu, melawan maut, dan melawan rasa lelah yang luar biasa. Bunga biru itu sudah dekat, namun rintangan terakhir ini seolah menjadi tembok yang mustahil ditembus.
"Rayden... bertahanlah," bisik Zephyr di tengah desing pertarungan, bayangan wajah Naya yang menangis terus terngiang di kepalanya, memberinya kekuatan untuk terus menghujamkan senjatanya.